
malam ini azza benar benar di bawa melayang ke langit nirwana
hal yang pertama dia rasakan dengan menyerahkan mahkota nya kepada sang suami
seperti tak ada habis nya Miftah langsung meminta lagi setelah memberi istirahat hanya sedikit
ranjang yang sudah tidak rapi lagi bahkan kelopak bunga mawar yang mulanya di tabur rapi di atas kasur kini berserakan di lantai bersama pakaian
"pagi" sapa Miftah mengelus pipi azza setelah ada pergerakan dari azza
"udah jam berapa!" tanya azza yang malah mengeratkan pelukan nya
"jam 8 sayang, kita makan dulu yuk?" ajak Miftah mengelus lembut pipi azza
"aku mandi dulu" kata azza bangun tak sadar dengan dirinya yang polos langsung melihatkan gunung kembar nya yang justru membuat Miftah tak bisa menahan lagi
"kau menggoda ku sayang" kata Miftah dengan suara serak nya
azza tersadar dengan tingkah nya langsung menaikan selimut nya
"once again baby" kata Miftah langsung menggendong azza ke dalam kamar mandi
pagi ini azza sudah keluar dengan badan terasa remuk dan juga bagian inti yang terasa bengkak
"jalan gue udah kaya pinguin aja nih" gumam azza
"mau di gendong turun ke bawah nya?" tanya Miftah yang langsung di balas delikan oleh azza
"gak yah, malu banget sama papi kalo aku sampe di gendong ke ruang makan" kata azza lirih
"papi juga pasti ngerti sayang" balas Miftah
"iya ngerti, tapi kita hormati dong papi, dia kan mas duda" kata azza terkekeh dengan kata mas duda untuk papi mu
"kamu ya" jeda Miftah menoel hidung azza " aku papah saja ya, jalan nya hati hati" lanjut Miftah
"ini aku udah kaya orang yang sekarat tau, di papah kaya gini" kata azza sembari menuruni anak tangga nya
"gak papa lah sayang" kata Miftah menarik kursi untuk azza duduk
"papi mana?" kata azza mengedarkan pandangan nya
"kenapa?" tanya Miftah setelah melirik istrinya seperti mencari seseorang
"kamu makan dulu nanti kita cari papi" kata Miftah menyodorkan makanan nya
"maaf, harusnya aku yang layanin kamu" sesal azza
"gak papa sayang, hari ini biar aku yang layanin kamu tapi nanti giliran kamu yang layanin aku, sepuasnya" kata Miftah dengan menaik turunkan alis nya
azza hanya menggeleng kan kepala dengan tingkat mesum suaminya
"dari awal bertemu dingin nya udah kaya yang punya hipotermia tapi sekarang mesum nya sampai gak tau tempat" gumam azza di dalam hati
sedangkan di tempat lain pria paruh baya bersimpuh di hadapan makam sang istri
"maaf sayang, mas baru ke sini lagi" kata papi Gerald yang sudah bersimpuh di makam istrinya
tangis nya yang selalu di tahan kini tak bisa di tahan di hadapan makam istrinya
bunga yang segar masih ada di atas pusara istrinya siapa lagi kalau bukan dari putrinya yang selalu sempatkan untuk mengunjungi makam ibunya
"anak kita sudah mas nikahkan sayang" kata papi Gerald berlinang air mata nya
"dan mas percaya kepada menantu kita yang bisa menjaga putri kita, karena masih ada musuh mas yang selalu mengincar mas atau putri kita" tambahnya
bercerita seperti ada orang di depan nya yang kini papi Gerald lakukan hanya untuk mengobati rasa kangen nya setelah lama tidak berjumpa dengan istrinya
di peluk nya pusara istrinya seperti memeluk mending dulu
azza di rumah tengah gelisah karena sang papi belum juga pulang setelah tau dari salah satu pembantunya sekarang papi nya tengah berada di makam mami nya
tak memungkinkan baginya untuk menghampiri papi nya ke makam dengan kondisi yang berjalan juga susah
"kenapa sih sayang?" tanya Miftah yang sudah kerja di rumah sebentar
"papi belum pulang kak"jawab azza gelisah
"kan udah tau papi di makam mami sekarang, terus kenapa lagi?" tanya Miftah
"iya karena di makam mami pasti papi sedang nangis" kata azza
"biarkan dulu sayang, jangan ganggu dulu papi mu yang sedang mencurahkan rasa rindu nya" kata Miftah membawa azza ke dalam pelukan nya
"aku tau kamu cemas sayang, tapi biarkan lah dulu papi mu menenangkan dirinya di pusara mami mu" lanjut Miftah mengelus rambut azza dan punggung nya menenangkan sang istri