
suara deru mesin mobil berhenti di kediaman papi gerald, azza langsung masuk ke rumah nya tanpa memperdulikan Miftah yang di belakang nya
Miftah hanya menghela nafas dengan membawa beberapa paper bag,
"mang tolong bawa kopernya" kata Miftah menyuruh satpam membawa koper milik nya
"siap den" jawab nya
papi Gerald yang bingung karena anak dan menantunya telah kembali, padahal rencana kepulangan esok hari, terlebih dengan putri nya yang dalam keadaan cemberut
"pih, gak ke kantor?" tanya Miftah menyalimi mertuanya
"papi sedikit pusing tadi pagi, makanya papi istirahat di rumah" jawab nya
"kalian kenapa? kok pulang sekarang? terus azza tadi cemberut?" tanya papi karena mereka dalam liburan honeymoon nya
"Miftah sengaja pih atur kepulangan nya sekarang, ternyata semalam mereka sudah tau titik lokasi kami, dan lebih baik nya Michelle di rumah dari pada di luar" jelas Miftah sama mertuanya
"secepat itu?" tanya papi Gerald kaget
"iya pih, papi juga harus hati hati, karena mereka mengincar papi dan Michelle" jawab Miftah
"terus istrimu manyun gitu kenapa?" tanya papi Gerald lagi
"Miftah tak ijinkan belanja oleh oleh, miftah takut kalo Michelle di luaran terlalu lama Pi" jawab nya membuat papi Gerald mengerti dengan alesan sang menantu nya
"ya udah istirahat sana, dan kasih tau istrimu perlahan, supaya dia mengerti mif" nasehat papi Gerald yang di angguki oleh Miftah
Miftah pun masuk ke kamar nya, dan melihat sang istri yang sudah di atas ranjang nya
"kamu udah tidur sayang?" tanya Miftah mengelus kaki azza
"belum, cuma rebahan sebentar" jawab azza yang tidur telungkup
dengan jail nya Miftah mengelus kaki azza yang tersingkap daster
"kak"kata azza dengan suara serak nya
"kenapa sayang?" kata Miftah dengan terus mengelus paha azza
"kak" cegah azza langsung membalikan badan nya
"ouh ya kak" kata azza mengingat sesuatu langsung duduk di hadapan suaminya "tadi selama perjalanan merasa ada yang aneh gak sih?" tanya azza membuat Miftah mengerut kan kening nya
"emang nya apa yang aneh?" tanya Miftah
" entahlah, tapi aku merasakan ada yang ngikutin kita dari penginapan" kata azza mencurahkan rasa resah nya
deg
Miftah tak tau kalo azza sampai merasakan hal yang sama, tapi dia tidak bercerita dari awal
"kenapa baru ngasih tau?" tanya Miftah
"tadi mau kasih tau, tapi sepertinya kamu banyak pikiran, makan nya gak kasih tau dulu, apalagi kamu fokus sama jalanan tadi" jelas azza
grep
tanpa banyak kata Miftah langsung membawa tubuh azza ke dalam pelukan nya, menyalurkan rasa nyaman untuk azza sang istrinya
"maaf jika rencana honeymoon kita tak sesuai rencana, dan maaf tadi di jalan aku benar benar mengabaikan kamu" kata Miftah tulus dengan mencium pucuk kepala azza
"kenapa ?" tanya azza mendongak
"maaf" kata azza berkaca kaca
"kamu tak salah, aku janji bakalan lindungin kamu dan papi dari marabahaya" janji Miftah membuat azza tersenyum
"dengan satu syarat" kata Miftah membuat azza menaikan satu alisnya
"once again" kata Miftah langsung mencium istrinya
seperti tak ada lelahnya, mereka melakukan nya lagi padahal mereka habis dari perjalanan yang lumayan jauh
Miftah langsung ambruk di sisi azza, dengan peluh keringat dari tubuh nya, begitu pun dari tubuh azza
sore hari papi Gerald hanya sendiri di ruang keluarga, dengan mata terus menatap ke lantai atas dimana kamar azza berada
"benar benar anak muda, gak kasian apa sama yang tua" kata papi Gerald karena dari siang anak dan menantunya belum juga keluar
papi Gerald malah tersenyum sendiri, mengingat bagaimana dulu masa pengantin baru nya bersama almarhum mami nya azza
"permisi tuan" kata asisten rumah tangga nya menghentikan lamunan papi gerald
"kenapa bi?" jawab nya
"di luar ada teman teman nya den Miftah sama neng azza" jawab nya
"suruh masuk bi, biar saya gedor tuh pengantin baru" kata papi Gerald yang malah membuat si bibi terkekeh
sedangkan di kamar azza masih bergelung selimut, tertidur lelap selepas pertempuran nya siang tadi
gedor... gedor.. gedor...
sungguh cara mengetik pintu yang sangat tidak baik yang papi Gerald lakukan
Miftah mengucek mata nya saat gedoran di pintu, sudah di pastikan mertuanya yang mengetuk pintu secara brutal itu pikirnya, siapa lagi menurut nya yang berani mengetuk pintu seperti itu kalo bukan mertuanya
dengan memakai kaos dan bokser nya Miftah langsung membuka pintu dengan penampilan masih acak acakan
"astagfirullah" decak papi Gerald melihat menantunya yang biasa nya terlihat keren kini sudah seperti gelandangan pikirnya
"kenapa Pi?" tanya Miftah
"teman teman kalian sudah nunggu di bawah, cepat mandi" kata papi Gerald yang di angguki oleh Miftah
"mif" tahan papi Gerald saat Miftah mau menutup pintu " jangan lupa kamu tutupi hasil karya istrimu itu" kata papi Gerald terkekeh langsung pergi
sedetik kemudian Miftah baru sadar akan yang di maksud papi nya, hanya tersenyum dan langsung membangunkan istrinya
selang beberapa menit, pasangan pengantin baru itu menghampiri teman teman nya yang sudah berkumpul di ruang keluarga
"cieee yang sudah gol" kata mikhail yang langsung di timpuk mulut nya oleh Adit, Mikhail yang bicara tapi semuanya yang malu apalagi ada papi nya azza di sana
sang papi hanya terkekeh dengan ucapan teman putrinya itu, "liat lah malah pamer hasil karya" tambah papi Gerald meledek pengantin baru setelah melihat leher Miftah yang terdapat 3 buah bekas kiss mask
"wih gila om, menantu om emang tak tau malu" kata Mikhail yang menimpali candaan papi Gerald membuat inti geng galaksi meringis saat ketuanya di ledek
azza langsung bersemu malu saat di ledek papi nya, "papi ih" rengek nya malu memeluk papi nya
sedangkan Miftah malah tersenyum bangga dengan hasil karya istrinya itu, malah terkesan miftah memamerkan nya
"bener kata kamu, menantu om tak tau malu" tambah papi Gerald membuat mereka tertawa karena sang ketua geng galaksi di nistakan oleh papi mertua nya