ALTEA

ALTEA
#16# Korea Selatan—



“Anak nakal” ucap grandpa Sakti sambil mencubit pipi Tea.


“Ah! Grandpa...” rengek Tea meminta grandpa Sakti untuk melepas cubitan di pipinya.


“Untungnya Calo memberitahu grandma kalau kamu sakit Tea” ucap grandma yang tidak merasa kasihan sama sekali melihat cucunya di cubit keras oleh suaminya sendiri.


“iya Tea salah, Tea minta maaf... Lepas grandpa...” bujuk Tea mengeluarkan suara imutnya.


“Baiklah” pasrah grandpa yang merasa sedikit kasihan.


“keluarga kamu di sana sudah kalang kabut mencari kamu, Tea sayang...” ucap grandma Cia.


“huhuhu, Tea minta maaf, nanti Tea telepon mommy” janji Tea menunjukkan jari kelingkingnya.


“sudahlah, keadaan kamu sudah membaik?” tanya grandma Cia sambil mengelus lembut kepala Tea dengan penuh kasih sayang.


“Sudah, Lihat! Tea segar bugar grandma” ucap Tea penuh semangat, menunjukkan keadaannya, badannya berputar-putar dan sedikit melompat menunjukkan bahwa dirinya sudah sehat.


“Ayo kita makan siang dulu” ajak grandpa Sakti.


Mereka makan siang dengan dipenuhi suara Tea yang berbicara banyak hal, mulai dari yang tak penting sampai pembicaraan serius mengenai ucapan grandma Cia waktu di telepon.


.......


...


“Tante...” Tea masuk ke tempat Tante Lina berada.


Terlihat sosok perempuan yang memakai pakaian putih duduk di kursi roda menghadap jendela yang menampilkan pemandangan taman mansion.


Ini adalah ruangan tempat tinggal tante Lina dalam beberapa tahun, dalam keadaan koma. Ruangan luas dengan difasilitasi alat-alat kedokteran yang lengkap untuk menunjang hidup Tante Lina semasa koma.


Terlihat Tante Lina menatap bayangannya di jendela. Sebuah tatapan sendu dia layangkan, sosoknya terlihat tanpa ada antusias hidup.


“Tea...” lirihnya berkaca-kaca. Suara pertama yang dikeluarkan Tante Lina sudah membuat Tea menangis.


“Tante... Maafin Tea... Hiks” tangisnya meminta maaf, pandangannya menunduk.


“Tidak sayang, yang seharusnya minta maaf itu Tante. Kalau saja 8 tahun yang lalu kamu tidak ikut Tante, kamu akan baik-baik saja, kamu tidak perlu menutupi ini semua sampai sekarang. Kamu... Kamu sedih bukan?” Tante Lina mengeluarkan seluruh unak-uneknya yang sudah ditahan semenjak bangun dari koma kemarin.


Tante Lina mencoba menggerakkan roda kursinya untuk berputar, Tea menghampirinya dan bersimpah di pangkuannya. Menangis kencang mengeluarkan segala rasa gundah di hatinya, kepalanya menunduk, air mata langsung membasahi celana Tante Lina.


“Shutt sayang, maafkan Tante” Tante Lina mengusap surai Tea dan mencoba menenangkan Tea yang masih menangis sendu di pangkuannya.


Tea mendongak, “Tante ayo kita selesaikan semuanya” ajaknya menunjukkan tekad serius.


“apakah harus? Kenapa kamu yang harus menderita, yang sudah terjadi biar terjadi. Tante tidak menginginkan apapun, hanya ingin kamu bebas” jelas Tante Lina.


“tidak” Tea menggeleng tegas.


“Ini semua tidak benar, ini tidak se-sepele yang Tante pikir. Setelah kejadian itu, kebenaran mulai bermunculan, dan itu sangat menyakitkan” ungkap Tea.


“maksud kamu?” tanya Tante Lina tidak mengerti.


“Tea bukan anak kandung Mommy Vita dan Daddy Exel. Tea itu bayi perempuan dari keluarga Kendrik yang dulu hilang. Belum lagi, Alex yang ternyata kembaran Ana” ucap Tea dengan nada meninggi.


“APA?” tanya Tante Lina shock.


“mungkin grandma hanya memberitahu Tante bahwa setelah Tante koma, berita tentang perselingkuhan Tante beredar dan paman Rizal marah besar dan memutuskan hubungan tanpa berbicara langsung dengan Tante. Tapi... Tapi ini tidak sesederhana itu, Tea mengerti semuanya” perjelas Tea.


“pelaku itu, paman jahat itu yang menyebarkan berita bohong soal perselingkuhan. Tapi motifnya apa? Manfaat untuknya apa? Dia tidak menginginkan Tante, tapi keluarga kita... kehancuran dari 6 keluarga yang sudah bersahabat lama (Kyler, Kendrik, Leonard, Maier, Smith dan Maheswari)” lanjut Tea menggebu-gebu.


“tante... Ayo ceritakan semuanya” ucap Tea memaksa.


“tolong ceritakan dengan lengkap semua kejadian yang terjadi waktu kita di culik” pinta Tea dengan binar mata berharap.


“Baiklah” dari sana semua cerita lengkap dan alasan dari kejadian beberapa tahun lalu terungkap.


.......


...


Kejadian sebelum Tea kecelakaan—8 thn yg lalu


“grandpa... Tea ingin jalan-jalan dengan Tante Lina” Tea kecil menarik-narik ujung pakaian grandma Sakti.


“tunggu sebentar oke?” balas grandpa dengan lembut.


“Oke” jawab Tea dengan suara lucunya.


Tak lama, seorang wanita cantik datang menghampiri dan memanggil nama Tea.


“Tea...” panggil Tante Lina.


“itu tantemu, ayo” ajak grandpa Sakti berniat menggandeng tangan Tea, namun tak sempat karena Tea kecil sudah berlari memeluk Tante Lina.


“ukhh, kamu semakin berat sayang” keluh Tante Lina dengan senyum gelinya sambil mengangkat Tea—menggendongnya.


“paman, Lina berangkat ya” ijinnya pada grandpa Sakti, tangannya bergerak mengacak rambut Tea lalu berpamitan pada grandpa Sakti.


“hati-hati” peringat grandpa Sakti yang langsung diangguki Tante Lina.


Karlina Maier, adik dari Thomas Maier (papa Dareen) dan Dion Maier, atau bisa dikatakan putri bungsu dari Victor Ares Maier dan Regina Keith Maier.


“kamu ingin di depan atau belakang?” tanya Tante Lina saat akan menaiki motor.


“Tea ingin di depan” ucap Tea mengangkat tangannya meminta naik motor.


“baiklah” Tante Lina mengangkat Tea agar duduk di jok depan motornya, dia sendiri langsung naik dan menyalakan motor—bersiap berangkat menuju tempat camilan yang biasanya berjejer di pinggir jalan.


Saat di perjalanan, di jalan yang sepi tiba-tiba beberapa motor dan sebuah mobil hitam dari belakang mengejar motor mereka. Tante Lina mempercepat kecepatan motor namun mereka juga terlihat mempercepat kecepatannya mengejar motor Tante Lina.


Sampai... Dua motor hitam besar mendempet motor yang di kendarai oleh Tante Lina, Tea yang melihat itu panik dan ketakutan. Ada 4 orang pria berbadan besar dan berseragam hitam yang menaiki 2 motor yang mendempet mereka.


“siapa kalian?” gertak Tante Lina yang masih mencoba fokus mengendarai motornya.


“berhenti” seseorang di antara mereka berucap, kakinya mendorong badan samping motor Tante Lina membuat hilang keseimbangan dan jatuh.


“Akhh” pekik Tea dan Tante Lina saat jatuh, lalu mereka langsung pingsan.


Mobil dan motor yang mengejar mereka ikut berhenti dan beberapa orang turun dari mobil untuk mengangkat Tante Lina dan Tea masuk ke dalam mobil.


“siapa anak ini?” seorang pria dengan wajah sangar yang duduk di sebelah kemudi bertanya setelah menengok ke belakang melihat ada sosok perempuan kecil yang bukan termasuk sasaran mereka.


“dia anak kecil yang ikut bersama target kita” seseorang menjawab pertanyaan dari pria sangar itu.


“Bawa juga motornya” lanjutnya setelah melihat motor yang tergeletak di jalan. Seorang pria cungkring yang tadinya sudah naik di jok belakang motor rekannya langsung turun dan mengambil alih motor Tante Lina.


....


“Eungh” lenguhan anak kecil terdengar di sebuah ruangan gelap dan kumuh.


“Ini di mana?” tanya Tea entah pada siapa. Ya, dia Tea kecil yang diculik bersama Tante Lina, namun di sekap di ruangan yang berbeda.


“Tante Lina...?” Tea mulai menyusuri ruangan yang di tempatinya sambil mencari tantenya yang ternyata tidak ada bersamanya.


Tea mendekati pintu yang tertutup dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian, meskipun dia masih kecil tapi sepertinya Tea bisa di katakan orang yang penuh waspada dan mengerti keadaan yang memang tengah genting.


Lihatlah, gadis kecil ini tidak menangis, berteriak memanggil tantenya atau pun menggedor pintu di ruangannya agar di buka. Melainkan mencoba menguping suara di luar dari pintu yang tertutup untuk mengetahui apakah ada orang di luar sana.


Setelah memastikan bahwa dirinya tidak mendengar suara sedikit pun di luar, perlahan-lahan Tea membuka pintu sedikit dan mengintip.


“Hah, Tea harus apa? Apa Tea cari Tante dulu?” tanyanya pada diri sendiri dengan perasaan gelisah. Mempertimbangkan jika dia tetap disini bagaimana dengan tantenya? Kalau mencari tantenya apakah akan ketahuan si penculik? Kalau kabur untuk mencari bantuan, dia akan meminta bantuan pada siapa? Sedangkan dia tidak tahu benar letak dirinya di sekap! Lalu, buruknya dia tidak membawa hp.


“Tea cari Tante aja” ucapnya memutuskan, meskipun beresiko tapi Tea khawatir dengan keadaan tantenya.


Tea berjalan pelan dengan ragu, tentunya Tea kecil saat itu sangat ketakutan. Setelah beberapa saat dia akhirnya menemukan tantenya yang dikurung di kamar, keadaan kamar ruangan tantenya di sekap terbilang lebih baik dari ruangan tempatnya disekap yang bau, kotor, sumpek dan gelap.


“Tante...” bisiknya saat masuk.


“Tea” Tante Lina terlihat kaget, karena dari awal dia menunduk dan menutup mata berpura-pura belum sadar. Tangan dan kakinya terikat, terutama tali di bagian tangannya terhubung dengan tiang yang ada di samping tempat tidur. Aneh rasanya... Untuk apa tiang di kamar bukan?


“Pergi Tea, cepat!” Tante Lina memerintahkan Tea untuk segera kabur—tampak panik jika ada seseorang yang datang.


“nggak mau” Tea menangis pelan.


“Sayang... Cepatlah, di sini bahaya” Tante Lina mencoba membujuk Tea.


“Tidak! Tidak! Tante ayo kita pergi dari sini, Tea ingin bertemu grandpa. Tea harus beri tahu Daddy, mereka jahat! Harus di hukum” Tea menggeleng menolak perintah tantenya. Wajah cantik nan imut itu terlihat memerah dan berlinang air mata.


“jangan, pergi Tea—Tante mohon” Tante Lina menggeleng meminta Tea agar tidak memberi tahu siapapun, entah apa alasannya.


Suara langkah kaki yang terdengar membuat mereka berdua kalang kabut, “Tea. Sembunyi di pojok sana cepat, jangan pernah bersuara atau kamu akan tertangkap, mengerti? Bukankah Tea ingin segera pulang bertemu daddy-mommy, grandpa-grandma dan Ken? Cepatlah bersembunyi” paksa Tante Lina mencoba mendorong Tea dengan badannya.


Tea mengikuti perintah tantenya dan berdiri merapat di dinding pojok agar tidak terlihat, ruangan di sini memang gelap tanpa cahaya lampu—siapa pun jika tidak melihat sekitar dengan teliti tak akan sadar bahwa ada sosok kecil dipojok sana.


Suara pintu terbuka membuat Tante Lina mengalihkan pandangannya dari Tea agar tidak ada yang curiga, di pojok sana Tea tercekat menutup mulut—mencoba menahan tangisan.


“hai... Long time no see sayang” suara seorang pria. Wajahnya tidak terlihat oleh Tea namun dapat di pastikan wajah pria itu terlihat oleh Tante Lina.


Disana... Lina tercekat seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya, Aditya Christiano—temannya yang baru mengungkapkan perasaan cinta tersembunyi padanya, beberapa waktu lalu.


“Kamu...” sepertinya Lina tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya.


“ada apa? Di mana tunangan terkasihmu sayang?” tanyanya terkekeh.


“karena kamu menolak ku, maka tidak ada alasan lain untukku menolongmu dari sebuah pembalasan dendam Lina” tekannya menatap tajam pada Lina.


“pem-balasan dendam?” tanyanya pelan tak mengerti.


“sudahlah”


“Adit...” ucap Lina pelan saat Aditya mengusap dagunya perlahan, sampai...


“Akhh” mencengkeramnya.


“aku tidak bisa memilikimu, itu berarti dia juga tidak bisa memilikimu sayang” ucapnya menyeringai. Dari sana...


Sesuatu yang tercela dilakukan oleh seorang Aditya Christiano pada Lina, di hadapan anak kecil di bawah umur yang menutup mulutnya menahan tangis melihat kekejaman pria asing pada tantenya.


Pemerkosaan.


Bukankan tadi dia merasa aneh, kenapa ada tiang di kamar? Ini jawabannya, mungkin di sini tempat dia biasanya melakukan kegiatan tak bermoral pada wanita.


Meskipun Lina memberontak dan menangis keras, itu tidak ada gunanya. Di sela itu, tatapan Tante Lina mengarah padanya—mengirim kode dengan muka berlinang air mata dan sakit, agar segera pergi.


Tea menangis bingung, pergi ke mana? Di lantai satu banyak penjaga yang sedang asik mengobrol terbukti dengan terdengarnya gelak tawa yang masuk ke telinganya, mungkin tadi dia beruntung bisa bertemu tantenya karena tidak ada yang berjaga di lantai dua.


Akhirnya... Diam-diam Tea keluar dari kamar terkutuk itu dan menuju ruangan tempatnya tadi dikurung, mencoba melompat lewat jendela.


dan...


“akhh” Tea berhasil melompat dengan kakinya yang terasa amat sakit—mungkin terkilir, pelipisnya terluka mengeluarkan darah, semua anggota badannya terasa sakit.


“grandpa... Sakit” keluhnya mengadu pada grandpa yang tidak ada di sisinya, dia mencoba bangkit dan berlari kabur menjauhi area gedung terbengkalai yang dipakai untuk menyekapnya.


Ternyata lokasinya langsung menghadap jalan, sayangnya jalan ini jarang di lewati kendaraan. Tidak ada rumah, hanya pepohonan yang membentang ke kedalaman hutan.


“Tea harus apa?” tanyanya bingung, badannya terasa sangat lemas.


Beruntung setelah menunggu beberapa saat, dia melihat sebuah mobil taksi—dengan nekat Tea berdiri di tengah jalan, meminta mobil untuk berhenti.


“Astagfirullah” suara kaget seorang bapak-bapak yang ternyata supir taksi, baru akan berbicara—Tea pingsan tergeletak dengan penuh luka.


Untunglah, ternyata supir itu baik hati menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit, saat sadar... supir itu juga membantu Tea untuk menelepon grandma-nya.


Flashback off


.......


...


“Tea harus pulang sekarang” ucap Tea pada grandpa-grandma dan Tante Lina.


“kenapa tiba-tiba?” tanya Tante Lina dengan raut sedih tidak mau ponakan tercintanya segera pulang.


“Besok Tea harus sekolah”


“Tea juga kesini kabur dari semua orang” lanjutnya sambil meringis mengingat kelakuan nakalnya sendiri, pastinya saat pulang—dia harus siap kena marah dari Kakak dan orang tuanya. Poor you Tea


“Dasar” cubit grandma Cia melihat tingkah Tea yang tidak menyesal karena kabur.


“ya ampun” Tantenya pun geleng-geleng sudah membayangkan bagaimana marahnya Exel dan Tante Vita.


“Calo sudah menyiapkan privat jet, jaga kesehatan kamu—hati-hati disana” nasehat grandpa Sakti.


“siap”


“jangan memaksakan Tea, jangan ambil tindakan gegabah—cukup cari tahu motif mereka itu apa dulu!, Mengerti?” peringatnya yang langsung diangguki Tea berulang kali.