
Tangan mengenggam erat uang merah. Hati merasa gembira. Akhirnya bisa melunasi hutang. Tidak tega jika tabungan itu dia korbankan untuk diriku. Pasti Cantika sudah bersusah payah mengumpulkan sedikit demi sedikit. Walau mendapatkan dengan cara taruhan, yang terpenting tidak menyebabkan orang lain menderita kerugian banyak.
Ingatan belum pulih sepenuhnya. Jangan sampai hidup mengantungkan pada mereka terus. Kalau bisa membantu biaya hidup juga. Walau tidak ada perkataan untuk menganti, namun secara reflek tidak enak hati penumpang terus, tapi tidak ingin meringankan kehidupan mereka. Jalan satu-satunya saat ini harus ikut balapan lagi.
"Ten ... ten. Lihat! Apa yang kubawa sekarang!" Memperlihatkan uang itu dengan cara berjejer membentuk kipas.
"Wah, banyak banget."
Dia menoleh seketika, menunjukkan tatapan keheranan.
"Siapa dulu dong, Revan gitu loh! Ambil ini, sebagai ganti uang kamu kemarin," Kusodorkan uang itu.
"Emm, ngomong-ngomong kamu mendapatkan ini dari mana? Kok cepat banget," Cantika mulai heran.
Buku komik yang sempat dia baca, kini ditaruh dimeja. Mulai serius ingin berbicara. Gadis ini sebenarnya asyik diajak ngobrol. Bahkan kalau sudah masuk dalam topik yang sama, maka tak ada rem untuk menghentikan. Namun sayang para temannya telah salah sangka, maka banyak yang menjauhi dan membully. Nampak supel dan perhatian. Sangat cerdik dan lembut hati.
"Ada dech. Yang jelas dari hasil bekerja."
Menyembunyikan kenyataan, agar dia tidak khawatir berlebihan. Tahu, kalau balapan banyak resiko besar yaitu terjadi kecelakaan. Tak ada yang cara lain bisa cepat mendapatkan uang selain cara itu. Bekerjapun, pasti akan banyak yang curiga, apalagi masih dibawah umur. Sebagai warga asing tidak boleh gegabah dalam bertindak.
"Serius nanya. Emang kerja apa'an? Ini halal 'kan?" jawabnya ragu.
Pasti dia sangat curiga. Kelihatan pengganguran, tapi bisa ada uang.
"Tentu saja. Itu bukan dari mencuri pokoknya. Dijamin seratus persen aman!" ucapku menyakinkan.
"Ok, aku terima. Tapi kalau kamu bohong pasti kukembalikan."
"Boleh. Asal jangan dihabiskan."
"Cih, siapa juga yang bakalan tak terkontrol menghabiskan, hanya untuk berfoya-foya. Aku tuh dari sekarang menabung, kalau bisa suatu saat nanti bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan," tegas dia berkata.
"Wah, bagus itu. Aku akan terus mendukungmu. Jangan menyerah mengumpulkam uang dan belajar. Kamu pintar, semoga saja bisa dapat beasiswa. 'Kan sedikit ringan. Tak memerlukan biaya banyak."
"Hmm, amin. Makasih atas dukungannya."
"Pokoknya jangan goyah dan terus semangat."
"Hmm. Eh, memang kamu sudah sarapan?"
Tidak sadar, setelah tadi malam pulang terlalu larut, sehingga tidur nyenyak dan keburu ingin menyelesaikan hutang, jadi kelupaan untuk membersihkan diri dulu.
"Belum sih. Aku baru saja bangun."
"Oh, kalau begitu mandi sana gih. Bau banget tuh, hehehe."
"Oke, tapi kamu bantuin siapan sarapan."
"Kalau itu gampang. Tenang saja. Tapi adanya hanya nasi goreng."
"Ngak pa-pa. Apapun akan kuterima, asal perut kenyang. Makasih ya, sudah dibantuin."
"Iya. Gih pergi sana."
"Duh, kenapa aku bisa kelupaan bawa pakaian ganti. Dasar bodoh kamu, Revan. Kenapa tadi cepat-cepat hanya bawa handuk saja. Uuuh, semoga Cantika sudah pergi ke kamarnya. Jangan sampai dia melihat keadaanku yang hanya berlilit handuk saja. Bisa gawat dan bikin malu,'" guman hati cemas.
Ruang kamar mandi dekat dengan ruang makan. Tempat tidur agak jauh, jadi harus melewati dua ruangan itu. Jika sampai kelihatan oleh Cantika, bisa hilanglah muka ini karena memperlihatkan body. Selalu makai kaos singlet walau diluar rumah, takut kesannya tidak sopan jika ada yang melihat jika bertel*njang dada.
"Huh, untung saja dia tidak ada."
Kegirangan ketika orang yang kutakutkan tak terlihat. Beberapa kali clingak-clinguk dibalik pintu memperhatikan keadaan sekitar. Dirasa aman, kaki mulai terjulur untuk segera berlari secepatnya.
"Huffft, aman ... aman." Berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruangan air.
"Hei, Revan. Kenapa berjalan aneh gitu. Kayak dikejar maling," sapanya ketika hampir saja memegang knop pintu.
"Aduh, matilah aku. Apa harus berbalik badan, ya! Tapi, takutnya malah bikin takut Cantika," guman hati ragu.
Berbalik badan dengan kilat, untuk berhadapan langsung dengan dia.
"Hehehe, soalnya mau cepatan ambil baju. Lihat! Aku bertelanjang dada begini sebab tadi kelupaan membawanya," Memberikan keterangan.
"Santai saja. Aku sekarang ngak lihat kok."
Wah, salut sekali. Ternyata Cantika bukan wanita gampangan, yang akan tergiur melihat body cowok.
"Hhehe, maaf ya. Bikin kamu agak terganggu."
Mengaruk belakang kepala. Sementara Cantika menjawab, sambil kedua tangan menangkup netranya.
"Iya, cepetan sono gih. Pakai baju kamu. Takutnya malah masuk angin." Terbukalah tangan itu.
"Aacchhhhhh, astaga! Gila apa kamu, yak!" Teriaknya begitu keras.
"Hah, ada apa ... ada apa?" Kebingunganku.
"Haich, kenapa kamu malah begong gitu. Tadi aku nyuruh pakai baju cepat-cepat, kenapa tidak pergi juga, jadinya kelihatan 'kan! Ish ... ishhhh,"
"Haha, iya juga ya. Habisnya aku lucu ketika melihat kelakuan kamu. Lagian aku ini pria loh! Ngak masalah 'kan tubuh bagian atas terbuka."
"Hadeh. Kamunya ngak malu, tapi diriku yang merasa tak enak jika menatapnya. Sudah isssh, pergi sana. Apa mau membiarkan aku berjalan tidak bisa melihat begini?"
"Owh, benar juga sih. Ya sudahlah, aku pergi dulu."
"Hmm, pergilah."
Melenggang pergi dengan wajah tersenyum. Tingkahnya sangat mengemaskan saja. Biasanya para gadis akan lebih suka melihat petakan sawah, tapi ini beda. Sangat langka saja, dia bisa menjaga pandangan agar tak ternodai.
Tak berhenti bibir ini mengudarakan senyuman tipis. Seperti orang gila saja bila teringat kejadian tadi. Tahu persis Cantika wanita pemalu, maka dia harus menjaga kesucian netranya itu.
Walau agak canggung kami berdua duduk berhadapan, tapi acara makan tetap terjalankan. Tadi Cantika belum sempat sarapan juga, katanya memang sengaja menungguku. Tidak enak makan sendirian, sementara ada orang lain perlu diajak. Ternyata masih ada saja yang perhatian berlebihan, yang padahal dia bisa memulai duluan makan.
"Aku merasakan kenyamanan dan tentram disini? Apakah selamanya akan begini? Sementara aku masih hilang ingatan?"
"Keluarga ini begitu membuatku terus tersenyum, tapi apakah selamanya akan terus bertahan? Rasanya tidak ingin berjauhan disini. Walau orang asing, mereka semua memperlakukan dengan baik, jadinya betah berlama-lama disini. Semoga ingatan itu tidak kembali secepatnya," Rancau hati yang mulai ketakutan.