
di sini azza sekarang, di pemakaman tempat peristirahatan mami dan adiknya, Adit senantiasa mendampingi sang sahabat bahkan sampai mengabaikan panggilan dari pacar barunya
"mami, azza bukan pelakor, azza benci banget sama cewe tukang rebut suami orang, tapi sekarang azza jadi pelakor, pacar azza ternyata tunangan orang" keluh azza menangis
"sabar za, bukan Lo, udah lah ayo kita pulang, udah sore nih" kata Adit bujuk azza
"bentar dit, muka gue ancur banget" kata azza mengelap bekas nangis nya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sedangkan Miftah langsung pulang ke rumah utamanya, meminta penjelasan dari mamanya
"mah" teriak Miftah
"mamah" teriak nya lagi
"ada apa ku cari mamah? datang datang bukannya salam malah teriak teriak" tanya papa nya Miftah yang baru datang dari taman belakang menggunakan kursi roda
"mama mana pa? tanya Miftah kepada papanya
"mama kamu lagi mandi tadi, ada apa kamu nyari mamah?" tanya papa
"papa tau tentang perjodohan Miftah?" tanya Miftah
"ouh soal itu, tanya mama kamu aja, papa udah tau pasti kamu tidak setuju" kata papa
"gara gara itu pa, pacar Miftah jadi ninggalin Miftah" keluh Miftah
"pacar? kamu sudah punya pacar?" tanya papanya kaget yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Miftah
"ada apa ini? tadi kaya ada yang teriak panggil mama?" tanya mamanya Miftah
"mama, kenapa mama malah jodohin Miftah sama Bianca?" tanya Miftah langsung
"ouh itu, kenapa? bukanya kalian pacaran?" tanya balik mamanya
"kata siapa Miftah sama Bianca pacaran? tanya Miftah lagi
"kata mamanya Bianca, makanya mama ajukan langsung tunangan aja" jelas mamanya
"mama" geram Miftah
"kenapa? kan kalian pacaran, wajar dong kalau mama langsung ajukan pertungan? lagian Bianca cantik, baik, sopan lagi, iya kan pa? kata mamanya Miftah
"mama harus tau, pertama Miftah sudah punya pacar tapi bukan sama Bianca dan yang ke dua, gara gara Bianca menyebarkan perjodohan, pacar Miftah langsung ninggalin miftah" keluh Miftah frustasi
"bentar, bentar.. tapi kata mamanya Bianca bilang kalo Bianca pacaran sama kamu dan itu udah lama, itu pun alesan nya kamu buat pindah di apartemen karena biar Bianca nyaman di rumah ini" kata mamanya Miftah
"bukan ma, Miftah gak pacaran sama Bianca, karena dia Miftah jadi pindah di apart, Miftah risih ma" keluh nya lagi
"pacar kamu siapa? kenapa belum pernah di bawa kesini?" tanya papa
"rekan bisnis papa, papa sama Mama juga pasti tau orang nya" kata Miftah
"siapa mif?" tanya mamanya penasaran
"anak nya pak Gerald Danuarta" jawab Miftah yang sudah lemes
"bentar, kaya yang tau mama" kata mamanya Miftah
"yang menjadi Puteri favorit di SMA kita mah" jawab papanya yang di angguki oleh Miftah
"yang itu" kaget mamanya Miftah "maafin mama mif, mama gak tau" kata mamanya Miftah
"terus sekarang gimana?" tanya papa
"mama usir aja si Bianca, Miftah gak mau dia ada di rumah kita" kata Miftah
"tapi dia kan anak temen mama, mama gak enak nyuruh pindah nya" keluh mamanya
"mama pilih aja, kalo mama milih dia di sini berarti Miftah akan ke rumah ini lagi" ancam Miftah
"itu masalah gampang ma, tapi gimana mif sama pacar kamu?" tanya papanya pada Miftah
"dia menghindar pa, dia benci sama orang ketiga, tapi sekarang dia merasa jadi pelakor" keluh Miftah lemah
"papa juga tau, saat dia masih SMP suka di bawa oleh Gerald ke perusahaan, kata dia mau amanin papi dari ulet gatel" kata papanya mengingat azza dulu
"terus mama harus apa?" tanya mamanya melihat wajah lesu anak nya
"mama batalin aja pertunangan nanti, sama urus Bianca dan keluarganya nanti biar pacar Miftah, Miftah sendiri yang akan berjuang " kata Miftah
"papa yakin kamu bisa" semangat papanya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
malam harinya Adit sedang diner bersama pacar barunya
"beb, tadi sore kamu dari mana? kok panggilan dari aku gak kamu angkat? tanya vio pacarnya Adit
"tadi aku nemenin azza sahabat aku beb, kasian dia sedang dalam masalah" kata Adit menjelaskan
"azza lagi azza lagi" keluh vio dalam hati
"kemana aja? kok sampe sore?" tanya vio cemberut
"cuma ke makam mami nya, terus antar dia pulang" jawab Adit yang hanya di angguki vio
"jangan cemberut dong, dia hanya sahabat aku sayang, sama seperti cece, bedanya cece sudah punya suami jadi ada yang jaga, kalo azza kan ada masalah nya sama cowo nya jadi aku yang jaga dia" kata Adit menjelaskan
"sayang, gak ada persahabatan yang murni antara cowo dan cewe" kata vio
"kata siapa? aku buktinya, cece sudah nikah, azza pun sudah punya pacar cuman sekarang lagi ada masalah" jelas Adit
"mungkin saja kan kamu atau azza punya perasaan lebih, tapi malu buat ungkapin" kata vio mengutarakan isi hatinya
"gak ada cinta di antara kami, kamu tenang aja sayang" kata Adit menenangkan pacarnya
"ya udah, mau pulang atau mau kemana lagi?" tanya Adit
"aku mau ke mall sayang, ada make up aku yang sudah habis" kata vio tersenyum
"oke, ayo" ajak Adit membuat vio senang, apalagi Adit seorang cowo yang sangat royal
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sedangkan azza berdiam diri di balkon sambil memangku gitar nya, tanpa tau seseorang yang terus menatapnya dari arah taman samping rumah azza tengah memperhatikan setiap gerik azza
sebuah lagu sayang dari the virgin yang azza lantunkan membuat suasana menjadi mellow ,
hingga tepukan di bahu Miftah yang sedari tadi memperhatikan nya menghentikan aktivitas nya menatap sang kekasih
"mau di samperin?" tanya papi nya azza
"gak usah om, Michelle juga butuh sendiri" tolak Miftah
"masalah itu akan selesai kalau di bicarakan" nasihat papi gerald
"iya om, nanti saya akan bicara pada Michelle, tapi nanti kalau saya dan Michelle sudah pada tenang, kalau sekarang biarkan Michelle tenang dulu" jawab Miftah
"om saranin jangan lama lama saling diam, harus ada salah seorang dari kalian buat mengajak bicara, om percaya sama kamu" kata papi Gerald
"iya om, om istirahat aja, di sini dingin nanti sakit saya yang di salahkan sama Michelle" kata Miftah
"iya juga, om istirahat dulu, kamu kalo mau nginep masuk aja" kata papi Gerald
"saya pulang aja om nanti, setelah Michelle masuk ke kamarnya" kata Miftah melirik dimana azza berada
"ya sudah terserah kamu, om masuk dulu" kata papi Gerald yang di bales anggukan kepala oleh Miftah yang sedari tadi menatap putrinya
"dasar anak muda" gumam papi gerald