
azza sedang menikmati hari cutinya yang tinggal beberapa hari lagi, di sinilah mereka di daerah puncak Bogor untuk menikmati bulan madu yang singkat .
Miftah mengelus lembut perut azza dengan keadaan masih toples, " semoga cepat tumbuh di sini" kata Miftah dengan terus mengelus lembut perut azza
"aamiin" jawab azza tersenyum dengan doa Miftah, jujur hatinya juga sering terasa iri bila sedang bermain dengan cece dan Sarah istrinya Adit, mereka tengah hamil dan akan terasa seru bila mereka bertiga hamil bareng pikir azza
cup
Miftah mengecup lama kening azza, ciuman hangat tanpa nafsu untuk menyalurkan rasa cintanya Miftah
"mulai sekarang kamu harus hati hati" kata miftah membuat azza menengok ke atas melihat wajah tampan suaminya
"kenapa?" tanya azza bingung
"semalam kenan menghubungi aku, katanya musuh papi sedang mengincar kamu, kalian berdua dalam bahaya" jelas Miftah dengan wajah serius
"papi?" tanya azza
"dia sudah aman, banyak yang mengawasi papi dan kamu" kata miftah menenangkan nya
ya, Miftah lebih baik memberi tau azza perihal seseorang yang sedang mengincarnya dari pada menyembunyikan nya, Miftah harap mereka selalu tetap waspada
tangan nakal Miftah langsung menggerayangi tubuh azza membuat azza yang tadi kepikiran soal dirinya dan papi nya malah buyar dengan sentuhan yang di beri Miftah
mungkin ini yang di rasa marchel saat itu yang tak bisa hidup tanpa ****, apalagi marchel tidak bisa lepas sehari tanpa **** pikir azza menikmati sentuhan Miftah yang memabukkan nya
"once again baby" kata Miftah setelah merasa lawan nya menginginkan nya
azza berseru merah di semburat pipinya karena lagi lagi Miftah meminta nya, seperti tak ada habis tenaga yang Miftah keluaran, atau mungkin karena faktor masih pengantin baru yang membuat nya terus di dalam kamar
Miftah mengelus rambut azza setelah mereka melakukan pergulatan panas nya, sengaja Miftah membuat nya lelah supaya azza tak kepikiran tentang seseorang yang tengah mengawasinya
"apapun akan aku lakukan demi menjaga kamu dan papi mu" kata Miftah mengelus pipi chaby azza
"good night baby, semoga nyenyak tidur nya" kata Miftah pelan di samping telinga azza
Miftah membawa azza ke dekapan nya, membuat nya nyaman dalam pelukan nya dan memastikan selimutnya menutupi seluruh tubuh azza supaya mereka tidak kedinginan di tempat yang malam ini begitu dingin
pagi harinya azza menggeliat pertama kali, dengan posisi dia membelakangi suami nya yang tengah memeluk nya
di pandang wajah suaminya yang begitu tampan, tak salah masih banyak wanita yang selalu mengejarnya meskipun kini dia tengah beristri
azza menelusuri wajah tampan suaminya itu dari alis sampai ke bibir nya, senyuman melengkung dari wajah azza seperti tak ada kata puas untuk memandangi muka bantal suaminya
hap
telunjuk azza di tangkap oleh Miftah dengan mata masih terpejam, di masukan nya ke dalam mulut nya dan menggigit gemas telunjuk nya
"awsss" ringis azza pelan membuat Miftah membuka mata nya dan langsung mengelus jari azza takut gigitan nya malah melukai jari istrinya
cup
dengan berani azza mencium singkat bibir miftah membuat Miftah terbengong dan menatapnya dengan wajah yang begitu senang
"kenapa memang nya?" tanya azza tersenyum
Miftah berseringai dan langsung mengukung tubuh azza membuat azza kaget dengan gerakan tiba tiba dari miftah
"once again baby" kata mantra dari Miftah yang tanpa basa basi langsung melahap bibir ranum azza
pukul 11 siang mereka baru keluar dari penginapan yang tak jauh dari aliran sungai yang begitu asri,
suasana yang begitu asri meski sudah siang membuat azza dan Miftah merasa sangat betah berada di lingkungan seperti pedesaan ini
dengan sarapan yang di gabung menjadi makan siang mereka lakukan di balkon penginapan nya dengan view yang langsung ke arah sungai
"kamu harus makan yang banyak dan sehat sayang, mungkin baby kita mulai tumbuh dari perut kamu" kata Miftah melayani makanan untuk istri tercinta nya
"sayang, biar aku yang melayani mu jangan aku yang di layani" kata azza cemberut
"kenapa emang nya sayang? seharusnya kamu senang mempunyai suami seperti aku yang bisa melayani kamu dari semua hal, termasuk di ranjang" kata Miftah sembari menggoda istrinya itu
"iya sih, tapi aku juga pengen menjadi istri yang baik untuk kamu, ya meskipun belum tahap ke istri Sholihah, setidaknya aku yang melayani kamu makan, ganti baju dan semua keperluan kamu" kata azza berterus terang
senyuman mengembang dari bibir Miftah, dia berpikir dengan cara melayani istrinya, azza akan senang dengan semua tindakan nya, tapi tindakan nya ternyata bagi azza kurang tepat, azza memang perempuan manja tapi dia tau cara memperlakukan suami seperti almarhum mami nya dulu yang selalu melayani suaminya
"maaf jika selama ini aku terlalu lebay dengan tindakan ku ini, kamu boleh banget melayani aku, lakukan sepuasnya untuk melayani ku" kata Miftah terdengar ambigu di telinga azza tapi azza tersenyum
azza langsung mengambil piring yang masih kosong itu dengan menuangkan makanan kesukaan Miftah, dengan porsi yang sesuai dengan Miftah azza langsung meletakan piring nya di hadapan Miftah
"makasih sayang" kata Miftah membuat pipi azza merona
dengan hal sekecil itu mampu membuat azza seperti terbang ke angkasa, hal yang mungkin sudah jarang di lakukan bagi pengantin lama untuk selalu berterima kasih dan memperlakukan istri nya dengan manis
mereka bercanda dan tertawa dengan gembira menghabiskan waktu bersama, dengan harapan hadir nya malaikat yang akan hadir di tengah mereka
sama sama menjadi anak tunggal membuat mereka kesepian, terlebih mereka hidup di sama sama dari keluarga kaya membuat mereka terkadang selalu di manja di saat kakak kakak atau mungkin sampai sekarang pun mereka masih di sayang
"istirahat lah sebentar, setelah itu baru layani aku di sana" kata Miftah menunjuk ranjang nya yang masih berantakan itu
azza hanya melongo dengan permintaan suaminya itu, baru juga mereka beristirahat tapi kini dia meminta lagi
"apa sebaiknya kita jalan jalan dulu mungkin?" kata azza mencoba merayu suaminya itu
"kemana?" tanya Miftah menatap istrinya itu
"ke perkebunan teh mau?" tawar azza dengan antusias
"boleh, pasti akan seru jika kita melakukan di alam terbuka, sangat menantang" kata Miftah membuat azza tak percaya dengan pola pikir suaminya kini
"jangan gila kamu, nanti kita di grebek gimana?" kata azza mendengus
"kalo kita di grebek, dengan bangga akan aku perlihat kan kartu merah ku dan kartu hijau mu" kata Miftah membuat azza terdiam dengan jalan pikiran suaminya