ALTEA

ALTEA
#22# Side story' El dan Anna



“si Aldi ini mukanya kaya familier” Tea bergumam memandang foto Aldi Ramdan di layar komputer yang kemarin terduga pelaku yang membuat Ana alergi.


“ini berhubungan dengan kasus Keluarga atau hanya dendam pribadi ke Ana?” tanyanya menebak.


“mukanya aku rasa pernah liat” Tea menggigit jarinya mencoba mengingat.


“ya ampun, kenapa otak gak bisa di ajak kompromi sih” kesalnya yang akhirnya tak mengingat apa pun.


“aku gak bisa gerak bebas, nggak tahu apa yang Ken lakukan padanya” Tea termenung memikirkan bagaimana kondisi Aldi ini, Apakah sudah di tangkap oleh Ken dan yang lainnya? Atau belum? Apakah sudah di interogasi? Rasanya ingin mencari tahu tapi di sekitarnya selalu ada Ken yang memang mengawasinya.


“Gak bisa di biarin” Ucapnya berpendirian.


“Waktu itu Ken minta untuk kerja sama, tapi memangnya gak papa? Bukannya lebih berbahaya, di saat emang kita yang jadi incaran” Tea terlihat berpikir dan merasa ragu.


“aku Telepon Tante Lina aja” Tea bergerak mengambil handphone rahasia yang tidak orang lain ketahui. Sebelum menelepon, Tea memastikan pintu kamar sudah terkunci.


“Tea” suara seorang perempuan memanggil saat panggilan terhubung.


“Tante” Tea tersenyum mendengar suara tantenya lalu menarik kursi belajarnya dan duduk kembali.


“bagaimana kabarmu di sana Tea?” Tante Karlina atau yang biasa Tea panggil Tante Lina memulai percakapan dengan menanyakan bagaimana kabar Tea.


“Tante Lina... Keadaan Tea baik tapi kegiatan Tea gak baik” curhatnya.


Di seberang sana terdengar kekehan ringan, ”ada masalah?” tanyanya.


“banyak” adunya seperti anak kecil.


“Tante, kemarin ada orang yang mau celaka in Ana, Alerginya kambuh gara-gara ada orang yang sengaja buat Ana makan cumi-cumi” Tea bercerita dengan masalah yang dia hadapi.


“Maksudnya... Jadi target pindah pada gadis Leonard itu?” tanya Karlina menebak.


“Mungkin, Tea nggak tahu pastinya. Tapi ada seseorang yang terduga pelakunya” cicit Tea.


“Baguslah, kamu tinggal cari tahu” ucap Tante Lina terdengar lega, sayangnya—


“masalahnya, Tea gak bisa cari tahu, Ken dan yang lainnya tahu tentang pelaku itu—mereka yang bergerak tapi Tea gak tahu apa yang sudah di lakukan mereka, Tea pikir pasti Ken sudah nangkap pelakunya”


“tunggu, mereka tidak tahu masalahmu Tea? Tante kira mereka tahu” Tante Lina kaget mendengar ucapan Tea.


“hanya garis besar masalahnya yang mereka tahu tapi untuk lebih detailnya, Tea rasa mereka gak perlu tahu”


“Kenapa?” Tante Lina bertanya tentang alasannya.


“gak tahu, Tea seperti bergerak secara naluri menyembunyikan semuanya—padahal Abang El, Ana, Alex dan Ken tahu kebenaran Tea yang merupakan anak dari keluarga Kendrik yang di culik—bahkan Ken sudah bilang untuk mengungkapkan jati diri Tea karena orang tua kandung Tea pasti bahagia mendengarnya, hanya saja bukankah kondisi mereka menjadi dalam bahaya kalau tahu masalah ini lebih dalam?”


“Hm, kamu tetap jadi gadis polos ya”


“mungkin, Tea memangnya sepolos apa?”


“Sudahlah, menurut Tante berhentilah mencari tahu dan berusaha keras sendirian Tea, hidup kamu dari kecil sudah tertekan” Nasihatnya.


“Sudah dulu Tante, jaga kesehatan Tante baik-baik” pamit Tea dan mematikan panggilan.


Tut


“sudah cukup, mending tidur” padahal tadinya dia ingin menanyakan tentang wajah familier Aldi pada tantenya yang mungkin saja tahu sesuatu.


.......


...


Side story' El & Ana~


“Ana” peringat El.


Malam ini, Ana menginap di mansion Leonard—mereka berdua ingin menghabiskan waktu berdua, melepas rindu.


“apa sih?” Ana tetap memeluk erat leher El dari belakang, menyandarkan kepala sang tunangan pada dadanya. Mereka berbaring di kasur dengan berbagai camilan dan minuman sambil menatap layar TV.


“Jangan nakal”


“Nggak nakal” kilah Ana.


“kita berdua di sini” El mengingatkan.


“terus kenapa?” tantang Ana, kepalanya menunduk agar berhadapan dengan wajah rupawan El, rambutnya tergerai menghalangi sebagian wajah El.


“Jangan mancing nanti di bales nangis lagi”


“lagi kenapa sih?” tanya El kesal karena sikap Ana yang membuatnya ingin mimisan.


“Nggak kenapa-napa” kilah Ana dan memencet pipi El sebanyak tiga kali.


“Berhenti Ana sayang” cebik El berucap dengan susah payah karena pipinya di capit oleh tangan Ana, bibirnya maju ke depan—berucap pun tidak terdengar jelas.


“hahaha” tawa Ana pecah bersamaan wajahnya yang menjauh dari El.


“Gak lucu”


“Iya, maaf”


“jangan di ulangi” ucap El kembali.


“Gak janji” Ana tersenyum menampilkan jejeran gigi putihnya.


“Dasar” El menggerutu, badannya mencoba bangkit tapi tertahan oleh tangan Ana.


“lepas” pintanya pada Ana.


Ana menggeleng, “enggak mau”.


“Ya ampun An, takut kelepasan. Lepas” El terlihat frustrasi, tapi hal itu hanya membuat Ana semakin gencar mengerjainya.


“Ya udah” Eh? Benarkah segampang itu Ana melepaskan El. Tentu tidak


😆


Ana melepas kaitan tangannya pada leher El, tapi belum juga El bangkit—Ana bergerak ke atas tubuh El. Kalian tahu apa yang di rasakan El sekarang? Menegang kaku.


“ANA...” El berteriak frustrasi dan akhirnya menyerah, tangannya tergeletak tak berdaya di atas kasur, matanya terpejam mencoba meraih kesabaran ekstra.


Dari awal, memang Ana ini nakal dan suka memancing El—El terkadang sangat frustrasi tapi dia juga suka dengan tingkah Anna. Bisa di bilang Ana ini agresif.


“pengen di manja” pinta Ana memeluk dan menenggelamkan kepalanya pada dada El yang terbuka.


El menggunakan kaos abu polos dengan kerah lebar berbentuk V, membuat dada bidangnya terekspos.


“ganti baju dulu sana” perintah El sambil mengelus rambut Ana—bibirnya terlihat tersenyum tipis.


“Nggak mau” tolak Ana semakin menenggelamkan wajahnya dan mengusap ke kanan-kiri.


“Hiperaktif Nya nanti aja, hari ini aku gak mau ya kamu gituin Aku” pinta El pada Ana agar kelakuan ajaibnya di pending dulu.


“Cium dulu” pintanya dengan wajah mendongak.


Cup


El mengecup pipi Ana dan memegang kedua pipinya dengan gemas—menggerakkan ke kanan-kiri.


“Sana! Masakin makanan, aku laper” ucap El.


“aku mandi dulu, awas! harus jadi gadis baik gak boleh ngintip” peringat El menyipitkan matanya pada Ana—berwaspada jika Ana melakukan kejahilan yang menurutnya luar biasa, seperti waktu dulu.


“Iya iya, ya kali ngintip El” pasrah Ana.


“Sana” El mencoba membangunkan Ana dari atas tubuhnya.


“AH ya ampun gue masih mau mesraan, pasrah aja deh” manutnya bangkit dan pergi keluar dari kamar El.


“jangan lupa masak yang enak”


“Yoo, tentu gue kan istri idaman semua laki” di luar Ana terdengar berteriak menanggapi ucapan El.


.......


...


“aku dapat kabar, kalian udah nemu pelaku yang buat Alergi kamu kambuh An?” tanya El sambil makan.


“iya, Ken dan yang lainnya yang ngurusin masalah itu, aku gak tahu gimana hasilnya—sebenarnya aku gak masalah kalau pelakunya gak ketemu”


“tapi aku yang masalah” bantah El.


“Ya udah si, gak usah ngegas” Ana mengangkat bahunya dan melanjutkan acara makannya.