
Kian hari keadaan semakin membaik. Tidak tahu mengapa aku lupa nama sendiri, bahkan kejadian kenapa bisa kepala dan kaki terkena luka tembakan, tidak kuingat sama sekali.
"Kemana semua orang? Kenapa keadaan sepi sekali?" Melihat kesekeliling dekat dapur.
Berjalan tertatih-tatih dan terpincang menggunakan tongkat. Kaki yang terluka parah, belum bisa menormalkan cara menapakki bumi.
"Duh, sakit semua badanku. Remuk redam, dah. Pasti lama tidak sadarkan diri, sehingga kaku dan pegal nih semua ototku," Merasa lelah.
Hari sudah siang. Sinar tembus masuk rumah. Teriknya begitu hangat, sampai gerah rasanya jika didalam kamar terus. Kipas angin sedang mati, menambah pengap dan seperti dipanggang saja.
Kelihatan dari perabotan dan beberapa alat yang terpasang, mereka adalah keluarga yang sederhana sekali. Atau mungkin kaya, namun tidak berlebih-lebihan dalam memakai barang. Disini suasana nyaman dan adem, mungkin karena kampung jadi terasa beda. Walau tidak ingat apa-apa, namun bisa merasakan keadaan dulu yang terjalani.
Dia yang sedang duduk santai dikursi kayu, mengulum senyum melihat kearahku, yang ingin mendatanginya.
"Apa boleh tanya sesuatu."
"Ehh, iya. Ada apa?"
"Gimana keadaan kamu? Apa masih ada yang sakit? Atau perlu bantuan?" Ini perempuan banyak sekali bertanya.
"Aku baik-baik saja. Cuma tadi dikamar gerah, jadi keluar kamar, niat hati mau mencari udara segar sih."
"Oh, begitu!" Dia mengedarkan pandangan ke arah buku lagi, sepertinya dia sedang hafalan pelajaran.
"Oh, ya. Kamu lagi sibukkah? Maaf jika menganggu kamu."
"Ngak ada, kok. Cuma mau belajar sebentar. Kenapa, apa ada yang dibutuhkan?" Bola matanya menatap penuh keseriusan.
"Aku ngak perlu apa-apa, cuma mau tanya tentang diriku ini sebenarnya siapa? Apa kamu menemukan sesuatu benda atau apa yang lain kek, dari baju atau barang lainnya kemarin?" Masih penasaran tentang jadi diri yang sebenarnya.
"Duh, gawatlah kalau begitu. Nama saja aku sampai lupa."
"Tenang saja. Tidak usah panik begitu. Ayah bilang nama kamu Revan saja, dan keponakan beliau yang sengaja datang ke sini mau bantu-bantu, gimana? Apa kau setuju?" Tatapannya terbagi antara buku dan diriku, yang berdiri tepat didepannya.
"Ya, terserah kalian sih. Itu mungkin yang terbaik saat ini, agar orang tidak curiga. Apalagi keadaanku yang kena tembak."
"Wah, kalau begitu deal. Jangan ubah lagi status kamu selama disini. Kalau aku, panggil saja dengan nama Cantika."
Phak, tanpa diduga buku paket dia yang tebal, ditepukkan kuat dipundakku. Karena tidak siap dan mengenai beberapa urat nadi, yang sakit akibat luka dari belakang kepala, sehingga akupun oleng ingin jatuh terduduk dikursi.
"Awas, hati-hati!" Teriaknya yang ingin menolong, dengan mengulurkan tangan.
Naas sekali, ketika sampai ingin mengambil uluran tangan itu, bobotku telah jatuh duluan di kursi, hingga mau tak mau dia juga ikutan terjatuh tepat dipangkuan paha.
Pandangan kami bertemu. Posisi wajahnya dekat sekali denganku. Melihat tatapan gadis didepanku dalam keadaan posisi yang tidak nyaman begini, sepertinya berhasil membuat hatiku berdebar hebat. Entah kenapa, akupun juga tidak tahu?.
Kami sama-sama terdiam, dalam posisi yang tidak terduga. Wajah Cantika, hanya menyisakan beberapa inci saja dari wajahku. Hembusan nafas hangatnya terasa telah menyapu pipi. Tatapan tajam itu seakan-akan ingin menguliti bola mataku.
Dag ... dig ... dug, dalam posisi seperti ini merasakan getaran jiwa hebat. Telapak tangan mulai basah efek dibajiri keringat. Posisi kami begitu dekat sekali, hingga aku bisa mencium bau parfum yang sangat menguar dan menusuk indra penciuman.
Aku tak bergeming sama sekali, ketika menikmati moment yang kurasa belum pernah terjadi padaku, hingga akhirnya gadis manis nan ayu ini menarik dirinya dan meninggalkanku tanpa sepatah kata apapun. Ingin memanggil, tapi sudah berlari duluan menuju kamarnya. Dia menutup pintu secara kasar, mungkin sudah malu sekali atas kejadian barusan diantara kami.
Aku mencoba menetralkan nafas yang sempat terhenti sejenak tadi. Kaget yang terasa, membuatku menahan udara yang ingin masuk lewat hidung. Sungguh lucu, namun berhasil juga membuatku jadi kesemuan memerah.
"Aah, kenapa aku jadi merona begini? Apa ini baru pertama kalinya, aku merasakan dekat sekali dengan gadis. Emm, kayaknya iya! Sebab aku merasakan getaran-getaran yang tidak pernah kurasakan."
"Aah, sayangnya aku tidak ingat apapun tentang diriku. Andaikan saja ingat, pasti kejadian tadi bisa menepisnya walau ada rasa getaran hebat. Hhh, sangat memalukan. Kenapa aku sebagai pria malah terbengong saja, hadeh. Bikin suasana pasti canggung banget nanti," guman hati masih memikirkan kejadian yang tak terduga tadi.