
bau obat obat di dalam ruangan azza yang sudah dua hari belum sadar, tidak ada luka serius hanya keinginan azza untuk tetap dalam alam mimpi
teman azza dan Miftah silih berganti menjaga azza, bahkan mama Wina selaku mamanya Miftah selalu menemani azza berharap gadis yang tak sengaja di lukai hatinya akan terbangun
terlihat papi Gerald sangat kacau sama seperti Miftah, bahkan perusahaan papi Gerald di urus Aska untuk sementara
"om pulang aja dulu, giliran Miftah yang jaga" kata Miftah yang baru datang bersama mamanya
"om gak bisa tenang kalo azza belum sadar" kata papi Gerald
"makan aja dulu, saya sudah bawa makanannya" timpal mama Wina
"ouh iya nanti saya bakalan makan" kata papi Gerald
"eungggh" lenguh azza membuat semua orang menghampirinya
"sayang, hey ... ini papi"kata papi Gerald menggenggam tangan azza
"mami..." gumam azza
"hey sayang, bangun dulu yuk" kata mama wina,
suara mama Wina mengalir merdu di telinga azza dan perlahan azza membuka matanya
hal yang pertama di lihat azza adalah seorang wanita paruh dengan senyum nya yang tulus hingga membuat azza ikut tersenyum
"mami..." lirih azza
"sayang .. hey ini papi" kata papi menyadarkan azza
"papi.." lirih azza
"gimana sekarang keadaan kamu nak?" kata sang papi dengan suara serak nya menahan air mata
"i'm fine, yes i'm fine.." kata azza terlihat baik baik saja
"ya, papi percaya" kata sang papi tersenyum
"Michelle" lirih Miftah
"i'm okay" kata azza tersenyum pada Miftah
"Tante ini siapa?" tanya azza
"Tante yang gak sengaja lukain hati kamu" jawab mama Wina
"bentar, azza pengen duduk" kata azza berusaha untuk duduk di bantu papi dan Tante Wina
"hati hati sayang” kata papi Gerald
"maafin Tante ya cantik?" kata mama Wina meneteskan air mata
"Tante kenapa?" tanya azza lagi dengan bingung nya
"Tante bersalah sama kamu" kata mama Wina memeluk azza
pelukan hangat dan tulus dari seorang ibu yang sudah lama tak di rasakan oleh azza membuat azza menegang
"kamu kenapa?" tanya mama Wina melepaskan pelukannya setelah merasa azza menegang tak merespon pelukannya
hening dan hanya ada Isak tangis azza dan semakin terisak membuat papi Gerald tak enak hati pada calon besannya
"sayang sudah ya, kasian itu Tante Wina" kata papi Gerald tak enak hati
"biarkan saja pak, biarkan dia menumpahkan segala sakit nya " cegah mama Wina
"sebaiknya kalian keluar aja dulu, mungkin azza butuh privasi" kata mama Wina
ucapan calon besannya memang benar, dengan terpaksa Gerald meninggalkan sang putri pada calon besannya
"azza, papi keluar dulu sama Miftah ya" pamit nya pada azza yang sedari tadi menangis di pelukan mama Wina
"saya titip anak saya " pamit papi Gerald langsung keluar bersama Miftah
"azza mau cerita?" tanya mama Wina yang di jawab anggukan kepala oleh azza
"ya udah tenangkan dulu hati kamu ya nak, ayo tarik nafas dulu ya" tuntun mama Wina
"sudah tenang?" kata mama Wina yang hanya di jawab anggukan oleh azza
"mau cerita sekarang?" tanya mama Wina dan di jawab anggukan kepala oleh azza
"dulu saat azza masih SMP banyak perempuan yang mendekati papi, papi orang yang setia tapi dia selalu kewalahan mengatasi perempuan perempuan yang suka mengejar papi, akhirnya azza sering di ajak papi ke mana pun, azza sering memarahi perempuan perempuan yang suka ganggu papi, akhirnya azza benci namanya pelakor atau perempuan yang suka merebut suami orang, tapi pada saat itu juga pacar azza yang dulu berkhianat bahkan azza melihat nya dengan mata kepala azza sendiri" kata azza dengan mata berkaca kaca terlihat di matanya banyak luka yang selalu di pendam
"apa yang azza liat? kata mama Wina menggenggam tangan azza menguatkan gadis yang selalu terlihat kuat
"berhubungan intim dengan teman azza, saat itu azza hanya cerita sama mami, kaloazza dan dia sudah putus karena tidak cocok" kata azza
"kenapa azza gak terus terang sama mami saat itu, kan pasti langsung plong rasanya kalo sudah cerita" tanya mama Wina mengelus rambut azza memberikan kenyamanan untuknya
"mami sama papi saat itu sedang program anak kembali, impian azza untuk mempunyai adik, jadi saat itu azza tidak mau membebani mami, meskipun papi selalu bilang "kalo azza mau cerita sama papi aja, jangan dulu sama mami" tapi saat azza mau cerita terlihat banget papi sangat lelah, makannya azza pendam" jelas azza
"lalu?" tanya mama Wina
"karena azza sibuk dengan dunia azza, kegalauan azza, azza tak menyadari seorang perempuan yang tergila-gila sama papi sampai membuat mencelakakan mami sama azza dan saat itu mami sedang mengandung 7 bulan, adek nya azza laki laki" kata azza meneteskan air mata
"ikhlas kan ya nak, supaya mami dan adek kamu tenang di sana?" kata mama Wina
"Tante tau sesudah mami meninggal, papi sangat kacau, bahkan azza selalu sendiri di rumah, dan sampai malam itu papi tidak pulang ke rumah dan esok paginya papi bilang harus menikah dengan perempuan yang tidak sengaja di tiduri nya" kata azza terlihat marah
"setelah menikah azza benci banget sama ibu tiri azza, dia terlihat baik di depan papi tapi di depan azza dia sama benci azza, sampai malam itu azza keluar rumah tapi azza lihat teman sekelas azza di seret oleh pacarnya, awalnya di kira mereka akan mesem tapi ternyata temen nya azza mau di lecehkan, saat itu azza panik dan bingung mau nolongin teman azza, sampai azza nekat memukul kepala nya dengan balok kayu sampai dia pingsan dan katanya dia koma" kata azza ketakutan
"azza hebat, azza sudah nolongin orang, apalagi sesama perempuan, terus teman kamu gimana?" tanya mama Wina
"jadi sahabat nya azza, di saat itu dia di tambah satu lagi teman laki laki azza, selalu bersama di situ aja mau membuka hati, menerima semua nya, meski terkadang ada rasa takut akan penghianatan dan kejahatan" kata azza
"tapi setelah azza menerima seseorang kembali, ternyata dia sudah di jodohkan, azza merasa diri azza pelakor terlebih hinaan bahkan kemarin yang bikin azza ke rumah sakit perlakuan dari tunangan nya pacar azza" lemes azza "azza bukan pelakor" tambahnya meneteskan air mata
"hey, iya azza bukan pelakor, maaf ya itu semua gara gara Tante, Tante dapat kabar dari mama nya Bianca katanya mereka pacaran, karena Tante merasa pacaran lama lama gak baik, jadi Tante usulin buat tunangan, tapi ternyata malah membuat calon menantu Tante menjauh dan sampai seperti ini, maafin Tante ya sayang" kata mama Wina
"jadi Tante?" tanya azza kaget
"Tante, mama nya Miftah sayang, maafin Tante ya sayang, semua nya sudah clear kamu dan Miftah sudah tidak ada halangan lagi, bahkan Bianca sudah di bawa mamanya ke luar negeri " kata mama Wina
"tante, azza malu" kata azza memeluk mama wina