
sesuai perkataan Adit kini mama dan papa nya sudah ada di apart yang di janjikan Adit
"dia siapa dit?" tanya mamanya pada seorang gadis yang di samping Adit
"nama nya Sarah ma, untuk lebih jelas nya lebih baik kita tunggu bang Devan" jawab Adit
Sarah tengah gelisah saat Adit datang membawa kedua orang tuanya, sebelum nya Sarah belum mengetahui kalau Adit bagian dari keluarga Rahadian
sedangkan papa Adit tengah curiga dengan situasi seperti ini, hanya dapat menerka nerka dan semoga terkaan nya salah
Ting nong.... Ting nong..
"biar Adit yang buka" kata Adit langsung pergi
hanya kecanggungan yang ada setelah kepergian Adit, terlebih Sarah terasa terintimidasi oleh pasangan di depan nya
deg
jantung Sarah berpacu sangat kencang setelah melihat seseorang yang datang bersama Adit
begitu pun dengan Devan, dirinya merasa dunia nya kini sedang ambruk
"kaget kan Lo" sinis Adit
merasa kan ada sesuatu yang sangat tegang, papa Adit langsung menyela adik kakak yang sedang bersitegang
"papa belum tau masalah nya, tapi sepertinya masalah nya sangat serius, ma kamu di samping devan, biar papa yang di samping Adit" titah papa Adit
"oke, sebelumnya Adit minta maaf harus bicarakan ini semua, tapi Adit tidak mau ada yang merasa di rugikan" kata Adit sebagi pembuka
"kamu jelaskan ada apa nak?" titah mamanya yang sudah penasaran
deg
jantung Devan sangat kacau, mana mungkin ia akan mengelak, dan begitu pun dengan Sarah hanya bisa menunduk takut
" ma, pa dia Sarah wanita yang sudah di renggut kesucian nya secara paksa oleh bang Devan" kata Adit
deg
semua nya langsung kaget, bahkan Sarah langsung memejamkan mata nya, bang Devan? berarti Adit adalah adik nya bang Devan? dan mereka orang tuanya" kira nya dalam pikiran Sarah
"bener gitu Devan?" lirih mama nya
terasa Kelu Devan akan menjawab, tak mungkin bagi dia untuk mangkir dari masalah
"iya ma" jawab Devan menunduk
deg
"kenyataan seperti apa ini?" gumam mamanya
"bisa di perjelas?" pinta papanya Adit
"oke Adit akan cerita, bang Devan pacaran dengan Sarah, Sarah kira dia masih lajang makanya dia terima, sampai suatu hari Abang bekerja sama dengan seorang cewe untuk menjebak Sarah dan sialnya lagi cewe itu pacar Adit " kata Adit
deg
sudah ke berapa kali mereka di kaget kan dengan kenyataan dari Adit, bahkan Devan sendiri tidak ada penolakan malah dia pasrah
"kamu tidak ada pembelaan devan?" tanya papanya
"tidak pa, itu bener" kata Devan menunduk
tangan papanya sudah mengepal dan rahang nya mengeras, jika tidak di tahan oleh Adit mungkin papanya akan memukul kakaknya
"kenapa hah?" tanya papanya mulai kesel
"itu semua gara gara papa"teriak Devan
"apa salah papa?" jawab nya tinggi
"papa pengen tau salah papa apa? dari dulu papa selalu menekan aku bahkan Adit juga untuk selalu menjadi no 1, setelah itu apa papa selalu mengatur aku ini dan itu sampai suatu hari aku kacau dengan tingkah laku papa, aku stress hingga enggan buat pulang, sampai di cafe aku bertemu dengan nya, aku tertarik dengan nya " jelas Devan
deg
Adit pun pernah merasa nama nya tertekan, emang sifat papanya itu selalu mengharuskan anak nya menjadi nomor satu
"tidak ada guna nya untuk bertengkar, saat ini sarah tengah hamil, apa solusinya?" tanya Adit
deg
kembali kejutan yang yang di layangkan Adit pada semua orang
"iy-ya Tante" gugup Sarah
"kenapa tidak mencari Devan?" tanya nya lagi
"ka-rena ternyata kak Devan sudah memiliki istri dan anak, dan aku tidak mau ada lagi hati yang tersakiti cukup aku saja" kata Sarah menunduk
"tapi bagaimana pun yang kamu kandung itu anak nya Devan, dia berhak tau" sela papanya
"iy-ya tapi nanti, setelah anak ini lahir aku akan mengenakan nya tapi tidak untuk kepadanya dan di bawa oleh nya" jawab Sarah
"aku pa, ma yang akan nikahin Sarah" kata Adit yang langsung semua mata melihat kearah nya
"kamu serius dit?" tanya papanya
"menikah itu bukan untuk mainan dit" bantah mamanya
"tidak ma, bagaimanapun anak yang di kandung nya itu bagian dari kita, sedangkan bang Devan tidak mungkin harus menikahi nya" kata Adit mantap
"itu ide yang baik, papa setuju dengan kamu" kata papanya menepuk bahu Adit
"tapi pa-" sela Devan tapi tak dapat melanjutkan perkataannya
dengan perundingan yang cukup alot, tidak ingin ada pihak yang di rugikan tapi Adit malah merugikan diri sendiri
Adit merasa harus bertanggung jawab, karena pacar nya yang terlibat dalam kasus ini, entah ke depannya seperti apa tapi Adit ingin hanya menikah sekali yang langsung di setujui oleh mamanya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sedangkan azza kini tengah nongkrong bersama cece dan anak galaksi yang lainnya
"bumil makannya banyak ya" goda Rayan
"nama nya juga makan berdua" sewot cece
"gak takut gendut?" tanya Rayan
"kan nanti bakalan gendut" ketus cece
"diem deh Lo" jengah kenan
"mumpung gak ada pawang nya Ken" kata Rayan tertawa
"gue aduin Lo kak" kata azza kesal
"ihh Cepu, mif cewe Lo tuh Cepu" ejek nya
"diem" kata Sam membuat Rayan langsung diem sedangkan Miftah hanya menatap Rayan tajam
"kak, mau itu dong" kata azza pada Miftah
"jangan banyak banyak makan pedas nya" kata Miftah menyodorkan makanan yang di pinta azza yang langsung di angguki oleh azza
"kak Ken mau cake nya kak Alma dong, pesenin dua kak" kata azza
"cake nya mah pasti ada tapi alma nya lagi kerja kelompok, nanti malem deh di anterin ke rumah Lo" kata kenan
"oke kak" kata azza
"sembari makan aja lah ya, gue mau bicara serius, Minggu depan gue mau lamar Michelle, tapi gue mau di saksikan oleh anak anak galaksi" kata Miftah
"sore?" tanya Sam
"malem, paling dari sore kalian sudah standby ada yang bantu dan jaga" kata Miftah
"oke tak masalah " jawab kenan
"kalian suruh sama yang lainnya pake batik atau minimalnya pakaian yang rapi, entar gue kirim duit nya buat pada beli baju" kata Miftah
"kalo gue gimana?" tanya cece
"kalo Lo urusan gue ce, itu untuk aggota nya Abang, kalo Lo sama Adit sama gue" kata azza
"udah di siapin semuanya?" tanya Sam
"beres" kata Miftah
"lamaran gede gedean dong ini" celetuk Rayan
"ya mana mungkin sederhana, sama sama anak tunggal" kata kenan