Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Berhasil Masuk Dengan Mudah



Penyamaran akhirnya berhasil juga. Aku bisa leluasa masuk tanpa ada yang merasa curiga. Mungkin petugas PLN sangat dibutuhkan, makanya mereka tidak merasa curiga. Tidak menyangka jika penjagaan memang ketat sekali. Ada beberapa bodyguard terus saja berseliweran berjalan, saling bergantian posisi menjaga.


Dengan santai aku terus berjalan ke arah yang sedang ditunjukkan salah satu bodyguard, menuju tempat listrik yang harus kubenahi. Untung saja keahlian mengotak-atik listrik handal juga. Bos utama tidak salah mengebrak dan mengutamakan pelajaran listrik, sebab dengan begitu bisa mengubah beberapa alat sebagai bahan kelancaran menjalankan aksi. Ada beberapa bakat lain yang mereka ajari seperti menembak, memanah, memodifikasi motor, mengotak-atik beberpa peralatan motor, dan tentunya bela diri.


"Disini tempatnya. Kamu benahi listriknya, sebab sudah tiga jam lebih semua lampu dirumah ini padam," jelas sang bodyguard.


"Iya, saya akan segera memperbaikinya!" jawabku menundukkan kepala dengan topi masih menutupi seluruh wajahku.


"Ya sudah, akan saya tinggal dulu. Kalau ada apa-apa dan ada yang dibutuhkan kamu bisa panggil kami," cakapnya.


"Baiklah."


Tangan berpura-pura membuka alat perlengkapan kepunyaan PLN yang kubius tadi. Saat bodygurd itu akan mulai pergi, tatapannya sangat mencurigakan ke arahku, seperti tidak percaya sama tugas yang harus kuemban sekarang.


Pikiran mencoba mencari cara agar bisa menambah menjalani aksi, nantinya. Dengan bodohnya mereka tidak memeriksa peralatan yang ada dalam kotak, padahal sudah kumasukkam beberapa alat yang akan merubah fungsi listrik nanti. Dengan lihai tangan mulai mengobrak-abrik kabel, yang sudah kusambungkan dibeberapa alat. Mungkin lampu akan nyala seperti biasanya, tapi beberapa fungsi akan sedikit berubah.


Perlahan namun pasti aksi terus berlanjut. Untung saja tidak ada yang menunggui, jadi bisa bebas melakukan apa yang aku inginkan. Dengan cekatan tangan terus mengotak-atik beberapa kabel yang berbeda warna itu. Beberapa menit akhirnya selesai juga, tapi sayangnya aku belum bisa bebas menjelajahi seluruh ruangan rumah ini, untuk mencari tahu dimanakah tempat-tempat yang akan berbahaya bagiku nanti, dan dimana saja yang aman.


"Aku harus mencari akal, bagaimana caranya agar bisa masuk leluasa dibeberapa ruangan, tanpa diketahui oleh para bodyguard dan menjalankan aksi. Ini adalah kesempatanku untuk mencari celah, jangan sampai gagal mengetahui semua tempat. Jika gagal pasti tidak akan ada kesempatan dua kali untuk masuk rumah ini?" guman hati yang sedang berpikir keras.


Kerjaan yang beres, kini segera melangkahkan kaki menuju ke kumpulan bodyguard yang kelihatannya sedang makan siang. Wajah kembali kututup rapat-rapat menggunakan topi untuk terus menurunkannya. Jangan sampai mereka melihat apalagi mengenalinya.


"Maaf, mengganggu. Kerjaaan saya sudah beres. Kalian boleh mencoba listriknya sekarang."


"Oh, iya. Terima kasih. Kamu boleh pergi."


"Sebentar. Kalau boleh tahu, apakah ada yang rusak lagi selain listriknya. Mumpung saya ada disini. Kalian bisa meminta bantuan saya sebab bisa membenahi segalanya," tawarku untuk memancing.


"Emm, apaan ya! Yang ada dirumah ini sudah rusak," simbat salah satu dari mereka.


"Aahaa, kebetulan sekali. Bukankah ada salah satu kulkas dari rumah ini yang rusak. Bagaimana? Apa kamu bisa membenahinya?" ucap bodyguard berambut keriting.


Banyak penjaga bertubuh kekar, sampai wajah sangar dan bringas. Bagi orang yang tidak pernah melihat, pasti mau melirik saja pasti ketakutan.


"Oh, itu. Bisa ... bisa sekali. Bagi saya itu mudah," jawabku dengan gampang.


"Sipp 'lah kalau begitu. Ayo aku antar kamu ke sana," cakap orang bertubuh kekar.


Sebelum pergi meninggalkan perkumpulan mereka, netra terus saja menyapu pandangan untuk memperhatikan satu persatu keadaan sekitar. Disebelah kanan ternyata adalah ruangan dapur. Sebelah kiri pulak, ternyata menuju ruangan yang nampak luas yaitu ada beberapa kursi dan buku-buku yang tersusun rapi dirak, yang sepertinya itu adalah ruangan santai maupun ruang tamu.


Dari sudut ke sudut tidak ada yang ketinggalan, kuperhatikan seksama posisi dan kesulitan. Aku harus mengingat dan menghafalkannya, dari mulai jendela maupun celah yang bisa aku gunakan untuk menjalankan aksi maupun kabur.


Ternyata aku diantar ditempat yang ada beberapa lemari rak piring, kulkas, dan ruang meja makan.


"Ini 'lah kulkas yang aku ceritakan tadi. Sudah lama rusak. Kalau dihidupkan tidak lagi dingin isinya, entah apa yang rusak," terang bodyguard yang mengantar.


Pemilik rumah orang kaya, sepertinya malas memanggil orang untuk membenahi. Lebih baik mungkin beli yang baru saja. Masih bagus sih, tapi kadang orang barduit malah akan dijual dirosokan saja.


"Oh, iya. Aku tahu sebabnya dan semoga saja bisa memperbaikinya."


"Ok, kalau begitu. Baguslah kalau kamu bisa, berarti pihak kami tidak salah memanggil kamu."


"Mungkin!" jawabku santai.


"Kok, mungkin. Apa maksudnya?" tanyanya yang kurasa mulai ada kecurigaan.


"Aah, bukan apa-apa, maksudnya mungkin kalian tepat sekali memanggilku daripada pegawai lainnya. Begitu maksudku," Penjelasan yang mulai ada rasa khawatir jika ketahuan.


"Oh, begitu. Ya sudah, akan aku tinggal dulu. Kalau butuh sesuatu tinggal bilang saja, aku ada diruangan bersama teman-teman tadi," cakapmya memberitahu.


"Iya, nanti akan kesana kalau ada sesuatu yang kuinginkan."


"Baiklah kalau begitu. Akan kutinggal dulu. Kalau haus ambil air dari galon itu," tunjuk ke arah dekat rak piring.


"Iya."


Bahu sudah ditepuk kasar oleh bodygurd itu.


Kerjaan yang disuruh kembali kukerjakan.


Jari-jari harus cekatan menyelesaikannya, semoga rusaknya tidak parah dan aku ada waktu banyak untuk leluasa jalan-jalan memeriksa semuanya. Kesempatan harus dimanfaatkan baik, biar aksi nanti tidak menyulitkan.