Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Terluka Kena Tembakan



"Aahh, sial!" umpatku kesal sebab kaki kena tembakan.


Badan terus kutarik masuk kedalam atap. Dengan sedikit terpincang, mencoba berjalan dikerangka-kerangka atap agar bisa segera keluar.


"Sial, kenapa harus ketahuan," Kekesalan hati yang masih berlanjut.


Dor ... dor, ternyata tembakan terus tertuju ke arah atap.


Buup ... buppp, tembakan terus saja terlontar disembarang arah. Untung saja aku bisa menghindar, dengan cara berjalan cepat menghindar walau tepincang-pincang.


"Aku harus segera keluar dari sini sebelum mati tertangkap," guman hati yang mulai panik.


Banyak suara gaduh-gaduh dibawah. Pengawal mulai kebingungan mau menangkap dan terus mencari posisi tepatku berada dimana.


Heeeh ... hhhhh, hembusan nafas kelelahan, yang kini terduduk tak berdaya. Cucuran air keringat mulai membanjiri seluruh baju. Masker mulai kubuka, sebab dada mulai sesak hanya sekedar menghirup udara. Tidak tahu posisi keberadaan sekarang, yang jelas suara gaduh-gaduh dibawah tidak terdengar lagi.


"Hhhh. Kalian harus siap-siap untuk membawaku kabur," cakap dari earphone kepada anak buah.


"Baik, kak. Sepertinya keadaan sedang gawat darurat," Suara panik orang diluaran sana.


"Iya. Aku ketahuan oleh para pengawal itu, tapi sasaran kita berhasil kulukai," Nada berbicara sudah tersedat-sedat, akibat merasakan luka dikaki mulai begitu ngilu.


"Astaga, kak. Baiklah, kami akan siap mengawal sampai akhir. Kalau begitu cepatlah keluar, kami akan melindungimu dari depan dekat gerbang utama rumah itu," cakap anak buah lagi.


"Baiklah. Sebentar dulu. Aku sekarang sedang istirahat sebab kakiku telah kena tembak."


"What? Kok bisa?" Kekagetan mereka.


"Sudah. Tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja, yang penting nanti kalian harus sigap melindungku ketika sudah keluar," suruh dalam kelemahan.


"Baik, kak. Beres itu."


Tangan mencoba meraba luka kaki. Rasanya tangan basah dan sedikit lembek, akibat air yang kuduga pasti adalah darah. Senter sudah kunyalakan, dan benar saja darah merah segar terus mengalir dikaki.


"Aaah, brengs*k. Aku harus bisa selamat dari sini. Semoga ada celah untukku segera kabur," rancau hati saat pikiran buntu dan takut tidak ada kesempatan.


Masker kembali kupakai. Belokan atap terus kujelajahi, tapi masih tetap bingung mau kabur dari arah mana? Tiap kali akan turun banyak suara pengawal yang mencoba mencari, sehingga terus saja berjalan tertatih-tatih mencari dimana ruangan untuk kabur.


"Gawat, kak. Sepertinya pihak ambulan dan kepolisian mulai datang," Anak buah memberitahu.


"Biarkan saja. Kalian tetap tenang dan jangan sampai ada orang yang curiga pada kalian. Aku masih berusaha untuk segera kabur, jadi tetap waspada untuk melindungi nanti," cakap agar anak buah tetap tenang, walau aku sendiri sebenarnya juga merasa panik.


Sampai dibatas ujung atap rumah, akhirnya ada sebuah ruangan yang terdengar tidak dijelajahi oleh para pengawal. Pisau segera mengiris dengan tergesa-gesa. Senter mencoba memberikan cahaya diruangan bawah yang gelap gulita. Terlihat sepertinya ini adalah gudang yang tidak terpakai.


Tanpa membuang waktu langsung saja melompat turun.


"Aaaah!" teriakku perlahan sebab kaki terasa ngilu terhentak diubin keramik.


Sampai pada akhirnya cahaya senter berhenti disebuah jendela kecil, yang kayunya sudah usang tapi tertutup rapat.


"Untunglah ada celah untukku segera kabur dari sini. Semoga muat jendela itu dibadanku agar bisa keluar," Guman hati yang gembira.


Cukup tinggi juga untuk mengapai jendela. Tidak kehabisan akal, langsung mencari benda agar bisa membantu memanjat. Terlihat ada beberapa meja dan kursi dari bahan kayu yang mulai lapuk.


"Semoga kamu bisa membantuku kabur dari sini," cakap pada kursi dan diri sendiri.


Sebelumnya ada sebuah kain yang lusuh telah kusobek memanjang, untuk membekap kaki yang luka agar bisa menahan sejenak darah.


Dengan perlahan-lahan kaki mulai berpijak dibarang lapuk. Sedikit goyang-goyang dan ngeri, sebab takut kalau kayu itu tiba-tiba patah dan akan menambah parah luka. Walau sempat bergerak-gerak, tapi untungnya masih aman untuk dinaikki.


"Aah, sial. Kenapa jendelanya tertutup rapat begini," umpat kesal.


Belati yang ada noda darahnya, ingin berpindah tugas yaitu mencongkel besi yang ada kuncinya. Tidak peduli jika belati nanti bisa patah, yang terpenting bisa keluar dulu dari sini. Ujung belati sudah mulai tertancap ditengah-tengah besi. Dengan sekuat tenaga berusaha menekan agar bisa lepas.


Draaap ... drppp, suara deru langkah terdengar mendekati posisiku, sehingga aktifitas mencongkel kuhentikan sejenak, takut jika mereka dengar, nanti bisa gawat jika ketahuan. Terdengar mereka sedang riuh kebingungan, yang tidak bisa menemukanku segera.


Sekian menit, akhirnya suara deru langkah para pengawal mulai hilang. Aksi mau mencongkel kembali berjalan. Sampai pada sepuluh kali tekanan menggunakan telapak tangan, besi yang sudah berkarat akhirnya terlepas juga. Kubuka lebar-lehar jendela dan senter kembali menyala, untuk melihat keadaan sekitar. Nampak banyak pohon rerimbunan dan suasana nampak gelap mencekam. Tidak peduli atas itu semua, yang terpenting sekarang bisa kabur segera.


Tubuh sudah melompat berhasil keluar. Tidak tahu arah ke mana melangkah, sebab semakin lama berjalan semakin terperangkap ke arah pekebunan pisang dan beberapa pohon lebat lainnya.


"Sial, dimana ini? Kenapa aku tidak bisa menemukan jalan utama untuk ketemu anak buah?" guman hati yang dongkol.


Masker penghalang mulut sudah kubuang disembarang arah. Rasanya keringat tak habis-habisnya terus mengucur deras sekali, sehingga baju begitu basah bagaikan terguyur air saja.


Tertatih-tatih masih melanjutkan perjalanan. Semakin lama semakin dilihat, kayaknya mulai memasuki area seperti hutan.


Kelelahan yang mendera, membuatku harus istirahat sejenak. Dibawah pohon besar dan rindang, badan mencoba kusandarkan. Nafas mulai tersendat-sendat, angin bagaikan tidak ingin terhirup oleh hidungku. Bibir terasa kering. Kepala sedikit mulai pusing berkunang-kunang.


"Aaah, kenapa rasanya badan melayang-layang begini!" guman hati ketika tubuh mulai terasa ringan.


Pandangan mulai kabur. Rembulan yang terlihat membulat, sedikit nampak ada bayang-bayang dua. Didalam sebuah kebun yang terasa hutan, hawa yang dingin mulai menusuk tulang dan membuat sedikit merinding. Malam pekat yang menemani, hanya bersuarakan binatang malam saling beryanyi bersahutan.


"Aku harus berjalan lagi, agar para pengawal itu tidak menemukan dan menangkapku. Tapi sudah dari tadi berjalan, kenapa tidak menemukan celah jalan keluar sama sekali, dari tempat sial ini," Kekesalan hati.


Setelah beberapa menit mengumpulkan tenaga, akhirnya perjalanan akan kulanjutkan, agar segera bisa mencapai tempat yang bisa menolongku sekarang. Telapak kaki terus terseret dan terasa mulai berat. Tenaga begitu terkuras, sampai ingin melangkahkan kaki terasa ada yang sedang memegangi.


"Tidak sia-sia aku berjalan sampai sini. Syukurlah, ada kampung yang bisa aku mintai tolong," Kegembiraan hati saat melihat beberapa penerangan lampu yang ada didepan mata.


Hhhhh ... hhhh. Tenaga habis tidak tersisa lagi.


Bhuuugh, tidak terduga tubuh sudah tersungkur jatuh tengkurep. Kepala tertantuk sesuatu benda yang keras dan kemungkinan itu adalah batu. Tangan berusaha mengapai sebatang pohon kecil untuk membantu berdiri, tapi sayangnya tenaga yang habis, tak serta merta bisa mengapai dengan mudah.


Netra mulai berat dengan kepala terasa pusing sekali. Lama-kelamaan keadaan gelap gulita dan tidak tahu apa yang terjadi padaku lagi. Yang jelas semua terasa mengambang tak bisa berpijak lagi dibumi.