
Merasa kagum tapi sedikit aneh. Bagaimana tidak curiga, ketika Revan begitu lihai mengalahkan para berandalan sekolah. Wajahnya sangat polos, tapi ketika menunjukkan aksi bela diri sangat menakutkan, apalagi diiringi emosi.
"Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa kau bisa dengan cepat mengalahkan mereka? Apakah benar seperti dugaanku, bahwa kau ini seorang perwira?"
"Tapi kayaknya bukan dech! Dari wajah dia sih, belum cukup untuk jadi anggota kepolisian?" Terus saja berpikir tentang pria yang kami selamatkan.
Duduk melamun. Jam pelajaran kosong, sehingga kami santai belajar dalam kelas. Anak-anak lain sedang gaduh membicarakan sesuatu, dan ada juga yang sedang asyik bercanda dikeluar kelas. Kami tidak berani melangkah jauh meninggalkan ruangan, sebab takut ketahuan oleh para guru lain dan bakalan kena teguran.
Revan kini sibuk dipanggil ke ruang Bk. Pasti sangat kesulitan serta kena marah habis-habisan dia disitu, tapi mau gimana lagi, ketika sudah menonjok orang dan menghancurkan beberapa fasilitas kantin. Sempat khawatir jika dia kena skors karena berulah sama murid lain.
"Semoga tidak terjadi apa-apa sama, Revan. Tahu dia salah, tapi 'kan yang mulai mereka duluan. Berharap mereka tidak menuntut juga karena babak belur," Dalam hati banyak berharap yang baik.
Munculnya rasa cemas ketika sedang berada pada situasi yang membuat khawatir adalah hal yang normal terjadi. Biasanya, ketika pemicunya telah hilang, rasa cemas turut mereda dengan sendirinya.
Menghirup udara banyak-banyak. Kegelisahan ini supaya cepat mereda. Dari percakapan para teman dikelas, sedang sibuk bergosip tentang Revan, tapi disebalik itu banyak juga yang sedang memuji.
Bernapas panjang dari dalam bisa membantu tubuh dan pikiran lebih rileks, dan mengurangi aktivitas saraf pada otak yang memicu munculnya rasa cemas. Saat merasa cemas, tarik napas panjang dan dalam selama sekitar beberapa detik, tahan dan hembuskan kembali dalam hitungan waktu yang sama. Ulangi selama beberapa kali, hingga merasa lebih tenang.
Hufff, seketika pria yang bikin khawatir, duduk santai dibangku depanku. Semua mata tertuju pada kami. Revan santai menanggapi.
"Gimana? Apa kamu dipersulit sama guru?"
Berbicara pelan, agar anak lain tidak menambah bahan gosip.
"Tidak juga. Masih aman. Tapi-?" balas tertahan.
"Tapi, apaan?"
"Pihak mereka minta ganti rugi. Sedangkan aku tidak punya uang. Gimana yah, cara bayarnya?" Dia kelihatan sedang berpikir.
"Memang banyak 'kah yang harus dibayar?"
"Enggak juga. Cuma enam ratus ribu, itu sebagai ganti fasilitas kantin yang rusak."
"Oh gitu. Terus gimana sama anak berandalan itu? Apa mereka juga minta ganti rugi?"
"Kalau mereka enggak sih, sebab mereka duluan yang mencari masalah. Tadi sudah dijelaskan, dan untung saja ada beberapa anak yang dimintai saksi membenarkan ucapan mereka, jadi amanlah diriku. Sedangkan mereka juga kena hukuman dan diminta ganti rugi," terangnya.
"Tapi mereka babak belur. Apa tidak dipermasalahkan itu?"
"Untungnya tidak."
Tatapan kosong lurus ke depan. Tangannya mengetuk-ngetuk bangku. Ada semburat kegelisahan yang nampak dari raut mukanya.
"Ada apa? Kenapa kau melihatku aneh begitu?"
Kaget saat ketahuan menatap kearahnya.
"Enggak ada sih, cuma sedikit curiga sama wajah kamu yang sepertinya sedang tidak tenang."
"Hehehe, kamu betul sekali."
"Terus, apa itu?"
"Masalah uang tadilah. Memang apaan lagi. Kamu tahu sendiri, kalau aku disini warga asing. Mana ada uang untuk menganti. Jadi pusing banget nih!" Dia menyandarkan badan dipembatas bangku.
"Wah, apakah itu benar?"
"Iya, tapi nanti pulang dirumah saja kita bicarakan ini. Takut kalau anak lain tahu pada banyak cakap."
"Sipp, beres. Kamu orang baik. Terima kasih sudah dibantu."
"Iya, sama-sama. Biasa saja. Tidak usah memuji. Aku tulus mau menolong."
"Iya, walau begitu tetap terima kasih."
Muka berubah seketika. Bisa tersenyum lebar. Awalnya tak tenang, tapi kini dia kelihatan cukup lega. Senang melihatnya yang jadi santai, hingga kami saling ngobrolpun merasa nyaman.
*******
Sesampainya dirumah, Cantika langsung mengandeng tangan Revan untuk memasuki kamarnya. Pria itu hanya kebingungan dan merasa segan karena pintu dikunci tergesa-gesa. Sebelumnya mengintip keadaan luar untuk memastikan sesuatu.
"Eeh, apa-apaan ini?"
"Shuust, diam-diam. Takut kedengaran sama ayah."
"Hah, maksud kamu apa?"
"Kamu tinggal diam disini dulu. Aku akan mengambil sesuatu yang kamu butuhkan."
Terbengong melihat gadis berambut panjang itu berlari menuju lemarinya. Tak lama dia mengambil sesuatu. Sebuah celengan telah dia bawa.
"Untuk apaan itu?"
"Masak kamu lupa sih! Bukannya lagi butuh uang untuk ganti rugi kerusakan?"
"Iya, sih. Tapi ngak harus pakai uang kamu. Nanti biar aku usahakan sendiri untuk membayarnya."
"Paham, tapi waktunya pasti mendesak. Pihak kantin pasti tidak sabar suruh membayarnya. Sementara kalau kamu mencari uang dulu, pasti akan lama dan kesusahan."
"Benar juga sih. Cuma ngak enak sama kamu."
"Tidak usah sungkan begitu. Untuk sementara pakai ini saja. Semoga uangnya cukup."
"Ya udahlah, kalau kamu memaksa. Nanti aku berjanji akan mengembalikannya."
"Iya, santai saja. Kalau tidak digantipun tidak apa-apa."
Tempat penyimpanan uang itu kelihatan berat. Pasti sudah lama mengumpulkan isinya.
"Jangan gitulah. Itu uang kamu. Pasti sudah bersusah payah mengumpulkannya."
"Enggak juga. Ini hanya uang dari sisa menyisihkan jajan. Memang sudah lama sih, cuma sekedar buat senang-senang saja bukan untuk kebutuhan."
"Oalah, begitu. Ya, sudah. Terima kasih sudah dibantuin."
"Ok, sama-sama."
Prank, wadah yang terbuat dari tanah liat akhirnya terpecahkan juga. Uang recehan dan lembaran kertas nampak berserakan. Mereka dua memungut satu-persatu dan mulai sibuk menghitungnya.