ANGKALYSA

ANGKALYSA
AL28



"Hidup perlu kerja keras, mau suka atau ga suka, males atau ga males, pusing atau ga pusing, udah kodratnya manusia ngejalanin dan tinggal semesta yang bekerja untuk hasilnya, right?"


...****************...


Hari yang sangat dinanti Allysa tapi mungkin kebanyakan siswa sangat tidak menyukainya bahkan rasanya mereka ingin menghindari hari-hari itu.UAS, ehh sekarang namanya diganti PHB bukan si.Whatever lah, yang penting sama aja kan intinya.Ulangan seminggu full dan perharinya bisa dua atau tiga mapel, muak banget deh.Namun semua itu ga berlaku buat Allysa.Hebat banget kan, saking sukanya sekolah ujian aja dibilang mainan.Emang dasar manusia pecinta sekolah, yaudahlah kalau dibahas juga ga akan kelar-kelar.


"Ahh pusing gue, masa bodoh deh dimarahin nyokap gue lagi"


"Lo tu pesimis banget si dev, baru selesai dan belum keluar nilainya udah nethink duluan"


"Gue kan ga kayak lo kali sa, nilai lo pasti diatas kkm, sedangkan gue bisa dihitung jari yang nilainya diatas kkm".celetuk devina


"Lo mau ikut gue belajar bareng?"tanya Allysa yang sudah siap untuk pergi ke perpustakaan


"Engga ah males gue, gue mau tidur aja, whatever deh mau nilainya berapa, huh, good bye sa"


Hanya lambaian tangan Allysa saja sebagai balasan ucapan Devina.Segeralah Allysa ke perpustakaan dan bersiap untuk belajar ujian yang akan diadakan esok hari, ia juga paling males kalau udah dirumah, bisa-bisa digangguin adeknya saat belajar.Bukannya belajar malah kebablasan nonton drakor bareng, kan ga lucu.


...*****************...


Beberapa buku sudah Allysa keluarkan, tinggal ia pelajari dan dihafalkan saja, begitulah menurut Allysa, sangat sederhana tapi butuh tekad yang besar.Bagi Allysa, belajar itu ibarat kita berlayar menggunakan kapal menyebrangi lautan yang kaya akan sumber dayanya untuk mereka tangkap dengan menggunakan jaring dan kemudian mereka akan mendapatkan uang dari sana.Sangat butuh kerja keras bukan?walaupun hasilnya juga ga nentu tapikan yang penting udah usaha, right?.Hidup juga perlu kerja keras jadi mau males, pusing, capek, udah kodratnya manusia ngejalanin aja.


"F○g(x)\=3x-1 terus diketahui g(x)\=2x+5, yang ditanya f(x), udah bener kok ngerjainnya, ihh nyebelin kalau ga ketemu, arrghhh"ucap Allysa sambil mengacak ngacak rambutnya frustasi.


"Bukan gitu ngerjainnya, harus dimisalin dulu biar gampang"tiba tiba saja Angkasa datang dan membuat Allysa kaget tapi ga kaget jantungan juga.


Angkasa mengajari Allysa hingga dirasa Allysa paham.Allysa yang diajaripun hanya mengangguk mengiyakan padahal ia sama sekali tak mendengar ucapan Angkasa.Rasanya masih risih ingin menghindar dari Angkasa tapi tubuhnya seakan mengikat dirinya untuk berlama dengan Angkasa.


Jarak yang tak terlalu jauh membuat jantung Angkasa berdetak lebih kencang dari biasanya berasa habis dihukum lari keliling lapangan.


"Tenang angkasa, entar kalau cewek yang ada disebelah lo denger suara jantung lo bisa bahaya"batin Angkasa sembari menenangkan jantungnya yang tak mau bekerja sama dengan pemiliknya.


"Ooo oke, makasih sa"ucap Allysa dan segera membereskan buku-bukunya ke dalam tas.


"Lo mau kemana?"tanya Angkasa yang keheranan sambil menahan buku yang hendak dimasukkan kedalam tas milik Allysa.


"Pulang "jawab Allysa singkat padat dan jelas dengan raut wajah menghela napas.


"Lo kenapa si?gue salah apa?please jawab lysa, gue bingung lo selalu ngehindar kalau ketemu gue"tanya Angkasa karena sikap Allysa yang berbeda dari sebelumnya.


"Lo ga salah kok, gue yang salah, gue mau pulang minggir sa"jawab Allysa mendorong sedikit tubuh Angkasa.


"Lo ngapain si ngikutin gue?"tanya Allysa yang merasa diikuti Angkasa dengan posisi berbicara yang tidak saling berhadapan.


"Gue ga akan berhenti ngikutin lo sebelum lo jawab pertanyaan gue"jawab Angkasa yang sekarang ini sudah berhadapan dengan Allysa.


"Cukup lo ngejauhin gue udah buat gue ngerasa tenang, lo paham kan maksud gue sa"jawab Allysa dengan mata berkaca-kaca dan tangan yang sedang mencekram roknya dengan amat kuat.


"Kalau itu mau lo, mulai sekarang gue akan ngejauhin lo, lo akan puas kan"jawab Angkasa meninggalkan Allysa yang masih diam ditempat.


Allysa tau ini keinginannya tapi ia sendiri merasa sakit ketika mendengar ucapan Angkasa.Ia ingin sekali kembali ke masa itu, masa saat ia bersama Angkasa sebelum ia mengetahui bahwa Angkasa menyukai dirinya.Allysa  belum bisa menerima hatinya untuk Angkasa karena itu ia ingin menjauh dari Angkasa.


"Tik tik tik"dalam keadaan itu Allysa menerjang rintikan hujan yang jatuh kebumi menyapu tubuh mungilnya dari atas hingga bawah.Orang-orang yang berlalu lalang melihatnya hanya seperti anak kecil yang kegirangan karena mereka bisa menikmati masa kecil mereka.Namun sebaliknya yang terjadi, Allysa sedang tidak bersenang senang dengan hujan.Ia sedang menangis dalam guyuran hujan.Ia tau kalau semua yang ia lakukan karena kehendaknya, tapi ia sendiri sungguh tak bisa menahan tangis air matanya yang selalu ia tahan sedari tadi.Berjalan menyusuri taman dekat rumahnya dan tak henti memutari taman itu.Berulang-ulang Allysa melakukannya entah ia sadar atau tidak, ia mengalami hal yang sama seperti sebelum ia pindah ke sekolahnya yang sekarang.


Sambil memegangi dadanya yang terasa sakit, Allysa tak henti-hentinya menangis di sebuah kursi sebelah air mancur taman dekat rumahnya.Allysa hanya ingin berlama-lama disana menghabiskan tangisan karena rasa sakit yang ia rasakan.Kalau ia menangis dirumah, mamanya pasti akan tau, karena itu ia menangis sepuasnya bersama rintihan air milik semesta.


...************...


"Anak mama kehujanan? kok ga suruh mang danang buat jemput?"tanya mamanya diteras yang sedari tadi menunggu Allysa pulang kerumah.


"Udah kehujanan dulu ma, lysa masuk dulu ma"sambil melepas sepatunya dan ke lantai atas menuju kamarnya.


"Mandinya pakai air hangat jangan lupa juga makan nanti kamu sakit"teriak mamanya dan Allysa hanya mengangguk saja.


Selesai Allysa menuruti perintah mamanya, ia segera ke kamar merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.Rasanya seperti ditusuk tusuk pikiran dan seluruh tubuhnya.Dingin?ya sudah pasti karena tubuhnya terlalu lama dibiarkan kehujanan.Allysa segera menarik selimut dan bergegas tidur.


Esok paginya, badan Allysa terasa jauh lebih sakit dari kemaren.Ia merasa sangat kedinginan seperti sedang berada di kutub utara yang tertutup rapat oleh salju.Berdiripun rasanya ia tak mampu, tubuhnya lemas tak ada energi yang tersisa untuk Allysa memboyong dirinya sendiri.Ditambah rasa cenat cenut dan sakit kepala yang menjalar di bagian kepalanya membuatnya hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.


"Lysaaa, bangun nak"teriak mamanya dari lantai bawah.


Allysa mendengar jelas suara mamanya tapi ia tidak bisa berteriak membalas ucapan mamanya.Dengan sekuat tenaga Allysa bangkit dari ranjangnya untuk menghampiri mamanya, padahal jelas-jelas tadi ia sudah mencoba.Ya, hasilnya mustahil.Allysa tidak bisa bangun dari ranjangnya, kaki bahkan tubuhnya terasa lemas serta kaku.


"Bughhh"tubuh Allysa jatuh dari ranjangnya agar sang mama menyadari dan akan ke kamar Allysa.Mamanya yang menyadari ada suara kegaduhan di lantai atas langsung menuju kamarnya Allysa.


"Astaughfirullah Allysa, kamu kenapa nak"suara mamanya yang segera memboyong tubuh Allysa ke ranjangnya lagi.Kaget?jelas sekali mamanya sangat kaget tapi mamanya hanya berusaha untuk tenang.


"Maa"Allysa yang melihat mamanya itu langsung menangis.


"Mama telepon Dokter Handika dulu, kamu disini dulu nanti mama kesini lagi"perintah mamanya yang segera keluar kamar Allysa untuk menelepon dokter keluarganya.