
"Cowok tu harusnya bersikap baik sama perempuan bukannya malah seenaknya sendiri menggeret tanpa persetujuan"
...**************************...
Allysa sudah menghabiskan makanan yang diberikan oleh Angkasa kepadanya dan ia segera menuju kelas karena jam sudah menunjukan pukul 07.15, Allysa ga heran si kalau Devina udah ada di kelas.
"Pagi dev"sambil meletakkan tasnya dibawah bangku.
"Pagi juga, tumben berangkatnya jam segini"tanya Devina.
"Udah dari tadi cuma ke ruang osis dulu nyari berkas"
"Oooo, ketemu Angkasa ga, biasanya dia berangkat pagi"
"Hmmm, ketemu tadi di ruang osis"jawab Allysa.
"Jodoh mungkin tu sa, ketemu mulu perasaan"goda devina.
"Apaan si dev, pagi-pagi udah buat aku emosi aja, lagian kita juga satu sekolah satu organisasi, bakalan ketemu terus lah"
"Ya siapa tau ya kan"
"Terserah dehh, devina nyebelin"jawab Allysa sambil manyun.
Devina yang melihatnya hanya tertawa terbahak-bahak karena Allysa sekarang sedang manyun.
...******************...
Sudah saatnya murid SMAN 8 beristirahat begitu juga Devina dan Allysa yang sekarang ini sudah berada di taman tempat yang sejak kapan menjadi tempat favorit mereka.Suasananya menurut Allysa benar-benar mendukung keadaannya, semesta sedang baik kepada Allysa saat itu.
Pikiran dan tubuhnya menjadi jauh lebih baik disaat awan hitam datang dengan angin sepoy sepoy membelai rambut mereka dengan sangat lembut.Yaaa Allysa sangat menyukai keadaan seperti ini yang artinya hujan akan datang dan Allysa bisa dengan tenang menikmati air mata langit jatuh ke bumi.
Tapi sebaliknya, menurut Devina, hujan hanya membawa kenangan kembali, kalau kenangan menyenangkan sii tak masalah buatnya namun kalau memori yang terputar itu adalah kenangan menyakitkan, ia hanya akan menangis dan merasakan sakitnya lagi.Begitulah perbedaan diantara mereka tapi tidak membuat mereka saling menjauh cuma karena perbedaan hal yang disukai atau yang tidak disukai.Allysa terlihat sedang menikmati suasana saat ini begitu juga devina yang mengikuti kelakuanĀ Allysa yang saat ini sedang menutup matanya sambil merileksan dirinya.
"Lysa, ke ruang osis sekarang juga"terdengar samar samar tapi Allysa jelas tau bahwa itu adalah suara cowok yang tadi pagi ia temui.
"Dev tolongin dong"teriak Allysa.
Devina hanya menggeleng karena ia sendiri sebenarnya takut dengan Angkasa.
"Maaf sa kali ini gue ga bisa bantu"dengan suara kecil Devina menjawab permintaan tolong Allysa
Allysa hanya bisa pasrah digeret paksa oleh Angkasa.
...**************************...
"Bisa ga si jangan geret anak orang, sakit tau sa"sambil meringis memegangi tangan yang tadi dipegang oleh Angkasa.
"Lo tadi udah gue kasih tau malah lo diem aja, bukan salah gue dong kalau gue geret lo"jawab Angkasa
"Ya maaf, lagian lo dateng diwaktu yang ga tepat si, gue sama devina lagi menikmati malah lo dateng"
"Ini penting urusan osis, lo udah jadi anak osis masih inget kan?"tanya Angkasa.
"Ya tau, iya iya sa ngajak debat mulu, sekali kali ngalah kali, lo kan cowok masa gue terus yang ngalah, capek tau"jawab Allysa yang masih memegangi pergelangan tangannya yang masih terasa nyeri.
Angkasa yang melihat itu langsung memegang tangan Allysa dan mengelusnya.Angkasa sendiri tidak tau kenapa ia bisa melakukan hal itu.Yang ada dipikirannya sekarang, ia sedang merasa bersalah karena menggeret paksa Allysa hingga membuatnya kesakitan.
Allysa yang diperlakukan seperti itu langsung menutupi pipinya dengan rambutnya karena saat ini ia merasa bahwa pipinya panas yang artinya pipinya sekarang ini sedang merona.
"Semoga Angkasa ga liat, kalau liat berabe nii bisa bisa diledek abis-abisan"batin Angkasa.
Angkasa yang masih sibuk mengelus tangan Allysa dikagetkan dengan kehadiran Melliana, tak hanya Angkasa saja yang kaget tapi juga Allysa.Gimana ga kaget, Melliana dateng disaat yang ga pas.
"Kalian lagi ngapain?"tanya Melliana.
"Ehhh engga ngapa-ngapain mel, ini mau masuk kok, duluan mel"jawab Allysa sambil menunduk memasuki ruang osis.
Seperti biasa Angkasa tak menggubrisnya dan langsung masuk ke dalam ruang osis.Melliana menyadari kalau perlakuan Angkasa selama ini ke Allyaa berbeda, itu membuatnya merasa gelisah sendiri.Tanpa Angkasa tau, didalam lubuk hatinya yang terdalam, perempuan itu jatuh hati kepada Angkasa, sudah sejak lama ia memendam perasaannya itu,namun Angkasa selalu cuek kepadanya bahkan saat osis pun ia seperti tidak berharap ada Melliana disana padahal sudah berbagai cara ia lakukan untuk mendekati Angkasa.Ia sudah berjuang keras untuk menjadi wakil osis agar bisa berdekatan dengan Angkasa,memang sekarang mereka dekat tapi tetap saja ia merasa usahanya sia-sia, Angkasa tetap saja tidak mau melihatnya.Tatapan matanya dan perlakuannya berbeda saat Angkasa bersamanya dan saat Angkasa bersama Allysa, itulah yang saat ini Melliana rasakan, hatinya sedikit terkikis, namun ia percaya itu semua hanya pikiran-pikiran negatif saja yang sedang mempengaruhi dirinya.