
Tea mulai mengoleskan mentega ke teflon, setelah itu ia letakan roti dan membalikkannya hingga roti teroles mentega. Tea melakukannya secara berulang hingga 6 buah roti tawar sudah ia masak dengan di olesi mentega.
Ken memotong daun selada beberapa lembar, menyesuaikan bentuk roti tawar. Memotong tomat hingga berbentuk lingkaran dan tipis-tipis.
Tea memasak 3 telur mata sapi, tak lupa membalurkan garam dan lada di atas telur agar lebih berasa. Mereka berdua mulai menyusun semuanya di atas roti sesuai urutan; roti, mayonaise, selada, telur, tomat, selada dan dua lembar keju lalu di tutup dengan roti. Jadilah, roti sandwich buatan Tea dan Ken.
Semuanya telah selesai masak, kecuali Ana yang terlihat fokus membuat adonan untuk macaron-nya. Begitulah ketika orang sedang melakukan hal yang disukai, dia tak akan terganggu dengan sekitar dan tetap fokus melanjutkan kegiatannya.
“kalian sarapan dulu, gue lagi fokus” ucapnya tanpa menoleh.
“yaudah, Ana nanti jangan lupa sarapan. Buat oatmeal aja yang simpel. Jangan sampai aku telepon bang El, laporin kamu yang gak mau makan” nasihat Tea disertai ancaman.
“iya ya ya, sanaaa” usirnya gemas.
..........
“macaron nya sudah jadiiii” suara Ana yang menggelegar di ruang tamu lalu menampakkan sosoknya sambil membawa nampan berisi macaron dalam jumlah banyak.
“Buset” kaget Felix melihat macaron berwarna warni yang terlihat banyak.
“Mau dihabisin siapa itu?” tanya Alex
“dih... Lo gak mau juga gak papa, masih ada banyak orang yang mau cobain macaron lezat buatan gue” cibirnya dan menyimpan nampan di meja ruang tamu.
“siapa yang bilang gak mau?” heran Alex lalu mengambil satu macaron berwarna pink dan memasukkannya ke dalam mulut. Kepalanya mengangguk-angguk seperti sedang menilai.
“Sok iya” cibir Aryn yang ikut mencomot macaron, sambil mengunyah macaron-nya dia mengacungkan jempol sebagai tanda bahwa makanan ini enak.
“enak banget, Ana jago masak ya” ucap Tea di sela-sela mengunyah macaron.
“Lo juga bisa jago masak kalau mau ikutan belajar masak kayak gue dulu” ucap Ana santai dan mencicipi masakannya.
“Wah emang ya skill gue itu di masak” gumamnya setelah mencicipi macaron buatannya sendiri.
“di sini kita mau ngapain aja?” tanya Tea yang di balas kendikan bahu dari Ana diikuti Aryn. Tea menatap Ken menunggu sebuah jawaban.
“sebentar, sekolah kapan dimulai?” tanya Ken pada Daren.
“lusa” jawab Dareen yang sibuk mengunyah macaron.
“berenang?” tanya Aryn
“oh mau berenang sekarang? Ayo” ucap Tea santai.
“tapi aku gak bawa baju renang” lanjutnya.
“tenang aja, gua bawa dua soalnya bingung mau pake yang mana kemaren” ucap Aryn.
“Gimana?” tanya Felix yang di setujui saja oleh para lelaki.
..........
“Hahhhh” Ana muncul dari dalam air dan langsung bernafas sebanyak mungkin, lalu diikuti oleh Aryn kemudian Tea muncul.
“Oke!” ucap Alex yang merekam lalu sedikit mundur menghindar dari cipratan air.
Setelah para perempuan sepakat akan challenge Siapa yang terlama bertahan di air? 3 kali berturut-turut Aryn memenangkan challenge.
“Ha ha ha” suara terdengar, menampilkan senyuman satu juta dollarnya.
“udah gue cape” nyerah Ana yang tadinya sangat berambisi dan percaya akan menang.
“Payah” ejek Felix.
“wah, boy... Kalian udah ngapain aja?” balas Ana, karena dari tadi Ken dan yang lainnya belum turun ke kolam.
“Kalian lomba renang oke? Tapi harus gaya punggung, nanti yang kalah harus cuci piring... Tanpa bantuan siapapun?” tantang Tea yang ingin melukai harga diri laki-laki, you meant laki-laki kaya raya cuci piring?—Pastinya dia sudah memastikan bahwa Ken tidak akan kalah. He is multitalent.
“Siapa takut” ucap Alex
“emang Lo yakin gak akan kalah?” tanya Daren.
“enggak” jawaban dari Alex langsung membuat mereka tertawa.
“Tapi setidaknya gue masih berkemungkinan yang ketiga” lanjutnya meyakinkan diri.
Mereka bertiga bersiap di posisi Start, dengan posisi badan membelakangi karena ini adalah lomba renang gaya punggung.
“oke! 1 2 3 mulai...” Tea berteriak dan semuanya langsung mulai melakukan gerakan awalan dari renang gaya punggung.
The real! Felix memimpin dengan ekspresinya yang terlihat konyol, terlihat sekali ambisi ingin menang darinya. Lalu diposisi kedua ada Ken yang masih bisa berenang dengan ekspresi cool nya. Disusul Alex dan Daren yang tidak bisa berenang gaya punggung, sesekali tenggelam lalu muncul lagi, mereka berdua tampak fokus berenang dengan wajah konyol.
“hahaha, parah! Ngapain coba komuk nya kaya gitu?” tawa Aryn menggema.
“Tea, liat Ken masih bisa cool aja” Ana menggelengkan kepala heran, wajah Ken menjadi angin segar di mata mereka bertiga.
“My boy” girang Tea dan terkekeh geli.
“terima nasib aja” Aryn berucap tanpa menoleh dan fokus melihat Daren.
“Hahh” Alex muncul di permukaan setelah terjengkang dan gagal berenang gaya punggung untuk yang kesekian kali. Melihat Daren yang mendahuluinya beberapa langkah dia terlihat panik dan kembali mencoba berenang gaya punggung kembali.
“Sial, parah” stres Daren.
Setelah sampai ujung mereka kembali berenang menuju tempat Start yang sekaligus menjadi tempat Finish. Tak perlu berpikir rumit, kalian tinggal memilih siapa diantara Alex atau Daren yang akan selamat dari hukuman cuci piring?
Yeah!!!
Dewa keberuntungan kini sedang berpihak pada Alex, buktinya dia berhasil sampai finish sebelum Daren. Hanya berbeda tiga langkah tapi sangat menentukan siapa yang akan mencuci piring kotor bekas sarapan mereka. Apalagi mengingat kegiatan masak Ana yang membawa segaban peralatan masak.
“Whoaaa” ucap Aryn tak menduga Daren kalah. Semuanya bertepuk tangan akan pertunjukan konyol dari Alex dan Daren.
Daren mengacak-acak rambutnya yang basah, frustasi— kepalanya mulai berimajinasi bagaimana dia akan mencuci piring. Daren mendekati Aryn, begitupun Ken yang beranjak duduk di depan Tea.
“Lap” ujarnya menggerakan bagian kerah kaos putih yang basah berharap akan segera kering. Tak mungkin.
“rambutnya kaya gini?” tanya Tea sambil mengeringkan rambut Ken dan menanyakan tentang gaya potong rambutnya yang baru disadari.
“iya, kenapa? Gak suka hm?” tanyanya mengacak rambut.
“Enggak, kena air jadi terlihat lebih panjang” jelas Tea, tangannya menyingkirkan handuk kesamping lalu mengalungkan tangannya ke leher Ken.
“Dulu biasanya Ken yang di posisi ini kan? Kepangin rambut aku” ucapnya kepalanya bertumpu di atas kepala Ken.
“masih ingat?” tanya Ken mengerutkan dahi.
“pasti dong” ucap Tea tersenyum.
“ayo masuk, semuanya sudah mengganti baju. Pasar sore kan?” ajak Ken bangkit dan menggenggam Tea agar beranjak ke dalam, Tea hanya mengangguk sambil menggembungkan pipinya.
Rencana selanjutnya, mereka semua akan pergi ke pasar sore di daerah sini. Karena disini terbilang tempat wisata, ada sebuah tempat dimana banyak yang berjualan jajanan khas dan beberapa barang sebagai oleh-oleh.
..........
Tea bersiap dan memakai hot pans hitam dengan pola garis garis putih dibagian samping hot pans, dipadukan dengan kaos yang nge-fresh di badannya berwarna putih dengan pola hitam. Tambahan dengan topi putih dengan logo kecil didepannya.
“Perfect” gumamnya berdiri didepan cermin, sesekali berputar.
Handphone di tas selempang-nya tiba-tiba bergetar, masuk sebuah panggilan telepon dari nama ‘grandma’, baru saja akan mengangkatnya—teriakan dari luar terdengar.
“Tea, cepet turun” teriak Ana.
“iya, sebentar” balasnya berteriak. Tea mulai mengangkat panggilan dari grandma-nya.
“hallo” sapa Tea dengan suara pelan, handphone-nya sudah dia dekatkan dengan telinga agar suara dari sebrang sana terdengar jelas.
“Tea...” suara perempuan paruh baya terdengar memanggil Tea.
“ya grandma” jawabnya
“Apakah kamu senang... Bisa kembali ke indonesia, bertemu teman-temanmu, keluargamu?” tanyanya
Tea menelan ludah,
“Ya grandma, Tea senang bisa bertemu bang El, Ana, Ken dan yang lainnya” jawab Tea.
“baguslah, sayang” ucap Grandma Cia, Glachia Leonard, istri dari Sakti mardhika Leonard. Mereka adalah kakek dan nenek dari Tea dan El. Mereka tinggal di Korea, tempat kelahiran dari grandma Cia.
“Kembalilah ke Korea” lanjutnya
“Iy— Apa?” kaget Tea.
“Ah Grandma salah, maksudnya kembali dulu kesini. Tantemu sudah sadar dari komanya kemarin” perjelasnya.
“Tante... Lina? Benarkah? Grandma tidak bohong?” tanya Tea setelah sadar dari rasa kagetnya, matanya berlinang air mata.
“Ya, maka pulanglah kesini sebentar Tea” ucap Grandma Cia yang juga bahagia akan melihat cucunya kembali.
Saat akan menjawab, ketukan pintu dari luar mengalihkannya, “yaa?” tanya Tea memastikan siapa yang mengetuk.
“kamu gak papa? Kenapa lama?” suara Ken terdengar.
“ah Ken... Sebentar, Ken tunggu dulu di bawah ya!” ucapnya setelah mendekat ke pintu kamar mandi agar Ken mengiranya sedang di kamar mandi.
“Oke” ucapnya dan terdengar langkah menjauh.
“Huh... Selamat” ucap syukur Tea.
“Grandma Tea sedang liburan di Bogor, besok Tea baru pulang ke Jakarta. Jadi sepertinya Tea akan ke Korea sesampainya di Jakarta” ucap Tea kembali ke panggilan Telepon.
“Baiklah, hati-hati Tea... Banyak bahaya disana” peringatnya lalu terdengar bunyi ' Tut’ tanda sambungan sudah terputus.