
Hari ini hari libur sekolah. Hal yang paling membahagiakan adalah dirumah, sebab tidak akan bertemu dengan para perundungku. Mereka kadang selalu saja usil dengan mengerjai, entah dengan melukai sebagian kulit, atau memperolok-olok seperti orang bodoh. Hanya para pria saja sering memberikan perhatian lebih. Terlebih lagi para guru yang sayang banget pada diriku, dikarenakan anak sering dapat prestasi menonjol dan dijuluki ratu pintar.
Membantu Ayah berkebun. Ada beberapa pohon pisang, ubi kayu, cabe, tanaman sayuran lainnya. Kalau tidak ada pasien diklinik, maka pagi-pagi sekali kami disibukkan dengan aktifitas memanen atau sekedar mencabut rumput liar.
"Darah? Ini darah apaan? Kenapa banyak tetesan darah dikebun ini?" Merasa heran ketika ada merah-merah didaun bayam.
"Seperti bau darah manusia?" Meraba dan mencium dengan hidung, ketika mengambil sampelnya.
"Apa mungkin ada manusia yang sedang terluka sekarang? Tapi mengapa dan siapa itu? Aah, kok jadi ngeri juga kalau ini beneran darah milik manusia."
Menyusuri secara perlahan-lahan, takut jika tebakan salah, mungkin saja ini binatang buas. Dengan tekad bulat tetap maju melangkah, untuk memastikan dugaan. Semakin melangkah semakin banyak darah yang menetes. Hati sudah deg-degkan dan mulai ada rasa takut.
Melihat kedepan. Seperti ada orang tergeletak tak sadarkan diri. Segera berbalik dengan berlari cepat, ingin menghampiri ayah yang sedang sibuk mencangkul.
"Ayah ... Ayah, hhhhh!" Mencoba menghirup udar banyak-banyak, ketika sedang kelelahan habis berlari.
"Ada apa, Nak?"
Peluh beliau yang ada dikening terseka dengan baju berlengan panjang. Kelihatan terik matahari yang mulai timbul, membuat keringat bermunculan menetas.
"Iiit-ttu, Yah."
"Itu apa'an? Ngomong yang jelas."
"Itu ... tuh, disana ada mayat."
"Hah, mayat apa'an? Kalau ngomong jangan sembarangan. Mana mungkin ada mayat dikebun kita." Beliau sepertinya tidak percaya.
"Cantika, menemukan ada orang tergeletak disana, dan sepertinya dia sedang terluka sebab banyak sekali darah menetes. Dia tidak bergerak sama sekali, aku menebak kemungkinan memang sudah meninggal."
"Ahhh, kamu yang benar?"
"Hhh, serius, Ayah."
"Ok ... ok, kalau begitu kita lihat orang itu."
Beliau mengambil langkah seribu, ditempat yang telah kutunjukkan. Wajah beliau seketika benar-benar terkejut, seperti semula aku menemukan. Langsung menghampiri dan memcoba memeriksa dibagian leher.
"Syukurlah dia masih hidup, nafasnya masih ada."
"Sepertinya dia hanya terluka kaki."
"Kalau begitu ayo kita bawa ke klinik. Lebih baik kita memberikan pertolongan kepadanya secepat mungkin. Takut kalau terlambat maka nyawanya akan melayang, terlihat dari darah yang sudah banyak keluar dan mulai mengering. Sepertinya dia sudah terluka sudah lama."
"Baiklah, kalau begitu cangkul, clurit dan bekal makamam aku akan ambil. Ayah bawa dia duluan saja."
Berbicara ketika beliau mulai mengendong dibelakang punggung. Wajahnya yang mulai pucat pasi sangat membuat panik kami. Takut kalau terlambat menolong, maka akan membahayakan nyawanya juga.
Tidak peduli berat dan kelelahan, Ayah terus saja berlari seperti kuda yang sedang kena cambuk, begitu cepat dan kuat jarak larian, walau nafas sudah terengah-engah sekalipun. Setelah sekian detik, kami sampai juga diklinik perumahan kami. Desa agak terpencil didekat perbukitan, jadi belum banyak warga yang berpenghuni. Sebagian juga ada perumahan elit terbangun disini.
"Cepat ambil peralatan kedokteran, Ayah. Aku akan mencoba mengeluarkan peluru dikaki dan menjahit beberapa bagian kepalanya. Sepertinya luka dia sangat parah, sehingga harus bertindak cepat."
"Hmm, baiklah." Segera berlari apa yang beliau suruh.
Dengan hati-hati pakaian yang berompi dan celana hitam segera kami lepas, dan dibagian betis sudah digunting, agar luka segera diambil tindakan penyembuhan.
Bagaimana luka tembak bisa terjadi?
Ada berbagai jenis peluru, tetapi yang paling umum dipakai dalam senjata adalah peluru yang memiliki inti timah dilapisi oleh beberapa jenis penutup.
Pada kecepatan rata-rata saat ditembakkan, peluru bisa melesat hingga 1,500 meter per detik, tergantung dari inti amunisi dan jenis senjata yang digunakan.
Ada tiga faktor utama untuk menentukan tingkat keparahan luka tembak, yaitu:
Lokasi tembak dan jalur keluar-masuk peluru.
Ukuran proyektil, dankecepatan proyektil.
Ketiganya memiliki dampak pada keparahan luka tembak, tetapi kecepatan peluru merupakan faktor yang paling berpengaruh.
Setelah Ayah berhasil membawa korban ke tempat yang aman, mulai menyandarkan tubuh korban di tempat yang datar dan lamat-lamat mulai memperhatikan di mana tepatnya letak luka tembak itu.
Kadang, peluru dapat menabrak tulang, pecah menjadi serpihan kecil, dan berbelok kemana saja di bagian dalam tubuh. Bahkan, beberapa jenis peluru dapat menyebabkan luka ganda.
Selain perdarahan luar, luka tembak berisiko menimbulkan komplikasi pada sistem saraf utama atau kerusakan organ berat.