
Tea keluar dari mobil Ferrari di bantu oleh seorang bodyguard, bodyguard yang lain langsung sigap berbaris dari sisi kanan-kiri Tea—menjaga Tea.
Dengan outfit celana hitam Jogger dengan banyak saku, kaos putih pendek polos yang di masukkan ke celana di balut jaket silver kebesarannya—Tea meringis menyadari ada beberapa wartawan yang mencoba mengambil potret dirinya.
Dengan cepat Tea memasang masker putih yang berada di pergelangan tangan kanannya. “Paman” adunya pada bodyguard sambil cemberut—kesal melihat ada wartawan.
“singkirkan mereka” ucap seorang pria berjas yang datang tiba-tiba dari kerumunan bersama dua orang bodyguard.
Perintahnya langsung membuat para bodyguard di sekeliling Tea mendorong wartawan yang mencoba mengambil potret Tea, tak lupa ciri khas ketika di kerumuni wartawan pasti banyak suara berisik dengan pertanyaan yang tumpang-tindih ditujukan untuk Tea.
“paman Calo” sentaknya kesal melihat ada wartawan yang terjatuh karena dorongan bodyguard.
“Hei hei aduh... Berhenti” lanjutnya pada bodyguard karena ngeri melihat wartawan yang memegang kamera besar hampir terjatuh.
“ayo. ayo cepat berangkat” ucapnya lagi meminta segera berangkat.
“Baik, mari nona” ucap Calo mengarahkan Tea ke pintu privat jetnya—
“akhirnya” desah Tea yang baru duduk di salah satu sofa di dalam privat jet.
“Paman... Tea pengen tidur” ucapnya yang ternyata beranjak kembali menuju kamar.
“Baik” sahut Calo singkat.
..........
“Tea...” panggil Exel dari ruang keluarga saat Tea datang dengan langkah pelan-pelan.
“bagus” sindir El
“Shtt” ringis Tea
“kamu ngapain ke Korea tanpa izin, Tea?” tanya Vita pada putri bungsunya itu.
“grandma suruh” ucapnya yang tidak sepenuhnya bohong.
“Tea... Dengarkan mommy, kamu tahu kan tadi pagi baru pulang dari Bogor, Anemia kamu kambuh—tapi kamu pergi lagi ke Korea” jelas Vita memberi pengertian.
“mendekat” ucap Exel, dengan ragu Tea mendekat dan duduk di antara kedua orangtuanya.
“masih sakit?” Tanya Exel mengusap kepala Tea dengan sayang.
Tea menggeleng dan menyandarkan kepalanya pada bahu Daddy-nya, “tidak, Tea sehat dad” pejam nya menikmati bentuk perhatian dan kasih sayang dari Daddy-nya ini.
“kedepannya jangan di ulangi” peringat El.
“oke”
“janji?” tanya El memastikan kembali.
“ishh, nggak mau” geleng Tea menolak berjanji.
“dasar” keluh Vita yang ikut mengusap punggung Tea.
Rasanya Tea sangat bahagia melihat keluarganya sangat perhatian dan sayang padanya—walaupun kenyataan berkata dia tidak sedarah dengan mereka.
“Sudah. Cepat naik dan istirahat, bukankan besok kamu sekolah. Kalau besok sakit jangan memaksakan sekolah” perintah Exel yang diangguki Tea walaupun rasanya tidak mau beranjak.
Saat akan menaiki lift ke lantai tempat kamarnya, Tea berhenti. Menoleh ke belakang pada abangnya, “abang kenapa?” tanya Tea karena curiga sempat melihat seringaian El.
“tidak, ayo cepat naik” bantahnya yang mengangkat dagu menyuruhnya agar segera naik lift.
“Ana kemana?” tanya Tea yang teringat belum melihat Ana sama sekali.
“Pulang” jawab El yang sedikit tidak suka di tanyai keberadaan tunangannya yang ternyata sedang pulang ke mansionnya sendiri.
“kasihan” gumam Tea yang segera naik lift.
"bilang apa Tea?" tanya El karena mendengar ejekan dari adiknya.
..........
“Abang jago...ye bom bom bomm” Tea memasuki kamar sambil bernyanyi, namun... saat masuk—
Baru saja berbalik untuk menutup pintu—seseorang mendorongnya ke pintu dan bahunya terasa memberat karena seseorang.
“aduh” ringisnya karena kaget.
“Ken?” Kaget Tea yang merasa jantungnya hampir melompat. Ken tidak menyahut—hanya diam menenggelamkan kepalanya pada bahu Tea.
“kamu kenapa di sin—KEN...” ucapan Tea terhenti dengan pekikan nya karena Ken tiba-tiba menggigit pundaknya dengan keras—rasanya sakit sekali.
Ken melepaskan pelukannya, “kamu ngapain ke Korea Selatan?” tanyanya.
“kamu terlalu banyak menyimpan rahasia Tea” tekan Ken menatap tajam pada Tea.
“Apa?” tanya Tea yang tiba-tiba merasa gugup di tatap tajam seperti itu
“Ck, kamu pikir aku gak tahu? Seberapa banyak yang kamu coba sembunyikan dari semua orang? Jawab!” sentaknya di akhir kalimat yang membuat Tea berjengit kaget sekaligus ketakutan.
“Ken” balas Tea yang tidak suka dengan nada tinggi Ken padanya.
“Kamu nggak harus tahu semuanya tentang aku” lanjutnya mengerutkan kening tak suka.
“maksudnya?” tanya Ken yang tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Entahlah dadanya serasa di hantam sesuatu yang tajam.
Ken mengambil langkah mundur dan terkekeh, “mau kaya apapun kamu sembunyi, aku nggak akan nyerah untuk cari tahu semuanya... Tea. Buktinya—aku tahu kamu bukan anak kandung om Exel dan Tante Vita, aku tahu siapa orangtua kandung kamu” perjelas Ken pada Tea.
“Aku tahu itu belum semuanya, tapi yang pasti aku akan tahu semuanya, ingat semuanya. tentang. kamu—nanti saat waktunya” Ken berucap dengan penuh penekanan, rahangnya terlihat mengeras.
Ken maju, semakin mendekat dan menarik Tea yang masih diam membeku setelah mendengar perkataan Ken. Saat Tea sudah tak menghalangi ruang keluar-masuk di pintu, Ken mengambil langkah keluar dari kamar Tea tanpa permisi.
“astaga” Tea bersimpah di lantai yang dingin sambil menyugar rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya.
hatinya sangat shock.
..........
Keesokan paginya, Ken tidak menjemput Tea seperti biasanya—mungkin masih marah. Tea berangkat di antar sopir, dia berniat untuk meminta maaf pada Ken atas ucapannya semalam.
Tea berjalan cepat menuju kelasnya sambil menggendong tas dan memegang papper bag berisi sarapan khusus buatannya untuk Ken.
“KEN” teriak Tea dari ambang pintu kelas.
“Maaf” ucapnya sambil menyodorkan papper bag yang dia bawa saat sudah sampai di hadapan Ken.
“Ken...” Tea merengek karena Ken tak merespon, tangannya menarik kursi—mendekat pada Ken. Menghiraukan beberapa siswa yang sudah datang dan memperhatikan kegiatannya, Tea mulai mengeluarkan satu persatu jurus andalannya untuk meluluhkan Ken.
Akhirnya Ken menghela nafas dan menarik Tea dalam pelukannya, “jangan terlalu banyak menyembunyikan banyak hal, jangan terlalu sibuk mengurusi hal sulit yang gak bisa kamu atasi” hanya itu yang diungkapkannya.
“nggak lupa minum obat sel darah merah kan?” tanya Ken yang sudah melepaskan pelukannya dan mulai mengeluarkan sarapan yang di buat Tea dari papper bag.
Ken seakan melupakan kejadian malam tadi—pertengkaran sengitnya dengan Tea.
“udah, jangan khawatir” ucap Tea dengan PD. Ken tak menghiraukan karena sibuk memakan sarapan dari Tea.
Tea tersenyum gembira melihat Ken yang memakan masakan yang di buatnya dengan susah payah. Yah dia merasa usahanya di hargai.
..........
“coba pakai n’pure marigold eye serum yang ini” Tea menunjukkan produk yang sedang viral di layar handphone-nya.
“Murah banget” ucap Ana.
“Bagus kok” ucap Tea meyakinkan.
“Lo udah nyoba?” tanya Ana yang diangguki Tea.
“Udah habis satu kemasan, di banding yang lainnya ini harganya lumayan nggak murah—ampuh menghilangkan kantung mata hitam” jelas Tea seperti sedang promosi.
“Gue masukin list keranjang dulu” jari tangan Ana mulai berselancar memasukkan n’pure eye serum ke dalam keranjang belanjaannya di apk Sociola.
“Makan dulu” Ucap Ken menyodorkan sepiring martabak telor pesanan Tea.
“Pesanan gue mana?” tanya Ana saat melihat makanan di hadapan Tea, membuatnya tiba-tiba merasakan perutnya keroncongan.
“Bentar. Belum jadi” ucap Alex melihat sekilas stan etalase nasi goreng yang jadi menu makan istirahat Ana hari ini.
Tidak lama, seseorang dengan seragam pelayan kantin membawa sepiring nasi goreng dan segelas teh gelas. Tanpa melihat bagaimana keadaan nasi goreng di hadapannya, Ana mulai menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya dengan tangan yang masih sibuk berselancar melihat-lihat barang di apk Sociola.
"scroll sampai bawah
scroll sampai bawah
scroll sampai bawah
scroll scroll scroll" Felix bernyanyi sambil menyindir Ana.
Sayangnya Ana menghiraukan Felix, di otaknya hanya tertanam 'Abaikan makhluk asing di hadapannya, Ana cantik'
Saat makanannya sudah hampir habis, tiba-tiba Ana berkomentar tentang makanan yang dimakannya “Kok rasanya ada yang aneh, beda aja gitu, apa perasaan gue aja ya” gumamnya pelan, tangannya masih sibuk menye-croll produk-produk menggiurkan yang terpampang di layar HP.
“Kenapa?” tanya Tea menoleh pada Ana, gumaman pelan Ana masih bisa terdengar samar ke telinganya. Terlihat Ana sudah hampir menghabiskan nasi goreng yang menurutnya aneh—tapi tetap di makan.
Dengan menggunakan sendok yang diambil dari piring Ken, Tea mengaduk nasi goreng Ana—berniat mencobanya sesuap. Tapi... Tea mengerutkan keningnya saat melihat sesuatu lalu melotot dan menjauhkan piring Ana.
“Ana” ucap Tea yang tanpa sadar berdiri, menarik perhatian semua orang di mejanya.
“muntahin, cepat” dengan panik, Tea mengambil beberapa lembar tissue yang tersedia di mejanya dan menyodorkan tissue itu pada Ana agar segera memuntahkan nasi goreng yang sedang di kunyahnya.
“Kenapa si?” tanya Ana heran.
“cepat—itu nasi gorengnya pakai cumi” semuanya kaget karena tahu bahwa Ana alergi cumi.
“Muntahin An—cepat” sentak Alex yang ikut bangkit, Ana tersadar dan memuntahkan nasi goreng kunyahan nya pada tissue pemberian Tea.
“baru kerasa, badan gue gatal dan panas” ucap Ana yang menggaruk bagian leher dan lengannya yang tiba-tiba terasa gatal dan panas, tenggorokannya kering dan sakit, belum kepalanya yang mendadak sakit.
“UKS” ucap Ken memerintah.
Alex bergerak memapah Ana ke UKS, tenang saja di UKS MHS ada dokter profesional yang memang tugasnya merawat siswa yang sakit—bagaimanapun juga ini sekolah Elit yang pastinya fasilitas lengkap dan memumpuni.
Tanpa sadar—mereka sudah menjadi pusat perhatian orang sekantin, bahkan salah satu petugas di stan nasi goreng sudah mendatangi mereka dengan gugup.
“Kenapa nasi gorengnya tiba-tiba ada cumi?” tanya Aryn kesal melihat sahabatnya tiba-tiba sakit karena nasi goreng yang entah bagaimana bisa di campur dengan cumi.
“bukannya menu nasi goreng tidak ada yang pakai cumi-cumi? Kalaupun ada—itu menu tambahan seafood yang dimasak terpisah” tanya Daren karena merasa ini aneh.
“maaf, saya tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi—kebetulan yang masak bukan saya” ucap pelayan kantin yang tadi bertugas mengantarkan nasi goreng pesanan Ana.
“yang masaknya mana?” tanya Felix
“S-saya” ucap seorang wanita yang juga berseragam pelayan kantin.
“kenapa bisa sih kamu masak nasi goreng aneh kaya gini” ucap Tea kesal dalam rangkulan Ken.
“tadi ada siswa yang datang bilang pesanan ini di masak campur dengan cumi-cumi, saya tidak tahu itu pesanan Ana” jelas pelayan kantin yang gemetar takut terutama setelah melihat tatapan tajam dari Ken
“siswa? Siapa?” tanya Ken menuntut.
“Anu... Saya tidak tahu namanya tapi dia memakai Hoodie hitam menutupi kepala” jawaban itu membuat Ken geram sendiri.
"harusnya kalian lebih profesional, di liat dari penampilannya aja sudah terlihat mencurigakan, kenapa kalian bisa dengan mudah menuruti permintaan siswa itu" tukas Daren sambil mendengus tidak suka.
Apakah dia harus membuat peraturan baru untuk pelayan dan petugas di kantin?
"pikir pake logika!, kalo dia mau makan nasi goreng sama cumi-cumi, bukannya ada menu seafood tambahan di nasi goreng, tanpa perlu di campur dan buat cuminya gak kelihatan di nasi goreng" kesal Aryn.
“Kamu susul Ana ke UKS” titah Ken pada Tea.
“nggak mau” Tea menggeleng tegas, justru dia harus tahu pelakunya—bisa saja ini berhubungan dengan sesuatu yang di carinya.
“nurut” tegas Ken tak mau di bantah yang akhirnya membuat Tea menyusul Ana bersama Aryn.
Setelah Tea pergi—Ken, Felix dan Daren mengecek SSTV untuk menyelidiki pelaku di balik alergi Ana yang kambuh.
..........
“Stop” ucap Ken membuat Felix menekan tombol pause—menampilkan potret tubuh seorang laki-laki, tinggi tegap dengan Hoodie hitam dan celana seragam MHS-nya.
“badannya membelakangi SSTV, kita sedang sial” tukas Daren.
“gak ada gunanya lihat SSTV” keluh Felix melepas mouse komputer dari tangannya dan bersandar pada kursi.
“lihat siswa sekitar dia, coba tanya mereka satu-satu” ucap Ken memperhatikan beberapa wajah siswa yang sekiranya melihat sosok pria dengan Hoodie hitam itu.
“Bener juga” Felix menoleh matanya bersinar karena menemukan solusi.
“lo screenshot kirim ke gue, nanti gue minta guru BP cari persatu murid yang ada di sana” tunjuk Daren pada layar komputer di depan.
“akhir-akhir ini kita sering di teror, gak tau tujuannya apa” celetuk Felix.
“ancurin 6 keluarga yang udah bersahabat dari dulu, target mereka kita—para pewarisnya” ucap Ken dengan singkat dan jelas.
“Tapi kenapa mereka punya niat buat ancurin keluarga kita, mereka punya dendam?” tanya Daren.
“itu yang harus kita cari” ucap Ken.
“ayo susul Alex” ajak Felix yang di setujui.
..........
“kenapa Ana bisa sampai makan cumi-cumi?” tanya El pada Tea setelah Ana tertidur. Setelah Tea mengabari El bahwa Ana sakit, El langsung bergegas ke sekolah.
“Kak. Mereka mulai menargetkan Ana” gumam Tea.
“Sial” kesal El.
“kedepannya kalian jangan kecolongan, apalagi kamu Tea—jangan ceroboh” El dengan serius memperingati Tea yang hanya dibalas anggukan oleh empunya.
“bang El?” suara pintu terbuka dan panggilan Ken terdengar di ruangan UKS ini.
“pelakunya gimana?” tanya El memastikan.
“proses” jawab Ken singkat.
“Kalian Fokus belajar dulu untuk Ujian Kenaikan Kelas nanti” nasehat El.