Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Dibully Karena Cantik



Wajah cantik bak artis korea. Lesung pipi hanya disebelah kanan. Rambut yang menjuntai hitam pekat dan bagian bawah sedikit kecokelatan mahoni. Bermata sipit dengan bola mata sedikit kebiruan. Kulit seputih salju dengan kehalusan tiada tara jika ada yang memegangnya.


Namaku Cantika Sekar Lestari, gadis keturunan indonesia chinese. Ibu sudah meninggal sejak umur delapan tahun, ketika mempunyai penyakit jantung. Kehidupan sangat sederhana. Walau kami bisa bermewahan dengan harta, namun ayah selalu mengajarkan jangan terlalu pamer atau sombomg atas barang titipan Tuhan. Profesi ayah adalah seorang dokter klinik. Walau tidak banyak pasien seperti dirumah sakit, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.


Aku tidak tahu kenapa ada sekelompok anak lelaki yang terus memperhatikan dengan pandangan aneh? Bahkan setiap gadis disekolah selalu sinis ketika melewatiku. Aku harus lebih aware dan menguatkan insting, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin karena wajah cantik ini menjadi pemasalahan utama, dan bahkan sempat mendengar kalau aku disebut bidadari pujaan disekolah yang paling tercantik.


Pola pikir yang mudah mengingat semua pelajaran, membuatku dapat julukan siswi terpintar. Banyak lomba yang bisa membanggakan sekolahan, serta piala sering kudapatkan. Apa aku sombong? Tentu saja tidak, sebab buat apa kita sombong, jika diatas kepintaran masih ada yang lebih pintar lagi, bagaikan pepatah diatas langit masih ada langit.


"Berhenti!" cegah beberapa siswi yang nampak songong. Kakinya menjuntai menendamg tembok.


Waktu jam istirahat siang dimulai. Tujuan adalah ke kantin. Seketika dicegah kaki, macet tidak ingin melanjutkan jalan.


"Maaf ada apa, ya?" Kepolosan menjawab.


"Apa kamu yang bernama, Cantika?"


"Iya, itu aku. Memangnya ada apa, ya?"


"Sudah, jangan banyak b*cot. Sekarang ikut kami," Salah satu dari mereka menarik rambutku ke belakanb.


"Ee'eh, apa yang kalian lakukan? Aaghh, sakit. Lepaskan rambutku."


"Diam kamu. Atau kami akan melakukan hal yang lebih gila lagi dari ini," ancam mereka yang tak kenal takut.


Terpaksa menurut saja. Para siswi yang melewati kami hanya diam melihatku, dan tidak ada yang berani menolong atau mencoba mencegah.


Pemimpin geng mereka yang sedang membawaku sekarang, terkenal nakal, sadis, suka memalak, bahkan melukai siswi yang dia inginkan. Badan mulai takut dan gemeteran, ketika merasa tidak ada salah sama mereka, namun kenapa harus dipaksa untuk ikut.


Brak ... brak, pintu kamar mandi diperiksa satu persatu ada orang lagi apa tidak. Jika adapun, cepat-cepat mereka disuruh keluar. Kini tinggalah kami berenam.


Klek ... klek, pintu utama kamar mandi dikunci. Ada sekitar lima orang yang sedang berhadapan denganku sekarang. Wajah mereka kelihatan murka dan ingin memangsaku saja.


Bruk, secara kuat orang yang menjambak rambut tadi mendorong kuat, sehingga aku jatuh tersungkur dikeramik.


"Aww, apa yang kalian lakukan? Apa salahku sehingga kalian membawaku kesini?" Ketakutan yang mulai mendera.


Rasanya tidak terima jika diperlakukan kasar.


Plak, sebuah tamparan tiba-tiba mendarat. Rambut seketika acak-acakan kedepan menutupi mata.


"Kau bertanya kenapa kami mengerjai kamu disini, hah? Jangan munafik jadi perempuan, cuuiiih!" Pemimpin geng menyorotkan mata kemarahan.


"Aku sungguh tidak tahu maksudmu? Tolong jelaskan."


"Hilih, tidak usah pura-pura tidak tahu. Aku peringatkan kamu sekali ini saja. Kalau jadi perempuan jangan kecentilan apalagi mau jadi ******," hinanya kasar.


"Bener tuh, jangan mentang-mentang kamu cantik sehingga pacar bos kami kamu rebut."


"A-ak-kku, sungguh tidak tahu siapa yang kalian maksud itu. Lagian aku tidak pernah merebut, apalagi sedang mendekati cowok disekolahan ini," Kejujuran yang perlu diungkapkan agar diberi pengampunan.


Entah siapa yang dimaksud mereka, sebab banyak cowok yang mengejar-ngejar ingin menjadi pacarku.


"Halah, wajah oplasmu itu sangat menyebalkan sekali. Enaknya kita apain, ya!" ujar salah satu teman mereka.


"Tentunya kita akan bermain-main dulu dengan perempuan sok paling cantik ini, hahahah!"


Mereka semua tertawa dengan senang, seolah-olah aku ini boneka yang bisa disakiti.


"Aaah, jangan ... jangan. Apa yang akan kalian lakukan?" Ketakutan kian menjadi-jadi ketika sang bos memegang silet.


"Akan kuberi riasan yang akan menambah kecantikan kamu, hahaha."


"Tolong, jangan lakukan itu." Tangisan mulai meledak.


Sriiissss, tanpa ampun lagi, pipi telah digores oleh silet. Rasa perihnya mulai terasa. Bau anyir darah mulai tercium juga dihidung.


"Ahhhhh, tidak. Sakit."


"Hahahha, rasakan itu. Gimana rasanya? Makanya jangan merebut pacar orang. Mampuslah kau, wajahmu sekarang jadi jelek."


"Apa mau kami tambah agar lebih sexy lagi."


"Jangan, aku mohon!" Kedua tangan bertangkup memelas.


Byuur, tanpa diduga lagi, sebuah air dalam ember disiramkan ditubuhku. Bahkan bau pesingnya begitu menyengat. Mungkin mereka segaja menampung kencing, lalu ditambahkan dengan air.


"Hahahah, aku puas sekali melihat kamu tak berdaya begini."


Gelak tawa mereka terdengar sangat memuakkan. Tangan mengepal, namun tidak berdaya untuk membalas.


Dring ... dziiinng, suara bel telah berbunyi, tanda jam pelajaran telah dimulai. Anak yang membully mulai berhamburan keluar, meninggalkanku yang telah terisak pilu.


"Kenapa kalian kejam sekali. Apa salahku?"


Sampai detik ini, tidak tahu siapakah pria yang menyebabkan aku terhina begini. Rasa perih dipipi tidak kuhiraukan, sebab rasa sakit dihati kian menyesakkan jiwa. Duduk memeluk kaki, sambil terus terisak pilu.