ALTEA

ALTEA
#18# Kalau bisa pakai uang orang lain kenapa harus pakai uang sendiri,hemat dong



Tea mengetuk kepalanya dengan pulpen berulang kali berpikir bagaimana cara menyelesaikan soal di hadapannya. Beberapa saat setelahnya, Tea menyimpan buku dan penanya lalu mendekati Ken—memeluknya dan menaruh dagunya pada bahu Ken.


“Ken” panggil Tea.


“kenapa?” tanya Ken menoleh.


“kalau nanti nilai aku bagus, hadiahnya apa?” tanya Tea mesem-mesem.


“hadiah yang kamu incer apa?” tanya Ken yang sudah hafal bahwa Tea mengincar sesuatu dan mencoba membuatnya memberi barang yang dia incar.


“Yeay! Sebentar” pekik Tea yang merasa di beri lampu hijau dalam proses meminta hadiahnya. Kakinya melangkah mengambil Tas dan duduk kembali di samping Ken, tak lupa kepalanya yang terbiasa menyender pada Ken.


“ini daftarnya, please... ya?” Tea mengeluarkan sebuah gulungan kertas berwarna toska dan memasang puppy eyes nya pada Ken agar permintaannya di turuti.


“ada beberapa barang yang aku incer, tapi kebanyakan skincare dan bodycare. Liat ini! Gambarnya kaya gini, sepaket Sheet mask yang collab dengan disney—namanya primer Lipomask—dalam satu paket ada 3 warna, ungu, Lilac dan emas—bagus banget Ken, apalagi katanya ini dapat penghargaan karena pakai teknologi terbaru dan terbaik, tanpa alkohol, full ekstrak bunga dan cepat menyerap kulit wajah—ada alat pijat elektrik/ face messager nya elektrik, terus ada juga planner book nya—semuanya pakai gambar Minnie mouse. Pengen banget!!!” jelas Tea panjang lebar dengan antusias.



“Kenapa enggak pakai uang sendiri?” tanya Ken menggoda Tea—Terbukti dengan wajah Tea yang langsung tak senang saat di tanyai Ken mengenai beli barang dengan uangnya sendiri.


“Beda lagi, rasanya beli pakai uang sendiri dan di kasih orang yang di sayang itu beda” tanggap Tea dengan cemberut.


“Lagian kalau bisa pakai uang orang lain kenapa harus pakai uang sendiri, kita harus hemat” lanjutnya dengan bergumam namun masih terdengar jelas oleh Ken.


Tea mendongak ingin melihat tanggapan Ken, melihat tatapan lembut dan senyum lebar nan tulus dari Ken—hati Tea berdebar dan mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena terpesona pada Ken, secara... hampir tiap hari dia bertemu dengan Ken tapi tetap saja selalu jatuh dalam pesona maut seorang Kenan.


“oke” ucap Ken yang mengusap lembut rambut Tea.


“apa lagi?” tanyanya menatap mata Tea.


“Akh” Tea tersadar dan menunduk malu karena terpergok menatap Ken dengan penuh damba.


“Ini, nah kalau yang ini—“ Tea menunjuk catatan barang targetan nya dan juga gambarannya di layar hp.


“ada serum bibir dari de’ Reinez, Roceo lotion untuk mencerahkan lipatan, Exfolistong pad Neogen dari biofeel, Blemish serum, Maggieglow acne pimple cream, Lae sa luay spa smooth keratin—ini yang lagi viral karena kak tasya farasya”


“ada juga yang rangkaian perawatan lipatan tubuh dari Thailand yang katanya ampuh... banget, Aloe jelly scrub dari blooming, Show mask, OHO sabun khusus ketiak, deodorant MW G&H, blooming clear dark armpit, dan New Kana gluta milky lotion”



“nah ini bagian bodycare, ada scrub bule collagen, kojic body soap, masker badan Peach mask piw guy by fonfon, Toner badan by Yoni, lotion alpha arbutin, serum badan mimi AHA, Ge13 collagen, dan Toping balm plus by little baby”



dan masih banyak lagi...


Tea membeberkan permintaannya mulai dari bodycare—body lotion spf untuk siang hari, lotion cream untuk malam hari, toner badan yang di pakai sebelum mandi dan scrub lulur yang rutin di pakai seminggu sekali.


Kemudian ada perawatan bibir—scrub bibir untuk exfoliasi, lip balm tanpa warna, lip balm warna yang punya kandungan spf juga Liptin dengan warna-warna yang trendi.


Skincare wajah—triple cleanser (miccelar water, face wash dan milk cleanser), sunscreen, toner, serum, masker organik dan peel off, expoliating pad, dll.


*mungkin ini les skincare.


Akhirnya, niat ingin belajar untuk persiapan UKK dengan mencoba menyelesaikan soal latihan bersama-sama pun terhenti dengan pembahasan hadiah yang di pinta Tea jika nanti dirinya mendapat nilai bagus. PD sekali kamu Tea, ribut mempermasalahkan hadiah—kalau nilai kamu jelek? Hayoo~


“nginap di sini atau pulang?” tanya Ken pada Tea, memang betul mereka belajar di mansion Ken.


“Hm... Pulang aja?!” jawab Tea yang seakan bertanya.


Ken mengeratkan pelukannya dengan Tea, “sekarang?” tanya Ken yang enggan berpisah.


Tea mengangguk tapi tidak dengan tindakannya yang malah merapatkan pelukan dan menenggelamkan wajahnya di leher Ken, kemudian menutup mata seperti meminta di tidurkan.


Bukannya bertanya, Ken malah terkekeh dan mengambil posisi berbaring di sofa yang di dudukinya.


..........


Hari ini adalah Hari terakhir Ujian, Pagi hari yang seharusnya damai tentram karena siswa fokus dengan buku di tangan masing-masing—namun hari ini sebagian siswa MHS heboh karena Tea—orang yang sekarang menjadi pusat perhatian.


Sore kemarin Tea ingin dirinya berpenampilan baru—supaya orang lain tidak bosan melihatnya, karena itu dia mencat rambutnya dengan warna Abu silver—tepatnya di bagian puncak kepala ada sedikit bagian warna coklat (warna rambut Tea sebelumnya), bagian luar berwarna Abu silver dan di balik warna Abu atau di bagian bagian dalam rambut ada warna toska (warna favoritnya).


Belum lagi, rambutnya di kepang 2 dan di tempel printilan-printilan berwarna-warni, kalung perak besarnya yang melilit ketat di leher Tea, tidak memakai jas almamater sehingga dengan kemeja fresh nya—Tea menampilkan tubuhnya yang menggoda iman kaum Adam.


Aryn menepuk keningnya “Tea... Lo—Astaga...” dia tidak bisa berkata-kata melihat penampilan baru Tea.


Kebalikan dari itu, Ana mengacungkan jempolnya “mantep” pujinya pada Tea.


“Tea...” Ken menggeram melihat Tea yang tersenyum lebar menampilkan jejeran gigi putih bersihnya dan wajah tak berdosa nya.


“lo—kita masih Ujian woyy” Felix berseru pada Tea. Hari ini masih Ujian, bukankah seharusnya siswa berpenampilan rapi tapi ini malah berpenampilan nyentrik.


Meskipun di MHS—Maier High School tidak dilarang mencat rambut atau memakai aksesoris berlebihan—tetap saja ada beberapa guru yang masih kuno menganggap siswa yang berpenampilan nyentrik adalah siswa nakal. Tapi... Ya sudahlah.


“Shuttt, biarin Tea di urus Ken” ucap Alex yang memang sudah mengetahui penampilan baru Tea sedari malam.


Bagaimana tidak, semalam Tea memanggil pemilik salon terkenal yang sedang viral di tiktok untuk mewarnai rambutnya, bukannya sibuk menghafal materi pelajaran untuk ujian besok, dia malah diam di ruang SPA-nya sibuk merawat badan—dari ujung kepala sampai ujung kaki, mantap gak tuh kelakuan bocil satu ini?


“noh, mampus kena omel kanjeng raja” sindir Felix, kepalanya menunjuk Ken.


“bentar lagi bel bunyi, duduk” perintah Daren yang di ikuti semuanya termasuk Tea yang langsung duduk di samping Ken—menunjukkan dua jari di depan mukanya.


“peace” mesem Tea tersenyum lebar.


“jangan di ulangi” ucap Ken yang entah ada angin apa memilih menyerah dengan tingkah absurd Tea.


“makasih” balas Tea langsung dan mengambil kesempatan mengecup pipi Ken sebelum bel berbunyi. Memang tidak ada takut-takutnya dia, di saat ada SSTV di pojok ruangan...


..........


“Daren mana?” tanya Aryn menanyakan keberadaan pacarnya.


“Di panggil bokapnya” jawab Felix.


“Nanti malam kumpul di mansion Ken aja” ucap Ana. Mereka sedang membahas rencana menginap bersama merayakan hari bebas belajar soal Ujian.


Tapi di tengah pembicaraan itu, Tea tanpa sengaja melihat seorang murid lelaki yang berjalan dengan membawa sesuatu yang familiar di matanya. Hoddie hitam yang di pakai pelaku minggu lalu yang membuat alergi Ana kambuh.


“Aku pengen ke toilet sebentar” ijin Tea dan diam-diam mulai mengikuti laki-laki yang memegang hoddie di lengannya itu sampai ke daerah parkiran.


Tanpa di sadari Tea, sejak melewati ruang guru dirinya sudah di ikuti oleh seorang lelaki yang baru saja keluar dari ruang guru dan melihat gelagat Tea yang mencurigakan lalu mulai mengikutinya.


“Tunggu” Tea berlari dan mencegat lelaki yang memegang hoddie hitam tadi, yang ternyata seorang murid laki-laki yang memakai kacamata dan terlihat—cupu.


“A-da apa?” murid lelaki tadi kaget dan dengan gugup bertanya kenapa dia di hentikan, bagaimana pun juga dia tahu bahwa perempuan di hadapannya adalah salah satu primadona sekolah.


Tea memicingkan matanya “Hoddie itu punya kamu?” tanyanya menuduh membuat lelaki di hadapannya gelagapan entah kenapa, tangannya memegang hoddie yang di tunjuk Tea dengan gugup.


“Hei... benarkan? Hoddie itu punya kamu?” tanya Tea sedikit menyentak.


“Bu-kan” murid lelaki di hadapan Tea terlihat menggeleng panik dengan wajah memerah malu—entah malu karena apa.


“tadi, aku lihat seseorang membuangnya di tempat sampah, karena penasaran aku melihat hoddie ini dan ternyata masih bagus dan bisa di pakai ja-jadi aku mengambilnya” cicit murid lelaki itu menunduk di hadapan Tea. Rupanya dia malu karena memungut barang buangan orang lain.


“ah? beneran?” tanya Tea yang jadi malu sendiri dan merasa kasihan kepada lelaki di hadapannya.


“Maaf kayanya aku salah paham” Tea meminta maaf dengan wajah memelas karena merasa dirinya jahat menuduh orang sembarangan.


“tunggu. Gini aja, kamu lihat siapa yang membuang Hoddie ini?” tanya Tea yang tiba-tiba sadar ada sesuatu yang janggal.


“tt-idak, saat itu aku hanya melihat punggungnya, tapi... sebenarnya a-ada apa dengan hoddie ini?” tanyanya terbata-bata.


“tidak lihat? Hm masa sih?” Tea memicing curiga.


“kamu tidak perlu tahu, lagian kok jadi orang kudet sih, masa kejadoan Minggu lalu yang heboh di sekolah aja gak tahu, yang jelas kasih tahu aku di mana dia buang Hoddie ini?” Tea bertanya dengan angkuh karena merasa lelaki di hadapannya mencurigakan dan bisa saja perkataannya hanya membual, tangannya juga tak segan menarik hoddie di lengannya itu dengan kasar.


“Aku...” lelaki di hadapannya malah gagap dan menunduk tak berani menatap Tea.


“Cepat! Di mana tempatnya?” Tea bertanya dengan sedikit mendesak dan wajahnya menunjukkan kekesalan.


“tong sampah di luar toilet pria bagian kelas XI IPA” jawabnya yang kemudian beranjak pergi ketakutan tapi terhenti karena Tea menariknya sedikit kasar.


“Dino Adriana siswa IPA kelas XI. Oke, silahkan pergi tapi ingat—siap-siap terima akibatnya kalau kamu bohong” peringat Tea dan berbalik pergi.


Lelaki yang tadi mengikuti Tea langsung bersembunyi saat Tea berbalik.


“Ganas juga ternyata”


Setelah Tea lewat dari tempat persembunyiannya—tangannya bergerak menyalakan hp dan mengirim pesan kepada seseorang.


..........


“dasar! Aku kenapa Sial melulu sih” kesal Tea saat mendatangi tempat petunjuk dari lelaki cupu tadi. Mendapati dirinya harus pasrah kembali karena tak mendapatkan petunjuk apapun, apalagi—


“ini juga sekolah, elit-elit tapi kok pasang SSTV di sini aja gak mampu” dumelnya yang mengentakkan kaki dan pergi.


Seseorang tadi yang terus mengikuti Tea akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan mendengus kesal. Matanya menyusuri sekitar.


“secara gak langsung dia hina gue” lirihnya dan berbalik pergi