ALTEA

ALTEA
#8# penyeleksian barang di mobil Ken



“El...” Panggil Ana pelan, El langsung menengok padanya.


Saat ini kebetulan keluarga Tea—Mommy Vita, Daddy Exel, El, Ana dan tentunya Tea, tengah menonton bersama. Sayangnya, Tea sudah tertidur di bahu El, abangnya.


Ana yang berada di samping kanan El membuka suara dengan pelan.


“Kenapa?” Tanya El merangkul Ana, dirinya dihimpit oleh Ana dan Tea yang kini sama-sama bersender di bahunya.


“Kemarin, Kita di teror di sekolah,” ucap Ana pelan yang semakin pelan.


Meskipun kata-kata teror di sekolah terbilang sangat pelan, El masih mendengarnya dan keningnya berkerut.


“Teror?” tanyanya tajam memastikan.


“Stt, bawa Tea ke kamarnya dulu. Nanti aku jelasin,” ucapnya pelan.


"Kasian, udah lelap dia, nanti kebangun," lanjutnya menatap wajah lelap Tea


Kedua orangtua El memperhatikan Ana namun sayangnya ucapan Ana tak terdengar jelas ke telinga mereka. Saat Vita akan bertanya, El mengisyaratkan pada mommy-nya untuk menunggu sebentar.


El menggendong Tea ke kamarnya yang ada di lantai dua, baru setelahnya dia turun. Melihat Ana yang cukup gusar dan gelisah. Mengambil posisi duduk di sebelahnya.


“Jadi, Kalian di teror di sekolah?” tanya El yang membuat kedua orangtuanya menoleh pada Ana, kaget!


Ana mengangguk pelan. “Teror?” pekik Vita tak percaya.


“Teror seperti apa Ana?” tanya Exel serius.


Dari sana... Ana menjelaskan dengan rinci mulai kejadian teror batu di parkiran sekolah dan toilet mall.


“kalian Bertujuh?” tanya Daddy Exel, dijawab anggukan.


“Iya, tapi Ana gak tau terornya untuk siapa di antara kita. Ana curiga itu untuk Tea atau Alex. Ana takut mereka udah tau kebenarannya,” ucap Ana gelisah.


El menggenggam sebelah tangan Ana, mengusapnya pelan. Matanya menatap langit-langit mansion. Berpikir dan menebak. Suasana kini terasa suram dan sunyi.


“Ex...” ucap Mommy Vita panik.


“Kamu tenang dulu.” Exel merangkul istrinya dan ikut berpikir kemungkinan yang terjadi.


“Kita cari tau dulu, Dad yang urus,” putus Exel


Mereka mengangguk setuju, Ana memandang El karena masih gelisah.


“Mungkin aja, bukan cuma kalian berdua tapi kalian semua. Tepatnya keturunan dari keluarga besar kita,” El mengeluarkan suaranya, terdengar dingin.


“Kalian berdua mending ke kamar, tidur. Nanti Daddy kamu yang urus!” perintah Vita yang mulai tenang. El dan Ana mengangguk.


.........


“Pak.” seorang lelaki berpakaian formal dengan kisaran usia 35 tahun itu memanggil Exel—Daddy Tea.


“Sudah ada kabar?” tanya Exel tenang, sorot matanya tajam, dan keningnya sedikit kerut. Terlalu banyak pikiran.


Lelaki atau tepatnya bawahan dari seorang Exel Leonard itu menunjukkan sesuatu yang terlihat dalam iPad yang di pegangnya. Sedikit menscroll ke bawah. Melihat isi informasi di layar iPad itu, kening Exel langsung mengernyit.


“Mati...?” tanyanya memastikan, namun anggukan dari bawahannya ini membuatnya tak percaya.


“Siapa?” tanya Exel kembali, otaknya mulai menebak siapa yang berkemungkinan bertindak cepat meringkus pelaku di balik teror yang di alami putrinya.


“Ekhem,” ditanya oleh atasannya, lelaki formal itu hanya berdehem canggung. Lalu mengucapkan sebuah nama singkat dengan pelan.


Mendengar satu nama yang jauh dari tebakannya ini hanya membuat Exel tambah mengernyit.


“Ken?” tanyanya tak percaya dan memastikan pendengarannya. Sebuah anggukan menjadi jawabannya.


Senyuman geli terbit di bibirnya, lalu terkekeh pelan. “Anak itu, Dasar...” Exel menggeleng-gelengkan kepala.


“Lalu motifnya?” tanya Exel serius kembali.


“Hanya seorang pelaku bayaran, bos-nya pintar, mana mungkin mengungkapkan identitas.”


“Sudah kuduga,” desah Exel bersandar pada kursi kerjanya. Ini tidak akan semudah itu.


“Selidiki lebih jauh,” putusnya.


“Baik.”


.........


“Tea sekarang suka bareng Ken?” tanya Vita—mommy-nya. Tea yang sedang minum susu sarapan pun kaget.


“Kamu suka bareng lagi sama Ken?” tanya Vita sekali lagi. Tea mengangguk kaku.


“Dasar... Anak mommy kok bucin,” ejek Vita bercanda. Tea menanggapinya dengan menggembungkan pipinya cemberut.


“Bukan Tea yang bucin tapi Ken-nya itu yang bucin sama Tea,” celetuk sang Daddy—Exel.


“Bener dad, dari dulu si Ken kerjaannya ngintilin Tea mulu kaya bodyguard,” cibir Ana dengan senyum mengejek.


"Sepupu kamu itu."


“Kalian mah...” rengek Tea tak terima di jadikan bahan ejekan oleh keluarganya ini. Merengek menggunakan bahasa Sunda.


“Sunda?” tanya Vita heran, wong anaknya tinggal di Korea terus di sini paling cuma bisa bhs.Indonesia, itupun tanpa bahasa gaul. Tea mengangguk.


“Itu kayak Arif,” jawabnya.


“Arif?” tanyanya tak pernah mendengar nama itu.


“Itu loh mom anak sekelas yang ngomongnya campur Sunda. Biasa, orang Sunda setia katanya, bahasa daerah tetap akan di bawa di manapun berada. Katanya gitu,” ungkap Ana menjawab pertanyaan Vita.


“Udah ah, kita berangkat sekolah dulu ya,” lanjutnya pamit berangkat sekolah.


“Alex di apart-nya?” tanya El.


“Iya, gak tau ngapain pagi-pagi buta ke apart,” jelas Ana acuh.


“Kalian berangkat sama siapa?” tanya Exel.


“Bareng Ken,” Tea membalas cepat.


“Hati-hati, kalau ada apa-apa hubungin dad, mommy atau Abang kamu Tea” peringat Exel.


“Dad tau...” Tea menggantung ucapannya, hanya menebak di hati.


“Iya, kemarin kalian di teror dua kali, Tea juga hampir aja luka. Pokoknya kalau ada yang begituan lagi, hubungi kita oke?” ucap Vita. Tea mengangguk tersenyum.


“Okayy” jawabnya membuat simbol lingkaran dengan jari-jari kanan.


..........


“Kamu udah sarapan?” tanya Tea sembari mengacak-acak isi mobil Ken. Mengeluar-masukkan barang dari dasbor dan tempat penyimpanan barang di mobil.


“Udah,” jawab Ken masih terfokus ke jalanan, tangannya bergerak mengacak pelan rambut Tea yang kini tergerai keriting.


Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah. Ana berangkat sekolah bersama dengan tunangannya atau abangnya Tea—El.


“Ini stok maskernya udah dikit, nanti beli lagi ya,” ucap Tea memegang kotak masker putih yang biasa di pakai Ken. Lalu memasukannya kembali dengan rapih ke tempatnya.


“Disini gak ada obat p3k, nanti jangan lupa simpan obat p3k di mobil, buat jaga-jaga,” peringat Tea yang tak menemukan kotak p3k di mobil Ken.


“Tissue basahnya juga nggak ada, cuma tissue kering. Tissue basah itu penting buat bersihin tangan Ken... Kalau aku mau makan di mobil juga kan bisa bersihin tangan pake tissue basah” omel Tea. Tetap tak mendapat sautan.


“Ken... Kamu dengerin Tea gak?” tanyanya kesal. Ken terkekeh mendengarnya, Tea memang bawel ya.


Tangannya meraih tubuh Tea dan merangkulnya mendekat. Melirik satu kali lalu kembali fokus ke depan dan mengecup kilat pelipis Tea.


“Iya Tea” ucapnya lembut. Tea cemberut merasa mudah terbujuk oleh Ken.


Sangat murahan—pikirnya sebal.


Dasar kamu ini—batinnya terus mengomeli diri sendiri


“Ken, kok Mommy-Daddy aku tau soal kejadian kemarin ya,” ucap Tea tiba-tiba teringat.


“Kejadian kemarin?” tanya Ken bingung.


“Iya itu, Yang lempar batu,” perjelas Tea.


“Tau...?” tanya Ken memastikan, Tea mengangguk.


“Ya.”


“Bagus,” celetuk Ken


“Hah? Kok bagus,” tanya Tea.


“Nggak” balas Ken singkat, Tea mengerucutkan bibirnya.