
Di sini lah mereka azza and the Genk, taman belakang kampus yang jadi tujuannya
"Lo serius dit?" tanya azza
"nikah bukan perkara mudah, apalagi Lo tanggung jawab yang bukan punya Lo, bisa gak Lo?" tanya Roni
"gue gak tau bisa enggak nya, tapi gue yakin dengan apa yang gue ambil saat ini" kata Adit mantap
"terus Sarah gimana?" tanya cece
"beberapa kali dia nolak gue nikahin, bukan karena apa apa hanya dia gak mau merusak masa depan gue katanya" jawab Adit
"si Sarah cewe kuat juga ya" kata azza
"terus sekarang gimana?" tanya Roni
"dia mau gue nikahin, dia juga ngomong kalo gue terpaksa atau tertekan mending sudahi aja" jelas Adit
"kapan Lo nikah?" kata azza
"lusa za, sekarang bokap yang lagi ngurus semua berkas nya, terlebih anak yang di kandung juga butuh status ayah, meskipun bukan nama bang Devan tapi it's oke lah , entar jika waktu nya pas istri nya berhak tau" jawab Adit
"sebelum lamaran gue dong?" tanya azza
"lah iya ya, Lo doang nanti yang masih lajang" kata Roni
"eh, kita gak beda jauh ya jodoh nya" gumam cece
"tapi Lo pada nanti udah pada punya baby, gue belum" keluh azza
"di majuin nikah nya za, seminggu sesudah lamaran" saran Roni
"Lo kira gampang, bokap gue minta nya taun depan malah" jawab azza
"lebih baik sih langsung nikah za, pacaran Mulu numpuk dosa, apalagi macam kaya Lo, gak yakin gue tuh bibir masih polos" celetuk Adit
"hello apa kabar Lo kemarin kemarin pacaran sama si vio? mentang mentang lusa Lo bakalan kawin" kesal azza yang malah di tertawa kan sama cece dan Roni
"eh ngomong ngomong si vio gimana dit?" tanya cece
"gue putusin lah, gue tunjukkin juga tuh video nya yang ngejebak Sarah, gara gara kesaing nilai jadi nekat" kata Adit
"terus, heboh dong di SMA?" tanya azza
"bukan heboh lagi, awalnya heboh nya pada gak nyangka sama Sarah, gue tunjukkin video nya sama temen temennya sampe guru BK pun gue tunjukkin" kata Adit "sekarang malah si vio yang di DO" tambahnya
"terus sekolah gimana?" tanya cece
"kepala sekolah ngasih keringanan buat Sarah, selama hamil belajar di rumah, dan apabila sudah melahirkan bisa sekolah kembali, kasian gue baru juga kelas X sudah di keluarin" jawab Adit
"bokap Lo yang turun tangan?" tanya azza
"ya, sebagai bentuk tanggung jawab bokap gue" jawab Adit
"apart yuk? jenguk Sarah" ajak cece
"ayok"jawab Adit semangat
"dih semangat" ejek azza
"kalian aja, gue mau kerja, dit jagain nih bini gue,ingetin dia lagi hamil muda" kata Roni
"siap" jawab Adit
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sedangkan di rumah mama Wina sedang sibuk mengurus barang yang akan di bawa,
"aduh ma, banyak banget yang di bawa" keluh papanya Miftah
"ih pa, kan ini akan menjadi pernikahan pertama dan terakhir, jadi mama pengen terkesan dari awal sampai akhir, apalagi papa tau kan mantu kita itu ternyata yang mama mau" senang mama Wina
"terserah mama saja lah, lagian acara lamaran nya juga nanti 4 hari lagi" kata papa
"biar tidak ada yang kelewat pa" jawab mama Wina sambil merias barang bawaan buat nanti
"ouh ya ma, kata azza gimana setelah kita minta nya sering sering kesini?" tanya papa
"azza cuma bilang, paling seminggu di sana seminggu di sini, tapi kalo papi nya nikah lagi, azza ikut suaminya" kata mama Wina
"gini amat ya ma, kalo punya anak tunggal, azza sama tunggal lagi" kata papanya
"ouh iya, semoga nanti mereka dapet nya langsung dua ma, biar rame rumah" kata papa
"aamiin pa" jawab mama Wina
"assalamualaikum" salam Miftah yang baru datang
"waalaikum salam" jawab mama dan papanya
"barang nya banyak amat ma" tanya Miftah
"iya dong" bangga mama Wina
"gimana mif?" tanya papanya
"papi nolak pa, katanya kalo acara di rumah nya nanti biar dia yang tanggung, meski Miftah mau bawa orang banyak juga tak masalah, katanya sebagai tanggung jawab yang terakhir untuk Michelle, malah tukang dekor nya juga sudah datang" kata Miftah
"kemarin tanya sama mama, bagus nya kalo mau di dekor dari kapan? mama jawab aja dari sekarang" cengir mama Wina
"Michelle pasti syok ma, baru lamaran aja sudah seheboh ini" kata Miftah geleng geleng kepala
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
azza baru sampai di depan gedung apart tempat nya yang kini di sini oleh Sarah
"azza" sapa seseorang saat mereka sedang di lobi
deg
suara yang azza kenal dulu, yang selalu di hindari nya,
"marchel" gumam azza
"boleh kita bicara?" tanya nya
"mau ngapain bro?" sela Adit menyembunyikan azza di belakang tubuh nya
"sorry dit, gue ke sini cuma mau bicara dengan azza, gue janji tidak akan bikin masalah" pinta marchel
"emang Lo dapat di percaya?" sinis Adit
"gue mau minta maaf dan pamit pergi dit, ijinin gue ngomong sama azza sebentar" pinta nya lagi
"di cafe seberang, dan atas pantauan gue" kata Adit
"iya, thanks dit" kata marchel
"ce, Lo kedalam temuin dulu Sarah, gue temenin dulu azza" titah nya pada cece
"tapi dit nanti kak Miftah gimana?" sela Adit
"gue yang telepon, Lo selesai kan dulu masalah sama dia" kata Adit
meski dengan pantauan dari Adit, Miftah terasa terbakar api cemburu saat mendengar marchel mengajak Michelle nya berbicara
"to the poin, ada apa?" tanya azza
"za, aku mau minta maaf, aku juga mau pamit ke Singapure" kata marchel
"kenapa?" tanya azza
"aku sakit za, salah ku yang tak bisa berhenti bermain" jawab marchel sendu
"kamu sakit .." kata azza tak meneruskan ucapannya
"iya za, sudah harus di rawat di sana, tapi it' ok aku cuma mau minta maaf dengan tulus untuk terakhirnya bertemu kamu" kata marchel
"semoga cepat sembuh, dan bisa meneruskan kehidupan meski tidak dengan ku" kata azza tulus dan tersenyum
"thank's za, untuk saat ini kau bukan sudah aku anggap adik ku sendiri za, semoga kita bisa bertemu kembali meski tidak bersama" bales marchel
"iya, lupakan kenangan kita dulu" jawab azza
"boleh aku minta pelukan untuk terakhir kalinya? " pinta marchel pada azza
"oke, sini" kata azza merentangkan tangan nya
sedangkan di sisi pintu utama seseorang mematung melihat azza memeluk mesra lelaki yakni lelaki masa lalu nya