
gelap, pertama yang di lihat azza dan perutnya yang terasa berat, mengingat ingat apa yang terjadi? dirinya sadar dari sore azza sedang bersama seorang pria
"kak.." guncang azza pada tubuh Miftah supaya bangun dari tidurnya
"hmm" dehem Miftah malah semakin mempererat pelukannya
"bangun, sudah malam" kata azza membuat mau tak mau Miftah membuka matanya
"cantik" gumam Miftah saat pertama kali yang di lihatnya wajah azza yang tersorot cahaya dari jendela
"bangun ih, nyalain lampunya" titah azza membuat Miftah bangun dari tidur nya
cup
satu kecupan mendarat di bibir azza sebelum Miftah beranjak nyalain lampunya
setelah terang, azza dengan berani masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya
"kak tolong nyalain semua lampu ya, gue takut gelap soalnya" teriak azza di dalam kamar mandi
dengan nurut Miftah melaksanakan perintah azza, dan langsung masuk ke kamar mandi bawah
bukannya langsung pulang, Miftah malah masuk kembali ke dalam kamar azza
tersenyum saat melihat azza sedang sibuk dengan ponselnya di depan meja rias
"halo ce, sorry tadi gue ketiduran" kata azza saat panggilan langsung di terima cece
grep
tanpa permisi Miftah memeluk azza dari belakang membuat azza kaget sebentar, bahkan Miftah mencium cium leher azza meninggalkan jejak di sana
"sialan Lo za, gue telpon gak angkat, liat tuh grup udah rame nyariin Lo" jawab cece kesal
"hape gue masih di silent, mau keluar sekarang?" tanya azza
"gak deh, ada Roni di rumah gue" jawab cece
"ya udah bye" bales azza langsung menutup panggilan nya, azza tau Roni ingin mengutarakan kesungguhan nya pada kakak cece, karena sebelumnya Roni sudah meminta ijin terlebih dahulu pada Adit dan azza selaku sahabat cece
"lapar gak?" tanya Miftah sembari mengelus perut rata azza
"kak jangan kaya gini?" kata azza berusaha melepaskan rangkulan Miftah
"kenapa?" tanya Miftah melihat mata azza lewat kaca di depan
"Lo siapa? berani banget Lo giniin gue?" jawab azza dengan suara meninggi membalas tatapan Miftah dengan tajam
"apa Lo gak sadar akan perlakuan gue terhadap Lo?" tanya balik Miftah membalik kan tubuh azza menghadap ke arahnya
"justru itu gue sadar, Lo gak ngerti perasaan gue apa? Lo perlakukan gue seperti ratu, tapi status kita? jawab azza terkekeh
mendengar ucapan perasaan dari mulut azza membuat Miftah melayang,
"malah senyam senyum, gila Lo?" sarkas azza
bukannya marah tapi malah memeluk azza erat, sedangkan azza berusaha memukul dada Miftah, dengan mudah menangkap tangan azza
"denger " kata Miftah dengan suara tegasnya membuat azza diam tak berkutik
" gue belum pernah merasakan ini chelle, dari awal Lo masuk sekolah gue udah punya perasaan ini, gue selalu tolak meng nganggap hanya sekedar kagum, tapi semakin hari semakin besar chelle, status bagi gue gak penting, yang penting hanya gimana perlakuan gue kepada Lo chelle" jelas Miftah membuat azza terpaku mendengar penjelasan Miftah
"gue pernah bilang sama Lo, you're mine chelle" lanjut Miftah dengan mengecup kening azza, bahkan jantung nya saja sudah berdetak kencang dan azza pasti menyadari nya
"seharusnya Lo bilang, gue ngerasa diri gue murahan banget, gue selalu diam saat Lo cium dan peluk gue, gue gak bisa menghindari Lo" jawab jujur azza
"sorry chelle" hanya satu kata yang keluar dari mulut Miftah memandang teduh mata azza
entah siapa yang mulai, kini mereka saling ******* saling menuntut, bahkan azza sudah menutup matanya menikmati sensasi berbeda
"hosh.. hosh, Lo mau bunuh gue?" tanya azza setelah ciuman nya berakhir
"gue tunggu di depan, kita makan" jawab Miftah dengan tangan yang membersihkan sisa Saliva nya di bibir azza
"Lo gila" teriak azza yang tak di tanggapi oleh Miftah
"gue emang sudah gila chelle, gila karena Lo" gumam Miftah sambil terkekeh
"ayo, gue udah siap" kata azza
"ayo" jawab Miftah langsung memeluk pinggang azza secara posesif
dengan mobil Miftah mengajak azza keluar, biasanya anak geng selalu bawa motor, tapi dengan membawa gadis mereka selalu membawa mobil
restoran mahal yang di tuju Miftah, hanya ingin terkesan romantis untuk kencan pertama mereka
"makanan nya sumpah enak banget" kata azza menikmati makanan nya tak menyadari saus nya yang menempel di ujung bibirnya
"Lo sengaja mancing gue? tanya Miftah membuat azza menghentikan kunyahan nya
"kenapa?" tanya azza dengan lemotnya
"Lo mau gue cium di sini?" tanya Miftah membuat azza melotot kan matanya
"gila -" perkataan azza terhenti saat Miftah dengan beraninya mencium azza di depan umum
meskipun hanya sekilas tapi mampu membuat azza terpaku dan malu
" saus nya lebih enak jika di bibir Lo" kata Miftah santai sedangkan azza sudah merah seperti tomat
nervous jangan di tanya, bahkan azza dengan tidak sengaja nya menjatuhkan sendok
melindunginya dari ujung meja yang di lakukan Miftah membuat azza semakin dalton hingga suara seseorang mengganggu kencan romantis nya
"hai honey, long time no see" kata cowok itu tepat di belakang telinga azza
"Lo?" kaget azza
"kenapa sayang, gimana kabarmu?" tanya marchel sang mantan kekasih
mendengar kata sayang yang keluar dari mulut lelaki tadi, membuat Miftah emosi
"siapa baby?" tanya Miftah tegas bertanya pada azza
sedangkan azza kelabakan sudah seperti yang ketauan selingkuh saja
"sampah yang sudah tidak penting" jawab azza asal
"ya udah, ayo kita pulang" ajak miftah
"Lo siapa nya azza?" tanya marchel menghadang Miftah
"yang penting lebih dari seorang pacar" jawab Miftah malah membuat marchel menerka nerka lebih dari pacar? tunangan atau suami? pikiran marchel
"selamat Lo dapet bekas gue" kata marchel membuat azza menghentikan langkahnya menatap tajam marchel.
"jaga omongan Lo ya" kata azza yang tidak bisa menahan amarahnya
bahkan banyak orang yang memperhatikan pertunjukan mereka
"bekas ya?" tanya Miftah membuat marchel berseringai tapi azza melototkan matanya
"tapi gue dapet nya yang sempit dan berdarah pas gue pertama kali gue pake" lanjut Miftah dengan santainya membuat marchel melototkan matanya
"Lo sentuh dia?" tanya marchel emosi
bagaimana tidak emosi, dirinya yang dulu selalu menahan diri untuk tidak menyentuh wanita yang di cintainya, tapi sekarang dia sudah tersentuh
"kenapa? bahkan kita akan segera dapat buah cinta kita" jawab Miftah sembari mengelus perut rata azza
azza yang sudah malu, langsung keluar meninggalkan perdebatan mereka
"sayang tunggu" teriak Miftah menyusul azza meninggalkan marchel dengan segala prasangka nya
"sayang hei, jangan lari, kasian baby kita" kata Miftah setelah mensejajarkan langkahnya
"gak lucu tau" kata azza kesal
"udah, ayo pulang" ajak Miftah merangkul gadisnya