Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Nasehatnya Bikin Adem



Tepuk tangan mulai meriah digemakan para siswa. Mereka begitu semangat melihat aksiku tadi. Hanya bisa mengarukkan kepala, sebab tak tahu apa yang membuat mereka semua tersenyum puas ke arahku.


"Wah, Revan. Kamu hebat banget!" ucap salah satu murid yang mendekatiku.


"Aah, mana ada hebat. Aku hanya sedikit memberi pelajaran sama mereka saja tadi," Merendah diri sendiri.


"Serius sama perkataan kami. Apalagi disini tidak ada yang berani sama mereka, baru kali ini kamulah bagai super hero menghajar mereka tanpa ampun," pujian berlebihan mereka.


"Terima kasih, cuma jangan berlebihan, ah!" Senyum temanis terlempar.


Ada beberapa bangku yang rusak. Bahkan ada makanan yang siap makan, hancur berserakan. Pecahan belingpun terpelanting kemana-mana. Pasti akan kena panggil guru bk, sebab fasilitas telah dihancurkan. Tidak masalah sih kena marah, namun yang terpikirkan sekarang jika minta ganti rugi. Mau ganti pakai apa?


"Ya sudah, kalian bubar gih. Lagian ini waktunya kita akan belajar lagi," usir Cantika secara halus.


"Baik!" jawab kompak.


Satu persatu orang mulai menghilang. Hanya menyisakan kami bertiga. Sama-sama melihat ke sekeliling. Bisa dipastikan akan dapat hukuman membersihkan dan merapikan.


Bunyi bel masuk sudah berdenting. Sebelum undur diri, kami meminta maaf dulu sama pihak penjaga kantin.


Jam pelajaran dimulai. Rasa lelah membuat kepala terkulai lemas diatas bangku. Mata mencoba terpejam. Malas rasanya mendengarkan suara guru yang sedang menerangkan. Buku paket sebagai penutup muka agar tidak ketahuan.


Phuk, tiba-tiba ada lemparan sebuah kertas, yang diremas menjadi bulatan. Cantika memberi isyarat untuk membaca tulisan.


[Jangan tidur, iiih. Habis ini jam pelajaran habis dan bisa pulang sekolah. Jadi kamu bisa puas nanti tidurnya]


Tangan memberi tanda O, sebagai tanda ok dan mengerti. Tapi kepala tak berdaya jika ditegakkan terus, maka kembali terkulai lemas tiduran. Raut wajah Cantika nampak kesal, namun aku malah menyukainya dan tertawa cekikikan didalam hati.


*******


Terik matahari yang menyengat, membuat kami berhenti sejenak disebuah taman dekat rumah. Hampir beberapa menit mengayuh, rasanya hampir patah saja ini kaki. Belum terbiasa saja mungkin.


"Kamu memang jarang naik sepedakah?"


"Entahlah. Mungkin saja itu, sebab pegal banget nih." Memukul-mukul pelan kaki.


"Jangan menyerah. Nanti juga akan terbiasa."


Senyuman itu bagai sudah membelah bulan. Begitu cantik dan mempesona. Melihatnya saja, bisa menetramkan jiwa.


"Kamu memang petarungkah?" tanya bernada lemah lembut.


"Tidak tahu. Tadi terjadi begitu saja, bisa mengerakkan tangan dan kaki untuk menghajar. Aku kira hanya menguasai ilmu bela diri saja."


"Tapi kelihatannya kamu sangat mahir dan pandai melumpuhkan lawan. Perkelahian tadi sangat hebat, apa mungkin kamu anak ketua bela diri, ya?"


"Hhh, bagus juga sih kamu bisa membela mereka, tapi jangan keseringan memukul orang. Itu tidak baik. Takutnya nanti kamu malahan banyak musuh. Lagian kita dilarang menyakiti binatang. Mereka juga bernyawa pasti merasakan sakit juga, namun mereka tidak bisa berbicara dan membalas. Begitu juga manusia, itu justru kebalikannya. Jika kamu menyakiti teman, pasti mereka akan berbicara dengan cara balas dendam, sebab habis merasakan sakit akibat pekelahian," nasehatnya.


Tidak diragu lagi bahwa Islam mengajarkan berbuat ihsan dan kasih sayang kepada semua makhluk. Bahkan berbuat baik kepada sesama makhluk hidup.


في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أجْرٌ


“Dalam setiap perbuatan baik terhadap makhluk yang bernyawa ada pahalanya” (HR. Bukhari no.2234, Muslim no. 2244).


إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإحْسَانَ علَى كُلِّ شيءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فأحْسِنُوا القِتْلَةَ، وإذَا ذَبَحْتُمْ فأحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ


“Sesungguhnya Allah ta’ala akan mengganjar semua perbuatan baik terhadap segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh (dalam perang), maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih hewan, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Diantaranya, tajamkanlah pisau kalian, dan buatlah hewan sembelihan tersebut tenang” (HR. Muslim no.1955).


Namun, jika ada binatang yang mengganggu kita atau bahkan membahayakan diri kita, maka boleh menyingkirkannya dan boleh membunuhnya jika diperlukan. Penjagaan diri manusia dan kemaslahatan manusia lebih diutamakan dan didahulukan daripada kasih sayang kepada binatang.


كل مؤذي من الحيوانات والحشرات أنه يُقتل أو يُتخلص منه


“Setiap binatang yang mengganggu itu boleh dibunuh dan disingkirkan.“


Sumber Dari Google


Yang dikatakannya benar juga. Terasa adem saja dilubuk jiwa. Perasaan begitu terharu , ketika asing saja mendengar petuahnya.


"Kenapa perkataan dia terasa menusuk jantung? Apa selama ini tidak ada yang menasehatiku?"


"Aah, apa aku ini anak berandalan, sehingga tentram saja jiwa ini. Kalau iya, semoga saja aku bisa meninggalkan keburukan itu dan akan msnjadi anak lebih baik. Terima kasih Cantika, perkataan kamu membuatku agak sedikit sadar, apa arti saling menyayangi umat manusia maupun binatang," guman hati tersentuh.


Mimik bibirnya yang lembut kutatap lamat-lamat. Sorot mata menyiratkan kesejukkan. Paras wajah itu sangat menenangkan jiwa.


"Hei, Revan. Apa kau mendengarku?" Lambai-lambaian memanggil ketika hanyut dalam lamunan.


"Eeh, iya. Maaf. Aku mendengarkan, kok."


"Masak sih? Habisnya kamu kayak begong gitu."


"Walau mata lain, tapi telinga masih mode on."


"Oh, baguslah kalau begitu. Ingat kata-kataku itu, ya."


"Yap, pasti itu. Ucapanmu sangat bermakna. Semoga kelak jadi pedoman hidupku juga."


"Amin, semoga."


Setelah kelihatan agak teduh. Kami melanjutkan menganyuh sepeda. Saling beriringan menaikinya. Banyak yang kami obrolkan. Bahkan tertawa riang bersama, saat menceritakan kelakuan lucu para teman.