Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Perkenalan Murid Baru



Tak mudah untuk menemani orang lain, ketika suasana hati sedang buruk. Tapi kalau dia memang tulus ingin selalu menjaga diri ini, dia pasti akan berusaha sebisa mungkin untuk selalu ada di dekatku. Meski dia sedang bad mood atau punya masalah yang belum siap untuk diceritakan, dia akan berusaha ada disampingku selalu.


Sekarang dia selalu memastikan diri ini harus baik-baik saja. Dia merupakan orang pertama yang telah menyelamatkan saat dalam bahaya. Kalau dia tulus membantu, pasti dia akan selalu ada didekatku, ketika menerima suasana suka maupun duka?


"Mampukah dia jadi orang yang bisa selalu kuandalkan? Hhhh, tapi tidak boleh berharap banyak pada, Revan. Aku belum tahu sebaik apa dia ini. Apakah dia benar-benar tulus menolong atau ada maksud tertentu? Lagian dia masih berstatus orang asing dirumah kami, maka harus tetap waspada sebab dari luka, sepertinya dia bukan orang sembarangan."


Siapa sih yang tak langsung meleleh hatinya ketika ada pria yang sangat bertanggung jawab dan punya jiwa pelindung yang kuat.


Pria yang akan selalu melindungi pasti mempunyai ciri-ciri tertentu. Dia memiliki sejumlah karakter yang berbeda dari pria lainnya.


Banyak pertanyaan dan angan-angan dikepala. Menatap santai ke arah dekat jendela. Banyak anak-anak sedang melakukan olahraga dilapangan. Jam pelajaran belum dimulai, yang sepertinya guru nantinya sedikit terlambat. Tangan terus menyangga dagu ketika melamun.


"Keluarkan buku pelajaran bahasa Indonesia kalian hari ini," Pak Doni sudah hadir.


Terbelalak ke arah posisi guru berdiri sekarang, ketika disampingnya ada Revan yang tengah berdiri santai sambil tersenyum manis ke arah semua murid.


"Kok bisa sih dia satu kelas? Wah, apa ini yang namanya suatu keberuntungan? Semoga saja dia akan jadi teman yang selamanya baik padaku," Harapan hati.


"Wah, dia tampan sekali," Kekaguman teman satu bangku yaitu Ani.


"Hmm, dan pastinya mungkin dia sangat ramah."


"Kok bisa tahu?"


"Nampak dari cara dia tersenyum kepada kita semua."


"Oh, benar juga ya."


Semua murid perempuan begitu riuh dan saling berbisik-bisik. Dari samar-samar pembicaraan mereka kalau semua pada kagum melihat wajah Revan, yang notabennya memang tampan dan sangat cool. Dari wajah dapat ditebak kalau dia sangat ramah dan baik orangnya.


"Kalian hari ini kedatangan teman baru yang baru saja pindah dari kampung. Semoga kalian bisa diajak kerja sama dengan baik, dan akrab untuk dijadikan teman," Pak Doni memberikan nasehat.


"Oh tentu saja, Pak. Bukan akrab lagi, bahkan itu murid baru bisa dekat ... dekat lebih sama kami," jawab salah satu siswi yang kecentilan.


Sepertinya banyak yang kagum pada Revan. Terlihat para gadis-gadis tersenyum tidak jelas. Bahkan ada yang baper ingin cepat-cepat lebih akrab dan kenal.


"Hadeh. Kalian lihat yang bening saja pada baper. Slow ... kalau mau berteman, jangan mentang-mentang dia ganteng, kalian memburunya seperi mangsa yang empuk, sehingga membuat Revan takut sama kalian nanti."


Revan tersenyum tersipu malu, dengan jari telunjuk mengaruk kepala.


"Tidak apa-apa kok, Pak. Saya malah senang banyak yang mau berteman," jawab keramahan Revan.


"Nah 'kan, anaknya sendiri yang mau lengket sama kami, hihihi."


"Baik, Pak!" jawab kompak semua orang.


"Ya sudah. Kalau begitu kamu perkenalkan diri dulu, setelah itu pilih bangku yang ingin kamu duduki, sebab kita akan memulai mata pelajarannya."


"Baik, Pak."


Setelah perkenalan, Revan dengan santai berjalan menuju dekat tempat dudukku. Ingin berpura-pura tidak mengenalnya, tapi dengan berani dia melambaikan tangan ke arahku.


"Wah, siswa tampan itu menatap ke sini," Ani terkesima.


Sejenak dia sadar dan melihat kearahku dengan wajah curiganya.


"Eeh, sebentar ... sebentar. Apa kalian sudah kenal. Kok kalian kelihatan akrab gitu," Kecurigaan Ani.


"Iya, kami kenal."


"Ishh ... ckck, kenapa punya teman setampan itu kamu ngak mau ngenalin. Bikin mood ngak enak saja. Pelit amat jadi orang." Ani memasang wajah cemberut.


"Ya maaf. Kami kenal belum lama, kok."


"Masak sih? Ngak bohong 'kan?"


"Iya, suer."


"Ok, aku percaya. Kalau bohong jangan harap aku ngajak bicara."


"Hadeh, kok gitu sih?"


"Biarinlah. Salah sendiri, punya teman tampan ngak mau ngajak dikenalin. 'Kan pengen juga dekat sama tuh cowok."


"Hhh, maunya. Iya, entar aku kenalkan sama dia."


"Wah, benarkah itu? Kamu memang teman terbaikku," Memeluk manja ketika kemauannya dituruti.


"Hhhh, iya. Benar itu."


Ani teman yang paling spesial, maka tidak enak jika menolak permintaannya. Semoga Revan mau menyambut pertemanan dengan baik.


Jam pelajaran terus berjalan. Dengan khidmat kami mengikuti jadwal yang diajarkan guru. Netra tak lepas melirik ke arah Revan. Rasa cemas ini membuat sedikit tidak tenang, sebab takut jika dia tidak nyaman dikelas ini, ataupun sedikit berbahaya ketika identitas dia masih belum diketahui yang sesungguhnya. Banyak tatapan aneh dari para gadis. Mereka terus saja terbawa suasana kagum ke arah siswa baru itu.