
Ternyata tidak parah. Setelah tersentuh oleh tangan ajaibku, akhirnya kulkas kembali normal seperti semula. Wajah mencoba melihat kanan kiri, dan ternyata sesuai dugaan keadaan masih masih saja sepi dari tadi.
Perlu diketahui, bahwa thermostat pengontrol suhu memiliki pengaruh besar terhadap kompresor, kipas kondensor, dan motor kipas evaporator.
Apabila thermostat tidak berfungsi dengan baik, sudah pasti akan menimbulkan masalah pada sistem pendingin. Kalau sudah begitu, maka harus dicari jalan keluarnya.
Untuk mengetahui apakah thermostat berfungsi secara normal atau tidak, maka bisa mengaturnya dari setting rendah ke tinggi sampai terdengar bunyi, seperti “klik”.
Kalau tidak terdengar bunyi “klik”, kemungkinan besar thermostat mengalami kerusakan. Sebaliknya, kalau bunyi tersebut terdengar, berarti thermostat dalam kondisi normal.
Selain itu kipas kondensor tidak bekerja lagi. Fungsi utama kipas kondensor adalah menarik udara dari kondensor. Apabila bagian motor kipas bermasalah maupun tidak berfungsi, maka udara tidak dapat ditarik kondensor.
Hal tersebut akan menyebabkan kulkas atau freezer tidak bisa dingin. Karenanya, pemilik kulkas harus memeriksa bantalan motor kipas. Mungkin saja mengalami aus dan harus diganti.
"Ini adalah kesempatanku untuk mencari celah? Semoga saja segera dapat cara dimana ruangan diriku bisa masuk dan keluar dengan mudah nanti. Misi membunuh korban yang keseratus harus berhasil, agar bisa dianggap hebat dan lebih disayang lagi oleh ayah angkat akibat melakukan misi berat ini, dibandingkan semua orang dan anak buah yang lainnya," guman hati yang yakin dan penuh percaya diri.
Wajah sudah menyembul untuk memperhatikan jalanan yang sempat kulalui tadi, apakah ada orang yang lewat apa tidak, biar tidak ada yang curiga saat aku menjalankan aksi sekarang. Setelah seksama memperhatikan, ternyata keadaan masih saja sepi. Jarak langkah sudah perlahan-lahan, agar tidak mengeluarkan suara. Kali ini tujuan utama adalah melihat ruangan lain.
Salah satu yang pertama yang kukunjungi adalah ruangan santai bermain game, yang beberapa diantaranya banyak mainan terpajang didalam lemari. Setelah menyapu pandangan ke seluruhnya ternyata tidak ada celah sama sekali.
Akhirnya mencoba memeriksa ke rungan lain, dan ternyata aku dihadapkan oleh beberapa kamar dan ruangan yang tertutup, dan betapa tepatnya disebelah ruangan itu, ada jejeran jendela yang terbuat dari kaca serta tebus pandang. Mendekati dengan cepat adalah jalan ninja yang segera harus kuselesaikan.
Gorden yang menutupi segera kubuka dan geser sedikit. Ada beberapa yang terpasang kuncinya dan memang ada yang dibuat rapat antara kayunya. Maka dengan cepat ingin membuka kunci besinya.
"Mungkinkah tempat ini adalah jalan untukku kabur atau masuk nanti. Semoga saja bisa membantu nanti!" rancau hati berbicara pada diri sendiri.
Kuperhatikan lamat-lamat keadaan sekitar diluaran sana. Ternyata kalau diperhatikan seksama, sepertinya itu adalah bagian belakang rumah. Wajah sudah tersenyum sinis, ternyata jalan ingin menjalankan aksi mudah untuk dikendalikan.
"Apa yang kamu lakukan disini!" Tiba-tiba dikagetkan oleh suara seorang pria.
Topi kuturunkan sedikit, takutnya wajah akan ketahuan.
"Maafkan saya, Tuan. Jika lancang sampai ketempat sini," Kepura-puraanku.
"Benar, kamu memang benar-benar lancang."
"Tapi tolong dengarkan penjelasan saya dulu. Saya tidak ada maksud apa-apa keruangan ini, sebab tadi waktu melakukan pekerjaan saya, sepertinya ada seseorang yang kelihatan mencurigakan, tapi sayangnya setelah kukejar tidak ada jejaknya lagi. Makanya sampai kesini, karena sempat melihat disana ada seseorang yang mencurigakan," cakapku menjelaskan dengan sebuah kebohongan.
"Emm, benarkah apa yang kamu katakan itu?" ucapnya seperti tidak percaya lagi.
Dia mengerutkan kening, malahan seperti tidak percaya pada perkataanku.
"Duh, jangan sampai ketahuan kalau sedang berbohong," guman hati mulai was-was.
"Kalau tidak percaya tuan bisa memeriksanya sendiri," suruhku ke arah jendela.
"Oke."
Dengan wajah santai sang bodyguard memeriksa. Gorden yang sudah terbuka memudahkan jendela kaca untuk diperiksa, wajah orang itu seketika berubah tegang, yang kemungkinam percaya akan kata-kataku saat ada bukti jendela sudah terbuka kuncinya.
"Wah, yang kamu katakan benar, tapi orangnya kok tidak kelihatan," lontarnya antara percaya dan tidak.
"Ya sudah, terima kasih atas infonya."
"Iya, sama-sama."
Sang pengawal bayaran sudah berbicara pada sesama temannya, dengan menggunakan earphone yang terpasang ditelinga. Langkahnya sudah tergesa-gesa undur diri dari hadapanku.
"Yes, untung saja aku bisa membodohi kamu, pengawal. Keadaan memang berpihak, ketika tadi tidak sengaja aku memeriksa jendela dengan cara membuka kuncinya. Huufff, hampir ketahuan ternyata," Kelegaan hati karena sekarang aman.
"Aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum ketahuan lagi. Bisa gawat jika aku sengaja datang kesini, yaitu memang ada maksud terselubung," guman hati yang ingin segera meninggalkan rumah sasaran.
Peralatan sudah kukemas kembali, untuk dimasukkkan ke dalam kotak. Sebelum meninggalkan rumah, aku berpamitan kepada para bodyguard yang sedang kebinggungan atas ucapan kebohonganku. Langsung saja nyelonong pergi, sebab percuma pamit pada mereka yang sedang sibuk mondar mandir memeriksa.
Tanpa peduli pada orang yang kebingungan, posisi tubuh harus segera menghilang agar tidak terjadi masalah besar lagi.
Kembali ke mobil yang tengah siap siaga menunggu.
Bhugh, pintu mobil sendiri sudah kubanting kasar.
"Huuuufffftt!" Suaraku melepaskan nafas dalam-dalam, saat sudah duduk santai dikursinya.
"Gimana, Tiger? Aku disini sangat khawatir sekali, atas keadaan kamu didalam tadi sebab lama sekali disana," ucap Kak Juno khawatir.
"Semua beres. Untung saja tadi tidak ketahuan saat mencoba memeriksa."
"Ketahuan?" Tatapan Kak Juno sudah tajam kearahku.
"Iya, tadi hampir ketahuan sebab kepergok memeriksa ruangan. Untung saja tadi mulut ini bisa berbohong dengan drama yang bagus. Lihat! Para bodyguard sekarang sedang kalang kabut memeriksa," tunjukku ke arah depan rumah sasaran, yang kelihatan para pengawal sedang kebingungan mengawasi jalanan, mungkin mencari orang yang kumaksud tadi.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, kapan kita akan menjalankan aksinya?" imbuh Kak Juno.
"Kita lihat keadaannya dulu. Kalau sekiranya aman, malam ini kita akan jalankan aksinya. Semua alat sebagai pembantu menjalankan aksi kita sudah terpasang rapi dan aman didalam, tinggal kita tunggu lengah saja para pengawal itu nanti malam. Semoga kita akan berhasil dengan sukses," jelas panjang lebarku.
"Siip 'lah, kalau begitu. Aku akan berjaga-jaga nanti diluar. Kalau ada apa-apa segera nyalakan kode. Nanti akan ada beberapa anak buah lain akan membantu kita," terang Kak Juno.
"Emm, semua yang berhubungan diluar kakak 'lah yang mengatur semuanya, gimana caranya biar aman. Aku yang akan masuk sendirian nanti menjalankan aksi, jika banyak orang pasti akan ketahuan kalau kita dari kelompok pembunuh bayaran," imbuh kata-kataku.
"Sipp, semua beres pokoknya."
"Sebentar, kita keluarkan petugas ini dari mobil kita dulu sebelum undur diri," suruh Kak Juno.
"Hmm, ayo."
Akhirnya tubuh petugas itu beneran kami angkat keluar. Dengan hati-hati tubuhnya sudah kami sandarkan disebuah pohon mangga. Tak luput alat-alat yang membantu kelancaran aksi tadi, sudah kutaruh didekatnya yang masih belum juga membuka mata.
Kami tinggalkan beberapa gebok uang dan surat, agar petugas bangun nanti, tidak kembali membenahi dan mengatakan semua kebenarannya.
Dirasa sudah selesai maka kami langsung tancap gas meninggalkan rumah sasaran kami. Malam nanti semua akan menjadi ketegangan aksi. Semoga saja akan aman dan semua berhasil, ketika mengingat medan begitu sulit ditambah penjagaan sangat ketat.