
azza tengah dalam perjalanan pulang tanpa Miftah, dengan menggunakan taksi online azza pulang menuju rumah nya
perasaan nya gusar sekali entah apa yang di rasakan nya kali ini
"ini kenapa ya" kata azza dalam hati merasakan tak enak hati nya
azza bergerak gelisah dalam duduk nya, bahkan beberapa kali dia melirik ke arah ponsel nya
"non seperti ada yang ngikutin" kata sopir taksi online itu yang sesekali melirik kaca spion nya
azza berbalik dan benar saja, mobil hitam itu sedari tadi ngikutin azza
"kita cari tempat aman pak" titah azza
dengan panik juga sopir online itu melesat kan mobil nya ke arah keramaian, dia tidak mempunyai bela diri untuk melawan orang yang ngikutin
"pak, di depan ada kantor polisi, bapa ke sana aja lah pak" kata azza yang di angguki oleh sopir online
cekittt
mobil online azza berhenti di depan kantor polisi, azza turun dari mobil itu karena tidak mau terjadi sesuatu dengan sopir online itu karena dia tau yang di incar nya adalah dirinya
"duh non maaf ya, bapa juga gak berani kalo terus di ikutin" kata sopir online tadi
"iya pak gak masalah" jawab azza
"permisi, selamat sore.. ada apa ini?" tanya pak polisi yang sedang bertugas di depan polisi
"nah gini aja non,nona minta anter aja sama pak polisi supaya nona aman" kata sopir online tadi
"gak usah pak, saya nunggu jemputan saja" kata azza
"ada apa ini?" tanya pak polisi yang merasa di acuhkan
"ini pak, nona ini tadi pesen taksi online saya tapi sepanjang perjalanan kita di ikutin oleh mobil, makan nya nona ini turun di sini" jelas sopir online itu
"ouh, nona mending ikut saya saja kalau begitu" putus pak polisi
"saya numpang nunggu saja pak, nanti saya minta di jemput sama suami saya saja" kata azza segan
"ya sudah, nona nunggu saja di dalam kantor" kata pak polisi menyilahkan azza masuk kedalam kantor polisi
sedari tadi azza gusar karena panggilan nya tidak di angkat oleh papi dan suaminya, sedangkan dia sudah nunggu sekitar setengah jam lamanya
"mereka kemana sih?" keluh azza dengan kesal nya
"bagaimana nona? sudah ada yang jemput?" kata pak polisi yang tadi
" belum pak" kata azza lesu
"ya sudah biar saya saja yang mengantar anda nona" kata pak polisi
belum juga azza menjawab polisi itu sudah melenggang pergi mengambil mobil nya
"ayo nona" ajak nya setelah mobil berhenti di depan azza
"maaf merepotkan pak" kata azza
"tak masalah nona, sudah menjadi kewajiban kami atas keselamatan masyarakat" jawab pak polisi
dengan alamat yang di sebutkan azza, mobil pun melaju ke arah kediaman nya
sepanjang perjalanan azza seperti di introgasi oleh polisi yang di sampingnya, tapi azza dengan senang hati bercerita kejadian demi kejadian, mungkin sewaktu waktu pak polisi ini bisa membantunya
"panggil saja saya Ardan" kata Ardan merasa gemas dengan wanita yang kini ada di samping nya, namun sayang sekali sudah bersuami
tak ada percakapan lagi setelah itu, karena azza merasa Ardan seorang polisi ini menunjukkan sikap yang azza rasakan lebih dari sepeti polisi pada umum nya
lebih baik azza membatasi nya sebelum dia berharap lebih padanya, tidak mungkin bagi nya untuk bisa berpaling dari suaminya
meski Ardan sang polisi ini wajah nya rupawan meski lebih suaminya lebih dari polisi ku ini, tapi azza juga harus berhati hati, apalagi azza juga manusia normal, takut dirinya malah terlena akan ketampanan polisi ini
"ah terima kasih sudah mengantarkan saya, maaf tidak bisa mengijinkan anda untuk masuk ke dalam rumah, suami dan papi saya tidak ada di rumah" kata azza
"ouh ya, tak masalah, saya permisi dulu nona" kata Ardan pamit
selang beberapa lama azza langsung merekatkan badan nya, pikiran nya langsung tertuju siapa orang uang selama ini ngikutin dia?
sedangkan di kantor, Miftah di buat terkejut dengan notifikasi ponsel nya yang terdapat panggilan tak terjawab dari istri nya hingga berpuluh puluh kali
belum sempat dia akan menelpon istri nya, ponsel nya langsung tertera panggilan dari mertua nya
"iya Pi kenapa?" tanya Miftah
"azza dimana? dia tadi nelpon papi banyak sekali, dan papi baru keluar meeting, papi khawatir" cerocos papi Gerald dengan panik
"ini mau Miftah telpon kembali, sama Miftah juga baru selesai bertemu Kline tadi" jawab Miftah yang membuat papi Gerald panik
"papi jangan panik dulu, Gerald cek keberadaan Michelle dulu" lanjut Miftah dan langsung memutuskan panggilan nya
bodi amat pikir nya kalo papi mertua nya pikir tidak sopan, tapi kali ini pikiran nya sama khawatir nya seperti papi Gerald
Tuttt
baru deringan ke tiga, panggilan nya langsung di jawab oleh istrinya
"sayang kamu dimana? ada apa? maaf aku baru bisa lihat ponsel sayang" kata Miftah langsung nyerocos
"aku di rumah" kata azza menenangkan suaminya itu
"terus kenapa kamu telepon? apalagi kamu juga telepon papi banyak sekali, ada apa sayang?" tanya Miftah
"nanti aku jelaskan saja di rumah, gak bisa jelasin di telepon sekarang" jawab azza
"emang nya kenapa?" tanya Miftah yang penasaran
"nanti di rumah di jelasin, pokok nya sekarang aku sudah aman, tolong kasih tau papi juga kalo aku di rumah, nanti setelah kalian pulang akan aku ceritakan" jawab azza
"oke, aku usahakan untuk pulang awal sekarang, paling jam 7 malam sudah ada di rumah" kata Miftah
"iya aku tunggu" jawab azza
"kiss nya dulu baby" kata Miftah
"nanti aja di rumah, di kasih double, aku mau tidur dulu ya" ijin azza yang emang sudah kantuk sekali
"iya deh, hati hati di rumah ya sayang, aku usahain pulang cepat" kata Miftah yang di jawab deheman dari azza
"jangan lupa kasih tau papi" kata azza yang langsung membiarkan ponsel nya tergeletak di kasur nya
" iya sayang, kiss dulu sayang?" kata Miftah tapi tak ada jawaban dari azza
"kamu tidur ya sayang? ya udah aku tutup ya panggilannya, love you sayang" kata Miftah menutup teleponnya
setidaknya sekarang dia bisa tenang dulu, karena istrinya sudah aman di dalam rumah
Miftah langsung menelpon papi nya dan menelpon beberapa anak galaksi untuk menjaga azza dan Gerald menunjuk reygan anak galaksi untuk menjadi pengawal azza selama Miftah tidak ada
Miftah merasa kali ini musuh nya semakin terang terangan mengarah sama istrinya itu.