
Sebagian pria ada yang terlahir dengan sifat perhatian dan kebaikan hati yang luar biasa. Cantika adalah seseorang yang begitu kuhormati dan hargai.
Perhatian yang sering mengajaknya mengobrol itu hanya sebatas berbasa-basi ingin lebih mengenal dalam lagi tentang dirinya. Kalau yang diobrolkan itu tentang hal-hal umum tanpa ada sesuatu yang personal, agar aku bisa mencoba untuk respek pada dia. Pada dasarnya, hanya ingin menjaga hubungan baik dengan gadis penyelamat hidup.
"Hhh, kasihan banget Cantika selama ini. Pasti dia sangat tersiksa dan tidak betah lagi berada disekolahan. Salut juga sih, dia menjalani hari-harinya tanpa berkeluh kesah sama sekali pada bapaknya. Andaikan, aku tidak memergokki dia terluka kemarin, mungkin aku tidak akan berada disekolahan ini. Apakah ini takdir yang telah diatur sebagai penyelamatnya? Kalau iya, baguslah. Lagian semua berjalan lancar ketika masuk sini," guman hati menatapnya dengan rasa iba.
Kami duduk bersebelahan dibangku yang telah tersedia. Bibirnya tersenyum cetar ke arahku. Barudan dia bersikap biasa, seperti tidak terjadi apa-apa padanya.
"Wah, gadis ini. Hampir saja dia tadi dicelakai para temannya, tapi dia menyikapi dengan santai," Kekagumanku.
"Apa kau baik-baik saja, tadi?" Mulai membuka obrolan.
"Seperti yang kamu lihat! Aku baik-baik saja."
"Kenapa sih kamu tidak mau melawan? Mereka itu bisa keterlaluan berprilaku lebih sadis dari yang tadi. Bisa jadi malah akan melukai kamu kayak kemarin."
"Hhh, mana bisa aku melawan. Mereka berlima, sedangkan aku sendirian. Tidak ingin mencari masalah sama mereka, makanya cukup diam dan tidak ingin membalas."
"Hadeh lain kali jangan begitu. Bisa jadi kamu akan diperlakukan tidak baik terus oleh mereka. Kamu harus sedikit berani agar tidak jadi bulan-bulanan kena tindas."
"Entahlah, aku tidak punya kekuatan untuk melawan."
Terlalu polos dan diam sebagai gadis jaman now.
"Ya sudah, untuk saat ini biarkan saja. Ada aku disini. Jangan khawatir dan ketakutan lagi seperti tadi. Mulai sekarang dijamin aman. Kalau mereka ganggu lagi, silahkan bilang padaku."
"Iya juga sih, tapi tidak enak sama kamu yang telah kurepotkan."
Cantika perempuan lemah lembut. Tutur katanya sangat santun dan mengema begitu pelan, seperti ahli dalam kesopanan. Hidung mancung, ada tahi lalat dibawah kelopak mata, yang menambah kesan sangat ayu. Kulit putih bersih bagaikan salju. Rambutnya yang hitam sangat lebat dan selalu tergerai memanjang. Setiap pria pasti akan tergoda untuk memilikinya.
"Mana ada direpotkan, justru kalian yang selalu repot untuk mengurusku. Seharusnya banyak terima kasih selama ini telah menjaga hingga kondisi membaik."
"Kami tidak mempersalahkan itu. Selama bisa membantu, kenapa tidak. Lagian, kemarin kamu memang butuh uluran tangan kami agar bisa sembuh."
"Hmm. Pokoknya terima kasih banyak sama kamu dan bapak. Berkat kalian, aku bisa hidup dan menjalani aktifitas dengan baik."
Kuperhatikan lamat-lamat wajahnya. Dia melirik dengan tatapan malu-malu. Sejenak hanya ada keheningan. Tidak ada topik obrolan lagi yang perlu dibahas. Kedekatan ini terasa tidak nyaman dan kaku saja, entah apa yang terjadi diantara kami, mungkin masih belum dekat saja pertemanan.
"Oh ya, kamu kok bisa ada disini?"
"Ya, mau sekolah 'lah."
"Tahu. Maksudku siapa yang membantu memasukkan kamu disini? Padahal kamu hanya orang asing dan pendatang baru. Pasti data-data tentang dirimu tidak ada."
"Tentu semua ini berkat pertolongan bapak. Beliau kusuruh memasukkan disini, dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan akibat tertunda oleh musibah sakit kemarin."
Sebenarnya tujuan utama sekolahadalah melindungi Cantika, dari tangan jahil yang melukai dirinya.
"Oh, syukurlah kalau dipermudah. Tapi, apakah pihak sekolah tidak curiga mengenai data-data kamu."
"Sepertinya enggak sih, sebab bapak bilang kalau kita masih keluarga. Entah bagaimana beliau bisa membuatku masuk tanpa halangan. Yang jelas sih selama seminggu permintaanku, dan baru hari dipebolehkan menginjak disekolahan kamu ini."
"Baguslah. Tidak ada halangan sama sekali. Nanti akan kutanyakan bapak sendiri, kok bisa masuk sini yang padahal data tidak ada."
"Hmm, tanyakanlah. Akupun juga penasaran."
Bel, tanda masuk mulai berdering nyaring memekak telinga.
"Ya sudah. Kita masuk kelas dulu saja. Jam pelajaran akan dimulai nih."
"Kamu masuk duluan gih. Aku masih ada urusan harus menemui kepala sekolah dulu."
"Oh gitu. Kalau begitu, bye ... bye. Semoga kita satu kelas."
"Amin. Semoga saja."
Gadis manis sudah hilang dari pandangan. Melihat kejadian yang terjadi harus memikirkan banyak taktik, agar Cantika tidak teraniaya lagi. Aku harus siap siaga menjaga. Jangan sampai dia tambah parah lagi lukanya, akibat para teman yang tidak bertanggung jawab hanya karena masalah sepele.