
Penuh keyakinan bisa membantu kesulitan mereka. Malam telah beranjak mengelapkan harinya. Akupun tengah bersiap-siap untuk keluar rumah. Jaket tak lupa kupakai, saat hawa dingimnya malam begitu menusuk tulang.
"Semoga tidak ketahuan mereka. Apa Bapak sama Cantika beneran tidur nyenyak, ya?" Dengan perlahan-lahan mencoba menutup kamar sendiri.
Berjalan mengendap-endap. Tidak memakai alas kaki berupa sandal sebab takut akan mengeluarkan bunyi, dan bahayanya nanti ketahuan kalau ingin ikut arena balap liar. Jangan sampai kepergok mereka kalau jadi amggota arena melayangkan nyawa.
Tiap malam yang terdengar selalu ada taruhan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut. Jalan satu-satunya membantu melunasi hutang adalah dengan cara ini.
Klek ... klek, memutar kunci knop pintu utama secara perlahan. Kemudian membukanya. Menutup kembali dengan hati-hati.
"Hhh, syukurlah kalau sampai tidak membangunkan mereka," Kelegaan ketika berhasil kabur.
Dikegelapan malam, menyusuri jalanan seorang diri. Banyak binatang malam berbunyi dibalik semak. Daun pepepohonan bergoyang terus ketika tertiup angin. Sesekali menengok kebelakang. Takut jika yang tak kasat mata mengikuti. Terus berjalan santai. Tangan masuk dikedua kantong jaket. Kepala tertutupkan topi jaket, agar angin tak meniup bagian tekuk yang mudah masuk angin.
Membawa jam tangan. Waktu masih menunjukkan diangka sebelas. Masih sekitar satu jam lebih arena yang kuikuti akan dimulai. Jarak lumayan jauh dari kediaman Cantika. Mencoba mencari jalan pintas dengan menerobos kebun para warga. Banyak tanaman sayur dan buah. Kuinjak-injak saja tumbuhan itu, agar tidak ketinggalan. Harus banyak persiapan dan serta mengecek beberapa bagian motor sebelum acar pertandingan dimulai.
"Hhh, gimana? Apa kalian sudah mengecek semua?" tanya pada pemilik motor.
"Beres, Bos. Aman semua. Dijamin kali ini akan menang lagi," jawab teman baru bernama Agus.
Ada sekitar tiga kawan dekat yang baru. Mereka semua baik. Bahkan mau menolong kesusahanku, hingga mereka sukarela mau meminjamkan motor balap. Walau beberapa hari baru kenal, tapi kami semua sudah akrab bagai saudara. Kalau ada waktu luang sewaktu pulang sekolah, selalu menyempatkan berbagi ilmu membenahi atau memodifikasi motor. Untung saja ada salah satu rumah kosong untuk dijadikan markas. Walau kecil, cukup untuk kami berkumpul.
"Bagus. Aku suka kerja kalian. Amin, semoga doa kamu terkabulkan. Hari ini kita harus dapat uang itu karena aku sangat membutuhkannya."
"Sipp, Bos. Kami akan selalu mendukung kamu," jawab Budi.
"Thanks, untuk kalian semua. Padahal kita belum lama kenal, tapi kalian sudah baik banget."
"Dari sikap kamu, kami semua menduga kamu orang baik dan ternyata tebakkan kami benar, maka dari itu kami semua disini senang bisa kenal serta sekarang menjadi temanmu."
"Hmm, terima kasih sudah mempercayai. Maaf, jika merepotkan dan bikin susah. Apalagi mengenai motor ini, pasti nanti ada saja yang akan rusak. Jadi tak enak nih! Tapi, tenang saja. Aku akan tanggung jawab atas apa yang kuperbuat," tutur merasa bersalah.
"Tenang saja, Bos. Kami tidak masalah sama itu sih, asalkan disini tidak ada penghiatan diantara kita, ya contohnya mendukung lawan lain untuk memusuhi kami. Itu saja sih, yang tidak kami suka."
"Baguslah, Bos. Kami senang kenal dengan kamu."
"Sama-sama. Akupun juga. Bahagia bisa bertemu kalian. Ya sudah, kita cepat pergi ke arena karena sepertinya pertandingan akan dimulai."
"Ayo, Bos."
Kami berempat ngobrol dibawah pokok yang rindang. Posisi menepi dari arena balapan. Persiapan harus matang agar bisa gesit ditrek aspalnya.
Motor didorong beramai-ramai. Mesin sengaja tidak dihidupkan, agar bisa menghemat tenaga. Sorak para penonton mulai riuh. Tepuk tangan tak luput mengema keras. Para pendukung dari beberapa kubu, banyak yang jingkrak-jingkrak menyemangati sang bos. Para anak buahku malah memberi dukungan dengan memijit bahu dan mendoakan.
"Ayo semangat, Bos. Jangan sampai kalah. Kami akan mendukungmu terus."
"Emm, thanks."
Pelindung kepala mulai kukenakan. Jaket kulit menutupi tubuh. Kaca masih terbuka memperlihatkan sorot netra yang harus fokus.
Para pesaing mulai mengeber-ngeber gas. Asap terus mengepul diudara. Menunjukkan adu kekuatan akan segera dimulai. Wajah semua pembalap mulai tegang. Bendera berkobat-kabit diudara. Aba-aba siap ditembakkan.
Lengkingan para penonton membuat kami telah siap beradu dijalanan. Mulai ngebut dengan kecepatan tinggi. Sekarang hanya mampu diurutan ke dua. Belokkan adalah jalan ninja untuk menyalip. Pembalap urutan pertama lincah juga. Tidak bisa diremehkan lawan didepan mata, namun tekad untuk menang membuatku tak mau menyerah begitu saja.
Beberapa menit telah berlalu. Saling salip-menyalip. Tidak ada yang mau menyerah. Bahkan beberapa pesaing jauh dibelakang terus semangat untuk memeriahkan acara.
"Ini adalah putaran terakhir. Aku harus mencari celah untuk menyalip. Jangan sampai kalah, hanya karena tak bisa memotong jalurnya," guman hati yang masih tetap berambisi menang.
Bendera merah mulai terangkat mengudara, tanda trek terakhir akan segera dilalui kami. Kesempatan langka tak bisa kutepis, maka tangan memutas gas sekuat-kuatnya. Hanya dengan cara ini agar bisa mendahului lawan yang songong.
Wesss, sekali lewat, motor berhasil melaju duluan. Tak menyangka didetik terakhir bisa mengalahkan. Semua orang mengangkat tangan.
Sambutan sangat meriah. Tepuk tangan tak henti-henti disuarakan. Bahkan motor ini dikerumuni. Mereka memberikan tepukan yang begitu heboh. Jadi terharu jika semua memberi dukungan. Semua teman tertawa terbahak-bahak ketika puas hasil yang kuraih. Tak sia-sia ikutan acara malam ini, sebab taruhan berkeutungan sangat besar dan bisa mencicil hutang.