
malam hari nya mereka masih di apart nya azza, dengan kenan dan ray mengerjakan tugas nya di kamar tamu apart nya azza, sedangkan Adit dan Sam sedang bermain PS, cece dan Roni sedang bertengkar manja membuat azza perih melihat nya
"kalo nyari gue, gue di balkon" kata azza tapi tidak ada yang menjawab membuat azza mendengus kesal
padahal gerak gerik nya sedari tadi di perhatikan seseorang, bahkan mengikuti nya ke arah balkon.
"kenapa se sakit ini mi?" tanya azza pada langit malam meneteskan air matanya
"menangis lah, jangan sok kuat" timpal Miftah tepat di belakang azza
"kenapa Lo ke sini?" tanya azza mengusap air mata yang sempat mengalir
"menangis lah, jika hati Lo merasa sesak, jangan di tahan" ucap Miftah
tak ada jawaban dari azza yang ada hanya Isak tangis uang yang tertahan, membuat Miftah membawa azza kedalaman pelukannya.
bukannya berhenti malah semakin terisak, mempererat pelukannya, hanya rasa nyaman dan aman dalam pelukan ketua geng galaksi
"Lo pasti bisa lewatin semua ini" nasihat Miftah membuat azza mendongak melihat nya.
"mata merah dengan pipi lumayan cabby, dan bibir merah muda yang belum terjamah membuat Miftah gemas, mengecup bibir azza singkat.
cup
hanya sekilas tapi membuat azza menegang, sadar akan reaksi azza, Miftah mempererat pelukannya, memberi rasa nyaman untuk azza dengan sesekali mengecup kening azza
"sorry, gue tau tadi first kiss Lo kan?" tanya miftah, hanya anggukan kepala yang di lakukan azza, selebihnya malu dan malah makin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Miftah
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
seorang pemuda dengan perawakan tegas baru sampai di bandara, sudah 3 tahun dia berobat di negeri tetangga akibat ulahnya yang suka celap celup
" gue kembali honey, gue pastikan Lo bakal jadi milik gue" gumamnya menyeret koper yang di bawanya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sedangkan di apart azza kini suasana sangat menegangkan saat mereka sudah melihat cctv meninggalnya mami azza, entah bagaimana kenan dan Rayan mendapatkan rekaman cctv nya yang pasti itu keahlian dari Rayan dan kenan.
"setelah Lo tau, Lo akan bertindak seperti apa?" tanya cece hati hati
"seperti nya mati hukuman paling ringan untuk dia ce" jawab azza dengan tenang
"ini yang gue takutkan za, Lo selalu tenang di awal tapi saat Lo bertindak Lo terlalu nekat, dan ceroboh, selalu gak mikir akan keselamatan Lo sendiri" timpal Adit
"untuk kali ini gue bisa bertahan dit, ujian tinggal 1 bulan lagi, gue lebih mementingkan pendidikan gue, untuk sekarang berpura pura tidak tau dulu" jawab azza
"gimana keputusan Lo aja lah za, yang penting kita selalu ada buat Lo" timpal Roni
"udah lah, sekarang makan aja, ada mie atau apalah za di apart Lo ini" kata Rayan mencairkan suasana yang semula tegang
"Lo ya, malu maluin, gue ijin geledah kulkas Lo za" timpal kenan
"anggap aja rumah sendiri" jawab azza, "kalo kurang suruh si Adit beli" lanjut azza
"gitu tuh orang saraf, ngatain orang malu maluin tapi dia nya sendiri lebih memalukan" timpal Rayan tapi tubuhnya menyusul kenan
"sama aja, memalukan" sarkas Sam yang sedari tadi diem bae
"kak Sam, gimana kabar Icha?" tanya azza
"seperti sekarang harus gue yang ngejar dia" jawab lemes Sam
"selamat berjuang kak Sam" ucap tulus azza
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
pagi harinya azza berangkat dengan taxi, untuk pertama kalinya dia merasakan kebebasan kembali, biasanya kalo gak cece yang jemput, Adit bakalan jemput tapi sekarang, cece belum di ijinkan mengendarai mobil oleh Roni, status belum jelas tapi sangat protektif banget, sedangkan Adit dia bilang gak bisa menjemputnya
"males banget nih kaki langkahnya kalau tanpa mereka" gumam azza melangkah kaki nya ke dalam sekolah
bruk
dengan sengaja nya gadis di depan nya menyenggol azza dengan keras hingga jatuh ke lantai menyebabkan lutut nya berdarah dan tangan nya sedikit lecet
"oops, sorry.. " ucap bella yang sengaja mendorong azza
"mau gue bantu? tapi enggak deh, tangan gue nanti terinfeksi sama virus pelakor nya" kata Bella
"siapa yang pelakor?" tanya azza murka, berdiri tanpa memperdulikan sakit di lututnya
"temen Lo yang ******, otomatis Lo sudah terkontaminasi dengan virus pelakor" jawab enteng Shasa temennya Bella
"Lo ngatain temen gue?" tanya azza marah
"fakta nya kan dia rebut Roni dari gue" jawab Bella
"sial-" belum melanjutkan ucapannya tubuh nya sudah melayang di gendong orang tampan yang membuat azza bengong
"prince" gumam azza tapi masih di dengar oleh Miftah yang mengendong azza
Miftah hanya tersenyum tipis banget mendengar gumaman azza pada dirinya, bukannya UKS yang di tuju melainkan roof top yang di tuju Miftah
"aw.. aw.." desis azza saat Miftah menurunkan azza di sebuah bangku usang
"bentar" kata Miftah langsung membersihkan luka azza dengan telaten bahkan meniupnya supaya tidak perih
cup
dengan berani nya Miftah mencium lutut azza yang sudah di pasang plester oleh Miftah membuat azza gelagapan
"jantung, santai jantung" jerit azza di dalam hati saat merasakan detak jantung nya cepat banget
"jangan ladenin orang yang seperti tadi" kata Miftah menyadarkan azza
"tapi dia yang udah dorong gue, masa gue diem aja" jawab azza
"gak bakalan selesai kalo terus meladeni anjing menggonggong" kata Miftah sambil menyelipkan rambut ke telinga azza
perbuatannya malah membuat azza semakin gelagapan
"gue udah nyuruh Roni, dia yang mau bertindak atau gue yang bales, tapi tuh orang masih cari masalah" keluh azza dengan mengerucutkan bibirnya
"Roni pernah mengancam mereka buat tidak mengganggu cece, Roni juga cowo, mana mungkin dia berani maen tangan sama cewe" jelas Miftah
"berarti gue bebas dong bales perbuatan mereka?" tanya azza
cup
menyadari azza yang menegang, Miftah ******* dengan lembut membuat azza terpaku dan tanpa sadar membalas ciumannya .
malu yang di rasa azza saat ini, setelah Miftah melepaskan ciumannya,
"jangan bales dendam" titah Miftah, biar gue yang urus semuanya, buat Lo" lanjut Miftah dengan senyuman nya yang buat azza terpesona
grep
tanpa ijin Miftah langsung memeluk tubuh azza, merasakan kehangatan dari tubuh azza
"you're mine Michelle" kata miftah tanpa balasan dari azza
lancang, memang sangat lancang perbuatan Miftah pada azza, tapi apa daya jantung dan hatinya merasa nyaman akan perbuatan Miftah
status, bagi Miftah tidak penting, yang penting perbuatannya yang menunjukkan bahwa dia sangat penting bagi hidupnya
tapi berbeda dengan azza, menurut nya ini gila, mencium bibir nya tanpa ada status di hubungannya