
Waktu yang tepat bagi para pembalap liar untuk mulai memamerkan aksinya, ketika malam mulai mengelapkan harinya yaitu jam 24.00. Suasana kian ramai di sebuah jalanan sepi. Beberapa motor biasa sampai yang termodifikasi keren, tampak terjejer rapi terparkir di pinggir jalan. Sementara itu sudah banyak para pemuda berkerumunan di sekitarnya. Mereka berani mengeluarkan uang demi idola bisa menang.
Jalanan sepanjang arena kurang lebih tiga puluh meter itu, memang nampak memukau bagi pecinta motor. Kondisi jalanan yang mulus, sedikit belokan dan dikelilingi oleh beberapa persawahan membuatnya jarang dilintasi oleh banyak kendaraan ketika malam. Beberapa tiang lampu penerangan di sisi kanan kiri jalan, membuat keadaan tak terlalu gelap. Sungguh cocok untuk aksi balapan liar.
Tiger adalah leader dari geng Brike, yang gila akan kekuasaan sehingga melakukan banyak macam cara agar mendapatkan apa yang dia inginkan. Banyak warga sebenarnya yang sudah mengeluhkan atas kelakuan mereka. Sering kali tawuran antar geng, tapi sampai tidak merusak beberapa barang warga. Hanya saling melukai dan pukul saja. Siapa yang kuat kena bogeman dia adalah pemenangnya.
Bahkan sering kali masuk keluar dalam daftar pembinaan dikepolisian merupakan sudah hal biasa. Namun namanya hobi, mereka tetap melakukan taruhan demi balapan liar itu. Bagi mereka, siapa yang menang dianggap bos yang paling berkuasa dan ditakuti.
Para penonton mulai bersorak ria melihat kedatangan seorang pria dari arah selatan. Kehadirannya di tengah arena balap liar itu, terlihat mencolok. Dengan paras gagah, tinggi semampai, alis tebal, bibir tipis sedikit kemerahan dan tentunya hampir berbentuk love.
Matanya menyiratkan ketakutan terselubung bagi siapapun yang melihatnya. Tatapan itu selalu menyorotkan ketegasan. Setiap gadis selalu ingin menjadi pacarnya, tapi kelihatannya dia pria yang sementara ini anti namanya cewek. Baginya sekarang yang terkuat dan dianggap pemberani adalah tujuan utama dikenal.
"Tandingan musuh kita kali ini sepertinya tidak bisa diremehkan, Bos!" ucap salah satu teman sekaligus anak buah.
"Iya nih. Lihat wajahnya yang songong itu. Dengar-dengar dia juga jago mengusai trek jalanan, yang bisa membuat dia dijuluki si penguasa tak terkalahkan," simbatan yang lain yang memuji.
"Jadi kalian sedang meremehkan kemampuanku?"
"Bukan gitu, Bos. Cuma kami memberi sedikit bocoran tentang lawan kita kali ini, agar kamu lebih hati-hati terhadapnya."
"It's ok. Kalian tidak usah ketakutan berlebihan begitu. Kalian macam tak kenal aku saja. Apa pernah kalian lihat diriku kalah, enggak 'kan? Jadi jangan sekali-kali meragukan kemampuanku," Dongkol rasanya semua anak buah meremehkan.
"Eeh, iya, Bos. Maafkan kami. Kami hanya memperingatkan agar lebih waspada saja sih."
"Eem, jangan banyak bacot lagi. Lebih baik kalian persiapkan kelengkapan motornya, agar aman dan gesit ketika balapan nanti."
"Siap, Bos. Semua sudah aman dan termodifikasi seperti biasanya, jadi tidak perlu khawatir akan kemampuan motor kali ini."
"Bagus kalau begitu. Jika menang kalian juga yang untung, jadi jangan membual terus mulut kalian itu. Panas dengarnya, paham?"
"Baik, Bos." Salah satu mewakili.
"Lihat Saja nanti, bagaimana caraku akan mengalahkan pembalap yang kata kalian hebat itu dengan seru dan gesit ," Tak kenal takut. Malah tersenyum smirik dengan percaya diri.
Terdengar bengis, sehingga semuanya terdiam. Tiger, memang pria yang tidak banyak bicara, tapi sekali bicara bisa membuat orang sakit hati dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Semua orang mulai bersorak, ketika sosok lelaki muda dengan wajah tengil yang muncul dengan beberapa teman dibelakangnya. Gaya terlihat sangat arogan, sombong ketika mendekat arena motor, Menenteng helm fullfacenya yang berwarna putih, mulai ketara kalau dia tidak akan pantang menyerah juga.
Keduanya saling memelototkan mata, siap beradu. Sama-sama memberikan senyuman kesombongan. Hari ini adalah kali pertama mereka bertemu di arena. Lawan nampak begitu menyebalkan. Sekaligus terlihat begitu menarik di mata Tiger, sebagai lawan yang kemungkinan tak akan mau mengalah.
Dua orang segera mengenakan perlengkapan keselamatan, berupa sarung tangan dan tak lupa helm. Tiger menatap sengit pada lawan di sebelahnya sambil menggeber-geber gas, sehingga menimbulkan suara berisik.
Terlihat seorang perempuan cantik nan bertubuh molek, kini tengah berdiri di tengah area balapan. Berpakaian kaos ketat dengan rok mini. Kulit paha putih yang terpampang jelas, sehingga menambah nafsu seseorang yang melihatnya ingin mengenal. Dia sekarang terlihat tengah memegang bendera hitam putih, pertanda pertandingan akan segera dimulai.
"Ok, kita akan memulainya."
"Apa sudah Ready ... semua?"
Bruum ... brummm, hanya ada jawaban motor terus saja digas kuat oleh dua pembalap yang tak ingin ada kekalahan.
Sorakan dari kedua kubu pun semakin menambah panas suasana. Namun, Tiger dan lawan tampak tak mempedulikan suara penonton. Keduanya terlihat fokus, menatap satu titik di depan. Kelihatannya, keinginan mereka untuk mengalahkan satu sama lain begitu kuat.
One, two, .... three
Gooo ... !
Diterbangkanlah bendera yang dipegang oleh wanita **** tersebut.
Bruuum ... bbrummmm ... nggghhhhhh
Dua orang yang jadi pembalap terus melajukan motor mereka dengan ugal-ugalan, serta saling salip-menyalip adalah trik mereka, dan berusaha saling mendahului.
Ketinggalan hal biasa, namun tak mau menyerah begitu saja. Nama kebesaran yang sudah dikenal jangan sampai jatuh hanya gara-gara kalah.
Kini lawan mulai nampak memimpin paling depan dengan Tiger di belakangnya. Lawan tersenyum smirk melihat hal tersebut akibat tertinggal jauh, tapi senyum itu tidak bertahan lama.
Garis finish mulai terlihat. Tiger yang sempat santai kini mengejar, dengan menambah kecepatan laju motornya. Ditikungan dia menunggu lawan sedikit lengah, sehingga dengan gesit mulai bisa mendahului dan lewan agak tertinggal jauh di belakang nya.
Lawan yang tadinya tersenyum sombong, kini mulai was-was melihat Tiger bisa menyalip dikelengahan dia ditikungan, hingga akhirnya iapun menambah kecepatan laju motornya agar bisa menyalip lagi.
Tapi kelihatannya sia-sia saja, karena akhirnya bendera telah berkibar, tanda Tiger berhasil cepat datang ke garis finish.
"Wih, Bos sangat-sangat hebat dah. Bisa menang lagi. Memang tidak terkalahkan kemampuanmu, Bos!" Heboh salah satu dari anak buah.
Helm terbuka, menampakkan wajah cool, manis, sekaligus tampan.
"Ya iyalah. Makanya jangan selalu meremehkan kemampuan orang sebelum kalian melihatnya."
"Sipplah, Bos. Enggak lagi kok, kami meragukan kemampuan kamu itu."
"Berarti malam ini kita pesta lagi 'kan?"
"Hmm. Pasti seperti biasanya 'lah."
"Eeh, tapi kamu jangan minum berlebihan lagi. Jijik gue, lihat kamu sampai muntah disembarang tempat di diskotik kemarin."
"Hehehe, maaf dech. Habisnya sebuah pesta kemenangan, harus dimanfaatkan baik untuk puas menikmati minuman."
Menjadi hal biasa mereka saling berpesta dengan minuman berakh*hol. Para pemuda itu bahkan selalu lupa waktu kalau sudah teler. Gadis cantikpun tak lupa ikut serta meramaikan dengan jadi pemandu karaoke. Tiger hanya bisa diam melihat kelakuan anak buah, sebab dia tidak suka minum terlalu mabuk dan bisa linglung akan dirinya siapa. Apalagi jika ketahuan bos besar, bisa kena mental dihajar habis-habisan.
"Tapi enggak juga muntah merata-rata ditempat. Awas, ya! Bikin susah pulak membawa kamu pulang nanti."
"Beres. Kalau tidak keblabasan."
sementara Tiger yang mendengar keributan antara anak buah, dia hanya bisa menggeleng-geleng saja. Itu hal biasa saling olok mengolok. Bahkan bercanda saling pukul sudah jadi makanan geng, agar lebih akrab satu sama yang lainnya.
Sementara lawan yang kalah, melihat senyum kebahagiaan mereka sudah merasa geram, marah dan berencana ingin balas dendam.