AZZALEA MICHELLE DANUARTA

AZZALEA MICHELLE DANUARTA
cemburu



azza mematung melihat Miftah yang kini menatapnya dengan tajam, seolah kepergok sedang selingkuh saja


sama seperti azza, Adit pun yang sedari tadi mengawasi azza panik saat melihat Miftah sudah ada di pintu masuk


"bego banget sih Lo za, malah maen pelukan segala" gumam Adit dalam hati


seakan tak terjadi masalah Miftah menghampiri azza dan marchel yang akan pamit


"ekhem" deheman Miftah mengagetkan marchel yang masih ada di sana


"eh Lo bro, gue mau pamit, tolong jaga azza ya" kata nya sambil menepuk bahu Miftah


"so pasti, gue bakalan jaga calon istri gue" jawab Miftah merengkuh pinggang azza posesif


"ouh ya maaf untuk acara lamaran, gue gak bisa datang, kado nya nanti nyusul" kata marchel menahan sesak


"tak perlu repot-repot, cukup doakan saja kami" kata Miftah dengan senyum palsunya


"ya udah, thanks za atas waktunya, sorry gue ganggu waktu kalian, gue pamit sekarang" kata marchel undur diri


"hati hati marchel" kata azza tulus


perkataan azza malah membuat Miftah terbakar api cemburu, meski sudah di jelaskan oleh Adit dari telepon pun tetap saja masih terbakar


"mulai nakal rupanya" kata Miftah mempererat rengkuhan di pinggang azza


"kak jangan gini?" cegah azza malu karena mereka kini masih di dalam kafe


"kenapa?" tanya Miftah denaganata tajam nya


"di liatin orang" kata azza menyadarkan Miftah dan langsung membawa nya ke apart Miftah


sedangkan Adit membuntuti nya bingung harus apa, dia kebingungan antara masuk ke apart Miftah memberinya penjelasan atau langsung ke apart azza menui Sarah seperti tujuan awal mereka ke sini


"lah bodo amat, paling azza dapat meredakan amarah si bos" gumam Adit langsung masuk ke apart nya azza


"kenapa Lo?" tanya cece yang sadar akan muka kusam nya Adit


"si azza kepergok pelukan sama si Marchel oleh bang Miftah" jawab Adit membaringkan kepala nya di paha Sarah


"jangan gini" cegah Sarah pada adit, canggung yang di rasa Sarah terlebih ada cece di sana


"bentar, pusing gue" keluh Adit menutup matanya


"santai aja sar" kata cece melihat kecanggungan Sarah "terus si azza gimana?" tanya cece penasaran


"besok lah ce cerita nya, si azza di bawa bang Miftah di apart nya" jawab Adit


"ya udah gue pulang dulu, Roni mau pulang bentar lagi" kata cece beranjak


"Lo sama siapa pulang nya?" tanya Adit beranjak dari pangkuan Sarah


"Galang, bentar lagi nyampe, gue tunggu di depan" kata cece pamit pulang


"hati hati Lo" kata Adit langsung berbaring kembali di pangkuan Sarah


"berat banget ya masalah nya?" tanya sarah hati hati


"elusin dong" pinta Adit mengarahkan tangan Sarah ke kepala Adit


dengan canggung Sarah mengelus rambut Adit, dengan sesekali memijit nya, berharap beban yang di pinggul Adit berkurang


dengan nyaman nya Adit memposisikan kepala nya menghadap perut Sarah mengelus nya lembut seakan dia pemilik janin di dalam nya


"hey sayang gimana kabarnya?" tanya nya pada perut rata Sarah


"ayah harap kamu baik baik saja, cepat tumbuh dan jangan nakal di perut bunda mu sayang" monolog Adit mengelus bahkan pencium perut rata Sarah


"kenapa?" tanya Adit mendongak


"dit, masa depan lo akan hancur jika nikahin gue, gue gak mau rebut masa muda Lo" kata Sarah menitikan air mata


"suut" kata Adit menempelkan tangan di bibirnya Sarah


"ini keputusan gue, dan gue gak keberatan sama sekali, kita jalani pelan pelan" pinta Adit bangun dari pangkuan Sarah


"tapi Lo berhak bahagia, bukan malah ngorbanin masa muda Lo dengan nikahin gue" kata Sarah


"gue yang pilih, dan gue pastikan tak ada penyesalan dalam hidup gue" kata Adit membungkam perkataan Sarah


cup


Adit menciumnya perlahan dengan lembut tanpa ada penolakan dari Sarah


entah dari hormon atau apa Sarah malah menikmati nya, bahkan menginginkan lebih saat Adit bermain dengan melon nya


tanpa adanya penolakan dan karena iman Adit hanya setipis kulit bawang membuat dirinya terbawa suasana menginginkan hal lebih untuk di tuntaskan


di bawa nya ke dalam kamar, dengan pertama kalinya Adit berbuat berhasil membuat Sarah tak berdaya dengan sentuhan nya


sedangkan di apart Miftah tengah menghukum azza karena dengan lancang memeluk lelaki lain terlebih mantan nya azza


Miftah meminta azza mandi supaya kuman kuman mantannya tidak menempel pada tubuh azza


dengan menurut nya azza mandi bahkan dengan saran Miftah memakai sabun mandi hampir satu botol


dengan hanya memakai bathrobe azza sembari mengeringkan rambut nya, pakaian yang tadi di gunakan bahkan sampai di buang oleh Miftah,


"kamu kedinginan gak?" tanya miftah memeluk nya dari belakang


"modus banget sih" dumel azza yang malah di bales cengiran oleh Miftah


dengan gelagat nya Miftah membenamkan kepala nya di ceruk leher azza memberi tanda seperti yang telah ia lakukan


sore yang panas di apart depan menular ke apart nya Miftah


seperti hal nya Miftah tak menghiraukan cegahaan dari azza, azza yang takut kebablasan sedangkan Miftah sang pemaksa yang tidak mau di ganggu aktivitas nya


Ting nong Ting nong


aktifitas nya terganggu saat dirinya tengah menikmati gua masa depan nya,


"shoot" umpat Miftah yang terganggu oleh tamu yang dia yakini suruhan nya membeli baju azza


dengan langkah malas membuka sedikit pintu apart mengambil pesanan nya tanpa lama, sedangkan azza langsung melarikan diri mengambil paper bag di tangan Miftah dan mengunci nya di kamar mandi


Miftah paham akan ketakutan azza, tapi Miftah seorang lelaki normal yang mana tahan di dekat azza


sedangkan di apart Sarah tengah malu saat mereka selesai melakukan nya, Adit dengan perasaan gembira untuk pertama kalinya memeluk tubuh Sarah yang masih toples di bawah selimut


"gak usah malu, lusa kita nikah dan aku mau langsung tinggal di sini aja" kata Adit memeluk tubuh Sarah


"jangan gila kamu" kata Sarah pikiran nya saat ini hanya merutuki dirinya yang seakan pasrah sama perlakuan Adit


dan sama hal nya memikirkan Adit sama dengan lelaki yang lain nya, mereka akan runtuh bila di kasih kesenangan


pernikahan macam apa yang di lakukan Sarah nanti ke depannya? mau menolak tapi lidah nya Kelu, danalah membiarkan lelaki itu menjamah nya sebelum hari pernikahan


karena lelah dengan pikiran nya dan juga setelah aktifitas nya Sarah terlelap dalam pelukan Adit


"kenapa gue bisa gila gini sama Lo sar? ini gue mulai jatuh cinta? tapi masa ia?" gumam Adit dalam hati menatap wajah damai Sarah yang terlelap