ALTEA

ALTEA
Menolong Albert



"Bajingan biadab."


"Emang ya laki mikirnya gak jauh dari ************."


"Huuu otak ************."


"Hidup lo gak jauh dari nafsu anjing."


"Itu ada apa?" Téa mencekal tangan Aryn dan bertanya.


"Woah …" Aryn menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatan, "Ayo kesana," ajak Aryn dan langsung menarik lengan Téa.


Di depan mereka banyak murid perempuan yang berkumpul sambil bersorak, entah ada apa.


"Lo tunggu di sini aja, gue kesana," Aryn berhenti dan memegang kedua bahu Téa.


"Kamu sendirian kesana?" tanya Téa mengarah ke kerumunan.


"Iya, nanti ribet kalau lo ilang atau kesenggol, keinjek, jatoh sama cewek barbar kayak mereka," ujar Aryn dan pergi menjauh.


"Eh …" Téa belum sempat untuk membalas perkataan Aryn. "Padahal lulusan sabuk hitam karate, apanya yang kesenggol," gumam Téa merengut sebal.


Beberapa saat kemudian, Aryn menghampiri Téa dengan nafas tak beraturan dan keringat di hidung.


"Kasus tadi, soal SSTV di toilet cewek itu, pelakunya ketemu!" jelas Aryn.


"Mereka," tunjuk Aryn ke kerumunan. "Murid yang gak terima kenyataan kalau tubuh mereka ke ekspos CCTV dan dijadiin bahan pelampiasan nafsu si pelaku."


"Jijik gue liat muka si bajingan itu," ceplos Aryn.


"Beneran udah ketemu? Kok bisa? Siapa pelakunya? Siapa yang kasih tau kalau dia pelakunya?" tanya Téa beruntun.


"Gak tau." Aryn mengangkat bahunya acuh.


"Ayoo." Téa menyeret Aryn untuk mendekat kembali ke kerumunan.


"Geser sedikit." Téa menyempil masuk ke kerumunan.


"Misi, misi!" Aryn mengikuti Téa di belakang.


Téa menarik Aryn agar tubuh mereka berdempetan dan berbisik, "Nama pelakunya siapa?" tanya Téa.


"Aditya Dika, XII IPS 4," jawab Aryn.


"Dia?" tanya Téa memastikan sambil menunjuk ke arah laki-laki yang sedang dipukuli para murid perempuan.


"Iya," jawab Aryn menegaskan.


"Gak good looking, bajingan, bodoh lagi, paket lengkap emang," cerca Aryn.


"Puas! iya! lanjut!! sekalian tendang bawahnya," seru Aryn kompor.


Téa meringis mendengar teriakan Aryn. "Ini mau gini terus? Gak ada yang berhentiin? Guru-guru kemana?" Téa bergumam.


Pujuk di cinta, guru BK pun tiba.


"Kalian! Berhentii! Ayo bubar, BUBAR!" Teriakan menggelegar Bu Meta selaku guru BK menghentikan kerumunan massa.


"Ayo pulang, pulang," usir Bu Meta. Dua orang rekan Bu Meta langsung bergerak membantu memisahkan Aditya dari kerumunan.


"Kasus ini biar ibu yang urus, sekarang jam pelajaran sudah selesai, kalian cepat pulang," tukas Bu Meta.


Téa mengangguk berkali-kali tanda setuju dan berbalik cepat, berlari menuju gerbang keluar sekolah.


Tunggu …


Téa berhenti berlari saat merasa dirinya melupakan sesuatu. "Aryn." Téa berbalik mencari posisi Aryn.


"Aryn!" Téa berteriak saat melihat sosok temannya yang masih berdiri di tempat tadi dengan tangan yang diangkat-angkat, menyoraki Aditya.


"Bajingan biadab, laki brengsek emang!" teriak Aryn keras, tangannya memukul-mukul udara menunjukkan betapa kesalnya ia pada seorang Aditya Dika.


Téa berlari menghampiri Aryn dan menarik kerah belakang seragam Aryn.


"Pulang!" tukas Téa tak menerima bantahan.


"Leher gue, ke cekek," protes Aryn dengan tangannya yang menepuk-nepuk lehernya.


Téa melepaskan kerah belakang Aryn dari tarikan tangannya.


"Huh, dasar," dumel Aryn pelan sambil merapikan kerah kemejanya.


...…...


Téa membuka kunci pintu dan sandi apartemennya. Setelah masuk lalu melepaskan sepatu beserta kaos kaki ke rak sepatu yang menempel di dinding.


Téa bergegas masuk ke dalam kamarnya. Meletakkan tas di meja belajar, menyalakan lampu kamar dan mencharger handphone.


Téa bergerak ke kamar mandi, mengisi air di bathtub dan memasukkan bola-bola sabun yang akan larut dalam bathtub. Kemudian dia menuju ke wastafel, mulai menggosok gigi dan mencuci muka menggunakan facial wash.


"Hah." Téa menghela napas dan menepuk-nepuk kedua pipinya.


Tangannya bergerak melucuti pakaian satu-persatu dan masuk ke dalam bathtub. Téa memejamkan matanya dan bersandar dengan nyaman.


...…...


Téa memilih piyama pink pastel untuk dikenakan malam ini.


Dia duduk di meja rias dan seperti rutinitas malainya, Téa mulai mengaplikasikan skincare seperti serum wajah, moisturizer, serum alis dan bulu mata, lip serum bahkan serum khusus untuk rambut. Badannya juga tidak lupa memakai body lotion yang dicampur dengan serum AHA.


Setelah melakukan perawatan untuk wajah dan tubuhnya, Téa mulai memeriksa tugas atau pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Tidak lupa untuk mempersiapkan alat tulis untuk jadwal pelajaran hari esok. 


...…...


"Kenapa Mi?"


"Sayang … Jangan lupa minum obatnya."


"Siap laksanakan mamiku," balas Téa semangat.


Setelah percakapan selesai, sambungan telepon terputus. Sesuai nasehat maminya, Téa membuka laci di samping tempat tidurnya, membuka botol obat dan mengeluarkan satu tablet. Memasukkan obat itu ke mulutnya dan minum dari gelas yang ada di meja.


Téa mencabut kabel charger nya. Setelah mengecek bahwa tidak ada apa-apa di handphonenya Téa berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


...…...


"Ya!" Téa berseru keras saat seorang pengendara motor menyalipnya.


Belum selesai rasa kagetnya, ada dua pengendara motor lain yang juga menyalipnya dan mengejar pengendara motor yang tadi. Bahkan, Téa sedikit oleng.


Téa berhenti sebentar, tangannya membenarkan letak helmnya. Suasana di daerah sini sepi, tidak ada kendaraan lain, di pinggir jalan hanya dipenuhi pepohonan.


"Untungnya nggak jatuh," ucap Téa dengan lega. Téa mulai melajukan kembali motornya menuju sekolah.


Di pertengahan jalan, Téa melihat kembali pengendara motor tadi. Satu pengendara motor sedang dikepung oleh dua pengendara motor lain, di sisi kanan-kiri. Kedua pengendara itu terus menendang motor pengendara di tengah. Sampai akhirnya si pengendara di tengah oleng dan jatuh. Dua pengendara motor yang menyerang langsung pergi.


"Ya ampun," Téa meringis saat melihat pengendara motor di depan jatuh dengan suara keras.


Suasana di sekitar sepi, tidak ada yang menolong pengendara motor berjaket hitam di depannya.


Akhirnya Téa berniat membantu, menepikan motornya dan melepaskan helmnya. Tangannya memegang kedua sisi penyangga tas punggung miliknya. Berjalan tergesa menuju pengendara motor itu.


"Halo, kamu… baik-baik aja?" Téa bertanya sambil mencoba mengangkat motor besar milik pengendara motor yang jatuh.


Lelaki yang dipanggil Téa itu menyahut dengan erangan pelan tanda kesakitan.


"Sebentar." Téa meraih badan lelaki itu agar bangkit dan memindahkannya ke pinggir jalan.


Setelah mendudukkan lelaki itu, Téa berusaha melepas helm yang dipakainya.


"Bisa denger suara aku? Kamu pingsan?" tanya Téa setelah berhasil melepas helm dari kepala lelaki tersebut.


"Lho, ternyata murid MHS?" Téa baru sadar bahwa lelaki ini menggunakan seragam sekolah dengan logo MHS (Maier High School).


"Lo siswa MHS?" Lelaki dihadapannya tiba-tiba bertanya dengan pelan. Téa mengangguk.


"HP gue mana?" tanya lelaki itu kembali sambil menoleh kesana kemari mencari keberadaan handphonenya.


"Itu bukan sih? Sebentar!" Téa berlari ke tempat kecelakaan tadi dan mengambil handphone yang tergeletak.


Téa kembali dengan kecewa, "Yah, handphonenya rusak," ucap Téa dan menyodorkan hp yang sudah retak kepada lelaki dihadapannya.


Lelaki itu membolak-balikkan handphone miliknya, "Sshh, sial!" tukasnya kesal.


"Sshhh." Lelaki itu tiba-tiba mengerang kesakitan.


Téa sedikit panik saat mendengar erangan kesakitan itu, "Kenapa?" tanya Téa simpati.


"Bisa anterin gue ke rumah sakit?" tanya lelaki itu.


Téa melihat jam tangan di depannya, "Udah telat," batinnya.


"Boleh, ayo!" Téa memilih untuk membantu lelaki dihadapannya. Sudah terlambat masuk ke sekolah. Jadi, lebih baik bantu antar ke rumah sakit terlebih dulu baru kembali lagi ke sekolah, biar telatnya gak nanggung. >_<


Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di rumah sakit dengan Téa yang mengantarkan lelaki itu dengan sepeda motornya.


Saat lelaki itu dipindahkan ke brankar, dia sempat berkata padanya, "Tolong bilangin Ken kalau gue kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit ini, btw nama gue Albert, gue temennya Ken. Lo pastinya tau kan Ken?" setelah itu Albert berlalu dengan brankarnya.


Téa bergumam, "Albert? Bukannya itu nama ketua beladiri Taekwondo ya? Apalagi dia emang temennya Kak Ken."


"Ya udah ah," pasrah Téa dan langsung berangkat ke sekolah.


...…...


"Kenapa bisa telat?" Tanya Bu Meta dengan menggertak kepada Téa yang berdiri tegak di bawah sinar matahari panas.


Saat baru sampai di gerbang sekolah, Téa sudah langsung diarahkan untuk parkir motor dan berdiri di lapangan sekolah bersama siswa lainnya yang juga terlambat.


Téa menggigit bibirnya bingung harus menjawab apa. "JAWAB!" Téa langsung terperanjat karena suara keras Bu Meta.


"Maaf, saya terlambat bangun Bu," jawab Téa perlahan dan menatap mata Bu Meta secara langsung. Kata-katanya terdengar sangat halus.


"Kamu murid baru bukan? Baru saja masuk ke MHS tapi sudah dapat poin karena terlambat, lain kali Ibu harap kamu jangan terlambat lagi," peringat Bu Meta.


Téa mengangguk tegas, "Baik Bu, terima kasih." Bu Meta melanjutkan pertanyaannya pada siswa lain yang terlambat.


"Semuanya, berdiri sampai pelajaran pertama habis, baru boleh masuk ke kelas, mengerti?"


"Mengerti bu."


...…...


"KAK!" Téa berteriak memanggil Ken yang yang kebetulan lewat kelasnya.


Ken menoleh saat ada yang memanggil cukup keras. "Tunggu," tahan Téa.


"Gue buru-buru." Ken tidak mau mendengar apapun dari Téa, dirinya saat ini sedang sibuk.


"Lagi cari Kak Albert kan?" pertanyaan Téa bukan hanya membuat Ken menatapnya, tapi Felix, Elzaky, Alex, dan juga Daren ikut menatap Téa dengan perasaan sedikit kaget.


"Lo tau?" Elzaky menyela Ken yang ingin bicara.


Téa mengangguk, "Kebetulan tadi waktu berangkat sekolah liat Kak Albert," jawab Téa.


Elzaky menoleh pada Ken. Ken yang paham langsung membawa Téa ke tempat yang sepi, diikuti oleh teman Ken yang lain.


"Dimana Albert sekarang?" tanya Ken.


"Kak Albert tadi dikejar dua motor terus mereka juga ngehadang dia, sempet tendang-tendangan juga. Kak Albert jatuh terus yang ngejar kabur, aku bawa dia ke Rumah Sakit. Dia juga minta aku kasih tau kalian. Handphone rusak," jelas Téa sejujurnya.


Ken dan yang lainnya saling menatap satu-sama lain. Elzaky menghela napas, "Parah?" tanyanya pada Téa.


"Gak tau pasti," jawab Téa seadanya.


"Oke, thank you udah bantu Albert dan infonya juga." Felix dengan tulus berterima kasih.


"Iya," Téa hanya mengangguk dengan canggung.


"Aku ke kelas ya," pamit Téa dengan senyum lebarnya dan berbalik pergi.


Akan tetapi, Ken menahan tangannya lalu memasukan ikat rambut ke dalam kepalan tangan Téa.


Ken langsung berbalik pergi mendahului temannya yang lain.