
"Mana ada hati yang tersakiti adalah hal sepele, cuma laki-laki yang tidak berperasaan saja yang tidak mengerti rasa sakitnya"
...*****************...
"Mel, makasih"ucap Allysa.
"Oke, lo istirahat dulu aja, biar sisanya dibantu sama yang lain aja"
"Iya mel, maaf jadi ngerepotin semuanya"sambil tertunduk karena merasa tak enak.
"Gakpa kali, udah sewajarnya saling tolong kan dalam organisasi".
Allysa pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Melliana.Di sisi lain Angkasa ingin segera membawa Melliana pergi dari ruangan itu agar ia bisa berbicara empat mata dengan wakilnya itu.Bingung harus dengan alasan apa untuk mengajak Melliana berbicara dengannya.Angkasa pun kepikiran untuk mengajaknya untuk pergi dari ruang uks dengan memberinya pesan lewat whattsap.
"Ping"hp Melliana bunyi dan segeralah ia membuka hpnya itu.
"Gue tunggu lo di belakang taman sekarang juga!"notif dari Angkasa.
Melliana yang mendapat notif itu langsung paham untuk pergi dari uks dan disusul Angkasa di belakangnya.Sebelum Angkasa pergi, Angkasa berpamitan kepada Allysa dan menyuruhnya untuk istirahat di dalam uks karena kalau Allysa terlalu banyak gerak, kakinya akan tambah sakit.Allysa mengangguk memdengar ucapan Angkasa walaupun sebenarnya Allysa curiga dengan Angkasa dan Melliana karena setelah Angkasa memainkan hpnya Melliana langsung bunyi.Tidak hanya itu tapi juga saat Melliana pergi Angkasa juga ikut pergi meninggalkannya.
Daripada Allysa tidak bisa tidur semaleman memikirkan hal itu, ia dengan penuh kehati-hatian mengikuti Angkasa.Walaupun Allysa jalannya susah karena kakinya kesleo, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk mengikuti Angkasa.Namanya juga manusia pasti selalu kepo dengan urusan orang lain.
Belakang taman, itulah tempat tujuan Angkasa.Allysa melihat dari balik pohon dekat tempat itu.Benar dugaannya, Angkasa lah yang mengajak Melliana pergi kebelakang taman hanya empat mata.Bayangkan deh, sosok Angkasa mana pernah bersikap seperti itu, apalagi kepada perempuan, setahu Allysa sifatnya tidak seperti itu.Hal itulah juga yang membuat Allysa semakin penasaran.Allysa menguping pembicaraan mereka, hanya terdengar samar-samar yang membuat Allysa harus bergerak mendekati mereka dengan posisi yang masih sama, umpetan dibalik pohon.
"berasa lagi main petak umpet aja"gumam Allysa.
Didengarnya percakapan mereka, kali ini terdengar jauh lebih jelas dari pada sebelumnya.
"Kenapa sikap lo ke Allysa beda?"tanya Angkasa to the point.
"Gue gapaham maksud lo sa"
"Bukannya pertanyaan gue udah jelas!".
"Coba lo jelasin dulu, gue ga paham maksud lo sa"
"Oke kalau lo ga paham maksud gue, gue hanya mau jelasin, lo jangan sok baik sama Allysa, jangan pernah sampai lo nyakitin dia, paham".Angkasa langsung pergi meninggalkan Melliana disana.
"Gue suka lo sa, jadi cowok peka dikit, gue harus ngapain supaya buat lo suka juga sama gue sa"teriak Melliana yang membuat Angkasa seketika diam.
Berputarlah badan Angkasa agar bisa berhadapan dengan Melliana.Angkasa seketika mendekat ke arah Melliana.
"Jangan suka gue lagi, gue ga pantes buat lo".jawaban Angkasa yang membuat Melliana seketika terlihat ingin menangis.
"Kenapa gue ga boleh suka sama lo, lo suka Allysa kan sa".
Angkasa yang mendengarnya hanya diam membisu.
"Gue emang suka dia, jadi tolong jangan suka gue lagi, hati gue udah diisi seseorang yang ga akan pernah bisa tergantikan sama yang lain, termasuk lo"
"Gue minta maaf karena nyakitin hati lo, tapi gue harap lo bisa melupakan gue, gue ga mau urusan osis berantakan cuma karena masalah sepele ini".tambah Angkasa
Segeralah Angkasa meninggalkan Melliana yang masih menangis ditempat.Angkasa sendiri juga ga tau kenapa ia melakukan itu, apakah perasaanya terhadap Allysa adalah benar perasaan terhadap wanita bukan teman?
"Lo bilang hal sepele sa, mana ada hati yang tersakiti adalah masalah sepele"ucap Melliana dengan suara kecil yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Di balik pohon itu Allysa tidak percaya dengan percakapan mereka.Kaki Allysa semakin menjadi lemas, tubuhnya seakan akan tidak mau digerakkan.Ia masih mencerna lagi ucapan yang terlontar dari mulut laki-laki itu.Kaget bingung tak percaya, perasaan itu mengganggu kepalanya hingga ia merasakan kepalanya sekarang ini menjadi sakit.Berjalanlah Allysa meninggalkan tempat itu dengan keadaannya yang semakin kacau balau, rasanya ia sekarang ingin pingsan karena tidak kuat dengan keadaannya sendiri, namun ia harus berjalan terus dan menguatkan dirinya agar tidak pingsan.
"Bug"tanpa Allysa sadari ia jatuh ketanah.Bryan yang melihatnya langsung menggopong badan Allysa ke ruang uks.
Terkejutnya Angkasa melihat Allysa yang sedang di gopong oleh Bryan ke ruang uks.Angkasa menyusul mereka ke ruang uks, ia kira Allysa sedang berada di uks, menuruti perintahnya untuk beristirahat disana, namun yang terjadi malah sebaliknya.
"Allysa kenapa Bryan"dengan wajah yang penuh kepanikan.
"Gue juga gatau sa, dia tiba-tiba pingsan saat gue mau menghampiri dia di depan perpus.
Bryan yang melihat raut wajah Angkasa merasa tidak enak dan menyuruh Angkasa untuk tenang.Nihillah perkataan Bryan, Angkasa semakin menjadi-jadi, semakin jelas terlihat bahwa Angkasa sedang ketakutan.Ketakutan kehilangan sosok perempuan didepannya.
Dicarilah minyak kayu putih diseluruh penjuru ruangan uks dan beruntungnya Bryan menemukannya dengan cepat.Segeralah Angkasa mengoleskan minyak itu ditangannya agar bisa dihirup oleh Allysa.Tak butuh lama Allysa segera sadar dan bingung kenapa dirinya sekarang ini ada di ruang uks.
"Lo gapapa sa?"tanya Bryan kepada Allysa.
Allysa hanya mengangguk saja.
"Kenapa bisa lo pingsan, gue suruh lo istirahat kenapa lo keluyuran lysa?"tanya Angksa dengan raut yang masih sama namun agak lebih sedikit tenang.
Allysa pun bingung menjawab pertanyaan Angkasa, seingatnya ia sedang berada di belakang taman mendengar semua percakapan Angkasa dengan Melliana.Ia tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu.
"Gue habis dari toilet sa"jawab Allysa berbohong karena ga mungkin juga ia jawab habis ngikutin Angkasa dan mendengar semua yang ia ucapkan pada Melliana.
"Lo mendingan pulang aja, biar urusan osis gue sama temen-temen aja"ucap Bryan yang sedang duduk di ranjang sebelah tempat Allysa.
"Tapi gue harus bantu yang lain Bryan, gue juga ga enak sama yang lain, lagian ini tugas pertama gue jadi anggota osis, gue gapapa kok".
"Lo pulang aja, gue anter, lo mau malah ngerepotin yang lain?"tanya Angkasa.
"Bener sa, dengan lo pulang malah besok lo bisa ikut bantu acaranya"lanjut Bryan.
"Gue mau dianterin lo aja boleh ga Bryan"tanya Allysa.
Angkasa yang mendengar ucapan Allysa hanya mengangguk ke arah Bryan walaupun sebenarnya ia bingung dengan sikap Allysa yang tidak seperti biasanya.
Akhirnya Bryan menyetujui permintaan Angkasa untuk mengantar Allysa pulang kerumahnya.Ia sendiri sebenaranya merasakan hal yang sama dengan Angkasa, namun yang ia tau tentang Allysa, Allysa pasti punya alasan tertentu mengapa menginginkan hal itu.