
Memiliki hati baik dan lembut menjadi dambaan setiap orang. Dengan demikian seseorang yang memiliki kelembutan hati akan senantiasa memiliki sifat rendah hati dan tidak sombong. Selain itu seorang yang memiliki hati baik dengan senang memiliki rasa kepedulian yang tinggi kepada sesama.
Ketika seorang pria memberikan perhatian dan kelembutan pada wanita, hal ini dapat membuat wanita merasa dihargai dan dicintai. Wanita ingin merasa dianggap penting. Harus disayangi, diberikan perhatian lebih, serta perlakukan dengan penuh kelembutan. Bisa menjadi tanda bahwa pria tersebut benar-benar peduli dan memperhatikan wanita tersebut.
Ketika seorang pria jujur dan dapat dipercaya, hal ini dapat membuat wanita merasa aman dan nyaman dalam hubungan.
Sebagian orang menganggap perempuan yang hatinya lembut berarti lemah dan gampang dianiaya. Itu semua kebanyakan tidak benar. Banyak pula wanita berhati tulus yang kuat dan mandiri.
Sekilas perilakunya telihat seperti wanita yang tidak membutuhkan pria. Dia melakukan semua itu karena menyayangi dirinya dan tak ingin merepotkan orang lain. Karena mencari aman yang dia tanamkan untuk diri sendiri, jadi dia mampu memberi kasih sayang yang tulus juga pada orang lain.
Cantika awalnya enggan untuk ikut makan dikantin, namun Ani yang memaksa akhirnya dia mau juga.
"Kamu nanti mau makan apa, Cantika?"
"Tidak usahlah. Perutku masih kenyang."
"Lah, kita datang ke kantin tujuannya 'kan mau bikin perut kenyang. Jangan khawatir, nanti aku yang traktrik kalian makan, gimana?" tawar Ani.
Nampak dia sangat agresif dan caper. Berkali-kali melirik, serta mencuri pandang ke arahku. Hanya menanggapi dengan senyuman ketika pandangan kami bertemu. Berjalan tepat disamping Cantika.
"Duh. Jangan 'lah. Nanti malah merepotkan kamu," tolak Cantika.
Tahu kalau dia tidak enak saja, jika mendapat gratisan.
"Tidak apa-apa, teman. Bukankah selama ini kamu tidak mau kuajak. Ini adalah kesempatan langka, jadi biarkan diriku membelikan. Anggap saja ini tanda sebagai pertemanan kita semakin akrab dan awal kamu menginjakkan kaki di kantin, gimana?" paksa Ani.
"Lebih baik kamu menerima saran Ani. Kasihan dia sudah meluangkan waktu untuk mengajak kita," Aku ikut angkat bicara.
Menatap sekejap kearahku, yang sepertinya Cantika ingin memastikan kalau dia ingin makan, tapi harus ada persetujuan dariku untuk menemani dia. Senyuman termanis terberikan, sebagai tanda iya.
"Hhh, baiklah kalau kamu memaksa," Akhirnya mau juga.
Dua teman itu nampak sangat dekat. Senang melihat senyum mereka yang gembira. Namanya juga perempuan, banyak cerita yang dibagikan, apalagi tentang bergosip pasti sangat seru dan bahkan asyik ketika terus membicarakan.
Kami bertiga duduk saling berhadapan. Hanya sendirian dibangku memanjang. Memesan beberapa mangkok bakso dan minuman botol saja. Cantika sepertinya masih malu-malu makan disini, yang kemungkinan tak terbiasa saja. Tidak butuh waktu lama untuk segera menyantapnya.
"Yeah, apa kamu tidak ingin memberikan jatah pada kami," Salah satu siswa terdengar memalak teman lain.
Semua mata tertuju ke arah tontonan itu. Aku pura-pura tidak peduli dan terus melanjutkan makanan.
"Masak sih. Baru tahu!" simbat Cantika.
"Serius. Hampir tiap hari malahan. Tidak ada yang berani melawan."
"Jadi, para teman kita memberikan begitu saja, ya?"
"Yap. Mereka dengan sukarela memberikan, mungkin takut saja sih, sebab kalau tidak dituruti maka yang dipalak tadi menjadi bulan-bulanan akan dibully."
"Wah, sadis dan bikin takut saja."
"Maka dari itu. Mereka semua disini langsung memberikan, apa yang diminta biar tidak kena masalah saja."
"Apa tidak ada yang melapor pada guru?"
"Sudah sih, tapi mereka tetap saja berkelakuan begitu. Mungkin sudah jadi hal biasa watak mereka itu, sehingga kebal saja sama hukuman yang diberikan pihak sekolah."
Rasa sedap bakso ini hampir saja habis kumakan. Bangku sebelah yang sedang ada pemaksaan, bikin telinga panas saja.
Tangan masuk dikedua kantong celana. Melihat aksi mereka yang keterlaluan sangat menyebalkan. Meminta paksa, namun secara kasar juga sudah menampar pelan pipi korban.
Menatap ke sekeliling. Ternyata semua orang bernyali ciut, ketika mereka semua hanya terbengong menyaksikan, sampai-sampai makanan tidak jadi dilahap ke dalam mulut.
Crieeitt, suara decitan kursi saat kutendang. Semua orang berbalik menatap ke arahku.
"Hei, Revan. Apa yang kamu lakukan?" tanya pelan Ani.
"Iya, nih. Lebih baik kita pergi saja dari sini."
"Hmm, jangan cari masalah sama mereka, sebab gengnya banyak dan mereka sangat kuat. Sekali cari gara-gara, pasti habislah kamu nanti," Ani memperingatkan.
"Jangan khawatir. Lebih baik kalian disini saja, cari aman. Aku akan memberikan sedikit pelajaran sama mereka," jawab tak kenal takut.
"Tapi, Revan. Mereka menakutkan. Jangan ladeni mereka. Ya ... ya!" Cantika mulai ketakutan.
Tak kuendahkan kekhawatiran mereka berdua. Langkah ingin maju mendekati mereka. Tangan mengepal kuat, ketika tak tega saja melihat siswa lain dipaksa tak kenal ampun.