
"Karena seharusnya, jikalau ingin mengubah sebuah hubungan pertemanan menjadi lebih dari itu salah satu dari mereka harus maju lebih jauh".
...******************...
"Allysa udah gue anterin kerumahnya"ucap Bryan pada Angkasa.
"Thanks".jawaban yang sangat singkat dari mulut Angkasa.
Bryan sekarang mulai paham.Ia tahu betul kalau Angkasa mulai menyukai Allysa.Mereka memang tidak dekat tapi Bryan selalu bersama Angkasa dari kelas smp.Mereka selalu di kelas yang sama dan juga mereka satu organisasi, jadi Bryan akan selalu tau sikap Angkasa.Sikap yang berbeda yang Angkasa tunjukan ke Allysa.Sikap yang belum pernah Bryan lihat selama ini.
Yang terlihat oleh Bryan, mata Angkasa selalu melihat Allysa disaat banyak perempuan disekolah mereka yang melihatnya, ia sama sekali tidak pernah melirik.Apalagi dengan kejadian tadi, ia tak pernah melihat sebegitu khawatirnya sosok Angkasa hingga hilang akal hanya karena Allysa.Bryan berharap Angkasa benar-benar serius kali ini.Akan selalu berusaha mengejar sosok pengisi hatinya.
Seluruh anggota osis berkumpul ditengah lapangan yang mana sang ketua osis akan selalu mengucapkan sepatah kata dan saling mensupport agar semangat untuk menjalani acara esok hari.Setelah ia membimbing para anggotanya, Angkasa pergi menuju keruang osis.
Angkasa sungguh merasakan lelah sekali hari ini.Ia ingin sekali pulang kerumah untuk merebahkan tubuhnya, namun tugas dia belum selesai.Ditambah lagi saat ini pikirannya kacau memikirkan perempuan yang ia bela di depan Melliana.Ingin sekali ia rasanya menelepon perempuan itu tapi tidak bisa ia lakukan.Angkasa ingin memberi ruang istirahat untuk perempuan itu dan juga selama ini ia tidak pernah meminta nomer teleponnya, begitu juga dengan Allysa.
"Ahhhh, Angkasa stop bikin kepala sakit sendiri"ucap Angkasa pada dirinya sendiri.
Di lain sisi, ada sosok yang sedang melihatnya dari balik jendela.Sosok itu tersenyum sinis melihat laki-laki itu meracau sendiri.Sosok itu adalah sosok yang mencintainya namun perjuangan yang selama ini ia lakukan untuk laki-laki itu sama sekali tak pernah dipandang.Melihat kondisi Angkasa yang seperti itu semakin membuat Melliana tak mau menyerah begitu saja.Ia akan berupaya lebih keras lagi agar Angkasa mau meliriknya dan akan membuatnya jatuh berlutut dihadapannya.
"Mel, lo lagi ngapain?"tanya Bryan yang membuat Melliana kaget dan hampir saja jantungnya berhenti.
"Lo tu Bryan ngagetin aja".
"Lo dulu si, kenapa ngumpet coba, kalau mau masuk tinggal masuk aja kali"
"Siapa yang mau masuk coba, bye gue mau pulang"sambil melambaikan tangannya ke arah Bryan.
Tanpa membalasnya Bryan memasuki ruang osis yang mana ia melihat Angkasa sedang mengumpulkan berkas-berkas dimeja miliknya.Terlihat raut wajah Angkasa yang frustasi entah karena apa.Bryan hanya menebaknya saja, siapa lagi yang bisa membuatnya seperti itu kalau bukan perempuam yang tadi ia antar kerumahnya.
"Gue tadi lihat Melliana dibalik jendela"ucap Bryan yang membuat Angkasa seketika menghentikan aktivitasnya.
"Pantes aja gue liat Melliana tadi dibalik jendela, kalau saran gue si mending lo hati-hati sama wakil lo itu, lo tau kan dia keras kepala, tidak mau ngalah, dan seenaknya sendiri.Terus yang paling penting menurut gue, lo juga harus kejar terus Allysa jangan sampai lo kehilangan dia, Allysa orang yang baik, jangan sampai lo nyakitin dia dan lo juga pantes kok buat membahagiakan dia"sambil menepuk nepuk bahu Angkasa meyakinkan dia untuk mendengarkan kata-katanya.
"Thanks bry, akan gue usahain, eh btw lo punya nomernya Allysa? gue mau telpon dia"tanyanya.
"Lo beneran ga punya nomernya?, Angkasa lo tu cowok lo yang harus maju dong, masak ceweknya yang harus minta dulu sama lo, untung gue anggep lo temen sa, ni nomernya"jawab Bryan sambil memberikan hpnya untuk memberikan nomernya Allysa ke Angkasa.
Bryan sendiri sebenarnya baru minta nomernya Allysa tadi waktu ia mengantarnya pulang cuma kan masalahnya beda.Kalau Angkasa mencintai Allysa sedangkan Bryan hanya ingin berteman dengannya.Karena seharusnya, jikalau ingin mengubah sebuah hubungan pertemanan menjadi lebih dari itu salah satu dari mereka harus maju lebih jauh.
"Thanks again, gue minta tolong lagi, bantu gue beresin ini semua, oke, gue mau kerumah Allysa"tanpa mendengar balasan dari Bryan, Angkasa langsung pergi dari ruang osis untuk kerumahnya Allysa.Bryan yang melihatnya bersemangat gitu hanya terkekeh dan berharap Allysa adalah sosok yang nantinya secara perlahan akan mengubah Angkasa seperti Angkasa yang dulu ia kenal.
...*********************...
Dihentikanlah montor Angkasa didepan rumah Allysa.Dengan perasaan sedikit takut dan ragu, Angkasa memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu rumah Allysa.Ketukan pertama pintu tidak terbuka, ketukan kedua ketigapun sama saja dan membuat Angkasa beranjak pergi.Ia akan menemuinya esok hari saja, mungkin Allysa sedang beristirahat sehabis pingsan tadi disekolah.Angkasa melangkahkan kaikinya untuk menaiki montor kesayangannya itu.
"Maaf kenapa ya?"
Sontak Angkasa membalikkan badannya.Dilihatnya sosok perempuan yang tidak terlalu tua memakai gamis merah bercorak bunga yang dipadukan dengan batik khas yogyakarta.Perempuan itu terlihat mirip dengan Allysa dan membuat Angkasa menduga bahwa perempuan itu adalah ibunya Allysa.
"Maaf tante, saya temennya anak tante, Allysanya ada tante?"tanya Angkasa sembari menyalimi perempuan itu.
"Ohhh, saya mamanya Allysa, Allysa lagi tidur, kamu mau masuk dulu?nanti tante panggilin Allysa".jawab mamanya sembari membukakan pintu lebih lebar.
"Kalau gitu ga usah tante, saya titip salam aja"
"Ohh, yaudah hati-hati ya nak, nanti saya salamin ke Allysa"
"Makasih tante, saya pamit dulu, assalamualaikum"sembari menyalami mamanya Allysa.
Ditancapkan montor Angkasa meninggalkan rumah itu.Ia berharap besok Allysa bisa kesekolah dan Angkasa bisa menemuinya agar hati dan pikirannya tenang melihatnya.