
"Terimakasih telah hadir membawa kebahagian yang tidak pernah bisa digantikan oleh apapun"
...*******************...
Bryan yang hendak pulang langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara perempuan menangis.Disusuri lorong lorong sekolahnya untuk menemukam asal tangisan itu.Dengan hati-hati dan perasaan was-was, dari belakang terlihat perempuan dengan rambut panjang yang bagian atas rambutnya dikepang dengan jepitan mutiara-mutiara putih.Didekati perlahan lahan oleh Bryan dan ketika Bryan hendak menepuk pundak perempuan itu.Perempuan itu menengok ke arah Bryan.Bryan yang daritadi dipenuhi rasa takut menjadi kaget.Perempuan yang sedang menangis itu sosok yang ia kenal sangat kuat dan tak pernah menunjukan kesedihannya.Yappp wakilnya Angkasa, Melliana.Matanya terlihat lembab dengan wajah yang basah hampir menutupi seluruh wajah cantiknya.
"Lo kenapa Mel?, cerita aja, gue siap dengerin kok"tanya Bryan sambil menyuruh Melliana duduk kembali.
Pelan-pelan Melliana menceritakan kejadian yang membuatnya menangis seperti sekarang ini.Bryan memang tidak suka dengan sikap Melliana tapi dikeadaan seperti ini, ia justru merasa tidak tega melihat perempuan itu menangis.Dengan kebaikan hati yang dimiliki Bryan, ia menawarkan diri untuk mengantar Melliana pulang.Melliana hanya menganggukan kepala saja kepada Bryan yang menandakan bahwa Melliana menyetujui tawaran Bryan untuk mengantarnya pulang.
Tepat diparkiran montor, Bryan melihat Angkasa yang sedang berada diatas montornya.Terlihat ia sedang melamun dengan montornya yang sudah menyala menunggu pemiliknya menancapkan gas dan siap melaju kemanapun sang pemilik membawanya pergi.
Larilah Bryan dengan sekuat tenaga mendekati Angkasa.Memang tindakan Angkasa menolak langsung Melliana di belakang taman benar tapi Angkasa salah kalau memperlakukan perempuan sebegitu kasarnya.Ditolongin bukannya berterimakasih malah melakukan hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang laki-laki.Karena itulah Bryan marah pada Angkasa dan memukul Angkasa yang membuat laki-laki itu jatuh terhempas ke tanah.Suara tubuh Angkasa yang jatuh ke tanah membuat ngilu bagi yang mendengarnya.
Angkasa dengan lengan kanannya yang lecet terbentuk aspal tidak terima dengan perlakuan Bryan.Ia segera memukul dengan gepalan tangannya ke wajah tampan milik Bryan.Perdebatan tiada henti yang membuat Melliana memutuskan untuk melerai mereka.Wajah keduanya benar-benar penuh dengan luka.Apalagi Angkasa, bibirnya bersimbah darah namun tatapannya sungguh sinis menatap Bryan.
"Masalah lo apa, tiba-tiba lo main pukul gue"tanya Angkasa membuang muka dari Bryan.
"Cara lo salah sa, kalau lo gasuka emang bener lo harus jujur supaya tidak lagi membuat orang lain berharap tapi kalau lo ditolongin orang lo malah sok sok ga terima pertolongan orang itu, lo salah sa, bukan seperti itu caranya buat bikin dia ngelupain lo"jawab Bryan mengambil tasnya yang jatuh di tanah.Tanpa menunggu jawaban dari Angkasa, Bryan menarik tangan Melliana untuk segera menjauh dari Angkasa dan mengantarkannya pulang.
...*************************...
"Dek, kakak kangen sama adek, kakak pengin cerita kayak dulu lagi sama kamu, kakak kesepian, kakak ga mungkin cerita ke ibu, ibu pasti sedih, kakak harus gimana dek, andai waktu itu kakak ga telat, andai waktu itu kakak ga nyuruh kamu, andai waktu itu kakak ga nyalahin kamu, hikss hikss, maafin kakak dek, maaf, hiks , hiks"Berada di makam Kalina, gadis kecil manisnya, adek yang selalu membuat kakaknya selalu tersenyum Angkasa menuangkan segala masalah yang menimpa dirinya saat ini.Semua memori itu terulang kembali.Momen-momen indah bersama adek tersayangnya.Momen dimana ia tak punya tempat bercerita selain ibunya.Momen dimana sang adek pergi meninggalkan laki-laki itu.Laki-laki itu mengingat jelas kepergian adeknya.
Flashback
Saat itu Angkasa sedang marah-marahnya karena ia dibuli oleh teman se tk nya.Angkasa berlari dengan tangan yang masih menggepal ke taman dekat tknya.Disana ia menangis sejadi-jadinya, melepas semua amarahnya ke sekitarnya.Kalina yang masih berusia 5 tahun itu menjemput sang kakak dan menemani sang kakak dengan bercanda tawa agar sang kakak bisa meredamkan amarahnya.Angkasa mengingat jelas tawa sang adek dengan lesung pipi kirinya dan mata bulat membuatnya terlihat manis.Namun yang terjadi, amarah membuat sang kakak menjadi lupa diri.Angkasa begitu tega menyalahkan adeknya dan menyuruhnya pergi menjauhi sang kakak.Ia mendorongnya tanpa perasaan.Kalina yang hanya seorang gadis yang ingin membuat tersenyum kakaknya lantaran pergi dengan hati yang sedih dan tangis air mata membasuhi pipinya.
"Duar"suara seperti sesuatu tertabrak terdengar dikedua gendang telinga milik Angkasa.Ia melihat dengan kedua bola mata sang adek yang terlempar akibat tertabrak mobil.Ia tidak melihat kejadian mengapa adeknya bisa tertabrak mobil.Ia hanya melihat saat kalina terbentur dari mobil.Lutut angkasa lemas pada saat itu.Dengan langkah kaki itu, Angkasa berjalan menuju sang adek.Disaat saat itu adeknya tersenyum melihat sang kakak yang akan menghampirinya.Tangis air mata pecah melihat sang adek tersenyum dengan darah yang mengalir dari bibirnya.Sungguh saat itu Angkasa berharap ia yang ada diposisi itu.
Penyesalan, itulah yang dirasakan Angkasa.Ia telah jahat menjadi seorang kakak.Seharusnya ia menerima sang adek yang ingin membuatnya tersenyum.Gadis kecil kesayangannya menghembuskan napas tepat dipelukan sang kakak.
"Kalina cayang kakak, kakak jangan cedih lagi, ental Kalina juga cedih, Kakak halus bahagia kalena Kalina juga akan seneng liat kakak bahagia, kakak jangan nyalahin dili kakak ya, titip lasa cayang Kalina ke ibu sama ayah"kata kata terakhir yang terucap dari bibir kecil gadis itu sebelum gadis itu diambil oleh sang pencipta.Sejak saat itulah ia baru menyadari betapa berharganya keberadaan sang adek.
Move
"Kalinaaa, makasih udah jadi adek kakak yang paling baik sedunia, kakak sayang banget sama kamu, kakak ga akan nangis lagi kok, kakak pulang dulu takut ibu cariin kakak, Kalina harus bahagia disana ya.., kakak akan sering main kesini jadi kalina jangan sedih, kakak juga akan berusaha bahagia. assalamualaikum kalina"dengan berat hati Angkasa pergi meninggalkan adeknya.Ia masih ingin berlama dengan adeknya tapi apalah dayanya, ia tidak boleh lemah, ia harus kuat, ia tidak boleh membuat adeknya yang sudah tenang menjadi sedih kembali karena kehadirannya.Dengan beberapa tangkai bunga krisan putih, Angkasa mengakhiri pertemuannya dengan Kalina untuk hari ini.