ALTEA

ALTEA
Menjenguk Téa dan Albert



"Gimana dok?" Ken bertanya kepada dokter yang menangani Téa.


"Pasien punya darah rendah, sepertinya akhir-akhir ini dia keseringan begadang dan kecapean. Sampai mimisan dan pingsan. Nanti saya resepkan obat penambah darah. Memang seharusnya orang yang punya darah rendah itu harus rutin minum obat penambah darah," jelas sang Dokter.


"Baik dok, Terima kasih," ucap Ken.


"Ya, sama-sama." Dokter itu berlalu pergi.


Ken masuk ke ruangan dan melihat Téa yang sudah sadar. Téa setengah berbaring, tangannya bergerak meraih gelas air minum.


Ken menghampiri Téa, berniat membantu mengambil air minum. Bersamaan dengan itu, tangan Téa yang memegang gelas air minum gemetar dan gelasnya hampir jatuh. Ken langsung mengambil alih gelas itu, tapi sebagian air di gelas sudah tumpah ke pakaian Téa.


"Yahh." Téa mengeluh. Ken menyimpan gelas air minum di meja kembali. Kemudian mengambil tisu dan mengelap pakaian Téa yang basah.


"Apa susahnya minta tolong hm?" Ken bertanya sambil tetap mengelap bagian depan pakaian Téa.


"Iyaa, maaf."


"Udah, biar aku aja kak …" Téa mencoba mengambil tisu yang dipegang Ken.


Ken menjauhkan tisu di tangannya dari Téa dan tetap mengelap baju depan Téa yang basah, bahkan sampai leher Téa pun Ken lap.


"Ken … ASTAGAA." tiba-tiba Alex, Felix, Zaky dan Daren masuk ke ruang rawat Téa. Alex berteriak kaget melihat Ken dan Téa di posisi yang sangat dekat, apalagi tangan Ken memegang dada Téa.


"Ah …" Téa kaget dengan teriakan Alex dan mendorong Ken untuk menjauh darinya.


Ken dengan acuh mengambil tisu bekas yang dipakai untuk mengelap baju basah Téa dan membuangnya di tempat sampah yang dekat dengan ranjang pasien. Dia langsung duduk seperti biasa.


Ken menekan tombol di dinding samping kepala ranjang pasien. "Tolong minta baju pasien yang baru dan bawa makanan untuk pasien," ujar Ken.


Teman-teman Ken yang datang langsung duduk di sofa. Alex menyipitkan matanya menatap Ken dan Téa secara bergantian.


"Bau-bau cinta bersemi," ucapnya pelan.


"Lo kenapa?" tanya Felix pada Téa.


"Oh iya, maaf ya gak ikut kumpul sampai akhir, belum ijin juga, tadi tiba-tiba aku mimisan terus pingsan. Untungnya ada Ken yang bantu," jelas Téa.


"Gak papa," ucap Zaky.


"Dari awal juga gue inget-inget muka lo emang pucet banget. Tadinya mau nanya malah keburu pingsan," ungkap Felix. Daren mengangguk setuju karena memang dia menyadari bahwa wajah Téa pucat saat sedang berlari.


"Albert dirawat di sini juga kan? Kita rencananya mau ke ruang rawat dia, mau sekarang aja?" tawar Alex. Yang lainnya mengangguk setuju.


"Mau ikut," pinta Téa.


"Masih sakit kan? Lain kali aja," terang Daren.


"Nggak kok, udah baikan, kata dokter juga aku gak perlu dirawat," jelas Téa.


"Iya, boleh," jawab Ken. Téa tersenyum saat mendapat izin untuk ikut menjenguk kakak kelasnya itu.


Mereka berjalan menuju ruang rawat Albert yang ada di lantai tiga.


"WOI …" Alex membuka pintu ruang rawat Albert dan mengejutkan penghuni disana.


Albert yang sedang memegang remote televisi dan berniat untuk memindahkan channel tv malah secara tidak sengaja melempar remote tv itu karena kaget.


"Alex!" tukas Albert geram dan melemparkan bantal yang ada di pangkuannya.


"Santai broo," sahut Alex dan menangkap bantal yang dilempar Albert.


"Eh, ada Téa " perhatian Albert teralihkan karena melihat Téa di antara teman-temannya.


"Kok pake pakaian pasien, kenapa?" tanya Albert khawatir.


"Tadi pingsan kak, kecapean doang," papar Téa sambil tersenyum lebar.


Téa menurut, "Kakak gimana keadaannya? Udah baikan? Yang sakit apa?" tanya Téa.


"Kaki kiri sama lengan kiri terkilir, yang lainnya cuma baret sama memar dikit," terang Albert.


"Lo ditabrak siapa sih?" tanya Felix.


"Mana gue tau, mereka aja ngejar-ngejar gue tanpa ngomong apa pun, mukanya gak keliatan karena pake helm," balas Albert.


"Punya musuh siapa aja? Bokap-nyokap udah tau?" tanya Daren.


"Seinget gue, gue gak punya musuh, ortu gue udah tau, mereka juga lagi cari pelakunya," jelas Albert.


"Kira-kira tujuan mereka celakain lo apa ya?"


...…...


"Hari ini pelajaran apa aja?" Bagas masuk ke kelas X IPS 1 dan menyimpan tas di kursi barisan belakang.


"Emang lo sekarang gak bawa buku pelajaran sama sekali ha?" tanya Rita dengan kesal.


"Ah gue nyatet di buku mana aja, campur. Meskipun gue udah pisah buku setiap mata pelajaran, kalau waktu pelajaran matematika terus bukunya gak dibawa, ya pake buku pelajaran yang lain. Bawa buku ngasal aja, gak sesuai mata pelajaran. Ribet kalau harus liat jadwal pelajaran terus nyiapin buku sesuai pelajaran ke tas," tandas Bagas.


"Serah lo." Rita membuang muka dan kembali menghadap ke depan.


"Jadi sekarang pelajaran apa aja?!" tanya Bagas dengan ketus.


"Matematika, B. Indonesia, Geografi," jawab Aryn dengan ekspresi jengah.


"Téa, liat bias gue ganteng banget," seru Aryn sambil menyodorkan hp nya yang baru dipasang case dengan gambar chanyeol EXO.


Téa tersenyum geli melihat case hp Aryn, "Iya ganteng," ungkap Téa.


"Nah kan." Aryn tersenyum puas dan mencium case hp barunya.


"Lo juga Kpopers juga kan?" tanya Aryn memastikan.


"Iya, aku suka lagu-lagunya blackpink. Semua membernya juga fashionnya aku suka," jawab Téa.


"Mantap, mantap." Aryn mengangkat jempolnya.


"Hari ini gak ada PR kan," tanya Téa memastikan sambil menutup buku yang tadi dibaca olehnya.


"Eum gue semalem periksa gak ada sih," jawab Aryn.


"Bagus kalau gitu." Téa tersenyum lebar.


Di belakang mereka berdua, ada beberapa siswa yang sedang mengobrol. Ada beberapa obrolan yang dia dengar.


"Korea Selatan itu punya sisi gelapnya tau … di Korsel Beauty is everything, gak usah heran banyak masyarakat yang operasi plastik, remaja aja ngelakuin operasi plastik udah biasa," kelakar Aurel.


"Pantes pada ganteng orang plastik semua," ejek Zaidan.


Laura menoyor kepalanya, "Yeuh emang pada dasarnya mereka cantik-cantik sama ganteng-ganteng terus tambah sempurna karena operasi," sanggah Laura.


"Di Korsel tuh yang jelek hidupnya susah, dibuli sana-sini, dapet pekerjaan susah. Jadi operasi plastik udah kayak hal wajib kalau misalkan mereka ngerasa jelek banget," terang Ami yang duduk di samping Laura.


"Tapi bukan cuma Korsel aja yang sisi gelapnya ngeri banget. Lo tau? salah satu pendapatan terbesar terbesar Jepang asalnya dari industri film dewasa. Film porno mereka terkenal banget. Bahkan artis-artis yang murni terjun ke entertaiment buat unjuk akting biasa tuh suka dilecehin, mau sama staffnya, produser, direktur, atau lawan mainnya pun," jelas Ami sambil bergidik ngeri.


"Ih iyaa, kemarin gue scroll tiktok ada yang buat vt tentang seorang artis jepang lagi live instagram nangis-nangis cerita dia dilecehin sama produsernya dan dia terpaksa ngelayanin si produser itu," cerita Laura.


"Sisi gelap negara apa lagi ya? Eum India, di sana masih nerapin sistem kasta di kehidupan sehari-hari. Terus di Amerika, Senjata api tuh dijual bebas, jadi marak kasus penembakan," ungkap Laura.


"Ngeri-ngeri ya …" bisik Aryn yang juga mendengar obrolan teman sekelasnya di belakang.


"Iya," balas Téa setuju dengan suara sangat pelan.