
Hidup penuh kebebasan adalah mottoku. Tidak ingin dikendalikan orang lain, selalu mau menang sendiri ciri khas yang melekat padaku.
99 orang sudah kukalahkan dan nyawanya terhabisi. Namaku Tiger X, banyak orang yang takut dan tidak bisa menandingi ilmu bela diriku.
Masa remajaku sudah dipenuhi dengan tetesan darah orang lain. Diluar nampak baik, namun jika mengemban misi jangan katakan sebagai anak polos, malahan bisa menyebat siapa saja yang menghalangi jalanku ketika ada tugas penting.
Tidak kenal takut, buas, bringas, sadis, tidak pernah menyerah adalah sifat yang selalu tersemat padaku. Bos utama selalu mempercayakan pekerjaan yang kejam padaku.
Setiap nyawa yang kuhabisi tidak pernah meninggalkan jejak, agar aku tidak mudah ditangkap polisi. Semua berjalan dengan mulus tanpa ada kendala. Banyak pihak kepolisian tidak bisa memecahkan kasus yang kubuat. Mereka kewalahan sebab semua rapi telah terencanakan dari pihak geng kami.
Tiap berita telivisi selalu kuikuti. Wajah terus saja menyunging kegirangan, akibat berhasil membuat pihak yang berwajib sampai kalang kabut tidak bisa menemukan pelaku utama. Banyak pejabat yang sudah mati mengenaskan ditanganku.
Bos utama tuan Rendra adalah panutan, sekaligus juga sebagai ayah angkat. Kekuasaan semua dikendalikan olehnya. Perintah yang dia kirim, selalu kami jalankan tanpa harus melibatkan dia. Orangnya lebih sadis dari pada diriku, makanya semua tunduk dan takut, dan tidak ada yang berani membantah perintah dari beliau. Jika gagal misi dan melawan beliau, malah nyawa kami jadi taruhannya. Sekali meletupkan pistol, maka harus dikebumikan.
Kami adalah pembunuh bayaran, yang sering kali disewa untuk membunuh. Banyak kasus yang kami tangani akibat tidak suka ada saingan dalam bisnis atau hal lainnya, maka dari itu mereka minta bantuan untuk menyingkirkan dengan cara membunuh. Kalau nyawa sudah hilang, berarti tidak akan ada penghalang lagi. Mungkin itu adalah cara yang licik, namun demi kebahagiaan dunia apapun bisa dilakukan, termasuk menyingkirkan orang dengan menghilangkan nyawanya sekalipun.
Dari cerita senior, aku adalah anak pungut yang sedang diambil dari jalanan. Akibat melihat aksiku yang sering ikut tawuran antar pemuda. Waktu itu masih berumur 13 tahun. Bos besar Rendra yang kebetulan sedang melihat aksiku dijalanan tiba-tiba tertarik, sehingga mengangkatku menjadi anak beliau, yang sampai sekarang paling dia sayangi diantara anak buah yang lain.
Segudang pelatihan berat telah kulakukan termasuk ilmu bela diri. Cara menjalankan aksi pembunuhanpun dengan rapi telah beliau ajarkan. Berkali-kali waktu itu sering terluka dan babak belur diseluruh badan, namun demi bakti kepada bos besar maka semua kutahan segenap jiwa dan ikuti cara mainnya.
Semua terlihat iri, namun berkat perlindungan dari bos besar dan selalu membela, maka mereka tunduk juga walau dibelakang sering menampakkan raut wajah tak suka. Tidak kupedulikan itu semua, yang terpenting bisa memberi kebahagiaan dan jadi kaki tangan beliau, sudah cukup bagiku untuk merasakan kebahagiaan dalam mengarungi hidup.
Diluaran sana kami ini adalah sekumpulan penjual dan pembisnis di mall. Kalau ditelusuri lebih dalam lagi, kami ini berbahaya dan menakutkan. Penyamaran terlalu rapi, sehingga orang lainpun tidak akan menyangka pekerjaan dengan bayaran fantastis itu. Satu nyawa bisa dihargai 10 M lebih, tergantung kesulitan dan status apa orang yang akan dibunuh, kalau pejabat mungkin lebih dari itu dan bisa-bisa menguras kantong, tapi mereka kelihatan baik-baik saja dengan harga segitu, yang penting bisa menyingkirkan saingan dengan cepat adalah jalan ninja mereka agar bisa hidup tenang.
"Hai Tiger, anakku kesayanganku!" sapa Ayah angkat alias bos besar.
"Hai, Ayah!" sambutku dengan senyuman ramah.
Tangan sibuk memegang gawai ketika main game, kini kuletakkan benda itu diatas nakas kamar pribadi.
Sikap yang santai duduk bersandar dipapan pembaringan, sekarang mulai mensejajarkan diri dengan beliau.
"Aku selalu baik, Ayah. Tidak ada kerjaan, jadi yang malas-malasan di kamar terus, sambil main game."
"Baguslah kalau begitu, kamu tidak nakal untuk membuat ulah dijalanan. Oh ya, kali ini ada kerjaan untuk kamu lagi."
"Siap laksanakan."
"Apapun yang Ayah perintah, Tiger pasti akan melakukannya."
"Emm. Kamu memang anak Ayah yang paling bisa diandalkan. Tidak salah aku sudah mengangkatku sebagai anak," puji beliau sambil menepuk pelan punggung belakang.
"Tapi pekerjaan kali ini begitu sulit sekali. Banyak penjagaan ketat, yang sedang terjadi dirumah korban kita selanjutnya. Banyak orang yang sudah mencoba membunuh, tapi sayangnya selalu gagal. Korban adalah orang tersohor dikotanya dan itu akan menyulitkan kita, karena dia telah banyak menyewa orang-orang handal untuk menjaga," jelas Ayah Rendra yang sepertinya ragu.
"Semoga saja kali ini tidak gagal. Katakan saja ini adalah tantangan berat untukku dan semoga saja kita bisa melaluinya," ucapan yang yakin.
"Iya, Nak. Ayah sangat percaya sama kamu kalau bisa menjalankannya, tapi disini sedikit khawatir juga kalau kamu akan terluka maupun gagal."
"Doakan aku baik-baik saja, Ayah. Selama ini Tiger tidak pernah gagal. Tidak usah takut, semua pasti akan terjalankan sesuai rencana kita," imbuh perkataan merasa yakin.
"Ok, baiklah. Kau seperti sanggup dan tidak pernah kenal takut. Bangga sekali Ayah memiliki anak seperti kamu," Tangan beliau terus saja mengelus-elus punggung.
"Iya, Ayah."
Obrolan terus terjadi. Walau kami tidak pernah bercanda bersama. Kadang arah percakapan terasa kaku dan baku, tapi beliau selalu menyayangiku melebihi anak kandung sendiri. Semua fasilitas kehidupan selalu beliau cukupi. Kadang tidak pernah meminta, tapi beliau selalu membelikan barang-barang branded dan mewah yang tak pernah terpikirkan olehku.
Karya ini telah terbit dengan judul lain, dengan terpaksa author lanjutkan dengan judul lain juga. Semoga tidak bosan untuk melanjutkan kembali aksi Tiger sebagai bad boy sekaligus pembunuh bayaran.