
Suara didapur bikin penasaran, sebab kayak orang sedang sibuk memasak. Aku hanya duduk santai dihalaman depan rumah, sambil menikmati angin yang sepoi-sepoi menerpa wajah. Banyak tetangga yang memamdang ke arahku dengan tatapan heran, namun kuacuhkan sebab kata yang punya rumah, anggap sebagai keluarga saja jika ada yang tanya.
"Apa Cantika lagi masak, ya?" Berdiri tegak, mencoba berjalan ke arah bau masakan, yang sedap sekali dari tadi menganggu perut.
Perut mulai keroncongan. Cacing dalam perut ingin dihajar oleh makanan, agar tidak mengrogoti rasa sakit akibat kelaparan. Bau harum bumbu yang ditumis, makin membuat hidung tertarik ingin mencicipi secepatnya.
"Dari baunya saja, kau ternyata pandai masak juga!" Bathin kagum.
Berjalan terpincang. Tidak mau merepotkan lagi, seperti manja duduk dikursi roda. Untung nyawa sudah diselamatkan saja harus bersyukur. Mereka orang baik, maka harus membalas bersikap baik juga.
"Apa ada yang perlu dibantu? Kamu kelihatan kewalahan," tanya sudah sampai juga akhirnya dekat dapur, setelah beberapa menit tertatih kesusahan.
"Eeh, ngak ada, kok. Kamu duduk atau istirahat saja."
"Jangan begitu. Kamu kelihatannya repot sekali, sini aku bantu!" Rasanya tidak bisa diam begitu saja.
"Jangan ... ! Aku beneran baik-baik saja kok, jika kamu tidak bantupun. Kamu lagi sakit jadi lebih baik banyak-banyak istirahat saja, takutnya tambah parah nanti."
"Ngak pa-pa, Kok. Aku malah tidak enak kalau tidak membantu. Badan rasanya pegal semua, dan akan bertambah lesu jika tidak digerakkan."
Mulai memegang piring, baskon, dan pengorengan yang tertumpuk dalam bak pencucian. Tangan mulai ambil sabun dan ingin mengosoknya. Walau belum berpengalaman, namun pernah melihat di iklan televisi.
"Duh, kamu ngak usah repot-repot begitu. Nanti malah aku kena marah, jika Ayah tahu menyuruh kamu bantuin."
"Tenang saja, biar nanti aku bantu jawab. Bukan menyuruh, tapi memang kemauanku sendiri yang sengaja ingin membantu."
"Tapi-?"
"Sudah, ngak usah ragu begitu. Kamu lanjutkan masak saja, biar semua yang kotor ini jadi urusanku."
"Hh, baiklah kalau itu kemauan kamu."
Akhirnya Cantika mengalah juga. Tangan mulai cekatan dengan satu persatu ingin nampak mengkilap. Agak kesusahan juga sih, jika tongkat berada dikiri kanan ketiak untuk menyangga kaki, tapi lebih tidak enak kalau sudah numpang makan tidur, tapi tidak ada sopan santun mau membantu membersihkan.
Buih bertumpuk. Setelah selesai menyabun, menyalakan kran untuk membilasnya. Semoga saja apa yang kulakukan bermanfaat, yang padahal tidak ingin dikatain jadi beban saja dirumah ini.
Sekejap-kejap pandangan kami sama-sama melirik. Kelihatannya kami berdua masih malu atas kejadian tadi. Ada rasa deg-degkan kembali, tapi berusaha semaksimal mungkin menormalkan keadaan, biar tidak ada rasa canggung diantara kami.
Tanpa sengaja pergelangan tangan kami saling bersentuhan ketika Cantika menaruh wajan kotor, dan seketika kami kaget dengan sama-sama menatap dengan malunya. Benar-benar dibuat tidak nyaman keadaan ini. Apa yang sebenarnya terjadi diantara kami? Sehingga rasa canggung ini bikin tidak enak saja, jika hanya berduaan begini.
"Assalamualaikum," Suara salam seorang Bapak-bapak.
Menebak kalau itu Ayah Cantika.
"Waalaikumsalam," jawab kami kompak.
Cantika berlari menuju arah suara itu. Aku masih sibuk dengan urusan mencuci, sebab masih ada beberapa belum siap lagi kubersihkan.
"Duh, Nak Revan. Kenapa kamu repot-repot bantuin, Cantika. Keadaan kamu belum pulih total lho itu," Beliau menatap heran, ketika aku mulai ikutan duduk.
Cantika dengan cekatan bantu menuang air putih, kemudian mengambil piring dan menyedokkan nasi dua centong.
"Makasih."
"Hmm, sama-sama."
"Tidak ada apa-apa, Pak. Sekali-kali badan digerakkan, agar otot tidak kaku terus. Kalau ada kegiatan begini, biar rasa sakitnya tidak bikin lemas."
"Ya, sudah. Kamu tapi tetap hati-hati, sebab luka kaki pasti akan lama sembuhnya."
"Siap, Pak. Akan kuingat selalu kok, apa yang anda katakan."
"Ya, sudah mari makan."
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Tidak usah sungkan begitu. Anggap saja kita sudah menjadi keluarga. Anak Bapak sudah cerita 'kan?"
"Iya, Pak. Terima kasih kalian sangat baik kepadaku, yang padahal tidak tahu siapa diriku ini."
"Santai saja. Kami juga senang membantu orang yang lagi kesusahan. Itu dihitung-hitung sebagai amal kebaikkan."
"Iya, Pak."
Kami menikmati makanan dengan khidmat. Tidak ada obrolan, hanya detingan sendok terus mengiringi.
Ternyata kalau siang beliau makan dirumah. Walau ada klinik sendiri atau warung didekatnya, kata masakan anak lebih enak dan nikmat. Benar juga sih apa yang dikatakan beliau, karena sekarang mencicipinya.
Wadah tidak cukup satu menghidangkan lauk tadi, sehingga numpuk lagi cucian. Kasihan lihat gadis manis itu bolak-balik membersihkan, jadi berniat membantu lagi.
"Kamu kelas berapa?"
"Aku masih kelas dua, Kak!" Dia melempar senyum ramah.
"Jangan panggil Kakak. Revan saja cukup," suruhku.
"Tapi, ngak enak kalau manggil nama saja, lagian takut orang tanya kenapa tidak manggil Kakak."
"Iya juga, sih. Terserah kamulah, mana baiknya. Yang penting bikin santai diantara kita."
"Iya, Kak."
Aku masih bergulat dengan urusan piring. Cantika sepertinya sedang sibuk dengan urusan lain yaitu menyapu serta mengepel. Anak yang rajin, selalu membantu orang tua, beda sekali seperti yang kulihat digawai, yang suka manja dan mengutamakan penampilan saja.