Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Preman Penagih Hutang



Kami makan hanya berdua saja. Bapak sedang ada urusan diklinik. Kalau banyak pasien berkunjung, bisa pulang sampai larut malam. Untuk menghemat pengeluaran, Cantika akan bersedia mengirimkan bekal. Kehidupan sudah pas-pasan, jadi jangan sampai terlalu boros jajan atau beli nasi diwarung. Terlihat sepi suasana kalau tidak ada beliau. Suasana diantara kamipun kini terasa canggung. Hanya detingan sendok mengiringi.


Beras tidak pulen, tapi cukup putih dan bikin nasi tidak pecah kecil-kecil ketika sudah tertanak. Walau makan hanya berlauk tahu dan sambal kecap saja, tetap harus menikmati dan bersyukur. Cantika bisa masak yang katanya belajar dari sang ayah. Walau beliau pria, tapi demi memenuhi kebutuhan harus banyak berperan sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada yang terlalu istimewa jika makan disini. Sering ala kadarnya makan. Tidak ingin meminta lebih. Bisa ditampung untuk tidur dan makan saja sudah harus berterima kasih.


Brok ... brok, ketukan itu terdengar mengalun keras dan tidak sabaran. Kami saling menatap heran. Kekhidmatan makan jadi terganggu, bahkan Cantika seketika menghentikan memasukkan nasi ke dalam mulut


"Duh, siapa sih pagi-pagi begini mengebrok pintu? Sungguh tudak sopan banget sih mau bertamu," Kekesalan Cantika.


"Coba kamu lihat dulu. Siapa tahu penting."


"Hmm, baiklah kalau begitu."


Dia langsung bangkit dari tempat duduk. Nasi yang masih tersisa setengah dipiring, dia tinggalkan. Sepertinya tamu itu tidak betah menunggu lagi, ketika ingin bertandang. Khawatir jika terjadi sesuatu, maka akupun ikutan melangkah meninggalkan meja makan. Cukup menggangu juga tamu yang tak ada akhlak itu.


Cantika sudah berada diambang pintu. Tangannya bersedekap, serta bersikap tak ingin menunjukkan kesopanan.


"Ada apa, ya? Kenapa kalian kasar sekali mengentuk pintu," Cantika nampak geram.


"Halah, jangan banyak b*cot. Sekarang panggil bapak kamu untuk kesini."


Ada sekitar tiga orang bertubuh kekar. Dari wajah sangat sangar. Telinga bertindik. Rambut gondrong dan ada bercepak keriting. Bertubuh kekar. Bagian lengan berotot. Pakaian serba hitam. Dari cara mereka berdandan, sepertinya adalah sang preman.


"Hey, apa kalian tidak bisa bicara secara baik-baik. Ditanya, kok jawabnya malah kasar banget. Dia itu wanita lho! Jaga sikap kalian," Sok cool membela, dengan cara menyandarkan tubuh ditembok dan kaki jenjang ini berdiri menyilang.


"Halah, kamu jangan ikut campur urusan kami. Disini kami tidak ingin banyak berbasa-basi. Cepat panggil bapak kamu, sebelum kami melakukan sesuatu hal yang buruk dirumah ini," Kekasaran mereka berbicara.


Ancaman itu bikin kian naik pitam saja. Bertamu tapi mau bermain kasar. Dalam bercakap bernada tinggi dan mulut tak bermoral. Tangan menunjuk-nunjuk. Mereka nampak ingin ngajak gelud saja.


"Wow ... wow, jadi kalian mau pakai acara mengancam segala, nih? Bicaralah pelan, sopan, dan hormat pada tuan rumah, maka kami akan penuhi permintaan kalian."


Merubah posisi. Berjalan ke arah mereka. Sikap mereka masih sama, yaitu bersiap ingin bertanding.


"Cuuih, bocah tengil ini banyak cakap juga!" Salah satu dari mereka meludah.


Tatapan kami sama-sama menyorotkan percikan api kemarahan. Tangan mengepal kuat, ingin sekali cepat menabok mulut mereka. Diajak negosiasi sepertinya tidak bisa. Memang kalau seorang preman, kadang suka asal jeplak saja kalau berbicara.


"Sudah, Revan. Kamu tidak usah ikut campur." Cantika memberikan kode mengedipkan mata ke bawah, yang sepertinya untuk sementara ini aku harus diam dulu.


Kelakuan mereka seharusnya ada yang mengajari. Jangan mentang-mentang kami masih kelihatan bocil, lalu bisa seenaknya saja ditindas.


"Nah, gitu dong. Bicara baik-baik. Bikin emosi jiwa kami saja. Sekarang, cepat panggilkan bapak kamu yang si*lan itu." Kelihatan sekali ada urusan penting hanya pada ayah.


Hadeh, mulai lagi mereka ngegas. Sepertinya mereka tidak sadar kalau terus bicara kasar. Mood ini berubah menjadi tidak baik, jika mereka terus saja bicara kayak bebek.


"Maafkan kami, Pak. Orangtua saya lagi tidak ada dirumah," Cantika berbicara sehalus mungkin.


Suara bergetar. Gertakan itu, bikin dia grogi. Memang sangat menakutkan wajah sangar mereka. Tak patut jika ada bentak-bentakan walau hanya menyuruh.


"Hhh, gadis ini!" guman hati kasihan.


Dari pengamatan, Cantika terlalu gugup. Tanpa ragu lagi mendekati. Jarak sangat menempel. Merangkul pundaknya. Menoleh ke arahku, namun pandai acuh seperti tidak terjadi apa-apa. Jangan sampai dia banyak tebakan, dari sikapku yang ingin berpura-pura mesra.


"Kalian dengarkan, apa yang dikatakan pacar saya!" Santai menghadapi.


Demi keamanan, bolehlah berdrama sedikit. Siapa tahu mereka akan pergi cepat, ketika Cantika berusaha kulindungi.


"Jangan bohong kamu!" Tangan besar mereka terulur ingin menyentuh wajah Cantika.


Secara sigap menghentikan. Alis ini bertaut, ketika sudah menaikkan volume kemarahan. Mendadak kuputar terbalik tangan yang ingin berbuat kurang ajar itu.


"Ahhh, sakit!" teriak preman berkulit hitam pekat.


"Lepaskan dia. Kamu jangan kurang ajar pada teman kami. Atau kamu akan merasakan akibatnya," Teman lain membela.


Mereka mulai maju selangkah. Tangan semakin kutekan untuk terus terputarkan.


"Cih, silahkan saja kalau kalian berani," Tantangku tak kenal takut.


Tangan yang kuputar tadi, memberikan dorongan pada sang preman secara kasar sehingga dia jatuh tersungkur.


"Siapa takut. Kalianlah yang pasti akan habis ditanganku."


"Cuiih, dasar bocah br*ngsek."


"Kamu minggirlah sebentar, Cantika."


"Tapi, Revan."


"Minggir! Aku bilang," bentak secara kasar.


Tangan sedikit memberikan dorongan ke belakang agar dia cepat mau menepi. Sepertinya para berandalan sudah siap, serta tidak akan menyerah. Tangan mereka mulai mengepal dan mengambil kaki untuk berposisi berkuda-kuda siap menyerangku. Aku hanya santai ingin menghadapi. Hanya nyengir ingin meremehkan mereka.


"Majulah. Kalau kalian masih punya nyali."


"Cih. Dasar bocil. Jangan belagu amat kau ini. Pasti tubuh kurusmu itu akan kami habisi dan cincang-cincang."


"Jangan banyak b*cot melulu kalian!" Emosi jiwa yang sudah tak terbendung lagi.


Diremehkan sebagai anak kecil yang tak punya kekuatan, cukup membuat tersingung juga. Tangan mengepal juga, ingin segera menghajar.


"Aaah, ayo lawan kami!" Salah satu dari mereka mulai mengayunkan tijuan.


Dapat menghindar, dengan mengeser kepala ke samping. Dia tidak menyerah hingga tangan mengepal itu mencoba terayun disebelah kiri, namun lagi-lagi bisa menang dengan cara memiringkan badan.


Swooosh, tak ingin kalah. Kaki jenjang ini tepat menendang bagian dada. Ketika tumbang, semakin membuat mereka kian mengebu-ngebu ingin menyerang balik.


Tangan santai masuk dikedua celana. Yang lain mulai maju. Bogeman, tendangan, bahkan jebakan ingin menggunakan pisau bisa kuhalau begitu cepat.


Phak ... phak, secara cekatan berhasil menghalau serangan mereka.


"Wah, hebat juga kau bocah tengik."


"Tidak usah memuji. Persiapkan diri kalian agar tidak kena hajaranku lagi."


"Sial. Jangan sombong dulu kau ini, untuk bisa mengalahkan kami."


Bhugh. Sambil ada lompatan sedikit, akhirnya bisa melayangkan bogeman tepat mengenai dihidung. Kesakitan parah dengan cara membekap. Sepertinya Dia kalah, setelah ada darah mengucur keluar.


Bruuk, sekali mengayunkan kaki, ada yang terseret jauh jatuh. Habislah sudah mereka bertiga. Banyak luka yang kuberikan, dari mulai hidung, pelipis, pipi, tangan, bahkan kaki berusaha terpatahkan. Ada yang berguling-guling akibat tak tahan merasakan kesakitan.


"Gimana, apa kalian mau mengakui kemampuanku?" Mencengkram kuat kaos salah satu preman.


"Ii-iiya, kami akui."


"Bagus. Makanya jangan terlalu berlagak duluan, sebelum kalian membuktikan. Sekarang katakan, apa tujuan kalian kesini sehingga penting mencari bapak?" Duduk berjongkok. Mencari informasi akurat.


"Eeh, masalah itu, maaf banget. Kami hanya disuruh oleh bos kami untuk menangih hutang."


"Hah, apa yang kalian katakan? Hutang? Tidak ... tidak, ini tidak mungkin. Kalian pasti mengada-ada. Mana kungkin bapak berani begituan," simbat Cantika.


Raut wajahnya sangat syok. Mungkin selama ini tidak pernah terjadi, maka sedikit tidak percaya. Namanya juga orang baik dan perdiam, jadi terlihat mustahil saja jika beliau berani mengambil resiko meminjam.


"Kami ada buktinya."


"Benarkah? Kalau begitu serahkan sama kami."


Srek, secara kasar dan kilat kuambil. Memberikan kepada Cantika agar dia membaca seksama. Wajahnya seketika melongo serta terkejut. Sampai kertas bukti terbiar terbang ketiup angin.


"Apa kau baik-baik saja, Cantika?"


Dia melamun. Tidak ada jawaban. Mimik wajah itu tergambar sudah campur aduk.


"Ya sudah. Kalian pergi dari sini sekarang, sebelum kuhabisi lagi. Masalah hutang itu, nanti akan kubicarakan lagi sama kalian. Asal tinggalkan alamat, paham?"


"Iy-iyyaa, kami paham."


Mereka langsung kalang kabut berlari meninggalkan kami berdua. Ah, rasanya tidak tega jika melihat gadis nan cantik ini mengeluarkan airmata. Berusaha memeluk, agar dia sedikit tenang dan tidak panik.