ALTEA

ALTEA
#14# Pasar Sore



Tea menuruni tangga, terlihat semua temannya telah berkumpul menunggunya.


“Ayo” ucapnya setelah sampai dihadapan mereka.


“kenapa lama?” Tanya Ken cepat.


“Ah? Nggak apa-apa” Tea menjawab sambil berusaha menghindari tatapan Ken yang mengintimidasinya.


“Yaudah ayo berangkat sekarang” ajak Felix, mereka semuanya berangkat menggunakan mobil Jeep yang membuat pandangan mereka termanjakan oleh pemandangan yang hijau, asri dan segar. Suasana yang jarang terlihat di daerah perkotaan Jakarta.


“WHOAA” teriak Ana yang berdiri di mobil sambil merentangkan kedua tangannya.


“Berisik, turun” Alex mengeluh pada Ana untuk segera duduk.


“Gak” tolak keras Ana. Rambutnya bertebaran diudara, tawanya tak berhenti dalam waktu lama. Tea yang melihatnya langsung meminta ijin pada Ken yang sedang menyetir untuk ikut berdiri. Ken menyetujui dengan peringatan untuk hati-hati.


“AAAA” akhirnya setelah ikut berdiri, Tea mengerti kenapa Ana sangat senang berdiri di mobil dan tidak takut jatuh, karena rasanya sangat menyenangkan.


Pikirannya yang berkecamuk tentang pembicaraan ditelepon tadi pagi dengan grandma Cia yang masih terngiang-ngiang akhirnya mulai pulih. Dia bisa berpikir jernih dan mencoba menikmati liburan terakhir di Bogor hari ini.


“Hahh, tenyata lelah ya” lirih Tea, dipikir-pikir dia merasa tidak pernah menjadi gadis remaja biasa yang hanya belajar dan enjoy bermain bersama teman-temannya.


Mobil Jeep dibelakang, tepatnya tempat Daren, Aryn dan Felix berada— mengikuti mobil Ken yang berjalan didepan.


“Ahh ini seru” teriak Aryn yang juga berdiri dibelakang.


Daren melempar jaket denim miliknya pada Aryn yang memakai kaos tanpa lengan.


“Pake ini” ucap Daren memaksa.


“YA!” ucap Aryn teriak dan memakai jaket dari Daren tanpa melihat ke arah Daren.


.......


...


Sesampainya di pasar sore—


“Sini” Ken menarik mundur bahu Tea dengan pelan dan melepas topi putih yang di pakai Tea.


“Eh, kenapa?” tanya Tea yang awalnya berjalan antusias setelah melihat kios-kios makanan, minuman dan barang-barang di sepanjang jalan—terhenti karena ditarik mundur oleh Ken.


“pegang ini” tanpa menjawab pertanyaan, Ken menyerahkan topi putih Tea agar memegangnya sebentar.


Ken mulai mengumpulkan rambut Tea menjadi satu, menyisirnya dengan tangan lalu mengikatnya dengan gelang hitamnya yang elastis—gelang yang biasanya di pakai Ken setiap hari, terlihat biasa tapi memiliki harga yang terbilang cukup mahal.


Setelah selesai, Ken menggenggam tangan Tea dan mulai mengikuti teman mereka yang sudah berjalan mendahului.


“pengen apa?” tanya Ken mulai menyusuri setiap kios yang terlihat dikunjungi beberapa orang. Ana dan yang lainnya juga sama-sama melihat sekeliling.


“eum telur gul-” ucapannya terhenti karena suara teriakan membahana seorang perempuan.


“OH MY GOSH, demi apa coba” perempuan dengan pakaian yang terlihat mencolok itu mendekat ke arah mereka—tepatnya pada Tea—


“Tea kan? Ya ampun” perempuan itu mendekat dan mencoba menyentuh pipi Tea, sayangnya di tepis oleh Ken yang berada tepat di samping Tea.


“Ah, good—Ken... pacarnya Tea” suaranya kembali heboh dan bergaya seperti sangat shock.


“Menjauh” ucap Ken dingin dan menarik mundur Tea untuk bersembunyi dibalik badannya.


Wajar, Ken orang yang selalu waspada! Akhir-akhir ini mereka selalu dalam situasi yang rawan—berbahaya.


Seakan sadar bahwa Ken ini waspada padanya, perempuan itu mundur dua langkah dan mengangkat kedua tangannya. Ekspresinya juga menunjukkan senyum yang lebar seperti meminta Piss—memohon ampunan.


“kamu siapa?” tanya Tea, kepalanya muncul sedikit dari balik bahu Ken yang menghalanginya.


“oh? Saya Citra, fans kamu lho...” ucapnya menundukkan kepala sebagai tanda perkenalan, wajahnya khas Korea.


“saya pernah tinggal di Korea beberapa tahun tapi tahun lalu saya kembali ke Indonesia” jelasnya.


“Saya mengidolakan kamu sejak kamu masuk berita karena menjadi brand ambassador dari merk pakaian ibu kamu sendiri, saya juga suka video-video nyanyi dan dance kamu yang di upload di YouTube” tambahnya antusias tapi sedikit canggung melihat tatapan Ken, dia bermaksud membuktikan dirinya benar-benar fans Tea.


“Oh...” Tea mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai bergerak ke samping Ken.


“nah... Fans lu tuh” ucap Aryn.


“kalian kesini ingin membeli sesuatu bukan? Saya bisa menjadi tour guide sementara selama kalian ada di pasar sore” tawarnya.


“tidak perlu” ucap Ken dengan nada sedikit tak suka.


“boleh” Tea tak mendengarkan Ken dan menyetujui tawaran dari perempuan yang mengaku sebagai fansnya.


“Lo tinggal di sini?” tanya Ana, bisa dikatakan sedikit tak sopan karena sepertinya perempuan ini memiliki usia di atas 20 tahun.


“Ya, saya sudah lulus kuliah dan tinggal disini menemani kakek dan nenek” jelasnya.


“Ayo! Kamu tadi ingin telur gulung kan?” lanjut Citra antusias dan menunjuk satu pedagang yang dikerumuni beberapa anak remaja SMP.


“sebentar” Citra mendekati pedagang dan berbicara sesuatu, tampak pedagang itu terlihat senang dengan kedatangan Citra terutama senyum sopannya seperti mengungkapkan rasa segan.


“Kayanya dia bukan orang sembarang di sini” ucap Ana yang diangguki Aryn.


“tanya aja” ucap Felix yang ikut dalam pembicaraan setelah melihat reaksi pedagang telur gulung di hadapannya.


Akhirnya Citra kembali dengan beberapa bungkus telur gulung yang mengambil perhatian Tea. Tangannya sudah gatal ingin mengambil dan menyantapnya segera. Melihat antusias Tea, Citra tersenyum senang.


“saya cucu dari pemilik vila di sekitar tempat wisata disini, tepatnya vila umum yang di bangun dengan konsep semi-kemah. Sejak kakek membuat vila, vila ini terkenal karena konsepnya yang unik dan menarik perhatian banyak orang, banyak yang berkunjung untuk merasakan pemandangan indah dan tinggal di kamar yang terasa seperti tenda. Kakek mengusulkan para warga sekitar untuk mengadakan pasar sore untuk menaikkan pendapatan mereka. Yah bisa terbilang kakek saya cukup berpengaruh di sini” Citra menjelaskan sambil menyerahkan bungkusan berisi telur gulung pada Tea, yang disambut gembira olehnya.


“gue pengen cobain itu” ucap Ana dan mendekati kios yang menjajakan berbagai macam manisan buah tradisional.


“ini apa?” tanyanya. Sebagai seseorang yang memiliki hobi dan jago masak, dirinya selalu mengeksplorasi berbagai makanan yang menarik perhatiannya.


Aryn juga terlihat ingin mencobanya, melihat manisan buah dengan berbagai warna segar membuatnya secara tak sadar menjilat bibirnya sendiri.


“hihi” terdengar kekehan Daren yang masuk ke telinganya.


“Kalau pengen gausah gitu juga ekspresinya” lanjutnya mengejek dan mengacak rambut Aryn. Aryn yang tak suka langsung menepis dan menatapnya sinis.


“ini manisan buah apa aja?” tanyanya menunjuk wadah-wadah berbagai varian manisan buah.


“ada Cermai, mangga, kedondong, jeruk bahkan ada manisan kulit jeruk” jawab sang pedagang.


“saya pengen yang ini” ucap Ana menunjuk manisan Cermai warna merah, pedagang itu langsung menyiapkannya di piring kecil.


Melihat Ana yang memesan, mereka juga mulai memesan manisan buah yang menarik perhatian mereka. Tea tidak banyak bicara dia fokus memakan telur gulung yang akan jadi jajanan favoritnya.


“shuttt, Ini enak Ken” ucapnya tersenyum menampilkan jajaran gigi putihnya. Ken mengangguk ikut tersenyum melihat Tea yang menikmati jajanan.


“Pengen ini?” tanyanya menyodorkan manisan mangga. Tea membuka mulut minta disuapi.


“eum ini juga enak, manis” jawabnya.


“AHH" setelah Tea berucap terdengar suara Felix yang tampak membuang manisan Cermai dari mulutnya.


“masam” keluhnya.


“Yah... ini memang masam tapi juga manis, enak” ucap Ana mengangguk-angguk dan tidak terlihat terganggu dengan rasa masam dari Cermai.


“Lu kan sensitif makanan masam Felix!” ngegas Aryn mengingatkan. Daren mengangguk membenarkan perkataan Aryn, Felix ini selalu sakit perut jika makan makanan yang masam.


Akhirnya mereka membeli dan mencicipi berbagai makanan seperti, Kue Cubit dengan berbagai topping seperti green tea, oreo, taro dan yang lainnya. Ada juga Bandros, Surabi, Basreng (bakso goreng).


Tak lupa membeli beberapa barang sebagai oleh-oleh khas Bogor, yah barang yang akan mengingatkan mereka pernah datang dan liburan bersama di Bogor.


“Ah kenyang nya” Tea menghembuskan napas lega sambil mengusap perut datarnya.


“Sama, ayo pulang gue udah cape” ucap Ana yang diangguki semuanya.


“Kalau gitu saya duluan ya” ucap Citra tersenyum.


“ah kakak, hati-hati oke” ucap Tea yang langsung menyapit lengan kanan Citra. Entahlah rasanya nyaman dekat dengan Citra, walaupun baru kenal sebentar... Tea bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari Citra.


.......


...


“Akhirnya” ucap Ana, Aryn dan Tea bersamaan sambil menjatuhkan tubuh mereka pada kasur single masing-masing.


Mereka kompak memakai Sheetmask dan Bandu. Kebiasaan cewek setiap malam—banyakin skincare-an, biar muka putih mulus dan glowing simering.


“jadi besok kita pulang pagi-pagi?” tanya Aryn


“Mungkin” ucap Ana angkat bahu acuh, matanya terpejam—fokus membiarkan mukanya menyerap essence-essence yang akan membuat masa depan kulit wajahnya cerah dan awet muda.


“aku pengen kita pulangnya pagi-pagi” adu Tea.


“Boleh juga” setuju Ana mengingat dirinya yang rindu El. Gosh! Ana bangkit dan mengambil hp-nya yang tadi kehabisan baterai.


Ana berjongkok menyambungkan charger ke HP-nya. Setelah tersambung dan sudah menyala, beberapa notifikasi mulai bermunculan termasuk dari El. Tangannya segera menekan tombol Video-Call.


“Halo” suara El terdengar, tampak muka bantal yang baru bangun dilayar hp Ana.


“huh” desahnya lega.


“Aku tahu, pasti lupa, hp kamu juga lowbat” ucap El. Terlihat sosok lelaki yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


“Hehe maaf El” ucap Ana karena tadi dia sudah berjanji akan menghubungi El sore hari, tapi nyatanya dia baru pulang dari pasar sore saat menjelang malam dan jam 8 malam baru ingat.


Tea dan Aryn yang tak mau mendengarkan percakapan Ana dan El, memilih keluar untuk melakukan sesuatu, pastinya setelah melepas Sheetmask dan Bandu. Ketika mereka berdua turun ke bawah, pandangan tertuju pada Daren dan Felix yang bermain game.


Aryn memilih ke dapur membuat minuman dan menyiapkan cemilan untuk mereka berdua. Sedangkan Tea, dia memilih ke kamar Ken.


“Ken” panggil Tea mendekat dan naik ke kasur Ken setelah melepaskan sandal rumahnya.


“kita pulang pagi-pagi ya” lanjutnya ikut berbaring di samping Ken yang memainkan handphone, kepalanya dia sandarkan pada dada Ken yang bidang.


Penampilan Tea malam ini memakai pajama biru gelap, berlengan panjang terusan mencapai sebatas paha Tea.


“Kenapa?” tanya Ken yang mengusap-usap kepala Tea.


“Nggak, kangen mommy” lirihnya kemudian memejamkan mata, tanpa sadar dia menggigit bibirnya sendiri.


Ken tiba-tiba bangun dan pergerakannya tentu membuat Tea harus ikut bangkit duduk, “kamu sakit?” tanya Ken khawatir nadanya menunjukkan ketidaksukaan.


“cuma pusing sedikit” tapi wajah dan bibir yang pucat sudah menunjukkan bagaimana keadaan Tea.


“kamu kelelahan” gumam Ken pelan. Dia tahu dibanding Ana dan Aryn, Tea punya fisik yang lemah. Penderita Kekurangan sel darah merah/anemia, membuatnya mudah sakit ketika lelah, pusing, tubuh tak bertenaga dan wajah pucat.


“Kamu bawa obat tambah darah?” tanya Ken menanyakan obat yang sering diminum Tea. Penderita Anemia harus rutin minum obat yang mengandung zat besi. Apalagi pada masa-masa datang bulan perempuan yang mengeluarkan banyak darah, sering membuat para penderita Anemia kewalahan dengan tubuhnya yang lemas dan pusing. Bahkan sampai pingsan.


Tea mengerutkan kening lalu menggeleng dan bersandar kembali pada dada bidang Ken. Setelah Ken mengingatkan Anemia nya, tubuhnya seperti bertambah lemas.


“tunggu sebentar” ucap Ken yang mengutak-atik HP-nya.


“Pak, tolong cari obat tambah darah. Sekarang. Di sekitar sini tidak ada Apotek coba cari di puskesmas di desa” ucap Ken yang menghubungi salah satu bodyguard.


Apakah ada yang bertanya-tanya, kemana para bodyguard saat mereka pergi ke pasar sore?


Jawabannya, tadi sore Ken sempat mengeluarkan ancaman pada bodyguard agar tidak mengikuti mereka ke pasar sore yang malah akan membuat mereka menjadi pusat perhatian masyarakat sekitar.


“ya, secepatnya” panggilan terputus.