
Tidak terduga jika bapak yang notabennya orang pendiam dan tidak banyak berulah, bisa-bisanya meminjam uang pada rentenir. Uang tiga puluh juta bagi kami yang miskin ini nominal yang sangat fantastik. Mungkin butuh bertahun-tahun untuk membayarnya. Sedangkan kehidupan saja pas-pas'an, apalagi mau mencoba membayar uang itu, yang bunganya semakin lama kian membengkak.
"Ini, kamu minumlah dulu, agar lebih tenang," Revan menyodorkan segelas air putih.
Jantung berdetak hebat akibat kaget. Raut wajah kusam, sedih, dan sedikit cemas. Tertunduk lesu tak tahu apa yang harus dilakukan. Merasa sangat frustasi.
"Terima kasih!" Meneguknya sedikit kemudian tergenggam ditangan.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Nanti malah bikin kamu tambah pusing dan proses belajarnya terganggu," Pria ini terus menenangkan.
Posisinya duduk kami, dekat sekali. Mulut terdiam. Revan menatap khawatir. Tangan diletakkan diatasku. Merasa nyaman dan cukup melegakan, tetapi bayangan harus membayar sangat menghantui. Tak tahu lagi caranya melunasi, sedangkan harta kami tidak banyak. Pekerjaanpun selalu tersendat, jarang ada pasien yang datang berobat.
"Bagaimana aku tidak kepikiran. Sedangkan uang yang harus dibayar begitu banyaknya. Dari mana bisa dapat dengan cepat?" Ketakutan ini membuatku menitikkan airmata.
"Sudah ... sudah, ngak usah mewek lagi. Kamu nangis kejer serta keluar darahpun, masalah tidak akan kelar dengan cepat. Lebih baik memikirkan cara, ataupun bergerak yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah." Dia mengusapkan airmata ini agar terhenti.
Ucapan dia benar. Agak tenang. Aimata seketika terhenti. Kekhawatiran jika terluka, dihajar, bahkan diancam lagi, sangat bikin gemetaran saja. Untung ada Revan yang jago, andaikan aku atau bapak sedang sendirian dirumah? Pasti habislah kami berdua.
"Emm, begini saja. Lebih baik kamu tenang dulu. Masalah itu, nanti akan aku bantu. Gimana?" tawarnya dengan santai.
Menoleh kearahnya. Bola mata ini menatap tak percaya. Mimik muka dia kelihatan serius. Senyum tipisnya sangat meyakinkan. Duduk santai dan tenang, seperti benar-benar bisa memecahkan masalah kami.
"Duh, Revan. Kamu jangan aneh-aneh. Sebanyak itu, gimana kamu dapatkan dengan waktu cepat? Emm, kamu ngak merencanakan sesuatu yang berbahaya 'kan?" Kecurigaanku.
Pletak, kening disentil. Kuusap pelan karena sedikit sakit. Kalau bukan dianggap keluarga saja, pasti bisa membalasnya. Dia terlihat gregetan padaku.
"Kenapa bawaannya kamu curiga terus, sih! Pokoknya aman. Aku akan mencarikannya nanti. Lagian apa salahnya membantu untuk meringankan beban kalian. Selama ini sudah merawat dengan baik, jadi apa salahnya jika sekarang waktunya membantu kalian."
Wajah ini ditangkupnya menggunakan kedua tangan dibagian pipi, sehingga bibirpun mengerucut. Gaya berbicara penuh keseriusan.
"Masalah itu kami ikhlas, kok. Jangan jadi beban kamu. Santai saja. Kami tidak akan menuntut agar kamu bisa berbalas budi."
Sepertinya Revan terbebani tinggal disini, makanya berasa tidak enak terus.
"Iya, juga sih. Tapi tetap saja tidak enak, selama ini kalian menjagaku sampai sembuh dan memberikan perawatan yang baik."
Masih saja ngeyel. Anaknya memang kayak mau menang sendiri, dan tidak ingin kalah omongan ataupun dibantah.
"Terserah kamulah. Yang terpenting jangan berbuat macam-macam apalagi membahayakan nyawa kamu sendiri seperti kemarin."
Pandanganku begitu sayu. Mengenang kejadian kemarin, membuatku merasa kasihan. Tidak tega pria setampan dia harus terkapar oleh luka parah lagi.
Nampak senyuman itu dipaksakan. Apakah dia disini sedang berbohong, atau ada sesuatu yang disembunyikan? Entah apa itu, yang jelas sekarang tak bisa menebak dia.
Tok ... tok, lagi-lagi ada suara orang ingin bertamu.
"Assalamualaikum!" Cukup lega, ternyata itu adalah bapak.
"Walaikumsalam," jawab kami kompak.
Dengan sigap ingin menghampiri beliau. Tidak sabar lagi menahan gejolak didalam hati. Ingin cepat tahu kejelasannya.
"Ada apa ini? Kenapa didepan tadi semua berantakan?" tanya beliau.
Langsung menyalami tangan. Akibat panik, sampai lupa kalau pot tanaman bunga banyak pecah. Kursipun sampai ada yang patah. Ada bercak darah juga yang berceceran. Pasti cukup berserakanm
"Justru kamilah yang seharusnya bertanya. Apa yang Bapak lakukan, sehingga berurusan sama para preman itu?" Berbicara sampai ngos-ngosan ketika tak bisa menahan amarah lagi.
"Apa maksud kamu, Nak?" Beliau pura-pura tidak tahu.
Kedua bahu terpegang tangan Revan. Tarikan nafas panjang terdengar mengalun kasar. Kini nurut, walau menampakkan wajah cemberut. Tangan bersedekap seperti masih tidak terima.
"Hei, jelaskan semuanya. Jangan membuat Bapak tambah bingung."
"Maafkan Cantika, Pak. Dia lagi terbawa emosi saja."
"Lalu? Bolehkah kalian menjelaskan?"
"Bapak seharusnya lebih tahu daripada kami," sewotku galak.
Beliau mengaruk parah bagian depan kepala. Kelihatannya masih tidak paham juga arah pembicaraan kami. Bibir bertemu ketika tidak mengerti.
"Ini masalah hutang, Pak."
"Astaga, apa itu benar? Apa kalian tidak diapa-apain mereka 'kan?" Setelah tahu, makin akut saja sikap khawatir beliau.
"Kami aman. Untung saja Revan bisa bela diri dan cepat menghajar mereka," ketusku.
"Alhamdulillah, kalau begitu! Dasar mereka itu, bikin ulah saja. Sudah dibilangin nanti akan dibayar, malah bikin kalian takut saja," Mengelus dada ketika merasa lega.
"Bapak, masih punya hutang pada kami mengenai penjelasan."
Masih sewot dan tidak terima. Sebagai anak pasti ikut terseret juga. Pikiran jadi tidak tenang. Bapak sudah mencari nafkah sendirian, tapi malah datang beban baru dari kasus meminjam uang.
"Baiklah. Kalian duduk dulu. Akan Bapak jelaskan. Jangan cemberut lagi. Ngak baik," singgung beliau pada anaknya sendiri.
Kami bertiga didudukkan dikursi ruang tamu. Aku masih tak ingin membuka topik pembicaraan. Rasa kesal ini masih belum mereda, sebelum mendegar alasan beliau.
"Sebenarnya Bapak tidak ingin berhutang pada mereka, namun karena kebutuhan mendesak untuk pengobatan
Ibu kamu dulu, maka tidak ada jalan lain selain meminjam pada rentenir itu. Kebutuhan hidup semakin banyak juga, terutama untuk sekolah kamu, Nak."
"Astagfirullah, Pak. Kenapa juga harus pada mereka. Bunga besar dan semakin membengkak. Lalu, bagaimana kita akan melunasinya?" Rasanya jadi sedih, karena itu semua demi keluarga.
"Bapak juga tidak tahu. Kerjaan semakin sepi dan hasil dari kebun tidak bisa mencukupi," Tertunduk lesu.
"Hhh, Bapak yang sabar. Kita pasti akan bisa melaluinya." Aku yang awalnya tidak terima akhirnya luluh juga, setelah wajah kusut beliau menampakkan ketidakberdayaan.
Kupeluk tubuh beliau. Ujian mulai bertubi-tubi datang. Mau berontakpun, ini semua adalah jalan kehidupan yang sudah diatur.
"Kalian tidak usah terlalu bersedih begitu. Insyallah, aku akan membantu! " Revan angkat bicara.
"Terima kasih, Nak Revan. Atas kebaikan kamu. Kalau bisa jangan, karena belum waktunya kamu mencari nafkah."
"Masalah itu, Bapak tidak usah terlalu khawatir. Nanti saya akan cari jalan keluar yang tepat, agar bisa dapat uang banyak. Masalah kerja, itu bisa saya atasi."
"Tapi, Nak Revan!"
"Bapak sama Cantika tenang saja. Serahkan semuanya padaku. Cukup doakan. Semoga kita bisa melunasinya dengan cepat, agar kita tidak berurusan lagi sama para preman itu."
"Emm, baiklah kalau begitu, tapi tetap hati-hati walau kerja nanti tidak membahayakan sekalipun," Bapak langsung menyetujui.
"Iya, Pak. Pasti itu."
Kalihatan sangat mencurigakan. Sebenarnya apa yang dilakukan Revan hingga dia ngotot mau membantu. Dari dugaan dia sedang tidak bekerja, namun kenapa dia bisa mendapatkan uang dengan cepat seperti hutangnya padaku? Penuh tanda tanya dan teka-teki yang perlu diungkap.