
"Hanya sedang membutuhkan waktu sendiri untuk berpikir dan menenangkan hati"
...*********************...
"Allysaaaa"panggil Devina dari arah jauh sambil melambai-lambaikan tangannya.
Allysa yang melihat teman satu-satunya itu segera menghampirinya.
"Lo darimana aja si dev?gue cariin lo tau ga"tanya Allysa pada Devina.
"Ya maaf kali sa, gue kira lo ngurus bagian lo di osis"jawab devina.
"Ihihihihi, maaf yak dev, jangan cemberut gitu deh, cantiknya ilang nanti lho"sambil menaik naikan alisnya menggoda temannya agar tidak merajuk lagi.
"Iya iya Allysa Jaya Mangunkusumo, temen baiknya Devina yang paling cantik sedunia"jawab Devina yang membuat mereka berdua tertawa.
"Nyari gue ngapain sa?kangen yaaa"
"Oooo, jadi minta dikangenin ni"tanya allysa.
"Ihh dasar temen ga berperasaan"jawab devina segera meninggalkan Allysa dan disusul juga sama Allysa takut temannya semakin marah.
"Bercanda dev, jangan ngambek dong"
"Engga ngambek kok, yaudah kuy ikut gue aja ke perpus, capek ni gue pingin tidur diperpus"ajaknya sambil memegang lengan allysa.Emang kebiasan Devina kalau ke perpus ujung-ujungnya cuma numpang tidur.Mana pernah temannya baca buku, novel aja yang cuma dua ratus sampai tiga ratus pun enggan untuk dibaca apalagi buku ilmu dunia, udah pingsan dulu mungkin.
"Gue mau si tapi gue harus beresin yang dilapangan, lagian acaranya juga udah selesai, kenapa lo ga pulang aja daripada di perpus tidurnya mending dirumah sendiri dev"
"Iya juga ya sa, maklum capek banget, jadi ni otak konslet dikit, kalau tidur di perpus pegel banget sa"jawab Devina sambil terkekeh sendiri.
"Yaudah, lo balik deh, gue juga mau balik ke lapangan dulu, good bye devina sayang"sambil melambaikan tangannya ke devina.Begitu juga Devina yang melambaikan tangannya ke arah Allysa.
...**********************...
Allysa ditemani Bryan membereskan sisa perlengkapan yang ada dilapangan.Masih lumayan banyak tapi tidak sebanyak sebelum dibereskan anggota osis lain.Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, sekarang ini lapangan sudah kembali seperti keadaan semula layaknya lapangan pada umumnya walaupun masih banyak sampah yang berserakan.Memang manusia selalu memakai barang dari bumi tapi juga selalu membuangnya ke bumi yang udah siap sedia menyediakan keperluan manusia penghuninya.
Segeralah Allysa mencari sapu lidi untuk membersihkan sampah yang berserakan daripada malah dimarahi kepala kebersihan karena sampah-sampah itu.Kelas aja kalau ga bersih pasti kena semprot apalagi lapangan yang jelas jelas terbuka, udah dihabisi nyawa para anggota osis.Hadehh menakutkan bukan.
Keheningan menyapu perjalanan mereka kembali ke lapangan.Sebenarnya Angkasa sudah ingin menanyakan beberapa hal yang menyanggal pikirannya tapi Allysa terlihat sedang tidak ingin menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan Angkasa.Bagaimana tidak, Allysa sedari tadi enggan melihat wajah Angkasa dan raut wajahnya seperti tidak menginginkan kehadiran Angkasa.
Sudahlah mari lupakan, mereka harus segera membersihkan lapangan agar cepat pulang kerumah.Allysa sungguh tidak tau saja, sedari tadi Angkasa selalu melihatnya dan mengawasinya bagaikan seorang ayah yang takut akan kehilangan anak perempuannya yang akan dipinang lelaki jodohnya.Tanpa Angkasa tau juga, Melliana juga menatapnya dari jauh, ia juga melihat bahwa Angkasa daritadi tak pernah lolos menatap perempuan itu.Marah, kecewa,sedih itulah yang Melliana rasakan sekarang ini.Iapun berinisiatif menemui Angkasa.
"Sa, gue nebeng lo boleh ga?"tanya Melliana sambil memohon.
"Gue mau bareng Allysa, lo cari tebengan lain aja"jawab Angkasa ketus tanpa melihat mata Melliana.
Angkasa dengan gampangnya meninggalkan Melliana sendirian disana.Allysa memang mendengar ucapan Melliana ke Angkasa tapi ia hanya masa bodoh.Ia sungguh tidak ingin berdekatan lagi dengan Angkasa.Ia sangat takut dengan yang namanya cinta.Yang saat ini dipikirannya hanya bagaimana caranya ia meraih apa yang ia impikan sejak dulu.
Dari lamunan itu, Angkasa ternyata sudah ada disebelah Allysa.Allysa yang mengetahui itu langsung meminta izin kepada Bryan untuk pulang karena tugasnya juga sudah selesai.Bryan mengajaknya untuk pulang bersama tapi malah ditolak Allysa.Kesekian kalinya lagi Angkasa hanya bengong dan bingung apa salahnya sampai-sampai Allysa menjauh darinya.Kaki Angkasa dengan sendirinya berlari mengejar Allysa.Ia sungguh ingin tau apa kesalahannya.
"Lo kenapa jauhin gue, gue salah apa lysa, tolong jawab gue butuh penjelasan dari lo"tanya Angkasa sambil memegang lengan Allysa dari belakang.
Allysa tidak menggubris pertanyaan Angkasa dan dengan paksa melepas tangan Angkasa yang sedang memegang lengannya.Ia segera meninggalkan Angkasa.Bukan Angkasa namanya kalau pantang menyerah, kali ini ia sudah berada didepan Allysa.Dengan raut wajah bersalah Angkasa menatap mata Allysa dan menanyakan hal yang sama.Tapi apa yang terjadi, Allysa justru mendorong Angkasa hingga laki-laki itu jatuh ke lantai meringis kesakitan.Allysa menyadari bahwa Angkasa jatuh karenanya, tapi pikiran hati dan kakinya mengajak perempuan itu meninggalkan Angkasa tanpa permintaan maaf dan pertolongan kepadanya.
"Angkasa lo kenapa"teriak Melliana yang didengar sangat jelas sama Allysa.Allysa sungguh merasa bersalah tapi ia sendiri juga masih berdebat dengan dirinya sendiri.Yang ia rasakan, hatinya terasa sakit, apalagi saat mendengar bahwa Melliana lah yang menolong Angkasa yang jatuh akibat ulahnya.Seketika Allysa mengeluarkan air mata disaat saat ia sudah memasuki mobil yang dibawa mang danang.
"Non gapapa?"tanya mang danang karena melihat tuan mudanya menangis.
"Gapapa kok mang, lagi seneng aja soalnya acara pertama Allysa sukses"jawab Allysa yang lagi-lagi berbohong.
"Ooo, alhamdulillah neng kalau sukses"jawab mang danang dengan senyuman.
Tangan Allysa merogoh tasnya untuk mencari tisu agar ia bisa mengelap air matanya.Kalau sampai mamanya lihat Allysa sedang menangis, Allysa sungguh tidak bisa berbohong lagi.Ia tidak bisa melihat mamanya sedih juga melihat anaknya yang sedang sedih.
Di sisi lain, Angkasa menghempaskan tangannya yang dipegang Melliana.Melliana sungguh hanya ingin menolong Angkasa tapi perlakuan Angkasa justru malah membuat hatinya terkikis.
"Gue ga butuh pertolongan dari lo, sekarang mending lo pergi dar hadapan gue"ucap Angkasa dengan suara seperti orang marah.
"Lo tau ga si sa, Allysa jelas-jelas ga suka sama lo, gue yang suka sama lo tapi kenapa lo selalu nyakitin gue sa, gue juga punya hati sa, niat gue nolongin lo tapi lo..."Melliana tidak bisa berkata apa-apa lagi.Ia segera meninggalkan Angkasa dengan tetesan air yang jatuh dari matanya.
Angkasa merasa ftustasi.Ia sangat bingung apa yang seharuanya ia lakukan.Allysa menjauhinya tanpa sebab dan ia merasa bersalah juga telah melakukan hal kasar ke Melliana.