Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Dia Membuat Takut Para Pembully



Sedikit terkejut siapa yang datang. Lagaknya yang sombong bikin gadis yang menjambakku terlepas tangannya seketika, dengan mulut dia menganga lebar, yang boleh dipastikan kaget siapa pria tampan itu.


Tangan dimasukkan disaku kedua celana. Berjalan bak model profesional. Baju dan dasi tidak rapi, seperti pria urakan. Rambut berponi bak pria ala anak korea. Cool, tampan, modis, dan tentunya bisa berpakaian mengikuti trend seperti orang kaya. Dua teman gadis itu menutup rapat mulut dengan tangan, saat tak percaya apa yang terlihat sekarang.


"Kok bisa ada dia? Apa yang dia lakukan disini? Duh, aku lagi tidak mimpi 'kan, atas apa yang kulihat sekarang?"


"Kenapa dia memakai seragam sekolah? Apa Revan sudah menjadi salah satu murid disini? Aah, tidak ... tidak ... ini tidak mungkin. Tapi dari seragam sama yang kami kenakan, sepertinya dia sungguhan jadi anggota murid disini. Duh, kok bisa sih? Berarti dia akan jadi murid disini?" guman hati tidak percaya atas apa yang kulihat barusan.


Mereka tetap berdiri terperangah. Revan terus berjalan ingin mendekatiku. Sebelumnya, secara sengaja menyenggol kasar bahu Bram. Mereka semua hanya melongo dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Siapa kamu? Kenapa kamu kayak ingin membela, Cantika?" si gadis bertanya penasaran.


"Apa aku harus jujur juga mengatakannya, atau berbohong atas kedekatan kami?" Lagak Revan yang angkuh.


Lengan panjangnya merangkul bahuku secara santai. Ketara sekali kalau kami akrab. Dia tidak malu jika ingin bergaul dengan wanita sepertiku. Dirumah dia sangat pandai untuk mengajak ngobrol. Sangat nyaman dan aman berada didekatnya. Kadang kepikiran terus ingin didekatnya, sebab dia sudah kuanggap sebagai pelindung, ataupun bak dewa pelipur lara ketika dilanda kesedihan.


"Iya, kami harus tahu. Lagian kamu ini siapa ya, kok tidak pernah lihat disekeliling sekolahan ini, atau kamu ini-?" Bram angkat bicara.


"Wah, sebegitu penasaran 'kah kalian ini? Kenapa? Apa kalian kaget jika pria setampan aku ini bisa dekat dengan Cantika? Boleh ... boleh saja sih. Lagian kami dekat melebihi sekedar teman, heheh!" jawaban songong Revan.


Orang bertanya, dia malah balik bertanya. Baru tahu kalau dia suka sekali membolak balikkan kata-kata. Bisa menebak sih, kalau Revan ingin menyingung atas kelakuan mereka tadi.


"Jangan terlalu sombong, bro. Kami hanya ingin tahu dan kedamaian diantara kita."


"Kedamaian yang bagaimana maksud kamu? Dengan cara membully Cantika, gitu? Atau kamu sebagai pria hanya bodoh menyaksikan wanita yang kau cintai disakiti orang lain. Apa itu disebut pria dan kedamaian yang kau inginkan, hah?" Revan mulai melangkah maju, dengan suara mulai terdengar emosi.


"Kamu! Jangan sembarangan kalau bicara. Bukan itu maksudku." Bram mulai menyorotkan netra kemarahan juga.


"Terus yangbagaimana? Kenapa? Apa kau tidak terima atas tuduhanku tadi? Bukankah kalian hanya para pecundang, yang hanya bisanya menyakiti gadis lemah seperti, Cantika. Apakah ini kerjaan kalian selama berada disekolah, hah? Ck ... ck, bukannya belajar yang bener malah menganiaya orang. Sungguh tindakan diluar batas. Bisa-bisa kalian akan didepak dari sini, kalau masih macam-macam sama gadisku?" Revan masih menunjukkan lagaknya yang angkuh.


"Gadisku? Apa maksud kamu? Kami tidak menganiaya. Jangan salah paham." Bram mulai kebingungan.


"Eeh, iya. Kamu hanya salah paham saja, kok. Jangan laporkan kami. Tadi hanya main-main saja." Gadis yang sempat menjambak mulai ketakutan.


Hanya diam menyaksikan pembelaan Revan. Jika menyela takut salah dan bertambah memunculkan emosi mereka.


"Cuiiih, apa yang kamu bilang tadi, salah paham? Eeh, dengar ya! Aku masih punya mata dam telinga yang belum cacat, jadi jangan berbohong atas ulah kalian tadi. Dan masalah Cantika, asal kalian tahu bahwa dia adalah pacarku sekarang, jadi siapa yang berani menyentuh atau melukai maka akan berurusan denganku. Sehelai rambut saja kalian ganggu, jangan harap kalian bisa selamat dari sini, paham?"


Phak, kaki Revan dihentakkan kuat dilantai, sehingga membuat terkejut mereka semua termasuk diriku.


"Eeh, tunggu ... tunggu. Apa maksud Revan tadi? Pacar? Aaah, apa yang dia katakan? Apa aku salah dengar ya tadi?" guman hati mencoba menyadarkan diri sendiri.


"Pacar? Apakah itu benar? Kamu tidak bohong, hanya gara-gara ingin menyelamatkan dia saja, 'kan?" Bram sepertinya tidak percaya.


"Kalau benar, kenapa? Jangan sok usil dan ikut campur. Urus saja gadis itu, atau akan kupatahkan semua tulang giginya, sampai mulut dia tidak bisa berb*cot lagi akibat mengancam orang, aiisshh!" ancam dengan menunjuk ke arah gadis yang menyukai Bram.


"Kamu jangan kasar begitu, bro. Jangan sok jagoan disini. Ngomong secara baik-baik diantara kita. Jangan sampai tangan kita sama-sama terluka dan berdarah."


"Wah, kamu sepertinnya harus banyak belajar dari kamus apa artinya kasar. Apa aku yang kasar atau kalian tadi yang kasar, hah? Mau bukti 'kah? Majulah kalau berani, akan kulayani kalian sampai puas," tantang Revan.


Teman Bram maju mendekat, setelah itu berbisik-bisik sepertinya mulai ketakutan.


"Ahh, satu lagi. Kalian cepat pergi dari sini, atau bukti rekaman kelakuan kalian tadi akan kuserahkan pada guru bk dan sebar kepada murid lain. Itukah yang kalian mau?"


"Eeh, iya. Jangan ... jangan lakukan itu. Maaf sudah membuat Cantika jadi ketakutan begini. Atas nama semua teman, aku disini memohon ampun yang sebesar-besarnya," Ketakutan Bram mewakili.


"Hmm, sekarang kalian cepat pergi dari sini, dan jangan pernah ulangi kelakuan kalian atau ancamanku tadi bisa jadi kenyataan."


"Iya, kami mengerti dan minta maaf." Akhirnya gadis itu ketakutan.


"Kalian boleh pergi sekarang, tapi untuk kamu jangan main undur diri dari sini seenaknya saja. Harus ada kompensasi atas tangan kamu yang berani menjambak tadi, gimana?" tawar Revan.


Dua pria sudah cepat-cepat undur diri dari hadapan kami, sedangkan tiga wanita yang lagaknya tadi menang banyak, kini harus tertinggal untuk menghadapi Revan dulu. Nampak nyali mereka ciut, dengan saling memeluk diantara teman.


"Apa yang harus kami bayar agar kamu bisa memaafkan kami?" Suara getaran ketakutannya.


"Itu mudah banget, kok. Jajan kalian selama sebulan harus diberikan kepada Cantika. Kalau melanggar dan tidak patuh, maka semua rekaman siap disebar, mengerti!" ancam Revan lagi.


"Mengerti!" jawab kompak semua.


"Ya, sudah. Kalian boleh pergi juga."


"Terima kasih telah memaafkan kami."


"Hem, hust ... husst." usir Revan yang nampak sudah muak melihat wajah mereka semua.


Hanya dibuat terbengong, dengan banyak pertanyaan dikepala sekarang. Tindakan Revan sungguh berani, dan berhasil mengusir secara mudah. Salut plus kagum saja pada dirinya yang baru menginjak disekolahan ini, tapi dengan gagah berani membuat mereka kalang kabut oleh rasa takut.