
Setelah sekian lama menunggu akhirnya dokter handika dan mamanya ke kamar Allysa.Tipes, itulah yang diucapkan dokter handika.Allysa emang suka sakit tapi kalau tipes ia baru pertama kali mengalaminya.
"Ternyata kalau tipes, badan serasa ga ada tenaga ya"gumam Allysa pada dirinya sendiri.
Kata dokter handika, Allysa tidak perlu rawat inap di rumah sakit, dirumahpun sudah cukup hanya tinggal istirahat makan dan minum obat Allysa akan sembuh.Hal itu membuat Allysa gembira, ia paling takut ke rumah sakit karena ujung-ujungnya di suntik.Mungkin sebagian orang merasa disuntik adalah hal biasa saja tapi bagi Allysa disuntik sama saja ia cari mati.Semuanya bukan tanpa sebab, Allysa mempunyai trauma dengan suntikan.
Saat ia berusia lima tahun, ia hampir meninggal sehabis disuntik karena itu ia histeris ketika mendengar kata-kata "suntik".Bulu kuduknya bakal berdiri sendiri, sama seperti sekarang ini, membayangkannya saja udah baut tubuh bergetar merinding.Pokoknya Allysa sama sekali tidak mau berurusan sama hal itu.
"Mama telepon sekolah dulu mau kasih tau kalau anak mama izin ga berangkat sekolah karena sakit, lysa istirahat aja"ucap mamanya menarik selimut milik Allysa ke seluruh tubuhnya agar terasa hangat dan mengelus rambutnya dengan sangat lembut.Allysa hanya mengangguk lemah mengikuti permintaan mamanya.Allysa tidak kuat untuk berbicara karena tubuhnya yang sangat lemah.Dengan mata terpejam, Allysa hendak menuju zona mimpi namun tiba-tiba ia terbangun karena hp nya bergetar di sebelah tubuhnya.
Dengan tangan gemetarnya Allysa mencoba mengambil hpnya.Untunglah saat itu Allysa masih sanggup mengambil hpnya dan di lihatlah ternyata Devina yang mengwhatsapp Allysa.
^^^Devina^^^
^^^"Tadi pak agus bilang kalau lo sakit, lo sakit apa sa?"^^^
^^^Allysa^^^
^^^"Tipes dev cuma gue ga rawat inap"^^^
^^^Devina^^^
^^^"Makanya jangan mikirin Angkasa mulu kan jadinya sakit"^^^
^^^Allysa^^^
^^^"Apaan si kok nyambungnya Angkasa, gue cuma kecapean dev😑 mungkin juga karena gue kehujanan kemaren"^^^
^^^Devina^^^
^^^"Iya iya, gue bercanda kok, lagian kalau sakit butuh hiburan kalii, gue tadi kan ngehibur lo, btw kok kehujanan?lo ga dijemput mang danang?"^^^
^^^Allysa^^^
^^^"Bukan ngehibur itu mah,hue cuma lagi pingin hujan-hujanan, udah dulu dev gue mau istirahat, badan gue lemes ngetik aja ga kuat gue"^^^
^^^Devina^^^
^^^"Yaudah gws Allysa cantik entar gue jengukin lo kok, jangan sedihh gue temen yang baik kok buat lo,xixixixi"^^^
^^^Allysa^^^
^^^"Apanihhh kepedean banget temen gue, dah ah, bye dev"^^^
^^^Devina^^^
^^^"🖐"^^^
Mamanya datang dengan membawa semangkuk bubur hangat dan segelas air putih untuk Allysa.Kali ini mamanya hanya membawakan bubur polos tanpa toping pelengkapnya.Allysa dibantu mamanya memposisikan dirinya untuk duduk dan bersandar di tembok agar makanan yang Allysa makan masuk ke perut.
Segeralah Allysa mengambil mangkuk yang ada ditangan mamanya namun mamanya justru menarik mangkuk itu dan menyuapi Allysa.Sebenarnya Allysa tidak mau merepoti mamanya tapi mau gimana lagi, kalau boleh jujur Allysa ga kuat untuk megang mangkuk itu apalagi makan sendiri.Allysa bukan manja okee tapi karena keadaan makanya ia seperti itu.
Karena tak tega dengan mamanya, Allysa menghabiskan bubur yang sudah susah payah dibuat oleh mamanya dan setelah itu ia meminum obat yang disuruh dokter keluarga mereka.Barulah setelah itu Allysa dapat beristirahat dengan tenang.
...********...
Devina yang tidak sengaja bertemu Angkasa di perpustakan segera menghampiri lelaki itu.Dilihatnya Angkasa dengan wajah datarnya tapi terlihat jelas matanya yang sendu seperti seseorang yang menahan dirinya untuk menangis.Ia menyosor di lantai di antara rak-rak yang berisi kumpulan buku.Tangan kanannya memegangi kepalanya sedangkan tangan kirinya ia senderkan ke kakinya.Pada saat itu suasana perpustakaan sedang sepi.Pelan-pelan dengan langkah kehati-hatian Devina mendekati Angkasa.Ia duduk disamping Angkasa tapi lelaki itu justru tidak mengetahui keberadaan Devina.Keadaan Angkasa yang tidak diketahui Devina, namun ia hanya menduga bahwa Angkasa sedang memikirkan Allysa.
Sekali dua kali Angkasa tidak menggubris panggilan Devina.Ga tau lagi Devina harus ngapain akhirnya ia memutuskan untuk menepuk pundak Angkasa dengan keras dan membuat Angkasa tersukur karena kaget.
"Emang dasar orang yang lagi jatuh cinta, yang satunya hujan-hujanan terus jadinya sakit, yang satunya ngelamun kayak pengangguran yang hanya duduk di jembatan kereta bawah tanah, remaja zaman sekarang bucinnya tinggi banget"ucap Devina sambil menggelengkan kepalanya.
"Lo kenapa kesini?"tanya Angkasa dengan kedua alisnya yang terangkat menandakan ia sedang keheranan.
"Allysa sakit, gue rencananya mau jengukin dia nanti pulang sekolah, lo mau ikut ga?"tanya Devina menatap Angkasa berharap jawaban yang terlontar dari mulutnya mampu memuaskan devina.
"Buat apa gue jengukin dia"jawab Angkasa tanpa rasa bersalah dan dengan pedenya.
"Lo tu kalau suka sama orang perjuangin dia terus dong, masa gitu aja udah nyerah?lo gentle kan?"jawab Devina dengan nada emosi tapi suaranya masih tetap ia kecilkan.
"Gue ga butuh saran dari lo"Angkasa langsung beranjak pergi meninggalkan devina yang masih diam kaku mendengar ucapan Angkasa.
"Kenapa Allysa suka sama orang kayak dia si, cuek gitu terus kasar lagi, dahlah ngapain gue pusing-pusing mikirin dia, ntar paling Angkasa nyesel sendiri"
...***********...
Sekolah sudah selesai, saatnya Devina mengunjungi teman sebangkunya itu.Berjalan menyusuri ruang-ruang sekolah tak sengaja devina berpapasan dengan Bryan.Tanyalah Bryan kepada Devina karena sedari tadi ia tak melihat Allysa padahal biasanya ia berpapasan di ruang osis dan sering juga ketemu pas Allysa sedang bersama devina.Tanpa basa basi devina to the point mengatakan bahwa Allysa sedang sakit dan ia akan kerumahnya untuk menjenguknya.
Mendengar perkataan devina, Bryan meminta izin untuk ikut ke rumah Allysa.Devina setuju-setuju saja kalau Bryan mau ikut dengannya.Namun dengan syarat mampir ke toko buah dulu untuk nantinya diberikan ke Allysa.Bertamu harus bawa buah tangan kan?Bryan yang orangnya gampangan menyetujui saja persyaratan Devina.Berangkatlah mereka ke rumah Allysa menggunakan mobil milik Bryan.
Tak butuh lama untuk mereka sampai dirumah Allysa.Allysa yang baru saja bangun dari tidurnya dan badannya sudah jauh lebih enakan dari sebelumnya.Sedikit terkejut Allysa dengan kehadiran Bryan.Allysa tau kalau devina akan kerumahnya setelah pulang sekolah tapi ia sendiri tidak tau kalau Bryan datang juga bersama Devina.Bryan yang melihat raut wajah terkejut Allysa langsung menyadarinya.
"Gue tau kok kalau gue ganteng, ga usah ngelihat gue gitu banget kali"ucap Bryan menyombongkan wajah tampannya itu.
Devina dan Allysa yang mendengar perkataan Bryan langsung tertawa.
"Kepedean lo"ucap Devina menepuk pundak Bryan dengan tawanya yang belum bisa ia hentikan.
"Gue cuma kaget doang, lagian lo ngapain kesini, lo juga tau dari siapa?"tanya Allysa yang sudah tidak menertawakan ucapan Bryan.
"Ohhh, kirain lo terpesona sama ketampanan gue"jawab Bryan yang sebenarnya ia tau dan hanya ingin membuat suasan menjadi lebih nyaman saja.
"Tadi ga sengaja ketemu dia, terus dia tanya lo yaudah gue bilang aja kalau lo sakit"jawab Devina sambil menaruh bingkisan buah ke meja dekat ranjang Allysa.
Allysa mengangguk mendengar kata-kata Devina.Lantas Devina menceritakan tadi waktu ia di perpustakaan bertemu Angkasa.Hati Allysa terkikis lagi, tapi apa boleh buat.Allysalah yang menginginkan Angkasa menjauhi dirinya.
"Lo sama Angkasa kenapa sa?"tanya Bryan yang kebingungan dengan sikap kedua temannya itu.
"Gue suruh dia buat ngejauhin gue"jawab Allysa polos dan ia sadar diri harus menerima konsekuensinya.
"Ga gitu juga sa cara lo, itu sama aja lo nyakitin dia sa"ucap Bryan sedikit emosi dengan Allysa.
"Gue belum siap buat buka hati gue ke orang lain bryan"jawab Allysa singkat tapi mempunyai makna yang menyakitkan.
"Udah ahh gue pusing sama kalian berdua, gue cabut dulu"ucap Bryan keluar dari kmar Allysa karena keburu emosinya meledak.
Devina segera pamit ke Allysa dan menyusul Bryan yang sudah keluar dari gerbang rumah Allysa.
Di sisi lain,di kamar Angkasa sedang berdebat dengan dirinya sendiri.Ia sebenarnya sangat ingin menjenguk Allysa tapi ia tak sanggup melakukannya.Allysa sudah mengatakan bahwa dirinya tak ingin Angkasa masuk kedalam hidupnya.Angkasa bisa apa, ia bukan laki-laki yang memaksakan perempuan untuk menerima keberadaannya.
"Sesakit inikah rasanya mencintai seseorang lagi?"gumam Angkasa.