Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Membayar Hutang



Duit akhirnya terkumpul sepuluh jutaan. Kali ini banyak yang ikut taruhan, sehingga bisa menang banyak. Sebenarnya penghasilan lebih dari utuh tapi bagi-bagi keuntungan sama teman lain, terutama untuk perbaikan motor yang kupinjam, kalau ada yang rusak. Sebagai pemakai harus ada rasa bertanggung jawab juga.


"Semoga ini cukup untuk membayar cicilan. Lain kali aku harus giat ikut balapan lagi, agar bisa cepat melunasinya," Menuju kediaman para rentenir itu.


Motor butut terpakai. Meminjam teman lagi. Walau body sudah berondolan, tapi laju mesin masih tetap ok untuk dibuat ngebut. Bahkan ingin menyalip kendaraan lagi masih bisa.


Jarak tidak jauh, sehingga hanya beberapa detik bisa langsung datang. Gelap gulita kutempuh hanya untuk segera melunasi. Kalau cepat terselesaikan, pikiranpun jadi tenang.


Tok ... tok, tetap berusaha sopan datang ke kediaman mereka, walau sempat membuat kericuhan dirumah bapak kemarin.


"Ee'eh, kamu lagi. Mau ngapain lagi kamu kesini?" tanya salah satu orang suruhan kemarin.


Dari wajah masih memperlihatkan dia babak belur. Dia menunjukkan sikap ketakutan.


"Aku ada urusan penting," jawab sesingkat mungkin.


"Urusan penting apaan lagi? Jangan bilang sekarang kau ingin mengobrak-abrik markas kami," tuduhannya.


"Haist, memang kamu mau kutambah lukanya. Sudah, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Sekarang panggilkan bos kalian. Aku ada urusan penting sama dia," suruhku tak sabar.


Phak, menghentakkan kaki secara kasar ke lantai. Membuat preman itu terkejut.


"Sekarang apa lagi? Jangan bengong melulu. Cepat panggilkan dia," bentakku.


"Ehh, iyyy-ya." Dia berlari terbirit-birit masuk ke dalam rumah.


Beneran orang kaya. Rumah sangat mewah. Terus menyapu pandangan. Sangat berbeda jauh dari rumah Cantika. Luas dan wejuk. Wajar saja harta dia dibuat hutangan. Tapi sebanyak apapun harta itu, kalau dihasilkan dari riba pasti tidak akan barokah. Apalagi dengan cara memeras orang kecil, pasti uang itu akan terasa panas. Bagi dia sangat nyaman dan bibuat santai, namun jangan bangga dulu sebab dunia akhirat akan menantikan balasannya.


"Ada apa ini? Kenapa kau memanggilku, ada keperluan sangat penting 'kah? Apa tidak tahu siapa diriku ini?" Suara galak yang sepertinya sang bos.


Wajah sudah keriput. Berpakaian bak orang kaya. Topi bundar memenuhi kepala. Cerutu memanjang sebagai penyedap mulut. Asapnya berterbangkan memenuhi udara. Jari tangan dipenuhi gemerlap cicin akik. Leher terlingkarkan kalung keemasan. Gaya sangat angkuh. Wajah sangar dengan kumis memanjang memenuhi atas bibir.


"Aku memang tidak kenal. Maaf jika menganggu anda, tapi kedatanganku kesini bermaksud baik yaitu ingin membayar hutang," Berbicara sopan.


"Oh, baguslah. Aku suka gayamu."


Anak buahnya berbisik. Seperti sedang memberitahu siapa sesungguhnya diriku ini. Tatapan beliau jadi sangar dan penuh penelitian dari atas sampai bawah.


"Nih, ambillah. Mulai sekarang jangan berurusan lagi dengan bapakku. Cukup kemarin kalian menganggu dia. Urusan kalian sekarang hanya padaku. Semua akan kubayar, paham!" tegas berbicara.


Melemparkan uang diatas meja depan. Cuma ada tiga kursi sebagai duduk para tamu yang sedang menunggu.


"Wah, kamu punya nyali besar juga ya, untuk mengancam kami. Tak menyangka jika kau pintar juga ilmu bela diri, sehingga anak buahku babak belur semua. Salut sama kamu yang masih muda ini. Apa kau ingin bekerja denganku? Lumayanlah gajinya untuk menafkahi bapak kamu yang pengutang itu," Dia menawari pekerjaan yang mustahil.


"Cuuih, dasar manusia munafik. Jangan ceramah disini. Semua orang itu sama. Mereka mencari sesuap nasi dengan cara tak wajar dan kotor juga. Jangan sok pintar kamu," Beliau kelihatan kesal.


"Jangan samakan semua orang begitu. Ada yang benar-benar mencari secara halal. Kalau menuruti apa yang kamu ucapkan tadi pasti diunia akan sebab hancur akibat banyak kemaksiatan," jawaban terlontar begitu saja tanpa sadar.


Sekelebat bayangan alim hadir. Rasanya mulut tak pernah berbicara tentang kebaikan. Semua terasa tak terkendali. Heran jadinya jika bisa fasih menuturi.


"Hmm, iya ... iya. Sekarang undur diri dari sini. Muak mendengar ocehanmu. Bikin telinga panas saja."


"It's ok. Bye." Melambaikan tangan begitu saja.


Meninggalkan arena sang pemakan harta. Tidak ingin menyingungnya lagi. Kalau merasa tersindir berarti kelakuan dia salah. Orang kadang tidak sadar jalan dapat nafkah dari cara benar atau tidak. Terpenting dapat mengenyangkan perut. Ada yang mengatakan jika banyak orang sakit aneh, disebabkan aliran darah dan perut terisi oleh benda dari yang tidak baik. Mencari tidak dijalan lurus, sampai tidak sadar mengrogoti tubuh sendiri.


Kembali ingin pulang. Mata sudah tidak bisa menahan kantuk. Badan terasa mengambang. Tenaga mulai lemas. Jari sedikit kebas dan sakit. Terlalu banyak memutar gas dalam pertandingan.


Tin ... tin beberapa motor membunyikan klakson motor cukup keras dan mendadak. Aku yang fokus sama jalanan tiba-tiba ambyar. Mata jadi melek.


Seketika mengerem mendadak. Kukira para berandalan pemuda itu hanya ingin mendahului jalanan, tapi siapa sangka jika mereka mau menghadang. Beberapa pemukul bisbol mereka bawa. Sepertinya ingin mengajak gelud. Terlihat dari cara mereka mulai menghampiriku yang tengah duduk santai diatas jok motor.


"Hei, sini kau! Lawan kami jika berani," tantang secara terbuka.


"Ciih, anak bau kencur yang baru tumbuh kemarin sore saja songong. Siapa takut. Akan aku layani kalian sampai puas menerima hajaran dariku," Maju untuk siap melawan.


"Jangan banyak b*cot. Lawan kami sekarang!" Salah satu dari mereka mulai maju.


Pertama perlawanan yang diberikan adalah mengayunkan tangan. Phak ... phak, secara brutal membalas dengan mengayunkan bogeman secara bertubi-tubi. Tak sampai disitu. Melayangkan tendangan kakipun tak luput kuberikan.


Perkelahian kian sengit. Empat orang lawan satu. Apa aku takut dengan cara mundur dan lari? Tentu saja tidak. Justru dengan gagah berani terus menghajar. Tinjuan terus terlayangkan. Sampai wajah mereka penuh luka membiru. Ada yang sudah tidak kuat, sampai terkapar dijalanan aspal. Yang masih ngotot bisa mengalahkanku, terus saja menantang tanpa lelah. Namun, semua tetap berakhir aku menjadi pemenangnya.


"Katakan, apa mau kalian? Kenapa ingin sekali menghajarku?" Kucengkram kerah baju salah satu dari mereka.


"M-mma-maafkan kami. Sebenarnya kami hanya disuruh orang, untuk merampok uang yang kau dapatkan dari hasil menang balapan tadi," Kegugupan memberikan keterangan.


"Apa? Jadi katakan siapa yang menyuruh kalian," Menampar kasar pipi dia.


"I-ttu, kami tidak tahu. Hanya menerima bayaran saja, lalu berangkat menemui kamu."


"Ah, sial. Kenapa kalian begitu bodoh mau menerima pekerjaan itu. Sekarang rasakan akibatnya. Matilah kau!" Kasar berbicara sambil memberikan bogeman terakhir tepat mengenai hidung.


Sangat tersulut api kemarahan. Tidak terima ada orang yang mengincar diriku hanya demi uang. Pasti sang pesuruh adalah salah satu geng motor. Mana mungkin tahu mengenai uang itu, jika bukan salah satu dari orang yang ikut halapan. Revan gitu loh. Mau ditantang? Jangan harap mereka bisa kabu bebas. Pasti akan kubalas dan mencari mereka sebab kalau tidak bisa ilmu bela diri, akulah akan jadi korban penghajaran massal.