
^^^"Selagi bisa melakukannya harus segera dilakukannya karena perasaan menyesal akan selalu datang diakhir dan selalu menghantui diri sendiri"^^^
...********************...
"Assalamualaikum, pagi anak-anak"sapa Bu Gita.
"Waalaikumsalam, pagi juga bu"jawab Allysa dan teman sekelasnya dengan serempak.
"Tugas yang ibu berikan silahkan kalian kumpulkan dibarisan paling depan meja kalian, sekarang juga!"pinta Bu Gita.
Tanpa membalas ucapan guru yang sedang mengajar dikelas mereka, mereka langsung dengan cepatnya menaruh buku mereka sesuai perintah Bu Gita.Kalau kelamaan pasti guru itu akan mengeluarkan suara yang menggemparkan dunia, bahkan suaranya bisa sampai kedengeran dikelas sebelah.Hebat bukan Bu Gita, dengan karakter yang seperti itulah membuat para muridnya selalu taat dan ga akan pernah ada yang mau membantahnya.
"Cepetan kali sa, entar keburu marah tu Bu Gita"
"Ehh bentar dev, buku gue kok ga ada dev, aduhh perasaan tadi malem udah gue masukin kedalem tas, kenapa sekarang ga ada, ahhh gimana dev, takut nii gue".
"Gue juga bingung ni sa, lo si kenapa ga di cek dulu, bisa gawat kalau lo ga ngumpulin tugasnya".
"Udah lah biarin gue dimarahin, yang penting jujur aja deh, daripada kualat, takut gue".
"Yakin lo sa".
"Mau gimana lagi dev, ini salah gue".
"Yaudah gue temenin lo aja, biar kita dimarahin bareng".
"No no no dev, ini salah gue udah tanggung jawab gue, lo harus ngumpulin tugasnya titik ga pake koma".
"Tapi sa.."
"Dev, it's okey".
Devina hanya mengangguk dan segeralah ia menumpuk tugasnya.Di lain sisi, Allysa dengan sedikit rasa beraninya menghampiri Bu Gita.Allysa baru saja mau bilang kepada Bu Gita bahwa ia lupa membawa tugas yang diberikan oleh gurunya itu tapi keajaiban datang lagi padanya, Angkasa selalu menyelamatkannya untuk kesekian kalinya.Tiba-tiba saja Angkasa masuk kekelas tanpa Allysa sadari dan menyerahkan selembar kertas dispensasi osis.Allysa benar benar bahagia karena tidak jadi dihukum oleh Bu Gita.Ia sekarang hanya mengikuti Angkasa keluar kelas, emang sudah tugasnya menjadi anggota osis, keluar kelas dijam pelajaran, menurut Allysa.
"Thanks sa".
"Buat apa?"tanya Angkasa.
"Tadi gue lupa bawa tugas Bu Gita, lo tau kan konsekuensi yang akan diberikan Bu Gita kalau ga bawa ataupun ga ngerjain tugasnya".
"Hmmm, bukannya emang kita harus dispen kan?"
"Gue tau sa, udahlah ribet kalau sama lo"Karena rasa kesal dengan Angkasa Allysa meninggalkan Angkasa begitu saja.
Allysa bersama Bryan sedang menunggu orang-orang yang memasang panggung di tengah lapangan sekolah mereka.Angkasa datang menghampiri mereka namun Allysa dengan cueknya meninggalkan tempat itu dan menyerahkan tugas itu ke Bryan.Bryan yang pahampun hanya mengangguk kepada Allysa.
Dilihatnya Angkasa sedang melihat punggung Allysa yang sudah pergi dari tempat mereka.Bryan sangat paham sekali sekarang ini keadaan Angkasa.Bryan tersenyum kepada Angkasa, Angkasa yang mengetahui itu hanya cuek bebek dan tidak menghiraukan sikap Bryan kepadanya.
"Kalau suka tembak kali sa keburu ditembak cowok lain, entar nyesel lagi"
"Apaan si lo Bryan, ga usah sok tau dan ikut campur urusan gue"jawab Angkasa dengan nada yang sedikit dinaikan.
"Bukan ikut campur, gue cuma kasih lo saran doang, nyesel baru tau rasa lo"
"Lo tau apa si, tiba-tiba ga ada angin ga ada hujan, ngomong ga genah gitu".
"Gue pernah nyesel kali ga nyatain perasaan gue sama orang yang gue suka, tapi nasi udah jadi bubur mau gimana lagi, dia udah pergi ninggalin gue ke London, gue udah coba lupain dia tapi tetep aja ga ada yang bisa gantiin posisi dia di hati gue, wait wait kenapa gue jadi curhat sama lo, udahlah gue mau ngurus yang lain".
Bryan pergi meninggalkan Angkasa yang masih diam termenung.Ia sangat paham jelas gimana rasanya jadi Bryan yang ga pernah bisa nyatain perasaannya pada orang yang ia suka.Angkasa juga pernah mengalami hal itu, rasanya hatinya hancur saat tiba-tiba sosok pemilik hatinya itu pergi meninggalkannya dan tak akan pernah bisa ia temukan lagi.
Angkasa dengan kaki yang selonjor dan badan yang menempel pada kursi taman sedang melamun merenungi ucapan Bryan.Pikirannya saat ini terganggu karena ucapan yang terlontar dari mulut Bryan.Ia sendiri sebenarnya masih bingung dengan perasaannya, entahlah kenapa ia selalu ingin berada dekat perempuan itu dan selalu ingin membahagiakan perempuan itu.
Rasa kebingungan itu telah membawanya pada dunianya sendiri sampai-sampai ia lupa akan tanggung jawabnya sebagai ketua osis.Angkasa semakin frustasi tapi bukan Angkasa kalau tidak tanggung jawab.Angkasa bergegas kembali ke lapangan dan membantu anggota timnya.Angkasa melihat Allysa yang sedang mendekor panggung tengah, dengan langkah cepat ia pergi ke arah Allysa untuk membantu perempuan itu.Allysa yang kaget dengan kehadiran Angkasa sontak kakinya menyandung tangga yang ada dibelakangnya.
"Bug", Allysa jatuh ketanah dengan posisi duduk dan kaki kanannya berdarah karena terkena batu yang sebelumnya digunakan orang yang membuat panggung dan orang itu lupa menaruh kembali batu itu ke taman.Paniklah Angkasa melihat Allysa yang jatuh dengan kakinya yang dilumuri darah.Tidak terlalu banyak darah yang keluar, namun mampu membuat Allysa merasakan kesakitan yang luar biasa.Allysa merasa kakinya saat ini tidak hanya berdarah tapi juga kesleo.Kakinya udah ia coba gerakan tapi malah membuat Allysa kesakitan dan merasakan rasa nyeri.
Tidak tega Angkasa melihat perempuan yang ada didepannya itu terluka.Wajah Allysa dengan raut kesakitan membuat Angkasa merasakan hal yang sama.Saking panik dan bingungnya, Angkasa dengan sigap menggendong Allysa dan membawanya ke ruang uks.Diletakkannya Allysa di kasur dan dicarilah kotak p3k disetiap loker yang ada di ruang uks sekolah mereka.
Angkasa merasa sedikit lega karena menemukan kotak p3k itu.Dengan hati-hati Angkasa membersihkan darah di kaki Allysa dan mengobatinya.
"Aw sakit sa, pelan-pelan sa".
"Ini udah pelan Allysa, kalau sakit atau nyeri ditahan dulu okee, kalau ga diobati bakalan infeksi, lo ga mau malah jadi infeksi terus malah bengkak kan"
"Iya iya sa, tapi pelanin lagi sa, please"sambil memohon kepada Angkasa.
"Oke tapi lo harus tahan"
"Hmmm".
Pelan-pelan Angkasa mengobati luka Allysa, ia sangat takut kalau Allysa kesakitan karenanya.
Belum juga kaki Allysa diperban Melliana dengan cepat mengambil perban yang ada di tangan Angkasa.Angkasa dan Allysa juga terkejut dengan keberadaan Melliana yang tiba-tiba datang.Melliana menyuruh Angkasa menyingkir dari tempatnya dan membalutkan luka Allysa.Angkasa merasa tidak enak dengan suasananya sekarang, yang ia tau Melliana memang selalu baik dengan orang lain tapi biasanya ia menyuruh orang lain bukan dirinya sendiri yang melakukan hal baik itu ke orang yang memerlukan bantuan.
Pernah waktu mereka kelas 10 ada anggota osis, Naya namanya, ia jatuh dari tangga karena membawa peralatan untuk acara pensi kelas 12.Melliana melihat dengan jelas saat Naya jatuh tepat berada didepannya saat itu.Dengan cepat Melliana membantu Naya namun bukan ia yang mengobati luka Naya, ia hanya menyuruh orang lain membawa Naya dan mengobatinya.Angkasa jelas-jelas sudah tau betul sikap Melliana.Yang Angkasa takutkan adalah jikalau Melliana berbuat baik kepada Allysa karena maksud tertentu.Ia tidak mau lagi melihat perempuan yang sangat ia khawatirkan terluka lagi, apalagi kalau itu karena kesalahannya.