
Kondisi motor lumayan masih bagus meski ada beberapa bagian perlu perbaikan, namun tak membuatku nekat untuk mengundurkan diri dari pertandingan yang telah disepakati.
Pukul dua dini hari, sekumpulan anak remaja tengah bersiap untuk bertanding maupun menonton.
Masing-masing dari pembalap tengah memeriksa keadaan motor yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Begitupun denganku, remaja tanggung yang baru saja jadi warga desa sini, kini ikut dalam barisan para pembalap liar, yang kerap kali di adakan pada pertengahan malam. Suara bising dari mesin roda dua itu mulai terdengar, ketika mereka tak henti-hentinya mengeber-geber gas.
"Semoga kali ini aku akan mengalahkan mereka semua. Jangan sampai mereka menang, karena aku sangat membutuhkan uang ini," Tetap semangat didalam hati.
Walau semua teman nampak ragu, namun mereka mulai yakin aku bisa melakukannya dengan gayaku yang sombong.
"Wah, kalian punya nyali juga ya! Apa tidak takut kalah nih?" Salah satu lawan yang songong.
"Kenapa harus takut. Buktikan dulu, baru kau itu bisa ngomong begitu," jawaban mengacungkan jempol ke bawah.
"Cuiih, jangan belagu dulu kamu. Motor buntutmu itu sudah tidak layak. Hahaha, pasti akan kalah sama kami," gelaknya menghina.
Semua anggota yang ikut, memang terlihat kaya dan motor termodif keren dengan suku cadang mahal.
"Jangan meremehkan. Belum tentu bagus bisa menang," Menyungingkan bibir sebab tidak terima hinaannya.
"Jangan banyak b*cot melulu. Kita cepat bertanding saja. Kita akan buktikan siapa yang menang nanti." Dia mulai emosi.
"Oke, siapa takut!" lantang penuh keberanian.
"Ciih, belagu amat kamu. Pasti, belum apa-apa sudah mogok."
Sangat memalukan, saat mereka semua mentertawakan puas. Kebanyakan anak gaul, alay, kaya, dan geng. Aku hanya acuh, sebab yang utama adalah menang ketika ikut andil balapan.
Kembali menghampiri motor dan mulai menyalakan mesin. Memberikan pemanasan mesin dan sedikit memeriksa. Seketika malam yang gelap gulita itu berubah menjadi terang benderang, karena sorotan lampu motor dari para pembalap yang telah bersiap.
Mulai gugup dan ragu, ketika kini duduk santai diatas motor teman yang baru kenal. Sebuah helm fullface putih dengan kombinasi hitam mulai kukenakan. Jaket, sarung tangan dan sepatu tak luput sebagai bahan tambahan pengamanan. Memang yang dikatakan benar ketika motor tidak ada bagus-bagusnya, tapi kalau tahu cara menyelip serta ahli dalam mendahului para lawan, pasti akan menang.
Penonton mulai bersorak, saat mengetahui motor yang mereka andalkan itu kembali ke arena, mereka begitu familiar pada tampilan motor serta jokinya. Lawan nampak tangguh. Nyali memang agak ciut, tapi semangat ikutan mulai berkobar-kobar. Akupun merasa canggung, para penonton mengira bahwa sang juara selama ini pasti tak akan terkalahkan. Ada yang menyebut lawan adalang sang legendaris lintasan balap liar, namun sejarah hari ini harus berubah.
"Huuuff ... menang ... menang, hari ini aku harus menang! Jangan sampai gagal hanya karena lawan sangat tangguh," Kegugupan dalam hati.
Melirik ke semua lawan. Tidak ada yang mengenal takut. Malah semua begitu membara dan tidak sabar segera dimulai.
Berada di garis start dengan beberapa pengendara lain, seketika tubuh ini bereaksi merasakan sebuah energi kuat menyeruak masuk ke seluruh tubuh. Mencoba mengunpulkan seluruh kekuatan. Pandangan matappun menjadi tajam, tubuh bergetaran hebat merasakan semangat yang luar biasa, sementara kedua tanganku mulai mencengkram kopling dan gas untuk siap-siap adu kekuatan.
"Ayo, Revan. Semangat, kamu pasti bisa menang! Ayo semangat!" teriak salah satu teman.
Tepuk tangan terus mengema. Penonton terus penasaran, kok bisa kendaraan roda dua yang kuno bisa ikut dalam arena. Mereka yang meremehkan nampak sangat angkuh. Mengira aku bakalan ketinggalan jauh dan menangis.
Akupun yang sebelumnya tak pernah mengenali tempat ini, harus cekatan meneliti dan memahami trek jalanan. Motor memang kelihatan tidak bisa diandalkan, tapi kegesitan, kepintaran dan kelincahan harus diutamakan sekarang. Kini seakan-akan mulai faham seluk beluk dan tikungan yang harus dilalui dengan cara menghafal. Salah siasat pasti akan ketinggalan jauh dibelakang, maka semua itu tidak boleh terjadi dan harus pandai menguasai medan.
"Huhh, ayo ... ayo, semangat!" Para menonton yang tegang menyaksikan.
"Satu ... dua ... tiga, go!"
Teriak seseorang perempuan pembawa bendera, yang berposisi sebagai pemandu atas jalannya pertandingan telah dimulai.
"Jangan kalah, pasti aku bisa melaluinya," Keyakinan hati penuh kemantapan.
Motor pinjaman terus melaju kencang. Kini sudah menyalib dan meninggalkan para pengendara lain seolah-olah jiwa sedang kerasukan. Dengan kecepatan tinggi, harus tetap fokus ke arah jalanan. Aliran jiwa terasa pasrah jika harus celaka di tempat ini, yang penting semangat untuk melunasi hutang bisa kesampaian.
Saling salip menyalipun terus terjadi. Tidak ada yang mau mengalah. Semua saling berkejaran dengan terus menarik gas. Ada yang ketinggalan akibat oleng. Ada pula yang mogok ditengah jalan.
Kuda besi melesat lebih dulu, kemudian disusul oleh para pembalap lainnya. Beberapakali tersalip, namun mulai tenang dan bersyukur kembali ketika memimpin diurutan ke dua dari balapan tersebut. Sang musuh utama menengok ke arahku yang masih berada dibelakangnya. Jika menyalip dengan kecepatan pasti kalah, maka mengambil siasat mengendorkan kelajuan ketika ditikungan jalanan.
"Yes, akhirnya aku bisa kusalip."
"Ayo, Revan. Menangkan pertandingan ini. Utang untuk dibayar telah menantimu," Bicara pada diri sendiri.
Lintasan balap terakhir mulai nampak didepan mata, ketika benderanya dari kejauhan telah berkibar-kibar.
Akhirnya bisa lega, ketika mampu menjaga jarak jauh sekali dari para pesaing dengan mereka ketinggalan jauh dibelakang.
Whesssshhh, dengan cepat akhirnya melewati garis finish.
Kedua tangan terlepas, serta terangkat keatas sebab menang. Sorak sorai kembali menggema menyebut nama Revan, yaitu sang penakluk lintasan yang baru. Akhirnya bisa membuktikan kemampuanku dihadapan mereka.
"Awowoak, kamu menang, bro!" ucap salah satu teman.
"Iya nih. Tidak menyangka kalau kamu begitu mahir dan hebat," Dua acungan jempol diarahkan kepadaku.
"Terima kasih atas pujiannya, serta kalian mau meminjamkan motor," Rasa sungkanku.
"Santai saja, bro. Kita mulai sekarang 'kan teman."
"Betul, tuh. Semangat terus untuk ikut pertandingan."
"Beres pokoknya. Asal kalian tetap bersamaku sebagai teman."
"Oh, tentu saja dong. Kami akan selalu mendukungmu, kok."
"Ok, thanks. Untuk kalian semua."
"Sama-sama, kawan."
Dari balap liar ini, akhirnya memenangkan uang taruhan sebesar lima juta dengan bersih. Sisanya kuberikan pada pemilik motor dan berpesta nantinya. Para penonton mulai berkerumunan untuk mengucapkan selamat.
Akhirnya aku pulang untuk beristirahat, dan kini merasakan lelah luar biasa, tangan dan kaki terasa berat teramat sangat apalagi bagian leher, mungkin saja karena ini baru pertama kali ikut adu balap.