
Anak kebanggan hilang. Bagaimana kabarnya? Sudah putus asa mencari. Semua sudah dikerahkan. Tidak ada jejak batang hidung ataupun kabar baik tentang dirinya. Semua pekerjaan jadi berantakan. Tanpa dia, semua tak akan berjalan lancar. Selama ini hanya dia yang bisa diandalkan dan dapat menyelesaikan misi dengan sukses. Anak buah lain bisa melakukan, tapi tak serapih dengan Tiger.
Akh*hol yang berada digelas sedang berputar. Melihat tajam kearah jendela. Hawa sejuk dari angin semilir, masih tak bisa membuat tenang. Sebelum melihat wajah Tiger yang hidup, perasaan ini terus diaduk-aduk oleh kekhawatiran. Entah, takut kerena bocor rahasia kami, atau justru pekerjaan akan menjadi macet total. Berharap banyak agar dia tetap hidup.
"Maaf, Tuan besar. Jika kamu menganggu anda."
Beberapa anak buah masuk keruangan pribadi ketika ingin melapor.
"Emm, masuklah."
"Terima kasih, Tuan." Memberi tanda hormat dengan cara menganggukan kepala sebentar.
"Katakan, ada kabar baik apa yang bisa kalian informasikan kepadaku?" Santai berbicara, sambil tetap menatap nanar arah pekarangan rumah.
"Se-se-benarnya tidak ada kabar baik, cuma-?" Terbata-batanya anak buah.
Prang, gelas berisi minuman memabukkan terlempar secara kasar dilantai. Membuat empat anak buah bergindik ketakutan. Mereka menundukkan kepala, tanpa berani menatap sang atasan. Tanpa ragu akan dihabisi dan diberi pelajaran yang setimpal, jika mengusik mood sang bos ketika tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar.
Berbalik arah. Mencoba mendekati mereka semua, ketika kaki mulai gemetaran. Sangat ceroboh, saat tidak ada informasi yang menyenangkan.
"Hanya mencari satu orang saja, kerjaan kalian selalu saja tidak becus."
Wajah sangar itu kembali terlihat. Kening mengkerut, siap memberi pelajaran pada siapapun yang berani melawan.
"Maaf, Tuan. Kami telah lalai melakukan perintah anda, tapi tuan muda sudah kami cari kemana-mana. Tidak ada jejak yang bisa memberi pentunjuk." Salah satu dari mereka menjawab.
Berkerigat dingin. Takut jika berbicara salah, maka habislah nyawa mereka semua.
"Kamu bicara apa, hah? Bagaimana bisa ini terjadi? Sudah sekian bulan kalian mencari, tapi hasilnya masih sama. Jangan jadi orang bodoh. Seharusnya kalian menggunakan akal untuk mencari keberadaannya," Kerah baju teremas kuat, hingga semua membisu tak berani mengeluarkan suara lagi.
Tap ... tap, suara deru langkah menghampiri suasana yang tegang. Pria itu jadi kepercayaan kedua setelah Tiger. Posisinya masih banyak diragukan. Kecerdikan masih belum sepadan. Kekuatan sama besar dan bisa melakukan misi dengan baik, namun karena lemot serta tidak cekatan membuat dia jadi kurang disayangi.
"Apa yang dikatakan oleh mereka semua adalah benar, Tuan!" Kak Juno membela.
"Jangan sok mengurui. Seharusnya kalian tahu apa yang kuharapkan sekarang. Bukan memberikan informasi tidak berguna seperti ini," Terdengar geram.
"Bukan gitu, Tuan. Kami sudah berusaha mencari Tiger kemana-mana, akan tetapi hasilnya masih sama. Jika tidak melapor, takutnya kami salah lagi," Membungkukkan badan tanda hormat.
"Kau seharusnya sangat memahami kedudukanmu. Jangan sampai membangkitkan auman singa yang terkurung, atau kau akan menerima akibatnya lebih fatal dari ini," bisik sambil mengancam.
"Baiklah, Tuan. Mulai sekarang kami akan melakukan tugas itu dengan benar."
"Bagus, memang itu yang kumau! Bawa anakku dengan hidup atau sudah jadi jasad sekalipun. Jangan mengecewakan amanah yang kuberikan," Menepuk-nepuk pipi tanda keramahan.
"Sekarang kemarilah! Tuangkan anggur kepadaku."
Menghidar jauh dari posisi mereka. Duduk santai dikursi kebesaran.
"Siap laksanakan, Tuan."
"Kalian boleh pergi."
"Hmm, semoga hari anda akan terus menyenangkan serta dipenuhi keberkahan."
Undur diri dengan cara berjalan mundur. Sang penguasa hanya diam sambil meneguk minuman memabukkan. Tidak heran jika semua tunduk, ketika dia bisa menjetikkan jari dengan hanya bilang, habisi.
Wajah bengis itu kembali mereda. Pintar juga Juno membela dengan alasan tepat. Selama ini hanya Tiger yang mampu membuat keceriaan ayahnya. Tawa puas itu kerap kali terdengar, jika sedang dekat dengan sang anak. Kini hanya auman kemarahan, yang selalu terlampiaskan pada yang tak bersalah.
"Gimana kabarmu, Nak? Kenapa kau tidak muncul lagi? Tenaga kamu sangat kami butuhkan, maka jangan bersembunyi terus. Jangan sampai bisnis kita hancur, hanya gara-gara kau tidak ada disini lagi. Harapan penerus bisnis kita hanyalah kamu," guman hati penuh harapan.
Semua orang sibuk. Hanya sang bos duduk santai sambil menunggu kabar. Untuk sementara misi tidak diterima, walau banyak yang mendesak dengan jumlah iming-iming besar. Tujuan utama adalah tidak ingin mengambil resiko, yang bisa saja menghancurkan geng setelah bertahun-tahun tetap berdiri kokoh. Tanpa Tiger pasti akan berantakan.
********
Di lain sisi, Juno sedang sibuk memberi arahan anak buah. Jangan sampai membuat majikan tidak percaya lagi, ketika gagal.
Mereka semua akan menyebar, serta menyamar berpakaian biasa. Nyawa jadi taruhan jika tugas tidak dijalankan dengan benar. Semua akan sibuk mencari jejak.
"Kalian harus mencari tuan muda dari sudut ke sudut kampung sesuai peta ini. Jika sudah menemukan dia, maka cepat beri tahu kami. Siapa yang memberikan informasi palsu, maka kalian tahu 'kan akibatnya?" Juno ceramah sebelum melepas mereka.
"Baik, Tuan. Semua perintah akan kami laksanakan dengan benar."
"Bagus. Jangan gegabah bertindak, sebab lawan kita adalah sang penguasa kedua. Jika ada kendala ketika misi, segera hubungi yang lain untuk meminta bantuan. Kalian akan dilengkapi senjata. Ada halangan, langsung eksekusi. Jangan ragu bertindak, jika ingin membawa tuan muda. Paksa dia dan bawa kesini jika menemukannya. Kehadiran dia sangat berarti buat geng kita, jadi jangan mengecewakan. Kalian mengerti?" Berbicara secara tegas.
"Baik, Tuan. Siap laksanakan."
Mengambil semua perlengkapan keamanan, yang terutama adalah pistol. Semua orang telah dipersenjatai.
Semua mulai bubar. Mobil dan motor kendaraan yang sudah disediakan. Mereka mulai saling ngebut ketika menghidupkan mesin. Banyak asap dan debu mulai berterbangan diudara. Mereka semua berlomba atas misi. Imbalan sangat mengiurkan, hingga tak ingin kalah dari teman lain.
"Dimana kamu, Tiger? Cepat kembali ke sini. Keberadaanmu yang hilang, sangat memperngaruhi kami. Semua kerjaan jadi terhenti, dan bos besar selalu meluapkam emosinya. Apa kamu tidak kasihan? Maka hadirlah kembali ditengah kami. Jangan sampai banyak korban yang terjadi di anggota kita, hanya gara-gara tidak bisa menemukanmu," Harapan yang ingin segera tercapai.
Selalu kena marah dan dijadikan kacung, membuat Juno beberapa kali menerima hinaan bahkan pukulan. Kekhawatiran sang bos yang berlebihan, cukup membuat kesal hati Juno.
Kenapa kepercayaan selama ini hancur begitu saja, hanya karena Tiger tidak ada? Memang anak kesayangan selalu jadi perioritas utama, hingga yang lain tersingkirkan dan menerima efek dahsyat dari keemosian bos besar.